“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.”

Pernah mendengar kutipan di atas? Ya, itu adalah kata-kata Buya Hamka. Sangat bernas, bukan? Sangat cocok dengan hakikat penciptaan manusia. Kita tahu, Tuhan menciptakan manusia lebih tinggi derajatnya daripada makhluk hidup lainnya, yaitu dengan memberinya budi. Tentu ada maksudnya, dong. Dengan budi, manusia diharapkan menjadi khalifah yang mampu mengatur, menjaga, dan memanfaatkan segala yang ada di bumi agar menjadi maslahat dalam kehidupannya.

Akan tetapi, ada juga, lho, manusia-manusia yang tidak menggunakan budi sesuai fitrahnya. Mereka bagai babi dan kera. Kehidupan hanya berkutat pada makan dan tidur. Tak ada gairah. Tak ada tekad. Tak punya nilai lebih.

Izinkan saya mengaku. Bertahun-tahun yang lalu, sayalah babi itu. Babi yang penurut. Babi yang gemuk dan menyenangkan semua orang.

Ketika bersekolah, saya adalah bintang kelas. Peringkat tiga besar selalu di tangan. Begitu pun di rumah. Saya adalah anak yang penurut dan pendiam. Orang tua menyuruh A, saya lakukan A. Pokoknya, apa pun yang membuat mereka bahagia, saya lakukan.

Apakah saya bahagia? Tentu! Siapa, sih, yang tidak bahagia dijuluki “Si Pintar”, “Otak Mesin”, dan semacamnya? Pasti semua orang menginginkannya, bukan?

Nah, ternyata, “kepintaran” ini membawa saya pada keberuntungan lain. Setelah lulus SMP, saya diterima di sebuah yayasan yang fokus membantu anak-anak kurang mampu yang mempunyai semangat belajar tinggi. Seluruh biaya hidup dan biaya sekolah ditanggung oleh yayasan.

Seperti sebelumnya, kehidupan saya selama di yayasan pun lempeng-lempeng saja. Makan, belajar di sekolah dan di yayasan, tidur, begitu seterusnya. Saya menjadi anak asuh yang baik. Siang malam saya belajar dengan rajin demi memenuhi harapan mereka. Alhamdulillah, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Predikat “anak pintar” masih melekat pada diri saya. Nilai-nilai pada rapor mampu membuat pihak yayasan menyunggingkan senyum lebar.

Pada saat kelulusan SMK, saya mendapatkan nilai di atas rata-rata. Saya pun mencari beasiswa dan memilih perguruan tinggi favorit. Pihak yayasan ikut menyarankan beberapa opsi yang bisa saya ambil, mulai jurusan, status perguruan tinggi, sampai jalur masuk. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, saya manut saja.

Beberapa tes untuk mendapatkan beasiswa saya ikuti. Pada waktu itu, saya benar-benar jungkir balik belajar siang malam agar bisa lolos tes-tes tersebut. Dalam hati, saya sangat ingin membanggakan pihak yayasan sekaligus keluarga dan membuktikan bahwa saya memang pantas mendapatkan puja-puji yang selama ini mampir di telinga.

Akan tetapi, ternyata semesta sama sekali tidak mendukung. Doa-doa saya ditelan angin. Segala usaha entah bermuara di mana. Saya shock. Bagaimana mungkin tidak ada nama saya dalam pengumuman beasiswa-beasiswa itu? Bagaimana mungkin! Ingin rasanya saya menjerit sekeras-kerasnya.

Berhari-hari saya terpuruk. Menangis dan terus menangis. Saya sudah mati langkah. Semua harapan runtuh. Rasanya, Tuhan sungguh tidak adil.

Akan tetapi, life must go on. Dalam kesedihan itu, perlahan-lahan saya becermin. Introspeksi berkali-kali. Kenapa saya gagal? Kenapa seakan-akan saya berhadapan dengan tembok tak berpintu? Apakah jalan yang selama ini saya ambil benar-benar jalan yang saya inginkan? Sungguhkah selama ini saya bahagia?

Lama saya memikirkan satu per satu kemungkinan jawaban. Mencari-cari di sudut hati yang terdalam. Lalu, apa yang saya temukan sungguh tidak terduga. Ternyata, ada yang salah dalam cara saya menjalani kehidupan. Ternyata, saya tidak pernah bahagia!

Ya, kebahagiaan yang selama ini saya rasakan itu semu. Dipaksakan. Apa-apa yang saya anggap membahagiakan adalah semata-mata kebahagiaan orang lain. Keinginan teman, keluarga, dan pihak-pihak yang berjasa selalu menjadi fokus saya. Saya hidup bagai robot. Tak pernah mampu berdiri di kaki sendiri.

Lalu, bagaimana saya menciptakan kebahagiaan sendiri? Melepaskan topeng yang bertahun-tahun saya kenakan?

Saya harus berhenti berpikir bahwa selamanya saya harus menyenangkan semua orang yang nyatanya mustahil dilakukan.

Jadi, untuk pertama kali dalam hidup, saya membuat keputusan dengan kesadaran sendiri, tanpa bayang-bayang, tanpa memedulikan apa kata orang. Pilihan mantap yang tak akan pernah saya sesali.

Saya tidak akan kuliah!

Titik Balik

Bertahun-tahun saya menjadi babi yang bahkan melihat tubuh sendiri pun tak mampu. Kini, sudah saatnya saya menjadi manusia seutuhnya. Mengaktifkan kembali akal budi yang lama terpasung. Mengeluarkan semua keinginan dan gagasan yang lama terpendam.

Perlahan-lahan, saya mulai belajar memahami diri sendiri. Saya lepaskan atribut “anak pintar” yang selama ini ternyata justru menjadi beban. Saya memilih menutup telinga dari pendapat orang dan lebih mendengarkan kata hati. Saya fokus pada kekurangan dan kelebihan yang saya miliki.

Lalu, satu keputusan lagi saya buat.

Saya akan bekerja.

Memang, akan ada risiko yang harus saya terima jika memilih bekerja alih-alih kuliah. Meninggalkan kesempatan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya yang menjadi kewajiban setiap orang. Padahal, ada pepatah “Belajarlah dari buaian sampai ke liang lahad”.

Akan tetapi, bagi saya, itu bukan masalah. Bukankah ada juga pepatah “Banyak jalan menuju Roma”? Ada banyak cara yang bisa kita tempuh dalam mencari ilmu. Kuliah hanya salah satu jalan. Ibarat kita hendak pergi ke Roma, tidak melulu harus melalui rute atau moda transportasi tertentu. Bahkan, kasarnya, hanya dengan berjalan kaki pun kita bisa sampai ke sana. Sebab, ada ribuan benang yang bisa menghubungkan kita dengan Roma. Selama kita melewati benang yang benar, sekusut apa pun benang itu, kita tetap akan sampai di tujuan.

Dengan bekerja bukan berarti saya menumpulkan otak. Saya justru harus berusaha jauh lebih keras daripada anak-anak yang kuliah. Karena, jelas mereka menang dalam pengalaman.

Menemukan Talenta

Suatu ketika, kecintaan saya pada aktivitas membaca menghantarkan saya pada beberapa pertanyaan penting. Siapakah penulis buku itu? Bagaimana ia menuangkan apa yang ada di pikiran menjadi sebuah tulisan yang layak baca? Apa tujuan ia memublikasikan tulisannya?

Sebelumnya, saya sudah membaca ratusan buku, tetapi aktivitas itu hanya sampai pada menyerap ilmu dan pesan di dalamnya. Saya tak begitu peduli dengan si penulis. Bahkan, saya juga tak sekali pun memikirkan bagaimana ia menciptakan tulisan tersebut. Apakah sulit? Atau, hanya tinggal menuliskan apa yang ada di kepala? Tradisi mencipta benar-benar jauh dari pandangan saya.

Setelah merenung, saya menemukan jawabannya. Buku adalah jendela dunia. Ia menjadi alat untuk menyebarkan suatu pengetahuan. Dengan membacanya, kita bisa mengenal segala yang ada di dunia tanpa beranjak dari tempat duduk. Selain itu, ia juga berfungsi sebagai sarana komunikasi antara penulis dan pembaca.

Sarana komunikasi? Hem, sepertinya menarik, nih. Ya, selama ini saya termasuk orang yang tidak pandai mengungkapkan sesuatu secara lisan. Kadang-kadang, saya juga harus berpikir keras dan lama hanya untuk mengucapkan sebuah kata.

Berangkat dari situ, saya berpikir bahwa menulis bisa menjadi solusi atas kelemahan saya tersebut. Jadi, saya memutuskan untuk mengenal literasi lebih jauh. Sedikit demi sedikit, saya mulai memvisualisasikan apa yang ada di kepala ke dalam tulisan.

Awalnya memang agak sulit, tetapi lama-lama kata-kata itu mengalir begitu saja. Ada kelegaan setiap kali saya berhasil menyelesaikan sebuah tulisan. Sebelumnya, saya terus-menerus membaca tanpa menulis.

Akhirnya, saya yakin bahwa inilah talenta saya. Menjadi penulis. Dengan mencurahkan kata-kata, saya menjadi lebih hidup. Dengan semangat berbagi, saya merasa lebih berarti.

Bagaimana dengan kalian? Apa talenta yang kalian miliki? Ayo, tekuni talenta itu! Dengan bergelut di dalam ranah yang menjadi talenta kita, kita senantiasa akan termotivasi karena melakukan apa yang kita sukai tentu saja lebih mudah ketimbang sebaliknya.

Wong urip iku mung mampir ngombe. Jadi, sudah seharusnya kita mengisinya dengan sesuatu yang bermakna. Sesuatu yang akan meninggalkan jejak yang bisa dikenang. Kini, saya memilih untuk terus berkarya. Saya tidak ingin sekadar ada, tetapi “mengada”. Seperti kata salah satu penyanyi Amerika, “I choose to live, not just exist.”

Oleh: Ratna Kurnia.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: