kisah menembak pacar ungkapkan cinta

Cinta Terpendam dan Adegan-Adegan dalam Kereta

Bagaimana cara sepasang bisu mengungkapkan cinta?

Pertanyaan itu selalu mengusikku, tiap aku teringat pada kepengecutanku yang belum juga berani membongkar rahasia hati sendiri.

Mengungkapkan cinta, kau tahu, tidak semudah mengungkapkan hal-hal lain. Aku bisa mengulang-ulang kalimat apa pun selain pernyataan cinta ribuan kali dengan lancar, tapi menyatakan cinta, biar hanya sekalipun beratnya seperti menanggung batu-batu purba di punggung.

Tiap kali kesempatan itu datang, saat mulutku siap membuka dan meluncurkan kata-kata, tiba-tiba saja tercekat seolah-olah ada hewan mikroskopik tak kasat mata menjerat lidahku. Sangat sulit bagiku untuk mengutarakan rasa cintaku. Makanya aku takjub pada orang-orang yang begitu ringan mengatakan I love you dan semisalnya.

Aku takjub pada keberanian dan kelancaran mereka. Mereka menyatakan perasaan pada orang-orang yang mereka cintai seperti roda kereta bergulir di atas rel yang baru direparasi. Lancar jaya sejahtera tanpa kendala.

Sedangkan aku, sekadar menyadari orang yang kucintai berada di sekitarku saja rasanya musim dingin mendadak melingkupi sekujur tubuhku. Membuatku gigil dan gugup tak keruan. Berada di dekat orang yang kucintai menyeretku ke dalam jukstaposisi–satu sisi senang bukan main karena ia ada di dekatku, sisi lain ingin lari saja karena gugup bukan kepalang.

Dan kini, tanpa pernah kuperkirakan sebelumnya, orang yang kucintai sedang ada di sampingku. Persis di kursi sebelahku, di dalam sebuah kereta jurusan Manggarai-Bekasi. Aku tidak tahu sejak kapan ia ada di situ. Aku sesekali melirik ke arahnya dan pura-pura tak mengenalnya.

Setibanya di stasiun Kranji kereta penuh sesak. Seorang ibu paruhbaya berdiri memancarkan wajah pertanda tak nyaman di hadapanku. Karena tak enak hati dan sudah semestinyalah yang lebih muda mengalah pada yang lebih tua, aku mempersilahkannya menempati kursiku.

Saat aku bersuara dan mengubah posisi menjadi berdiri, aku di luar kesadaran menoleh ke arah orang yang kucintai dan ia menatapku.

“Rian?” katanya pendek saja. Aku langsung salah tingkah, memalingkan wajah, dan nyaris saja menginjak kaki seorang penumpang yang berdiri di sebelah kananku.

***

Dari mana datangnya cinta?

Kata orang-orang sih: dari mata turun ke hati. Tapi, mencuat sebuah pertanyaan: kalau begitu, dari mana datangnya cinta bagi sepasang buta?

Belakangan aku kepikiran hal-hal semacam itu. Tentang asal-muasal cinta, sebab-sebab datangnya cinta, dan apa saja berkaitan cinta. Tepatnya, aku mulai kerap memikirkan soal itu ketika mataku tak sengaja bersitatap dengan seorang lelaki di lorong kampus.

Dulu aku menyebutnya ‘seorang lelaki’ saja, sekarang, setelah beberapa acara kampus dan sejumlah peristiwa di luar rencana manusia kerap mempertemukan aku dengannya, lalu membuat aku dan dia mau tak mau saling mengenal, aku menyebutnya ‘seorang lelaki yang kucintai’.

Aku dan seorang lelaki yang kucintai hanya berbeda jurusan saja. Ia jurusan Pendidikan Rindu dan Cinta, aku jurusan Pendidikan Kangen dan Sayang. Oh maaf, maksudku ia jurusan Pendidikan Biologi, sementara aku jurusan Pendidikan Matematika.

Semenjak aku jatuh cinta kepadanya—aku tidak bisa memastikan kapan mulanya bibit cinta ini tumbuh, apakah sejak awal pertemuan yang tak disengaja, ataukah pada pertemuan-pertemuan setelahnya; tapi itu tidak penting, kapan pun atau apa pun mulanya, jatuh cinta adalah jatuh cinta—aku sering menyengaja berada dekat-dekat dengannya.

Ketika ia di perpustakaan, aku yang sebetulnya jarang ke perpustakaan sengaja mengunjungi ruangan penuh buku itu. Atau ketika ia di kantin memakan bakso, aku mengajak teman-temanku ikut makan bakso, padahal sebelumnya aku tak pernah makan bakso di kantin kampus. Selain itu, aku juga mencari-cari tahu di UKM dan acara apa saja ia aktif, lalu dengan berbagai alasan aku pun turut serta ke setiap UKM dan acara yang ia ada di dalamnya.

Aku sebetulnya juga heran pada diriku sendiri yang seolah-olah terus mengejarnya. Biasanya, kan, lelaki yang mengejar-ngejar perempuan, bukan sebaliknya. Tapi tak apalah, aku hanya ingin ia tahu bahwa aku mencintainya dan ingin selalu berada di dekatnya.

Meski aku selalu berusaha mendekatinya, aku jarang membuka percakapan dengannya. Hanya sesekali saja, itu pun lantaran terpaksa atau aku sudah tidak sanggup lagi menahan gejolak keinginan untuk sekadar berbincang-bincang dengannya. Ah seharusnya aku tidak seberlebihan ini. Tapi mau bagaimana lagi, inilah cinta, beginilah cinta. Susah dikendalikan.

Anehnya, tiap aku berada di dekat seorang lelaki yang kucintai, ia yang awalnya terlihat santai, ketika menyadari keberadaanku mendadak menjadi tampak gugup. Saat bercakap-cakap denganku pun kata-katanya sering patah-patah. Aku tidak tahu itu pertanda apa. Hanya aku berharap itu bukan suatu pertanda buruk.

Hingga tiba suatu hari—hari ini—aku memberanikan diri mengikutinya pulang dari kampus menaiki kereta. Biasanya aku pulang dengan menumpang bus kota. Tidak tahu juga mengapa aku nekat melakukan ini, tapi sudah kukatakan bukan, inilah cinta, beginilah cinta. Susah dikendalikan. Dan susah dipahami pula.

Mulanya aku mengambil jarak dengannya. Ketika ia menduduki kursi bagian kanan, aku memilih kursi bagian kiri, namun tetap di bagian gerbong kereta yang sama. Dari jarak yang tak begitu jauh itu, aku mencuri-curi pandang kepadanya, memerhatikan tiap gerak-geriknya.

Kadang ia menatap ke luar jendela, lalu memainkan ponsel, atau sesekali diam termangu entah memikirkan apa. Saat tiba pada suatu waktu aku memandangi lamat bagian wajahnya dalam beberapa detik, dadaku bergetar, dan sebuah suara entah dari mana membisikkanku agar menempati kursi di sampingnya yang masih kosong.

Barangkali sesuatu yang istimewa akan kau dapati ketika duduk di sampingnya, begitu kata bisikan tersebut.

Tatkala ia sedang fokus mengusap-usap layar ponselnya, dengan setengah berlari aku menuju ke kursi di sampingnya. Beberapa detik awal, ia masih asyik dengan ponselnya dan tampaknya tak menyadari sesuatu telah terjadi di dekatnya. Dari arah sedekat itu, diam-diam aku kembali memerhatikan wajahnya dari samping, dan lagi-lagi, dadaku bergetar. Namun kali ini tak ada bisikan apa pun yang datang.

Tiba di stasiun Kranji, para penumpang membeludak, memenuhi kereta.

Seorang lelaki yang kucintai, dengan gayanya yang santun, mempersilakan seorang ibu untuk menempati kursinya. Tepat saat itulah ia menoleh ke arahku, dan reflek aku menyebut namanya, “Rian?”

Usai kusebut namanya, ia bergerak-gerak tak keruan. Bahkan, hampir saja kakinya kulihat menginjak kaki orang di sebelahnya.

Lalu, kereta tiba di stasiun Bekasi. Dan berhenti.

***

Itu adalah sore yang agak mendung. Sebuah kereta rel listrik jurusan Manggarai-Bekasi berhenti di jalur tiga stasiun Bekasi. Para penumpang pun satu per satu meninggalkan kereta. Tapi, ada dua penumpang, sepasang lelaki dan perempuan, yang belum jua turun dari kereta. Seorang petugas tampak memerhatikan dua orang itu dari ambang pintu kereta.

Sepasang lelaki-perempuan itu sepertinya hanya bertatap-tatapan saja dari tadi. Sampai kemudian, dengan teramat kaku, si lelaki mengatakan sesuatu. Dari caranya berbicara, tampaknya ia tak pernah merencanakan akan mengatakan apa yang hendak dikatakannya saat itu juga. Ia gugup, gagap, dan dahinya berkeringat.

“Aku…,” ucap si lelaki tersendat-sendat menatap lurus si perempuan. “Aku cinta …,” ulang si lelaki menambah satu kata baru. Kegugupannya terlihat agak berkurang. Lalu, dengan raut cerah, begitu pun si perempuan, “Aku cinta sama ka …,”

“Maaf Mas, Mbak. Kereta sudah tiba di stasiun perhentian terakhir di stasiun Bekasi. Saya cuma mau mengingatkan, barangkali Mas, Mbak lupa.”

Suara semi bariton si petugas membuyarkan semuanya. Si lelaki dan si perempuan seketika jadi salah tingkah. Mereka mengangguk-angguk dan mengiyakan si petugas. Si perempuan bangkit dari duduknya, bersama si lelaki yang memang berdiri sejak stasiun Kranji, keduanya berjalan menuruni kereta dengan tergesa.

Sesampainya di peron, mereka, terutama si lelaki malu-malu pucat. Keringat dingin membasahi wajahnya. Si perempuan juga menguarkan ekspresi jengkel dan kesal. Dalam hati masing-masing, keduanya berandai-andai menjadi Ibu Malin Kundang, agar dapat mengutuk si petugas barusan menjadi batu. []

Karya: Erwin Setia.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan