arti cinta sejati

Cinta Itu Suci, Maka Jagalah Kesuciannya

Aku bukanlah orang yang mudah untuk jatuh cinta. Bukan pula perempuan yang sering mengikrarkan diri dalam sebuah rasa yang bernama ‘Pacaran’. Bahkan sekalipun tak pernah. Dan aku tak ingin mencobanya. Aku ingin membawa rasa cinta yang suci ini ke surga bersamanya kelak. Bukan malah sebaliknya. Bagiku tak ada yang salah dengan semua itu. Karena sudah tentu, setiap orang punya prinsip hidup yang berbeda.

Prinsipku sederhana, “Aku ingin tetap menjaganya (cinta), hingga kelak waktunya tiba.” It’s simple!

Bukan tanpa alasan aku memiliki prinsip seperti itu. Hanya saja aku tak ingin salah memilih cinta dan salah memilih imam untuk masa depan. Bagiku rasa cinta itu terlalu berharga jika sampai diberikan pada sembarang orang. Hanya orang tertentu yang berhak memiliki seutuhnya. Bukan karena pemilih. Karena memang aku tak ingin salah pilih. Hingga berakibat fatal untuk hidup dan masa depanku nanti.

Rasa suka itu wajar.

Karena memang sudah fitrahnya manusia dibekali dengan rasa kasih dan sayang. Dulu aku pernah merasakan rasa itu. Rasa ketika ada si dia jantungku akan terpacu dengan cepatnya. Rasa yang ketika dia berpapasan denganku membuatku salah tingkah. Rasa yang ingin memilikinya. Dan jujur, dulu aku terlalu abu-abu mengenal apa itu cinta.

Namun, syukurlah karena itu tak bertahan lama. Sedikit demi sedikit rasa itu mulai sirna dengan sendirinya. Entahlah apa penyebabnya. Mungkin Tuhan tak ingin jika aku meduakan-Nya. Karena sudah sepantasnya cinta itu kita berikan pada Sang Pencipta. Tak etis rasanya, ketika kita sering melupakan-Nya dan sering mengingat si dia. Tak akan ada yang mampu mencintaimu dengan sempurna, kecuali hanya Dia (Allah) kita.

Sudah berapa banyak kasus yang mengatas namakan cinta dan hanya berujung malapetaka.

Berapa banyak pula masa remaja yang hilang dan terampas kehormatannya hanya karena salah memilih cinta. Hingga berani merelakan kehormatannya begitu saja.

Di zaman sekarang seakan tak punya pacar itu tak gaya dan kudet. Seakan yang salah itu sudah biasa. Memamerkan kemesrahan dengan dia yang bukan muhrimnya seakan sudah menjadi tontonan publik. Apakah kita pun demikian? Semoga tidak. Semoga iman dan takwa selalu bersama kita. Aamiin.

Aku salah satu tipe perempuan yang menutup diri dengan kehadiran mereka yang tak kuharapkan (laki-laki). Bahkan aku terlalu takut meski hanya bergaul dan bercanda gurau. Aku tak ingin itu menjadi salah satu alasan rasa itu muncul tanpa permisi. Bahkan sampai harus dijadikan pengisi hati yang mulai gelisah dengan kehadiran sang pujaan hati. Aku tak ingin jika kelak hanya berakhir nihil dan sakit hati.

Aku masih ingat masa-masa SMA, sebagian besar teman sekelasku sudah memiliki pasangan (pacar), tinggallah aku sendirian. Yang lebih banyak memperhatikan tingkah konyol mereka. Aku lebih banyak menyibukkan diri dengan tumpukkan buku sebagai teman setia dan pelipur lara.

Aku sering kali memperhatikan mereka yang sudah berani mengungkapkan rasa. Saling bergandengan tangan ketika berjalan. Pulang pergi ke sekolah berboncengan. Bahkan sudah tak canggung lagi bermesrah-mesrahan di dalam kelas bahkan di ruang publik sekali pun. Entahlah apa yang mereka pikirkan.

“Apa mereka nggak malu diliat banyak orang yang berlalu lalang. Apa mereka nggak takut, jika orangtua mereka sampai tau kelakuan anaknya di sekolah.”

Tepat seperti itulah pikiranku saat itu. Yang hanya bisa kulakukan hanya menjauh dan mengindar. Hingga tak terlihat lagi hal-hal yang menurutku memalukan.

Andai saja kita mengerti susah payah orangtua kita untuk membiayai sekolah kita.

Apakah kita masih tega membuatnya kecewa dengan hal-hal buruk yang mengatas namakan cinta. Andai saja mereka tahu, jika itu bukan cinta. Itu hanya nafsu yang berkedok dengan label cinta. Entahlah ….

Sudah tidak sedikit kasus yang demikian. Bertahun-tahun menjalin hubungan. Namun, harus kandas di tengah jalan karena terhambat restu orangtua atau mungkin alasan klasik lainnya.

Aku masih ingat. Beberapa bulan lalu salah seorang temanku sering kali mengeluhkan sikap buruk suaminya. Dan setahuku mereka sudah berpacaran sekitar lima tahun lamanya. Menurutku, jika kamu sudah tau sifat buruk dia dan masih belum bisa menerimanya. Lantas, kenapa dulu mau menerimanya menjadi suamimu?

“Bagaimana dengan waktumu yang lima tahun itu? Belum cukupkah kamu mengenal dia dengan segala perangai buruknya?”

Jika sudah begitu, mengeluh dan membuka aibnya seakan tak berguna. Pilihanmu untuk mau hidup menderita bersama dia. Menerima segala segala sifat baik buruknya. Toh, itu juga pilihamu sendiri. Jangan salahkan nasib yang tak tau apa-apa.

Berkaca dari pengalaman kehidupan asmara beberapa temanku. Seakan menjadi lampu kuning bagiku. Bahwa memilih cinta itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Memang, tak ada namanya manusia sempurna yang bisa memberikan cinta yang sempurna pula. Justru dari ketidak sempurnaa itulah kita saling melengkapi. Saling berbagi kasih dan memupuk rasa cinta itu hingga makin mendekatkannya pada Sang Pemberi cinta itu sendiri.

Cinta itu suci, maka jagalah kesuciannya.

Tak ada yang namanya cinta jika kamu sampai berani menodainya. Tak ada yang namanya cinta, jika kamu berani merusaknya. Berpuasalah, maka kamu akan tahu rasa nikmatnya ketika berbuka. Seperti halnya cinta. Tahanlah, hingga waktunya tiba dan kamu berhak memberikan cinta itu seutuhnya.

Oleh : Indah A.W.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan