Ilustrasi dari Hipwee.

Pada suatu masa, Imam Sufyan as-Tsauri, yang nama aslinya adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq bin Habib bin Rafi’ bin Abdillah, bermimpi. Ia didatangi seorang lelaki tua yang sangat buruk rupa.

Sufyan bertanya, “Siapa kamu?”

Lelaki tua buruk rupa itu menjawab, “Akulah dunia.”

Sufyan berkata, “Kalau begitu aku berlindung pada Allah dari keburukanmu.”

Lelaki tua buruk rupa itu berkata lagi, “Jangan cintai dinar dan dirham.”

Imam Sufyan as-Tsauri (w. 95 H) dikenal luas sebagai ulama yang sangat wara’, zuhud, berhati-hati. Ia diakui ahli hadits dan fiqh, dan dianggap sejajar dengan empat imam mazbah fiqh lainnya, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’ie, dan Imam Hanbali.

Mimpi tersebut saya nukil dari kitab Hikyatul Aulia’ wa Tabaqatul Asfiya’ karya Imam Abi Na’im Ashbahani, juz 4, hlm 480.

Jika ilustrasi mimpi kita tarik ke kehidupan kita masa kini, rasanya tiadalah yang tersisa sama sekali ya dari nilai-nilai kebaikan hidup kita. Memalukan! Menjijikkan! Begitu tampaknya.

Ini adalah zaman di mana kita justru sangat berlomba-lomba untuk mengeduk dunia seisinya, uang yang bertumpuk-tumpuk, rumah, kendaraan, pakaian, makanan, hingga kekondangan dan kehormatan.

Ini adalah masa di mana orang menjadi cenderung diukur berdasarkan tebal duitnya, kinclong sandangannya, mentereng mobilnya, dan mewah rumahnya. Tambahkan lagi, berbanjar gelarnya.

Ini adalah era di mana harga diri dan kehormatan terlihat berbanding lurus dengan seberapa kaya dan mewah hifup kita ketimbang hal-hal yang skalanya adab, ilmu, dan amaliah.

Ini adalah waktu di mana orang tua cenderung menjadikan kendaraan yang mengkilap dan dandanan yang gemerlap sebagai parameter jodoh ideal buat anak-anaknya.

Ini adalah momen di mana anak-anak kecil dibebani timbunan materi dan mata pelajaran yang melulu berskala duniawi, eksakta, saintifik, sembari abai pada perkara ilmu batin, jiwa, hati, akhlak, karakter, bahkan keimanan.

Dan masih berjubel hal nyata lainnya yang bisa kita deretkan tanpa ujung di sini. Semuanya mutlak beraras pada urusan duniawi, material, lahiriah, dan kita lantas menyebutnya dengan tanpa resah sebagai kemajuan yang beradab.

Lalu, mau diletakkan di mana gerangan hikmah dari mimpi Imam Sufyan as-Tsauri itu dalam gaya dan arus kehidupan kita kini?

Lelaki tua yang buruk rupa dan menjijikkan dalam mimpi itu merupakan simbol dari angkara murka dunia ini dan isinya. Ia meliputi segala bentuk hawa nafsu, berahi, ambisi, obsesi, yang tak henti-hentinya menyergap pikiran dan hati kita, hingga kita terus terseret olehnya tanpa ampun. Kita terus saja ditunggangi oleh kemilau dan riuh haeta benda materi dunia ini sampai kita tergambarkan sebegitu menjijikkannya laksana lelaki tua buruk rupa itu.

Dengan berkaca pada mimpi itu, solusi penyelamatnya bagi kita tidak lain adalah janganlah mencintai harta atau materi duniawi ini.

Jangan cintai uang. Jangan terlena aset. Jangan silau oleh kilau mewah benda-benda.

Mungkinkah kita mampu melakukannya?

Sulit memang. Sangat sulit benar di masa yang serba memberhalakan material ini. Tapi tentunya bukannya mustahil. Tepatnya, bukanlah hal mustahil untuk tidak membiarkan diri menjadi budak materi, harta, dan dunia seisinya ini.

Betul, tidak menjadi budaknya.

Dan, rasanya tak ada cara yang lebih efektif untuk senantiasa mengingatkan diri sendiri dalam usaha tersebut selain:

Pertama, ingat selalu bahwa dunia seisinya ini hanyalah sementara, permainan, dan perhiasan. Apa pun yang kita miliki, dan bagaimanapun kita membanting tulang untuk memilikinya, ia akan kita tinggalkan. Pasti.

Kedua, penyakit hati bersumber dari wahm (cinta dunia). Sifat serakah, ambisius, pelit, yang gilirannya melahirkan kelaliman dan kezaliman, merupakan seabrek penyakit yang sangat membahayakan iman dan akhlak kita. Merusak mutu hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan sesama. Jika hasrat cinta dunia ini tidak dikendalikan dengan ketat, maka kita akan terjatuh jadi budak dunia ini.

Ketiga, meyakini dengan sepenuhnya untuk senantiasa berserah diri hanya padaNya dalam seluruh aspek hidup kita, termasuk dalam urusan rejeki, harta, dan label-label duniawi. Sehingga apa pun dan berapa pun anasir material itu hadir ke dalam hidup kita, itu semua akan selalu terujukkan hanya kepada Kasih dan SayangNya serta keputusan terbaikNya untuk kita.

Merawat nyala poin-poin tersebut di dalam hati menjadi PR seumur hidup kita. Menciptakan habitat yang menyokong ikhtiar tersebut menjadi langkah terbaiknya. Seperti melazimkan diri berdzikir, mengaji, berkumpul dengan orang salih, dan rajin sedekah.

Insya Allah.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: