Hidup pada zaman era medsos (media sosial), atau serba gadget seperti sekarang. Bukan berarti kalian para orang tua bebas tugas dalam mengawasi orang terkasih. Cukup kasih gadget, lantas merasa tenang. Jangan kalian pikir, anak-anak aman saat bermain smartphone dan sejenisnya, apalagi jika sang anak sudah mengenal DUNIA MAYA. Predator di luar sana, siap mengincar orang tercinta kita! *Aku serius.

Aku tidak bermaksud untuk menakuti-nakuti lho, apalagi berhalusinasi. Pada tulisan kali ini aku tidak sedang menyuguhkan fiksi seperti biasanya.

Tahukah kalian, kalau melalui dunia maya, mereka bisa bebas kenal dengan siapa saja.

Tahukah kalian, kalau lewat dunia maya, si predator tidak segan-segan melancarkan aksinya untuk merusak pikiran dan jiwa anak-anak Anda.

Aku mau sedikit bercerita, ya semoga bisa menjadi pelajaran untuk semuanya, supaya hal buruk yang dialami adikku terjadi pada anak serta keturunan kalian. *Aamiin

Adikku berusia 12 tahun, cowok, saat itu kelas 6 SD. Ya, karena memang sudah zamannya media sosial, teman-temannya sudah punya Instagram, dia pun mau punya akun untuk berbagi foto/video itu. Ya, tidak perlu heran, karena pada zamanku dulu pakainya Friendster dan saat itu aku kelas 1 SMP. *Ingat zaman keluar masuk warnet? Usia kita tidak jauh beda.

Nah, kemajuan teknologi, perkembangan media sosial, memang sangat pesat. Jadi, mau tidak mau, ya kita harus memaklumi kalau adik-adik atau anak-anak yang saat ini masih duduk di sekolah dasar, sudah mengenal apa itu Instagram, YouTube, dan lain sebagainya.

Syukurnya adikku ini selalu terbuka orangnya, mau bercerita apa saja padaku, sampai smartphone-nya belum bersifat privasi baginya. Jadi, sesekali aku bisa pinjam, untuk sekadar memastikan semua aktivitas di dalamnya baik-baik saja.

Tidak lama adikku membuat akun, aku kaget, begitu tahu ada yang aneh dari akun Instagram-nya. Banyak sekali om-om atau pria dewasa yang mem-follow akun adikku ini. Tanda tanya besar tumbuh di pikiranku, Ada apa?

Aku mengecek satu per satu akun tersebut. Selagi akunnya masih batas aman dan wajar, aku persilakan untuk follow, tapi begitu ada akun dengan foto profil yang tidak wajar. Contohnya? Ya, cowok julurin lidah, pose manja gitu. Atau cowok dengan percaya dirinya tanpa pakaian hanya bercelana dalam, bahkan ada yang menggunakan maaf alat vital untuk foto profilnya. Nah, akun yang begitu kudu diblokir.

Baiklah, berjalannya waktu … aku masih tetap mengontrol semua aktivitas adikku dengan smartphone-nya. Hingga pada suatu malam, ya kira-kira jam sepuluh. Aku mengecek isi DM atau inbox pada akunnya. Tahu apa yang aku dapatkan? Banyak sekali pesan yang belum terbuka. Awalnya kupikir adikku tidak paham dengan fitur ini, ternyata dia memang tidak suka buka-buka itu.

“Enggak kenal, malas,” jawabnya setelah aku tanya.

Oh, iya balik ke isi inbox, di sana ada ratusan, iya ratusan pesan yang belum terbuka dan 90% dari cowok. Ada apa?

Baiklah, saat itu aku memilih acak. Terpilih seorang anak kecil, ya kisaran 10 tahunan dari foto profilnya. Aku pilih akun tersebut karena pesan darinya.

Hai, mau enggak jadi sahabat aku?

Membaca kalimat di atas kok tidak asing, ya? Maksudku sebuah kalimat seperti permintaan manusia dewasa untuk berpacaran atau menikah. Hanya katanya saja yang diganti menjadi sahabat. Saat itu juga aku membalasnya.

Iya, emang kamu kelas berapa?

Aku pikir si anak di seberang sana sudah tidur. Tetapi adanya tanda online pada fotonya membuatku menunggu balasan darinya. Dia menjawab kelas lima, obrolan berlanjut dari membahas hobi, makanan kesukaan, sampai hal yang tidak disukai. Kayak orang PDKT aja, gerutuku.

Keesokan paginya. Aku mengecek isi pesan dari anak yang semalam, dan dugaanku benar. Dia sudah mengucapkan selamat pagi untuk adikku. Oh Tuhan, sekarang sudah seperti karyawan mini market aja dia. Dengan berat hati aku masih membalasnya.

Karena mungkin dia berpikir lawan ch­at-nya yakni akun adikku sudah terjebak, si anak itu pun dengan berani bertanya, Kakak, boleh lihat ti***nya?

ASTAGFIRULLAH. Belum selesai di sana, dia masih menambahkan.

Kita kan sahabatan, nanti aku kasih lihat punyaku.

ALLAHUAKBAR. Aku membaca pesan itu dengan perasaan yang arrrggh seperti itulah. Aku mesti control, karena di sini aku sebagai si adik, pikirku.

Malu, jawabku saat itu.

Enggak usah malu. Enggak ada yang tahu juga. Ayolah.

Harus, ya?

Jebreeet! Pesan darinya masuk, sebuah gambar yang begitu menjijikan. Jelas tidak menunjukkan kalau dia itu anak berusia 10 tahun. *Jangan tanya foto apa?!

 Aku langsung blokir dia tanpa mencaci atau memakinya, padahal pengin banget melakukan itu. Bagaimana pun ini akun adikku, aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa dirinya. Satu-satunya jalan ya blokir.

Bukankah luar biasa cara kerja mereka untuk merusak generasi negeri ini? Bermodus persahabatan, mereka mencoba untuk membujuk si korban untuk menunjukkan hal yang bersifat sangat privasi.

Ya Allah, pikiranku saat itu sudah tidak karuan. Foto siapa yang dia pakai untuk melakukan aktivitas hina seperti ini? Sudah berapa korban yang sudah dia dapatkan? Aku mengecek pesan-pesan lainnya. Tidak jauh beda! Isinya nanyain sudah sunat belum? Sudah mimpi basah? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang seharusnya tidak perlu ditanyakan.

Aku sebagai kakak tidak ambil diam. Memang tidak mungkin untuk mencegah atau menahan hal negatif itu hadir, memblokir ratusan akun? Mustahil! Tetapi itu masih bisa dicegah dari dalam, yakni memberikan penjelasan kepada si adik kalau hal ini tidak boleh, hal itu dilarang agama. Dengan begitu, dia akan mengerti dan tidak sampai keluar pada ‘jalan yang benar’.

Beberapa bulan kemudian, setelah aku menemukan kasus pedofilia dengan cara memakai foto anak kecil, lalu berniat untuk menjadi seorang sahabat, di saat si korban sudah merasa nyaman, mereka akan melancarkan niat busuknya yang sudah mereka rencanakan sejak awal.

Saat itu aku sedang mengetik, sedangkan adikku memainkan ponselnya. Tiba-tiba adikku bertanya, “Kak, pap itu apa?”

Aku tanpa menoleh menjawab, “Post a picture.” Itu yang berarti kita harus mengirim foto kepada lawan chat kita, aku menjelaskan setelah dia bertanya artinya.

“Terus kalau sang# itu apa?”

Kali ini aku menoleh, begitu cepat adikku mendapatkan kata itu. Ada apa ini?

“Tahu itu dari mana?”

“Ini Kakak yang di WA. Dia bilang lagi sang# makanya minta aku pap sambil julurin lidah, gitu.”

“Dia dapat nomor kamu dari mana?” tanyaku lembut meski hati ini sudah membara.

“Dari Instagram, Kak. Dia minta kemarin, cewek kelas dua SMP,” jelasnya.

Aku menghela napas. “Dik, iya fotonya sih cewek. Tapi emang Adik tahu beneran kalau dia cewek? Kalau om-om gimana?” tanyaku sembari menggoda. Dilanjutkan dengan menjelaskan secara sederhana apa itu sang# padanya.

Tidak ada yang salah dari kata pap, tetapi niatan si lawan chatingan-nya yang salah. Bisa saja, atau sangat mungkin foro adikku digunakan untuk melampiaskan hasrat terlarangnya, sepahamku hal kelainan seperti ini disebut dengan fetish.

Ya Allah, selamatkanlah generasi umat Islam dari hal yang Engkau murkai.

Media sosial memang seperti pisau, yang mana jika bisa memanfaatkannya dengan baik, maka akan baik. Begitu sebaliknya, salah dalam penggunaannya bisa celaka.

Sekarang, sejauh apa peran kita sebagai orang tua, dalam mendampingi anak-anak/adik-adik saat berkelana di dunia maya? Apa sejak si adik diberi smartphone, sampai detik ini kita tidak boleh membukanya?

Hati-hati lho, bisa jadi ada sesuatu di dalamnya. Karena beberapa hari belakangan ini, adikku rewel mau ganti nomor. Setelah kutanya kenapa, ternyata dia selalu dimasukan dalam grup WA yang berkonten pornografi.

Mereka—oknum-oknum tidak bertanggungajawab—seperti tidak ada matinya untuk terus mencekoki anak-anak dengan hal-hal negatif. Bisa dibayangkan kan, betapa dekatnya mereka dengan hal-hal yang bisa membuat otak dan jiwanya terganggu.

Ayo, dekati lagi orang terkasih kita. Jangan biarkan mereka lebih nyaman dekat dengan teknologi daripada dengan kita. Jangan sampai mereka tertutup kepada kita, tapi terbuka kepada manusia yang mereka temui di dunia maya.

Seperti yang tertulis di atas, aku tidak bisa menghentikan arus negatif tersebut, tetapi setidaknya melalui tulisan ini aku berharap banyak orang tua yang sadar dan mengerti bahayanya dunia maya.

Ingat, bagaimana masa depan itu tergantung bagaimana sekarang.

Mari ukir kenangan indah, bukan hidup yang penuh penyesalan.

Awasi lagi mereka yang belum selayaknya bermain di dunia maya.

Karena banyak orang-orang ‘tersesat’ di dalamnya.

Jangan biarkan media sosial merusak masa depan kita semua.

Semoga tulisan ini memberikan manfaat.

Sekian.

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: