Ilustrasi dari Rumah Qorma.

Kepulangan Umaya dari negeri ginseng mengubah tak hanya hatinya, tapi juga kehidupannya. Mengikhlaskan seorang mantan kekasih bukan hal yang mudah. Hijrah juga perlu istiqomah. Raut tampan itu masih sering berkelebat di dalam kepalanya. Tak jarang merobohkan benteng air mata. Namun sesegera mungkin ia harus menangkisnya sebelum kenangan menjadi racun dan menghalangi keinginannya untuk memperbaiki diri.

“Ajak aku untuk menyibukkan diriku, Nala.”

“Apa kau mau membantuku menjalankan usaha kerudung milik ibuku?” tanya Nala di seberang telepon.

“Kenapa tidak? Tentu saja aku bersedia bahkan jika harus menjadi karyawanmu.” Umaya terdengar bersemangat.

“Jangan mengarang.” Nala terkekeh.

Tak butuh waktu lama, esok hari meski pagi masih basah, setelah mematut diri di cermin sambil membetulkan letak kerudung, memastikan helai rambutnya benar-benar tak ada yang terlihat, Umaya menenteng tas lalu menuju gerai milik ibu Nala.

“Kupikir kau bercanda, May.” Ibu Nala menyambut Umaya hangat. Ia kenal baik dengan sahabat anaknya itu.

“Terima kasih sudah menerima saya magang, Tante.”

“Ya sudah, Bu, nanti Umaya tidak usah dibayar untuk beberapa bulan ke depan. Magang. Ya, kan?” Nala menyikut ibunya.

“Hussss, ngawur.” Ibunya tertawa. “Sudah, nikmati saja di sini May. Anggap tempat ini milik sendiri. Umaya sudah ibu anggap sebagai anak sendiri, kok.”

“Terima kasih, Tante.” Umaya terharu.

Segalanya berjalan baik, selepas pulang kuliah, Nala hampir selalu mengunjungi Umaya dan membantunya di gerai. Gerai milik ibu Nala cukup ramai dengan tak hanya penjualan secara offline, tetapi juga online.

Umaya sedang sibuk memeriksa stok kerudung di aplikasi microsoft excel pada komputer di depan meja kerjanya saat sebuah chat masuk. Seperti biasa, permintaan sebuah kerudung. Hanya saja kali ini ada yang tidak biasa.

“Aku ingin beli sebuah kerudung untuk ibumu. Bisakah kau memilihkan mana yang terlihat bagus untuk beliau?” begitu yang terbaca di kotak chatting di layar.

Dahi Umaya berkerut. Orang ini salah ketik? Pikirnya.

“Ibu Anda?” Umaya membalas.

“Bukan ibuku, tapi ibumu.”

Umaya semakin heran. “Baiklah kalau kau mau main-main,” Umaya berbisik sendirian sambil membalas chat tersebut dengan sebuah gambar kerudung lengkap dengan harganya. Sekaligus menginformasikan rekening bank milik gerai tersebut. Umaya pikir pastilah ini orang iseng. Toh ia tak akan dirugikan kalau meladeninya, begitu pikir Umaya selanjutnya.

“Sudah kutransfer. Please, check!” sebuah pesan masuk kembali di kotak chat.

Omong kosong. Lagi-lagi Umaya tersenyum kecut. Tapi ia lanjut memeriksa saldo rekening.

Bibir Umaya sontak membentuk huruf O. Saldonya bertambah sesuai dengan harga kerudung tersebut. Orang itu tidak main-main, tidak sedang iseng.

“Anda siapa?”

Tidak ada balasan. Umaya berlajut memeriksa profil orang tersebut, tapi tak ia dapatkan kecuali gambar-gambar tumbuhan yang tidak membantunya mendapatkan siapa sebenarnya dia.

“Jangan lupa segera berikan kerudungnya pada ibumu, ya! Sampaikan, dari calon menantunya.” Tak selang beberapa lama chat-nya berbalas.

“Jangan bercanda. Kau siapa?” Umaya merasa dipermainkan kali ini.

“Umaya, bagaimana kabarmu? Aku rindu, serinduku pada musim semi di Jeonju.”

Keringat dingin tak terelakkan membasahi seluruh tubuh Umaya. Kebekuan meski tak berada di bawah salju mendadak menyergap. Kakinya lemas dan tubuhnya ingin limbung kalau saja Nala yang baru saja tiba tidak menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya. Muka Umaya yang mendadak pucat membuat Nala berlari menahan tubuh Umaya.

“Kau baik-baik saja, May? Apa yang terjadi?”

Pandangan Umaya masih terus terpaku pada layar monitor. Sedang Nala mengikutinya. Ia membaca seluruh percakapan di kotak chat dan mendadak paham situasi yang terjadi. Ia mengambil air mineral dari dalam tas lalu memaksa Umaya agar menenggaknya segera.

“Istighfar, Umaya! Istighfar!” Nala setengah berteriak. Tak ia sangka percakapan tadi menyisakan kebekuan yang mendalam pada Umaya.

Umaya segera beristighfar dan seolah kembali dari dunia yang baru saja mencengkeramnya. “Aku baik-baik saja, Nala.”

“Tidak. Kau jelas tidak baik-baik saja.”

“Katakan Nala! Untuk apa dia hadir setelah aku susah payah memperbaiki remah-remah hati yang tersisa?” Tak bisa ia tahan butiran bening itu kembali mengalir deras di matanya. Kekuatan yang dibangun dua bulan terakhir sejak pernikahan mantan kekasihnya itu seolah runtuh sekejap.

Nala memeluk tubuh Umaya yang hendak limbung. Ia seka air mata Umaya dengan kerudung yang sedang ia pakai.

“Apa kau baik-baik saja, May? Aku ingin bertemu denganmu. Aku rindu sekali. Susah payah kudapatkan kabar darimu dari seorang temanku yang tidak sengaja melihatmu di gerai milik sahabatmu itu.” Sebuah chat masuk lagi.

Umaya dan Nala saling berpandangan selepas membacanya.

“Tidak, May. Jangan! Pikirkan usahamu untuk memperbaiki diri dan ingin meninggalkan dunia yang dulu membuatmu terperosok pada kubangan penuh lumpur itu. Pikirkan, May!” Nala mengguncang-guncang lengan sahabatnya karena ia tahu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu. Tak jauh dari benci namun rindu dan masih cinta.

“Umaya, kau tidak melupakan kenangan kita, bukan? Maafkan aku yang begitu saja meninggalkanmu. Tapi sungguh sekarang aku sadar bahwa tidak ada wanita seperti dirimu. May, kumohon balas pesanku, May.”

Suasana di sekitar Umaya dan Nala mendadak beku.

“May, bahkan jika detik ini kau minta aku menceraikan istriku, aku bersedia. Asal kau mau kembali padaku. Kau tahu rumah tangga ini sungguh bagaikan neraka. Tak ada yang mencintaiku seperti kau mencintaiku dulu.” Chat beruntun terbaca lagi.

Umaya menarik napas panjang kemudian memejamkan mata. Menyebut nama Rabbnya beberapa kali. Ada kesejukan yang kembali ia rasakan. Ada kelegaan yang mendadak hadir di relung hatinya. Sekali lagi ia menatap Nala dan mengangguk yakin.

“Senang mendengar kabarmu kembali, Martin. Tapi maaf, aku sudah memulai hidup baru yang disediakan Rabbku. Dan tentu saja kau juga harus menjalani kehidupan barumu. Jadilah suami yang baik. Percayalah, insyaa Allah apa yang sedang kita jalani sekarang adalah skenario terbaik dari Allah. Tidak ada kata terlambat untuk kita sama-sama memperbaiki diri. Sekali lagi maafkan aku yang tidak bisa kembali lagi. Terima kasih. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa kita. Satu lagi, kumohon jangan kau sakiti istrimu. Sayangi ia. Kau sekarang sudah menjadi pemimpin rumah tangga, bagaimana istrimu tergantung bagaimana kau memperlakukannya.”

Nala tersenyum lega membaca keputusan sahabatnya. Pelukannya pada Umaya semakin erat. “Kau mampu, May. Kau mampu menjaga dirimu demi jodoh terbaik dari Allah.”

“Bilang saja kalau aku mampu menjomblo.” Umaya terdengar ketus namun ia kembali tersenyum dan mencubit sahabatnya itu.

Masih panjang sekali chat balasan dari Martin, mantan kekasihnya, namun Umaya sudah berniat untuk tidak membalasnya demi menjaga apa yang telah ia pilih.

Oleh: Ummu Ayyash.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: