Coba Kenali, Dia Teman Dekat atau Sejenis Parasit?

Ponselnya bergetar saat kami tengah makan malam berdua. Seperti biasa dia hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya.

“Dari siapa?”

“Teman….”

“Kok, nggak diangkat? Siapa tahu penting.”

Dia meletakkan pisau dan garpunya di samping piring, melipat tangannya di meja, kemudian menatapku lekat. 

“Masih lebih penting makan berdua sama kamu Em, istimewa!” Lalu dia melanjutkan mengiris roti bakar dan menyuapkan ke mulutnya.

Ini adalah makan malam kami yang kesekian kali setelah perkenalan kami di akhir bulan lalu. Teman-temanku mencurigai ini sebagai kencan, tapi aku belum ingin berpikiran yang sama. Karena sejauh ini memang hanya sekedar makan, ngobrol dan sesekali menyambangi jadwal pameran foto di mal-mal, atau menonton live music. Aku tidak ingin besar kepala dengan mengklaim bahwa kami adalah ‘couple’, karena aku belum tahu banyak tentang laki-laki ini.

Weekend ada acara?”

Aku harus berpikir cepat sebelum menjawab pertanyaan Radith. Selama ini kami hanya bertemu di hari kerja, after office hour. Janjian di akhir minggu identik dengan ‘malam mingguan’nya orang pacaran. Aku tidak ingin terjebak dalam area abu-abu.

“Enggg…, aku sudah ada janji. Sama Mira, tahu kan?”

Dia tampak menarik nafas lega. “Oh, aku pikir sama cowok mana gitu….”
Ucapannya seperti yang curiga dan cemburu, tapi roman mukanya tidak. Yang mana harus aku percayai? Seandainya dia bertingkah cemburu pun aku tidak terkesan.

“Oya, si Yanu, anak IT, minggu depan nikah loh…,” katanya tiba-tiba.

“Iya, kamu dapat undangannya juga?”

Radith menggeleng. “Kan, kami nggak satu bagian. Emang kamu dapet?”

Aku mengiyakan, “Dulu pernah terlibat project bareng, jadi sedikit banyak kami saling kenal.”

Yanu memang staff semi seleb, karena selalu menjadi host setiap kali kantor mengadakan acara bersama. Jadi berita tentang pernikahannya, pasti sudah banyak orang yang tahu. Meskipun tidak semua karyawan mendapat undangannya.

Radith tampak merenung. “Lalu, kamu mau pergi sama siapa?”

Nah…, ini dia. Pertanyaan Radith bikin galau. Sebenarnya aku belum memutuskan akan datang atau tidak, karena malas juga kalau harus berangkat sendiri. Teman-teman dekatku sudah ada partner, entah itu suami atau istrinya, atau pacar. Dan pertanyaan Radith mengindikasikan kalau dia menawarkan diri untuk menjadi partner-ku. 

Oh, apa kata orang-orang nanti? Ema sudah punya gandengan sekarang? Wah, berdua di depan publik, jangan-jangan sudah serius nih hubungannya. Yah…, sebagai vokalis band kantor, aku pun semi seleb, sama seperti Yanu. Jadi, hampir setiap polah tingkahku menjadi bahan omongan di setiap sudut kantor.

Karena tak kunjung menjawab pertanyaannya, Radith langsung memecah kebisuan sesaatku dengan menawarkan diri untuk menemaniku. “Janji deh, aku nggak akan malu-maluin. Gini-gini aku juga punya setelan jas!”Wajah tampannya sumringah sambil menepuk dada.

Aku pun menyerah, “Oke….” Aku sadar, sekarang aku sudah memasuki area abu-abu itu.

***

Esok harinya, satu pesan singkat masuk di ponselku.

Sorry Mbak, udah lama ya, jalan sama Radith?

Ini siapa ya?  Dapat nomor saya dari mana?

Saya masih satu kantor sama Mbak dan Radith juga, saya dapat nomor Mbak dari HP Radith

Lalu, maksudnya apa? Saya nggak ada apa-apa sama Radith

Tapi Mbak sering jalan berdua aja sama dia kan?

Saya nggak perlu jawab, sepertinya anda sudah tahu sendiri. Anda keberatan?

Tidak ada lagi balasan. SMS ini adalah efek kesekian setelah aku muncul di pernikahan Yanu dengan Radith tempo hari. Menyebalkan. Aku nggak butuh kompleksitas seperti ini dalam hubunganku dengan siapapun. Belum lagi dengan tatapan dan komentar-komentar menggoda dari teman-teman. Bikin risih seperti selilit di gigi.

“Dith, pinjam hp kamu!” Tanpa menunggu persetujuannya aku meraih ponsel yang ada di samping tangannya. Dia terlambat mencegahku. Aku sengaja memasang wajah angker untuk membuatnya diam bersandar di kursinya. Mungkin dia terlalu malu untuk membuat keributan di tempat umum.

Ada miscall berkali-kali dengan nama ‘Princess Lia’. Aku memasukkan nomor yang mengirim pesan padaku kemarin, lalu kutekan tombol ‘call’ di hp Radith. Muncul nama ‘Princess Lia’ di layarnya. Sengaja aku menunggu sampai panggilan tersambung, lalu kuberikan pada Radith.

“Bilang sama ‘entah siapa kamu’ ini, kalau kamu nggak ada apa-apa sama aku. Berteman pun tidak!” Setelah itu aku menuju kasir dan pergi.

Ternyata aku terlalu cupu, sampai-sampai reputasi Radith yang ternyata parah tidak terdengar olehku. Memang, selain pekerjaan dan urusan ‘show’ aku kurang peduli dengan hal-hal lain.

Radith dikenal gemar menempel pada wanita-wanita cantik atau yang berduit atau yang punya jabatan, atau yang popular seperti aku. Tujuannya? Dia bangga bisa masuk dalam lingkaran pergaulan seleb, meskipun hanya sebatas seleb kantoran. Dengan dalih menghargai emansipasi wanita, dia tidak pernah menolak kalau ditraktir makan atau bahkan dibelikan ini itu. Hal itu berjalan otomatis, karena si wanita sudah terbuai dengan pemujaan Radith terhadap mereka dan perasaan terlanjur lebih dominan dari pada akal sehat.

Bagaimana dengan aku? Nyaris saja aku menjadi seperti wanita-wanita bodoh yang haus perhatian dan pujian itu. Beruntung aku berhati-hati dalam melibatkan perasaanku, dan hanya rugi materi. Karena setiap kali kami makan dan nonton hampir selalu aku yang bayar.  Huh!

Lamat-lamat masih aku dengar lagu yang diputar di kafe itu. Pergi kau keluar angkasa… Hipotermia di kutub utara…  Hilang di samudra antartika. Dan jangan kembali, parasit parasit parasit parasit…

Oleh: Oky E. Noorsari.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan