Cara Mudah Agar Kamu Bisa (Selalu) Bersabar

Sejumlah orang menguarkan slogan bahwa sabar ada batasnya. Masih ada pula yang meneguhkannya dengan ungkapan, “Aku hanya manusia biasa; semut pun akan menggigit bila ditindas.”

Saya tak sependapat dengan slogan tersebut. Di al-Qur’an, ada ayat begini: “Hendaklah kalian meminta tolong kepada Allah dengan kesabaran dan shalat, sesungguhnya shalat itu adalah perkara yang sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”

Mari catat clue-nya: shalat dan khusyuk, buahnya adalah sabar.

Lalu kita lanjutkan kini dengan membuat irisan-irisan penyaring berdasarkan clue tersebut.

Pertama, jika kamu bukan tergolong pelaku shalat wajib yang istiqamah, dalam keadaan apa pun, maka kamu sudab pasti takkan memiliki kemampuan bersabar yang baik. Kenapa? Sebab buah sabar yang sesungguh-sungguhnya kesabaran hanya—catat terang: HANYA—akan dipanen oleh orang yang istiqamah menegakkan shalat. Jadi, di irisan awal saja, kamu tereliminasi.

Kedua, jika kamu lulus irisan pertama, kini fair-lah pada dirimu sendiri, apakah kamu telah layak tergolong ke dalam kelompok khasyi’in (orang-orang yang khusyuk shalatnya)?

Bikin sederhana saja cara mengenali karakter shalat orang yang khusyuk. Satu, mengejar fadhilah-fadhilah shalat, misal di awal waktu, berjamaah, tuma’ninah, dipungkasi dengan dzikir-dzikir yang tak bergegas.

Sudahkah demikian shalatmu selama ini? Jika beneran sudah, lakukan cek final ini: adakah pengaruh positif shalatmu pada perilaku keseharianmu?

Ingat ayat yang sangat kondang ini: Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Bila kamu rajin shalat, bahkan gemar berjamaah, dzikiran, plus shalat-shalat sunnah lainnya, tetapi kamu masih saja dekat dengan kemaksiatan, keburukan, atau kefasikan, itu pertanda sangat nyata bahwa mutu shalatmu masih jauh panggang dari api alias tak ada bedanya dengan shalat kaum munafik. Tahu sendirilah tabiat dan kelakuan kaum munafik, kan?

Maka, seyogianya, kekhusyukan shalat itu bisa terukur dari kemampuannya untuk meliputi dua wilayah sekaligus: syariat dan hakikatnya.

Hal-hal yang berskala lahiriah syariat macam shalat di awal waktu, berjamaah, pakai baju terbaik, dll., bila bersumber dari ketulusan iman (bukan kepura-puraan khas kaum munafik), yang itu mencerminkan kesadaran hati yang mendalam atas makna-makna ibadah shalatnya alias hakikatnya, otomatis akan menghantar ahlinya meraih “bekas shalat” (atsarus shalat), yakni terjauhkan dari perlaku keji dan mungkar, maksiat dan kekufuran.

Takkan ada lagi secuil pun perasaan berat pada amaliah yang diperintahkan olehNya, termasuk shalat lima waktu itu. Ini memang bukan capaian yang sederhana, mudah. Ini butuh perjuangan yang istiqamah, waktu yang tak pendek, serta spirit pembelajar untuk terus-menerus belajar memahami kandungan al-Qur’an, hadits, khazanah ilmu fiqh, akhlak, dan sebagainya.

Dengan teknik demikian, dari hari ke hari niscaya pikiran dan hatinya akan semakin kaya dengan pilar-pilar keilmuan dan berikutnya memijarkan kesadaran ruhaniah yang mengerucut pada hakikat relasi kehambaan diri dan kemahakuasaan Allah. “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, (hanya) kepadaMu, ya Allah, aku menyembah dan (hanya) kepadaMu aku memohon pertolongan.”

Yakin sudah begitu?

Kini silakan temukan sendiri jawaban atas irisan kedua tadi: tereliminasi atau tidak?

Bila kamu benar-benar lulus irisan kedua ini, sudah pasti dengan sendirinya kamu akan selalu mampu menyandarkan segala apa pun yang terjadi pada hidupmu hanya kepada kuasa Allah. Selalu! Termasuk yang pahit-pahit, yang menguras emosi, yang mengundang hawa nafsu untuk marah, berkata kasar, membenci, dan sebagainya.

Tatkala segala apa yang terjadi padamu telah dibingkai oleh prinsip ketauhidan tersebut, bahwa “tidak ada satu daya dan kuasa pun kecuali atas kehendak Allah”, bahwa daun yang jatuh pun yang tak pernah membenci angin itu hanya mungkin terjadi atas izin Allah, lalu gerundelan, sambatan, kemarahan, dan kebencian apa lagi yang masih logis untuk tersisa di dalam hati?

Tidak ada. Logis sekali, bukan?

Kini kita mengerti dengan sangat logis bahwa sabar itu tidak ada batasnya sama sekali. Jika ada yang memasang dinding pembatas bagi danau kesabarannya, sesungguhnya di detik yang sama ia sedang bermasalah dengan imannya, tauhidnya, dan al-Qur’annya.

Jika itu yang terjadi, ingatlah Allah segera. “Sesungguhnya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” Cara paling praktis untuk bersegera bisa mengingat Allah ialah dirikan shalat dan ngaji al-Qur’an. Keduanya merupakan wujud “tajalli” (“penjelmaan Allah pada diri kita”), dalam istilah Ibn ‘Arabi, yang amat sangat nyata, mudah diamalkan, dan gampang dimengerti.

Cobalah, lalu istiqamahlah ….

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan