Cara Mudah dari Allah Biar Kamu Jadi T.O.P.

Ada banyak ayat dalam al-Qur’an yang menuturkan tentang umat-umat terdahulu yang dihancurkan oleh Allah. Mereka digambarkan sebagai umat-umat (kaum, bangsa) yang kuat, maju, cerdas, mapan, yang justru semakin zalim dan tersesat di antara segala capaain kejayaannya.

Di antaranya ialah kaum Nabi Syu’aib. Kaum ini diremukkan oleh Allah karena kufur melalui gempa-gempa yang menjadikan mereka “mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka” (Cek di surah Al-A’raf ayat 91).

Rentetan ayat yang berkisah tentang dihancurkannya kaum Syu’aib dalam surat al-A’raf itu mengerucutkan “pesan moralnya” pada ayat 96, “Andai saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi (karena) mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka sesuai kelakuannya.”

Catat clue-nya: beriman dan betakwa kepada Allah melindungi kita dari kehancuran.

Mudah sekali ternyata ya caranya jika kita tidak ingin jatuh, remuk, hancur, dan menderita dalam hidup ini. Dalam istilah kebalikannya, jika ingin sukses, maju, jaya, mapan, pendeknya T.O.P. dalam hidup ini, ternyata caranya gampang: beriman dan bertakwa saja kepada Allah. Hanya Allah.

Ya, betul, itu sekadar pernyataan, makanya terdengar mudah sekali. Dalam praktiknya, bagaimana mewujudkan dan merawat iman dan takwa kepada Allah agar selalu nyala di dalam dada mutlak sangat tak mudah. Dan karena fakta ketakmudahannya inilah sangat tak banyak orang yang berhasil mencapainya: dibukakan kepadanya bekah-berkah dari langit dan bumi.

Mari kita bedakan dengan seksama antara orang yang beriman dan bertakwa dengan sebenar-benarnya iman dan takwa dengan orang yang “sekadar” beribadah, misal shalat, puasa, dll. Ya, keduanya sungguhlah tidak sama derajatnya.

Memang menunaikan ibadah mahdhah dan sunah merupakan bagian dari perilaku muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Tetapi tidak semua orang yang menunaikan ibadah mahdhah dan sunah otomatis mukmin dan muttaqin dalam sebenar-benarnya iman dan takwa.

Statemen tersebut sejatinya sesederhana kita memahami bahwa cinta yang diwujudkan melalui pemberian cokelat dan mawar kepada seseorang bukanlah jaminan hakiki dan otomatis atas nyala cinta yang sebenar-benarnya di dalam dada. Iya, kan?

Tidak lantas semua pengibar panji-panji cinta adalah bersungguh-sungguh dalam mencintai.

Mari kita uji diri masing-masing.

Jika kalian dapat rezeki satu juta rupiah, berapakah jumlah yang akan kalian berikan pada dhuafa? Jangan-jangan hanya 10.000? Relakah kalian membaginya 100.000? Atau malah 250.000? Bagaimana dengan 500.000?

Silakan dijawab dalam hati.

Ujian lain. Jika ada orang yang telah kalian bantu ternyata suatu hari malah memfitnah kalian, apa gerangan yang akan kalian lakukan? Marah padanya atau membalas fitnahnya atau memilih diam dan bersabar?

Silakan jawab dalam hati.

Tamsil lagi. Jika suatu hari ada lawan jenis yang keren menggoda kalian secara seksual, bagaimana sikap kalian? Sebut saja ia mengirimkan foto seronok. Meladeninya diam-diam atau menghindarinya karena takut sama Allah?

Silakan jawab dalam hati.

Bentuk-bentuk jawaban dalam hati kalian mencerminkan dengan hakiki kualitas iman dan takwa kalian. Dan tepat pada level demikian pulalah makna dan buah segala bentuk ibadah kalian selama ini tertancap dan berdampak kepada pikiran dan perilaku kalian.

Bila mutu iman dan takwa kalian telah mencapai level sebenar-benarnya dan tepat pada level itu pulalah makna dan buah ibadah kalian berdenyut, niscaya semua pikiran dan perilaku kalian akan selalu sejalan dengan ajaran Allah. Jika demikian, akan selalu tumpah ruahlah pertolongan dan perlindungan Allah, dibukakanlah pintu-pintu berkah dari langit dan bumi.

Jika yang berdenyut di dada kalian ternyata adalah kebalikannya, jelas petaka yang akan dituai.

Penting untuk segera kita pahami di sini bahwa Kasih Sayang Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan muttaqin, yang dianugerahiNya berkah-berkah langit dan bumi, tidak bisa disekat hanya pada soal harta yang melimpah, prestasi yang menjulang, atau nama yang berkibaran. Tidak. Hidup ini sama sekali tidak hanya perkara material, tapi bahkan yang paling utama ialah dimensi batiniah atau rohaniah. Itu artinya karunia dan berkah Allah amat bisa dilimpahkan dalam capaian batin yang damai, tenang, dan istiqamah.

Tidak riweuhnya hati pada keserakahan, misal, juga merupakan bentuk berkahNya kepada kita. Tidak terseretnya diri pada amarah dalam keadaan apa pun, termasuk saat dizalimi, juga merupakan bentuk berkahNya kepada kita. Tidak goyahnya hati pada rayuan sensualitas juga merupakan bentuk berkahNya kepada kita. Begitu pun hadirnya pasangan hidup yang alim dan anak-anak yang solih/solihah merupakan bagian dari berkah Allah. Dll. Dsb.

Walhasil, dapat disimpulkan kini bahwa bentuk-bentuk dibukakannya berkah-berkah langit dan bumi kepada kita oleh Allah sebagai hadiah atas iman dan takwa yang bersungguh-sungguh (haqqa tuqatih), atau dalam istilah tulisan ini adalah T.O.P., niscaya terejawantah langsung dan nyata pada hidup kita dalam wujud selalu ditolong dan dilindungiNya. Perkara ekonomis, sosial, dan psikologis apa pun yang terjadi kepada hidup kita sudah pasti akan senantiasa dilonggarkan, diberikan jalan keluar dari arah yang tak terduga-duga.

Bukankah itu anugerah hidup yang luar biasa, yang senantiasa menjadi impian terbesar setiap kita, dalam level ekonomi dan sosial apa pun?

Masih adakah hal selainnya yang lebih besar, pokok, dan utama bagi hidup kita?

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan