Teruntuk laki-laki pertama yang paling setia

Jika Ibu adalah surga bagiku, maka kau adalah salah satu jalan yang mengantarkanku untuk sampai ke sana.

Ayah, aku tak tahu, seberapa lebar tawamu, ketika mendengar tangisanku untuk pertama kalinya. Aku juga tidak tahu, apa yang mesti kaupertaruhkan saat itu, agar aku dapat melihat dunia. Akupun tak yakin benar-benar mendengar, waktu kaukumandangkan azan di telingaku sebagai pengenalan awal kepada-Nya. Aku bahkan tak ingat kapan kata “Ayah,” mulai kuucapkan untuk memanggilmu. Aku cuma mendengar cerita-cerita darimu, Ibu dan juga orang-orang, bahwa kau adalah Ayahku. Dan aku mengamininya. Aku bahagia menjadi putrimu. Tetapi, akhir-akhir ini ada beberapa kenangan yang membuat hatiku perih. Entah mengapa.

Tiba-tiba, aku rindu sekali. Rindu duduk di boncengan sepeda yang sedang kaukayuh. Aku tak tahu seberapa jauh, jarak yang akan kita tempuh waktu itu. Aku masih sangat kecil. Belum cukup bisa berempati tentang lelah yang kaurasakan. Aku hanya terus menikmati setiap cerita yang kaukisahkan selama perjalanan. Sesekali bertanya, “Ini nama desanya apa, Yah?” dengan lafaz yang belum sempurna. Kau pun begitu antusias menanggapi pertanyaanku. Lalu, kita sempat berhenti untuk membeli es degan langgananmu. Rasanya enak sekali. Sungguh, aku belum menemukan es seenak itu hingga sekarang. Apa karena aku meminumnya saat haus dan bersamamu, Yah? Mungkin saja iya.

Ayah, aku juga rindu, saat menanti kepulanganmu di depan pintu. Tahukah kau apa yang kupikirkan ketika kau datang? Yes, Ayah pulang bawa jajan. Setidaknya kau akan membawakanku sekantung buah. Atau jika memang aku sedang mujur, kau bisa saja membelikanku satu bungkus sate. Hahaha … begitulah yang ada di benakku kala itu. Tak pernah kubayangkan jika ternyata, kau menghabiskan sepanjang hari di bawah terik matahari, demi menghidupiku dan Ibu. Tak terlintas di pikiran, berapa lama kau mesti mengayuh sepeda untuk bisa berjumpa dengan kami lagi.

Aku masih ingat, suatu malam hujan sangat lebat, kau belum juga pulang. Ibu tampak beberapa kali membuka pintu kemudian menutupnya lagi. Tidak lama, kau tiba di rumah. Apa kau baik-baik saja di jalan, Ayah? Aku melihat bajumu basah kuyup. Bibirmu biru dan tubuhmu menggigil. Tetapi setelah berganti pakaian, kau tetap meladeni deretan pertanyaan yang kuajukan. Hemm … tentu kau tidak apa-apa. Dulu kau begitu kuat. Ya, kau merupakan laki-laki paling hebat. Yang sesekali menggendongku di pundakmu meski kedua tangan tengah membawa beban lain. Kau pria terhebat yang dengan kedua tangan besarmu, menggenggam tanggung jawab yang teramat berat yakni mendidik aku dan Ibu.

***

Hari-hari ternyata begitu cepat berlalu ya, Yah? Tanpa terasa, aku menginjak masa remaja. Mengaturku, pasti lebih sulit dari sebelumnya. Aku mulai asyik dengan dunia baruku dan menjauh darimu. Pesan-pesan agar tak pulang kemalaman, kadang kuabaikan. Namun, kau tak pernah bosan untuk membenarkan jika aku melangkah di jalan yang salah. Meski jujur, aku sering kesal sebab terlalu banyaknya aturan yang kaubuat. Bagaimana tidak, kau melarangku turut bergabung dengan teman-teman yang suka nongkrong hingga tengah malam di perempatan desa. Padahal aktivitas mereka sungguh menggiurkan walau hanya ngobrol kosong tanpa tujuan.

Bukan hanya itu, kau pun tak mengizinkanku pergi bersama teman-teman ke pasar malam tanpamu. Tahukah kau, Ayah? Itu sangat menyebalkan dan membuatku malu. “Anak manja yang tak bisa lepas dari Ayahnya.” begitu yang biasa diucapkan mereka—kawan-kawanku. Dan yang lebih parah, kau sering menjemputku dengan paksa ketika aku sedang seru berbincang dengan sepupu sampai lebih dari jam sembilan malam.

Lalu apa ini satu ungkapan kekesalan? Tidak, tidak Ayah, ini sebuah rasa syukur. Aku beruntung kau mendidikku dengan cara seperti itu. Belasan tahun kemudian, ketika jarak dan waktu membuat kita berjauhan, aku telah terbiasa dengan penjagaanmu. Hingga dengan sendirinya, aku tak suka pergi sampai larut malam. Dulu, aku memerlukanmu untuk mengontrol keinginanku sehingga saat kau tak lagi di dekatku, aku sudah cukup tau bagaimana cara melindungi diri.

Kau memang bukan sosok Ayah sempurna. Tetapi, kau selalu memilihkan yang terbaik untukku. Kau bukan Ayah yang memanjakanku dengan harta melimpah. Namun justru darinya lah aku belajar kesederhanaan. Kau juga bukan seorang Ayah yang tak pernah marah. Tetapi sebab itulah aku bisa tegas terhadap diriku sendiri. Dan masih banyak lagi kebaikan yang kautanamkan.

Termasuk aku yang baru menyadari, ternyata kau sering berbohong padaku. Saat pulang kerja dan aku mengajak kita makan sate yang kaubawakan, katamu, kau sudah makan lebih dulu. Bohong, kau hanya beli satu untukku.  Kulihat, kau makan dengan lauk yang tadi dimasak Ibu. Apa itu satu-satunya kebohonganmu, Ayah? Sekali lagi tidak, kau juga selalu bilang tak lelah. Padahal, seharian kau habiskan untuk bertarung melawan panas hujan di luar sana. Dari kebohongan-kebohongan ini, aku mengerti tentang pengorbanan kecil bernilai besar yang kaulakukan.

Terima kasih ya, Yah. Untuk setiap jengkal waktu yang kau lewati demi anakmu ini. Terima kasih, atas perjuangan yang belum juga selesai. Terima kasih karena dengan ikhlas memberiku beasiswa hidup tanpa syarat, yang tentu tak akan pernah mampu kubalas. Terima kasih untuk doa-doa terbaik yang engkau lantunkan. Doamu dan Ibu yang membantuku menyusuri jalan-jalan suram dalam hidup. Yang terakhir, terima kasih, terima kasih yang tak terhingga karena kau adalah Ayahku.

Maaf, jika aku seringkali melupakanmu dengan alasan sibukku. Maaf, karena anakmu ini belum bisa membuatmu tersenyum bangga. Maaf, karena setelah sekian tahun kaubesarkan, aku masih di tahap menjadi beban. Dan maafkan aku Ayah, untuk segala kekecewaan yang kaurasakan baik yang telah berlalu atau akan terjadi di masa yang mendatang.

***

Hiks … sebentar, izinkan aku menghela nafas sejenak ya, Yah. Bagian ini terasa jauh lebih sulit dari apa yang kutulis sebelumnya. Ada banyak pertanyaan untukmu yang sekarang duduk di sampingku. Ayah, seberapa jauh jalan yang telah kau tempuh? Goresan-goresan luka di kakimu tak cukup menggambarkan ribuan rintangan yang sudah kau terjang. Seberapa getir waktu yang sudah kau lalui? Kini, kulihat ragamu semakin kalah melawan usia. Potongan-potongan perjuangan telah memahat tulang pipimu yang tampak mengeriput. Guratan-guratan putih di rambutmu kian bertambah seiring berkurangnya kekar di tubuhmu.

Akupun bukan lagi putri kecil yang dulu begitu aman di pelukanmu. Adakalanya aku merasa terancam saat harus menghadapi manusia-manusia di luar sana. Namun pesanmu selalu tertancap di pikiranku “Nduk, Allah akan selalu bersamamu. Asalkan kamu senantiasa mengingat-Nya.” Aaah … terima kasih ya, Yah, kau sudah memberitahuku tentang-Nya. Dia senantiasa ada untukku seperti yang kaukatakan. Dia terus-menerus menjadikanku aman di antara keributan-keributan yang tak dapat kukendalikan. Dia menyayangiku tanpa batas melebihi kasih sayang Ibu. Sekali lagi, terima kasih Ayah, kau telah mengenalkanku pada Penciptaku.

Ayah, kau sering bicara, suatu ketika nanti, aku pasti meninggalkanmu untuk hidup bersama pangeranku. Dia yang akan menggantikanmu, menjaga dan melindungiku. Aku harus menjadikannya nomor satu. Baik, Yah … aku akan berusaha patuh padanya, seperti yang kauajarkan. Selama dia taat kepada Allah. Tetapi Ayah, ketahuilah bahwa di hatiku, selamanya kau tetap seorang Raja yang tak akan pernah turun dari singgasananya. Kau dan dia mempunyai tempat yang berbeda. Namun sama pentingnya.

Ayah, saat ini aku tengah menatapmu. Sedangkan kau, bersandar di kursi kayu sambil mengelap kacamata yang sedikit buram itu. Kita bercerita tentang masalalu. Masa yang menyedihkan untukmu. Kau bilang, aku bukanlah anak nakal, sejak dulu. Sebelum meminta sesuatu selalu bertanya, “Apa Ayah punya uang?” karena aku paham keadaan orangtuaku yang serba kekurangan. Apa itu benar, Yah? Apa aku harus bangga karenanya? Atau malah sedih sebab nyatanya sampai sekarang, putrimu ini belum bisa memberimu apa-apa?

Hemm … apapun itu, maukah kau tetap menunggu, Ayah? Menunggu dan menyaksikan aku melewati naik turunnya roda kehidupan. Menunggu kepulanganku dengan doa-doa terbaik bersama Ibu. Menungguku dengan keadaan sehat hingga cucu-cucumu beranjak dewasa. Sampai saat itu tiba, tolong jaga Ibu dan tetaplah baik-baik saja, Ayah!

Ayah, kita sedang bersama, bukan? Tetapi ternyata rasa kangenku belum juga terobati. Hatiku malah semakin sesak dengan obrolan kita tentang masa-masa itu. Iya, sebab aku rindu menjadi gadis kecilmu, yang hangat dalam dekapan, tanpa harus berpikir apa yang akan terjadi di masa depan.

Peluk Hangat.

Dari Sang Putri.

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: