Times is free, but it’s priceless.

You can’t own it, but you can use it.

You can’t keep it, but you can spend it.

Once you’ve lost it, you can never get it back.

(Harvey Mackey)

Siapa yang setuju dengan quote dari Harvey Meckey? Waktu itu gratis, tapi enggak ternilai harganya. Kamu enggak bisa memilikinya, tapi kamu bisa menggunakannya. Kamu enggak bisa menyimpannya, tapi kamu bisa menghabiskannya. Setelah melewati (kehilangan) waktu itu, kamu enggak akan pernah mendapatkannya kembali

Ada seorang teman, sebut saja si Badung. Dia pernah bercerita kalau dia menyesal karena masa remajanya selalu dia pakai dalam hal yang enggak bermanfaat. Contohnya?

Pacaran. Ya itu salah satu contoh kenakalan dia semasa remaja. Dia memang sering gonta-ganti cewek ketika SMP, dari satu kelas, beda kelas, sampai beda sekolah. Hingga, akhirnya ketika SMA, dia harus menjadi seorang ayah sebagai pertanggungjawaban darinya. Penyesalan pun enggak bisa mengembalikan keadaan.

Dampak dari perbuatan tersebut, bukan hanya si Badung yang menanggung malu. Keluarga besar pun mendapatkan pandangan yang buruk oleh masyarakat sekitar. Masih teringat jelas, bagaimana dia menceritakan semuanya, kalau masuk ke dalam pergaulan yang buruk, akan menghasilkan sesuatu yang buruk juga. Nikmatnya, senang-senangnya hanya sesaat, tapi menanggung malunya bisa seumur hidup.

Mengerikan, bukan? Sungguh, waktu memang enggak bisa diputar kembali. Kira-kira apa yang menyebabkan hal demikian terjadi? Menurut Salman Al Farisi dalam bukunya yang berjudul Pergaulan Bebas ada beberapa faktor, di antaranya:

  1. Arus globalisasi.
  2. Pengaruh teman.
  3. Iman dan pemahaman agama yang lemah.
  4. Pelampiasan rasa kecewa.
  5. Kemlaratan.
  6. Pengaruh media massa.

Keenam poin di atas sangat berpengaruh akan keluarnya ‘jalur’ pergaulan pada remaja. Terus remaja yang seperti apa kamu? Yang masih pada jalur baik-baik saja, atau sudah enggak baik, nih, yakni remaja yang sudah merorok, beralkohol, judi, berpacaran, dan hal-hal yang bisa memberikan dampak negatif lainnya.

Pada masa remaja inilah, orangtua juga mulai menaruh kepecayaan kepada anak-anaknya, sehingga mulai untuk memberi ruang kepada putra-putrinya dalam menentukan pilihan. Karena menurut para orang tua, kita para remaja sudah bisa memilih mana yang baik, dan mana yang buruk. Meski  pada kenyataanya enggak sedikit yang terbawa arus pergaulan yang salah.

Nah, bagi kalian yang sudah terjebak dalam pergaulan yang salah, nih, sekarang waktunya untuk keluar dari lingkungan tersebut. Sebelum semuanya terlambat dan enggak bisa terselamatkan.

Masa remaja adalah masa seseorang beranjak dari kanak-kanak menuju dewasa. Dari sana akan menghasilkan ego yang lebih besar, gairah yang menggebu-gebu, dan cenderung ingin lepas dari aturan orangtua. Pada masa seperti ini biasanya juga disebut masa-masa pencarian jati diri.

Terkadang, dalam proses pencarian jati diri itu didominasi oleh nafsu, sehingga bukan jati diri yang diperoleh, melainkan kesalahan dalam melangkah. Sebagai contoh, dalam pergaulan ada seseorang yang membawa alkohol, maka orang tersebut akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk menikmati minuman tersebut. Kalau enggak, maka siap-siap umpatan cupu sampai banci akan dilontarkan oleh penghasut.

Pada momen seperti itu, kebanyakan yang berhasil adalah mereka yang menghasut. Dari sana terkadang memang perlu dalam memilih teman, kecuali dia bisa meyakinkan dan membentengi dirinya sendiri sehingga enggak akan tergoda oleh rayuan teman yang ‘nakal’.

Dari buku Ustaz Jefri Al-Bukhori yang berjudul Sekuntum Mawar untuk Remaja halaman 28, siapa yang melakukan perbuatan haram berarti dia telah melakukan dosa. Setiap dosa berarti kepedihan di api neraka.

Bagaimana ‘mantul’ enggak, tuh? Nah, kalian belum ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Yuk, menjadi remaja yang siap menyambut masa depan yang cerah, menjadi remaja yang aktif positif dalam kesehariannya. Mau?

Hal pertama yang harus dilakukan yakni melepaskan semua aktivitas yang membawamu dalam jurang kemaksiatan. Susah? Awalnya begitu, tetapi lama-lama akan terbiasa, sudah banyak orang-orang di belahan bumi sana yang melakukan hal serupa. Percaya, deh.

Terus, sembari berusaha lepas dari aktivitas yang buruk pelan-pelan juga dekati Sang Pemilik Kehidupan, pelan-pelan saja, maka Allah akan dengan ‘cepat’ menghampirimu. Sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang berbunyi, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku.

Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Masyaa Allah begitu Maha Baiknya Dia, bukan? Kalau sudah bisa lepas dan mulai terbiasa dengan kehidupan yang positif, tinggal kita menfaatkan waktu sebaik-sebaiknya karena time is free, but it’s priceless.

Jangan ada lagi kisah si Badung yang menimpa kalian. Karena hal ‘sepele’, yang sangat wajar masa-masa remaja mengalami jatuh cinta, tapi justru si Badung terjebak dalam cinta yang salah. Itulah kenapa Islam juga melarang untuk berpacaran, karena aktivitas tersebut sama dengan mendekati zina.           

Saatnya untuk mengasah kemampuan diri, menggali potensi yang ada. Karena bagaimana hidup kita pada masa depan tergantung pada diri kita sendiri, bukan orangtua, bukan orang lain, bukan. Enggak percaya? Seperti contoh nyata si Badung di atas, coba kalau dia lebih memilih hal-hal positif lainnya selain pacaran, maka hal yang enggak diinginkan, enggak akan terjadi.

Pada zaman yang serba mudah ini, enggak perlu bersusah payah lagi dalam mencari informasi yang berkaitan dengan minat dan bakat yang kita miliki. Ada banyak sekali komunitas yang tersebar di dunia maya.

Masih dalam buku karya Ustaz Jefri Al-Bukhori yang berjudul Sekuntum Mawar untuk Remaja halaman 102, Allah sangat mencintai dan memberikan apresiasi yang besar kepada para remaja, yang mampu menghindarkan diri dari hal-hal negatif yang dapat membawa kepada kehancuran, serta mampu melakukan perbuatan baik (prestasi) dalam hidupnya.

Ayo, mulai sekarang kita harus lebih memanfaatkan waktu dengan baik. Kita yang harus mengatur waktu, bukan sebaliknya. Tahu kapan harus main bersama teman-teman, kapan saatnya mengasah kemampuan diri, dan yang terpenting sadar akan waktunya untuk ibadah.

Masa remaja itu sebagai pondasi bagaimana kita ke depannya. Kalau kita baik, menjalani pola hidup yang sehat, maka hasil ke depannya akan baik. Begitu sebaliknya, jika kita sudah jauh dari agama Allah, hidup berantakan, mendahulukan nafsu dan ego, yang begini harus siap-siap masuk dalam madesu (masa depan suram, nauzubillah) Ya, meski tetap si Pemilik Kehidupan yang mengatur semuanya.

Ketika hal-hal di atas sudah mulai diterapkan, maka kebahagiaan sudah ada di depan mata. Bukankah ada pepatah yang berbunyi, bersakit-sakit kita ke hulu, berenang kita ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, senang kemudian?

Hal itu yang dinamakan proses, dan yang namanya proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Untuk yang berminat olah raga, bisa gabung dalam klub resmi. Minat fotografi, asah terus skill motretnya. Gemar bersosial media manfaatkan gadget-mu dengan maksimal, semisal membuat video kocak, atau inspiring juga bisa, setidaknya waktu kita tidak terbuang percuma.

Setidaknya ya, jika kita mendalami hal tersebut dengan serius, kita akan mengantungi yang namanya softskill yang seperti ini tidak bisa ditemukan di bangku sekolahan.

Semangat meraih masa depan yang bahagia.

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: