Cari Calon Suami di Masjid? Kamu Berminat?

Cari calon suami itu di masjid. Teruji kesolehannya.

Pernah mendengar kalimat saran seperti itu? Atau justru pernah mendapat saran itu? Aku pernah. Uhmm, lebih tepatnya kami, karena tidak hanya aku tapi juga teman se-geng-ku.

Se-geng? Iya, tapi jangan bayangkan kami sebanyak anggota girlband Cherrybell. Kami hanya bertiga, Kinan, Arin, dan aku.

Enggak jarang, kami para mahasiswi tingkat akhir suka kumpul-kumpul sambil mengerjakan skripsi. Tapi porsi waktu membahas hal-hal enggak penting jauh lebih banyak dibandingkan untuk mengerjakan skripsi.

Gimana enggak banyak? Membahas kegalauan di antara kegalauan yang lain itu merupakan hal seru. Apalagi kegalauan tentang rencana setelah lulus kuliah nanti, mau langsung kerja, melanjutkan lagi kuliah, atau malah nikah?

Nah, pilihan terakhir itu yang makin bikin seru. Nikah. Ujung-ujungnya bahas tentang jodoh.

“Ya ampun. Besok suamiku siapa ya? Kaya apa ya dia?” pertanyaan-pertanyaan absurd yang hampir selalu terlontar saat mulai nyrempet-nyrempet masalah jodoh.

Kalau ada pertanya seperti itu, bisa dipastikan enggak akan ada teman lain yang menjawabnya dengan pasti. Paling-paling dijawab dengan gurauan, “Mungkin dengan Tono. Atau malah Bejo.” Kemudian diikuti dengan gelak tawa.

Untungnya, di antara kami masih ada yang bisa waras jika dua orang lainnya mulai ‘gila’. Di antara jawaban-jawaban yang ngawur itu, selalu ada jawaban klise yang menetralkan, “Sudah-sudah. Itu rahasia Allah.”

Ya mau gimana lagi, namanya juga jomblo. Jangankan yang jomblo, yang pacaran saja belum tentu juga jadi suaminya. Gitu kan? A

da yang sudah pacaran 7 tahun–kaya nyicil KPR aja–, eh putus. Ada yang pacaran 10 tahun, akhirnya nikah juga. Alhamdulillah.

Eh tapi, nggak sedikit juga loh yang baru kenal dalam hitungan bulan, langsung nikah. Sah. Ada juga yang sudah berteman lama, enggak pernah ada pikiran untuk menjalin hubungan lebih dari teman, eh malah sekarang jadi suami istri. Enggak ada yang menyangka, kan? Begitulah jodoh, selalu jadi misteri.

“Yang jelas, harus soleh,” pernyataanku untuk Arin dan Kinan.

“Soleh? Cari tuh di masjid. Teruji kesolehannya,” celetuk Kinan.

“Halooo, hari gini cari calon suami di masjid?” balas Arin. 

“Uhmm, maaf. Laki-laki saat di masjid itu sisi kurang ajarnya enggak kelihatan. Kenapa? Karena semuanya jadi kelihatan soleh,” lanjut Arin kemudian.

Aku dan Kinan diam beberapa saat. Saling berpandang. Mencoba memahami apa yang baru saja Arin ucapkan.

“Eh maksudku, kita tetep harus tahu latar belakangnya. Kalau orang tua bilang sih, harus mempertimbangkan bibit, bebet, bobot,” Arin mencoba menjelaskan.

“Ya kali, Rin. Baru pertama kali ketemu di masjid, langsung mau ijab-qabul saat itu juga. Paling tidak, dengan dia ke masjid bisa dijadikan sebagai parameter bahwa dia soleh.” Kinan tidak mau kalah.

“Hahaha…” kami bertiga kemudian tertawa, Entah menertawakan obrolan kami yang absurd atau malah menertawakan diri kami sendiri.

 “Ke masjid itu ya untuk beribadah pada Allah, karena Allah. Lillah. Bukan ke masjid malah cari-cari jodoh. Ya kalau soleh beneran, kalau dia hanya seolah-olah soleh?” cerocos Arin.

Aku langsung membuka media sosial Facebook milikku. Aku menujukkan ke Arin dan Kinan sebuah unggahan di halaman dinding Facebook milik teman. Ibarat membuat api unggun, aku yang menyiramkan minyak tanah ke tumpukan kayu. Biar suasana makin seru.

Solat Jumat dulu ah, biar ganteng!

“Nah, benerkan. Berarti jangan cari calon suami di masjid apalagi saat solat Jumat. Kenapa? Karena mereka enggak hanya terlihat soleh aja tapi juga kelihatan ganteng semua. Setelah keluar dari masjid, gantengnya hilang. Hahahhaa…” Arin kembali berkomentar.

“Hei, hei… Setidaknya, kriteria pertama terpenuhi. Calon imam kita benar-benar menjalankan solat. Bahaya kan kalau dia seorang muslim tapi tidak solat. Solat saja dia tinggalkan, apalagi kita,” aku tersenyum.

“Tuh kan. Apalagi aku pernah dengar carilah calon suami di jamaah solat subuh. Gimana tuh?” tanya Kinan.

“Orang yang menjalankan solat subuh di masjid itu sangat berat. Apalagi untuk seusia kita. Coba kita tanya ke diri sendiri, enggak perlu jamaah subuh ke masjid deh, pilih solat subuh tepat waktu atau kembali narik selimut dan tetap tidur di kasur? Berat, kan? Jadi enggak cuma rindu aja yang berat.” kataku dengan sok bijak.

Tidak ada solat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada solat subuh dan isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak.

Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas adzan untuk iqamat (salat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang tidak keluar melaksanakan solat (di masjid). (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)

“Kita jangan sampai salah berniat dalam beribadah, termasuk beribadah ke masjid. Luruskan niat hanya karena Allah. Misal nantinya benar-benar dapat calon suami yang bermula dari masjid, ya anggap saja itu bonus dari Allah.

Yang penting, kita terus meningkatkan kualitas diri. Memperbaiki diri juga hati. Percaya dan yakin saja, saat kita baik maka kebaikan-kebaikan yang lain akan menyertai kita. Termasuk dalam hal jodoh.” Aku kembali tersenyum.

“Wah, sepertinya bakal ada yang milih nikah setelah lulus kuliah, nih. Hahahaa …” Arin menggodaku.

Kami bertiga kembali tertawa. Kali ini kami menertawakan kegalauan yang sebenarnya tidak perlu kami risaukan secara berlebihan. Karena bukankah sudah ada yang menjamin?

Laki-laki baik untuk wanita baik. Begitu juga sebaliknya, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik pula.

Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula.

Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An-Nur ayat 26)

“Jadi, masih berminat cari calon suami di masjid?” Aku bertanya pada Arin dan Kinan, juga pada diriku sendiri.

Oleh: Yulia Hartoyo.

Tinggalkan Balasan