debat pilpres di medsos

Cara Ngadepin Teman yang Sering Ngajak Debat Pilpres di Medsos

Duh, tidak terasa nomor urut paslon capres dan cawapres sudah ditentukan ya. Pak Jokowi nomor urut berapa, dan pak Prabowo nomor urut berapa?

Ah, itu tidak penting. Yang penting adalah pilpres berlangsung damai, sejuk dan tidak memecah belah bangsa ini. Siapa pun yang terpilih, semoga bisa membawa Indoensia lebih baik lagi. Apalagi penulis bukan KPU atau timses beliau-beliau. Hehe.

Kali ini penulis ingin memberimu tip ngadepin temen yang sering ngajak debat kasur, kasir, eh kusir di media sosial soal plipres.

Pernah nggak, kamu dihadapkan dengan situasi seperti itu?

Akibat debat itu, kadang jengkel, emosi terkuras, waktu terbuang dan hal sia-sia lainnya. Pokoknya nggak berguna banget. Bisa jadi, usai debat, pertemanan jadi renggang karena merasa dikalahkan satu sama lain.

Apalagi komentarnya dibaca orang banyak. Huff. Malu, kan? Tapi jangan ambil pusing, deh. Coba baca tip ini ya.

Hadapi saja dengan kepala dingin

Saling komentar di medsos memang sedikit menghibur dan bisa jadi ajang silaturahmi. Tapi ngomongin komentar atau berdebat soal pilpres, pasti saling mojok memojokkan. Karena dukungan yang berbeda. Satunya membela, satunya menjelek-jelekkan. Duh, pelik kali ya. Hehe.

Sefanatik apapun dalam mendukung paslon, jangan sampai terbawa emosi apalagi sampai mengeluarkan kata-lata kasar. Nggak baik, atuh. Tetap dingin dan dibawa santai saja.

Kalau pertemanannya putus gara-gara debat pilpres di medsos, coba?

Nggak mungkin paslon datangi rumah kamu untuk perbaiki pertemanan kamu yang sempat hancur gara-gara debat itu. Jadi santai aja keles. Sekalipun dukunganmu menang, nggak mungkin nelpon kamu lalau bilang, “Maksih ya, Nduk, berkat debat kamu dengan teman kamu di medsos, saya menang.”

Ah, nggak mungkin. Apalagi yang kalah. Bhahaha ….

Sesekali, coba pakai jurus  2N +1L

Jurus 2 N+1 L? Ya, dua N. N pertama adalah Ngalah. Kedua, Ngalih dan 1 L adalah Like komentar saja. Sebisa mungkin, coba kamu ngalah atau menolak ajakan debat soal Pilpres.

Kalau tidak bisa, ngalih saja. Coba alihkan ke pembicaraan lain. Misal, tanyakan kabar, tanyakan seputar kegiatan yang sedang ia lakukan. Agar tidak menguras emosi, cukup Like aja komentarnya. Selesai.

Jika terpaksan harus balas komennya, sertakan kalimat atau emoticon senyum

Asyik memang kalau komentarnya nyambung dan riil satu sama lain. Tapi ingat, jangan sampai berlebihan. Nah, agar tidak terbawa emosi, sertakan kalimat guyonan dan emoticon senyum.

Anggap saja komentar itu lucu-lucuan. Bukan saling jelek-menjelekkan, apalagi saling menjatuhkan harga diri. Jangan, ya.

Jika memaksa, inbox saja

Kalau memaksa untuk debat, inbox saja. Tapi bukan pindah debat dari publik ke chat ya. Bukan. Berikan penjelasan bahwa debat soal itu tidak berguna banget. Selain akan menguras emosi jiwa, kan malu kalau perdebatannya hanya berputar atas dasar emosi bukan berdasar fakta.

Kita juga, jangan berlebihan fanatik mendukung paslon. Toh, tidak akan mendapat penghargaan dari paslon kalau menang debat. Sudahlah, menangkan paslon ketika di dalam bilik suara. PAS, kan? Bhahaha ….

Oleh: Gafur Abdullah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan