Saya memanggilnya Papa. Lima kakak dan satu adik saya juga memanggilnya Papa. Panggilan lumrah pada sosok ayah. Namun agak aneh ketika panggilan ini terdengar di kampung pelosok Sulawesi. Tepatnya Pulau Buton. Jika pernah menghafalkan buku Himpunan Pengetahuan Umum saat sekolah, kamu akrab dengan nama Buton, pulau penghasil aspal.

Papa bagiku adalah salah satu sosok sentral hidup. Tentunya bersanding dekat dengan Ina, panggilan untuk ibu kandungku. Di rumah, Papa pendiam sekali. Jarang berbicara. Walaupun saat kami semua berkumpul, berceloteh ramai di ruang makan atau di ruang tamu, Papa lebih banyak diam. Seolah-oleh diamnya adalah puncak bahagianya. Barangkali cukup kontradiksi dengan profesi Papa sebagai seorang Guru SD. Atau ketika diangkat sebagai Kepala Sekolah. Bagi saya, sulit membayangkan bagaimana mengajar atau mengatur sebuah sekolah jika diamnya Papa lebih sering ketimbang bercakapnya.

Satu hal yang saya syukuri dari Papa. Di balik diamnya, ternyata sikapnya yang segera melakukan sesuatu tanpa banyak berkata-kata sangat membekas dalam ingatan saya. Sampai hari ini, sisi lain Papa ini selalu terbayang dalam genggaman tangannya. Ya, tangan Papa. Detailnya hingga saat ini, masih jelas. Walaupun Papa sudah meninggal 21 tahun lalu.

Senja selalu ditandai azan magrib, tangan Papa selalu menggandeng saya menuju masjid sejak awal azan menggema. Betapa tangan berurat itu nyaman sekali menuntun. Menembus rumput ilalang dan rumput liar. Kadang agak menakutkan ketika ditingkahi gonggongan anjing liar. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar 300 meter dari rumah menuju masjid. Setiap hari, maghrib, isya. Ritual yang masuk dan menetap permanen dalam genetik DNA saya.

Berbilang hari, minggu, bulan dan bertahun-tahun, tangan itu setia menggandeng tangan saya. Sejauh 300 meter tanpa percakapan. Hanya sunyi dan suara hewan liar yang mengiringi langkah kami. Itulah mengapa saya hafal betul lekukan jari Papa. Kelingkingnya yang sedikit bengkok di ruas ke dua dari ujung atas. Jari tengah ruas pertama agak bengkok ke samping. Jempol dengan tonjolannya. Telapak tangan penuh kapalan.

Tangan ini melepas saya ketika harus berangkat kuliah ke tanah Jawa. Tangan ini tidak sempat menyembunyikan satu bulir di sudut matanya. Kata Ina, itu pertama kali Papa menangis. Tangan ini saya sempatkan cium. Rasanya sejuk sekali.

***

Bertahun-tahun saya berjuang di Jawa. Walaupun jauh dari Papa, tangannya selalu menyertai kala azan maghrib terdengar. Langkah kaki ini pun menjadi lebih ringan menuju masjid. Ternyata Papa selalu ‘menyertai’ saya di tempat jauh. Tekad saya satu, ingin membahagiakan Papa. Membuat Papa bangga. Anaknya siap berjuang hingga akhir untuk meraih gelar sarjana. Sarjana bagi kampung saya masih sangat prestisius. Sarjana apa pun.

Selama masa kuliah, beberapa kali pulang kampung. Bertemu Papa. Tetap dalam diamnya. Saya mulai memahami kalau diamnya adalah senangnya. Privasi beliau yang harus saya hormati. Harus saya hargai dengan diam pula. Hingga ketika saya harus menikah dengan istri yang berasal dari Jawa, Papa juga tetap diam. Ada 3 kali istri saya ajak untuk pulang kampung. Bertemu Papa, dan wajah Papa berbinar. Kuliah saya selesai, dapat istri solehah pula.

Pilihan saya untuk menata rumah tangga di kota Malang sudah saya ajukan pada Papa. Alhamdulillah, Papa merestui. Hingga lahir anak pertama dan ke dua kami. Saya kabarkan ke Papa. Tetap diam, bahagia.

Kala berita Papa sakit keras, itu mengusik gelisah hati saya. Sempat panik karena hanya ada satu pilihan, pulang. Tetapi kendalanya, tidak ada uang untuk biaya tiket kapal laut. Istri mengusulkan untuk pinjam kepada teman. Selama dua hari perjalanan laut, gelisah selalu menghantui saya. Makan, tidur pun, tidak nyaman. Pikiran terus terbayang Papa. Ketika kapal belum merapat sempurna di dermaga, saya sudah meloncat menuruni tangga yang masih bergerak didorong kuli pelabuhan. Kakak saya sudah menjemput dengan kendaraan yang mesinnya sudah dihidupkan. Lalu melesat cepat menembus kerumunan calon penumpang menuju rumah Papa.

Saat melewati pintu dapur, rumah sudah penuh dengan semua saudara, paman, bibi, kakak ipar. Semua mengelilingi ranjang Papa. Saya dapati Papap terbujur, masih bernapas satu-dua sambil ditalkin kakak. Semua melihat saya, lalu kerumunan itu terbuka sendiri memberi kesempatan saya bersimpuh. Saya pegang tangan Papa. Masih hangat dengan tonjolan-tonjolannya. Saya dekap. Saya berbisik di telinga Papa, “Anakmu sudah pulang.”

Saya tahu mata Papa sudah terpejam. Napas tinggal satu-satu, berat. Dan, tangan itu bergerak menggenggam lebih erat. Seolah Papa tidak lagi diam. Dia mungkin berkata, “Iya nak.” Sudah aku tunggu. Selepas genggaman tersebut, ruh Papa terbang di genggaman malakul maut.

Hati saya campur aduk. Tapi yang menang adalah rasa bersalah. Bayangan saya, pulang kali ini saya bertekad untuk banyak bercerita dengan Papa. Saya ingin dan yakin Papa akan banyak bercerita pula. Nyatanya semua keinginan saya hanya diwakili oleh sebuah genggaman lebih erat. Saya bawa rasa sesal ini bertahun-tahun.

Rasanya saya layak masuk kategori anak durhaka. Walaupun saya tidak siap dengan konsekuensinya. Rasa bersalah ini terbawa bertahun-tahun. Setiap mendengar suara azan, masih selalu teringat tangan Papa. Tetapi terselip rasa bersalah itu. Kadang terbangun di tengah malam. Badan basah oleh keringat. Tangan Papa ikut andil. Ujung-ujungnya adalah muncul rasa bersalah lagi dan ini menjadi sebuah persoalan berkepanjangan. Mungkin sudah masuk dalam alam bawah sadar saya, selama 21 tahun lamanya. Hingga muncul solusi tanpa sengaja.

Qadarullah, saya dan istri mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Baitullah dalam umroh kami. Setelah melaksanakan umroh wajib, dua hari berikutnya kami ditawarkan untuk melaksanakan umroh badal. Saya ikut program ini, walaupun ada perbedaan pendapat di kelompok jamaah kami. Saya ingin membadalkan Papa. Saya tahu persis Papa ingin sekali mengunjungi Baitullah. Umroh badal atas nama Papa pun selesai saya lakukan dengan sempurna. Sederhana, saya lakukan dalam diam. Seperti Papa.

Ketika tiba saatnya kami harus meninggalkan Mekkah. Semua barang sudah dikemas. Diumumkan bahwa bis akan mengantar kami ke Jeddah selepas shalat zuhur. Rombongan saya mengambil keputusan tidak sholat zuhur di Masjid Haram. Namun, saya izin khusus kepada ketua rombongan untuk sholat zuhur di Masjid Haram.

Saya sendirian. Saya berangkat bersama jutaan jamaah dari negara lain. Mengambil shaf di lantai dua barisan ke tiga. Masih bisa melihat Ka’bah. Iqomat disuarakan, shaf ditata, rapi dan lurus. Ketika saya melirik jamaah yang merapat persis di samping kiri saya, jantung saya serasa berhenti. Dan saya tidak berani lagi melirik jamaah di kiri saya tersebut. Saya yakin dia orang Arab asli. Mungkin Badui. Karena pakaiannya jubah serba putih, bersorban khas.

Namun yang agak mengganggu khusyuk adalah, perawakan dan wajahnya. Tingginya persis Papa. Badanya, agak kurus, warna kulitnya coklat. Bulu kuduk saya merinding saat melihat sepintas wajahnya. Persis Papa. Tilang pipi agak menonjol, garis mulut dengan bibir agak tebal. Zuhur saya jelas tidak khusuyu. Karena setiap gerakan dia, membuat mata saya ingin melirik terus.

Semakin banyak gerakannya yang terekam, semakin kuat profil Papa hadir di sisi kiri saya. Mungkin zuhur saya tidak khusyu, namun saya menangis. Tergugu, hampir sepanjang shalat. Air mata turun deras, tidak bisa ditahan. Dada rasanya bergerak keras tidak bisa saya kendalikan. Itu zuhur yang sangat melelahkan. Saya bertekad, selepas shalat ini, saya akan berani menghadap ke sosok ini. Saya sudah siap dengan semua akibatnya.

Ketika imam mengucapkan salam akhir shalat, dan jamaah mengikutinya, saya sangat kecewa. Karena sosok yang mirip Papa itu langsung berdiri meninggalkan shaf. Dia berjalan menjauhi saya, tanpa sempat saya lihat wajahnya. Saya mengakhiri sholat zuhur terakhir saya di Masjid Haram dengan sedikit rasa kecewa. Namun, di malam terakhir di Jeddah, dalam tidur, saya didatangi Ina. Dia mengucapkan terima kasih karena sudah membadalkan Umroh untuk Papa. Ina bilang Papa senang sekali.

Untuk pertama kalinya, tidur saya tidak dibangunkan lagi oleh mimpi buruk karena rasa bersalah pada Papa. Mulai hari itu, tangan Papa hadir lagi menggandeng saya. Dan di pikiran saya, wajah Papa tertawa renyah. Walau masih dalam diam abadi. Terima kasih Papa.

Oleh: Ir. Sulwan, CHt.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: