KAMI sama-sama tergelak. Ibu muda di hadapanku ini tertawa karena mengenang suatu kejadian, sedangkan aku terkekeh karena bahasa tubuh dan mimik wajah beliau yang kocak. Pembawaannya yang supel, ramah, penuh semangat dan ekspresif membuat penuturan kisahnya jadi semakin menarik.

“Berantem, lah, saya sama Bu RT. Katanya, ini tuh, ribet! Berat untuk dijalani. Kotor dan … bau!”

Memang, harus ada effort lebih, kalau ingin program bank sampah di komplek itu berjalan dengan baik. Warga harus memisahkan sampah rumah tangganya menjadi beberapa jenis, itu berarti butuh ketelatenan, waktu dan tenaga ekstra.

“Kadang ada juga warga yang nggodain, dengan setor sampah yang enggak bersih nyortirnya. Ya … paling saya hanya bisa lebih sabar lagi memberi edukasi ke warga tersebut. Pokoknya enggak bosen-bosen, deh, kasih ceramah. Ha-ha-ha!”

Selama lebih dari empat tahun kami saling mengenal. Aku tahu banget, ibu dari tiga orang putri ini, sangat piawai beretorika. Tutur kalimatnya jelas dan bernada tegas, selain itu beliau juga pandai membalut teguran dalam canda. Kelebihan beliau ini sangat berguna saat harus menggerakkan warga.

Menurut cerita beliau, awal mula ada krenteg—panggilan hati—untuk mengelola sampah adalah ketika bulan Ramadan, empat tahun lalu. Ketika itu aktivitas masjid di Perumahan Banguntapan Joho Jambidan lebih ramai dari hari-hari biasa. Waktu Magrib menjadi momen istimewa. Hampir semua warga—yang beragama Islam—menunggu waktu berbuka sambil mendengarkan ceramah di masjid.

Warga—dengan koordinasi jauh-jauh hari—sudah siap bergiliran menyediakan konsumsi. Mulai dari takjil untuk berbuka berupa makanan kecil dan nasi dus, sampai camilan untuk teman tadarus usai ibadah salat Tarawih.

“Nah, selesai acara, dirasakke kok sampahe akeh banget, Bu!” ujar beliau sambil njawil lututku.

Jadi, di pagi harinya, selalu tampak timbunan sampah di halaman masjid. Paling banyak berupa kardus kemasan makanan dan gelas plastik air mineral. Memang selama itu warga perumahan berlangganan sampah, membayar iuran rutin untuk Pak Sampah yang mengambil sampah dua hari sekali. Tapi tetap saja, sampah dari masjid itu sangat tidak sedap dipandang mata.

“Situasi itulah yang memicu saya, hingga kepikir mau mengelola sampah-sampah itu. Enggak cuma sampah masjid, tapi juga sampah rumah tangga. Saya lalu ngajak ibu-ibu di sini. Ya … yang mau saja. Lalu kami menjadi semacam tim kerja, gitu.”

Perempuan yang akrab aku sapa dengan sebutan Bunda Putri ini kemudian aktif mencari media untuk belajar. Salah satunya dengan mengajak timnya melakukan—bahasa kerennya—studi banding ke Bank Sampah Gemah Ripah, Bantul.

“Ada juga desa-desa sekitar sini yang sudah berjalan programnya, kami pelajari sistemnya, lalu kami terapkan di perumahan. Tentu saja dengan prosedur yang sudah dimodifikasi, menyesuaikan kondisi perumahan kami,” kata beliau menambahkan.

Mendengar tuturan kisahnya, ada perasaan terusik, karena perhatianku pada lingkungan belum sejauh itu. Sedangkan Bunda Putri getol banget, mengawal program bank sampah di perumahannya, di sela kesibukan rutin mengurus rumah tangga dan ketiga putri manisnya, sendirian. Kebetulan beliau menjalani LDM (Long Distance Married) dengan sang suami yang bertugas di luar pulau, dan hanya pulang beberapa bulan sekali.

Seperti siang itu, aku melihatnya berpanas-panas mengendarai sepeda motor dengan gunungan sampah plastik yang diikat di boncengannya. Semangat yang terpancar di wajahnya membuat merinding.

“Mau antar ke pengepul! Tunggu sebentar ya, enggak jauh, kok!” pamitnya padaku.

Tentang pengepul ini cukup menarik juga, bagaimana dulu beliau mencari informasi, sampai mendapat pengepul yang cocok untuk diajak kerja sama. Ada tiga pengepul yang diperlukan untuk menjual hasil bank sampah mereka, yaitu: pengepul sampah plastik, sampah kering dan minyak jelantah.

“Waktu saya tanya-tanya, banyak ngetawain. Nggo ngopo, Bu … minyak jelantah kok, dikumpulke?” Tawa kecilnya menyela kalimat, “agak sedih juga waktu itu, kesannya saya kurang kerjaan, dan rewel ngurusi hal yang remeh seperti minyak jelantah.  Tapi alhamdulillah … dapat juga, di Sewon. Sebulan sekali, di hari Senin, saya setorkan sambil antar anak-anak sekolah.”

Beliau menggambarkan bagaimana bagasi mobil sederhananya penuh dengan jeriken-jeriken berisi minyak goreng bekas. Jelantah itu katanya untuk disalurkan ke industri pembuatan sabun dan bisa juga dipakai untuk bahan bakar biodiesel.

Di lain kesempatan, beliau mengutarakan isi hatinya, bahwa mengelola bank sampah ini adalah kesempatan yang datang padanya untuk ikut berperan dalam kepedulian lingkungan. “Ya … idep-idep saya menyiapkan lingkungan yang sehat untuk keluarga saya sendiri. Kalau kemudian manfaatnya bisa betul-betul dirasakan oleh warga, saya bahagia sekali.”

Untuk itu beliau ingin sekali mengembangkan bank sampah supaya lebih baik dan maju, meski ada juga yang masih beranggapan program itu tidak akan berjalan lama. Sesekali beliau juga masih mendengar keluhan warga tentang bagaimana ribetnya memilah sampah, karena harus menyediakan beberapa tempat yang berbeda.

“Tapi saya waton mlaku aja, pokoknya ikhlas.”

Beliau tidak memedulikan segelintir suara sumbang, selagi hasil dari usahanya bersama tim memperlihatkan hasil yang nyata. Warga sudah bisa merasakan belanja sembako murah, yang disediakan dari menyisihkan sebagian uang hasil bank sampah. Sebagian lagi digunakan sebagai dana simpan pinjam yang sangat bermanfaat ketika ada warga yang membutuhkan.

“Sebetulnya itu (sembako murah dan simpan pinjam) untuk memancing kesediaan warga juga, dengan adanya manfaat yang bisa dinikmati langsung, harapannya warga jadi semakin giat menyukseskan program bank sampah ini.”

Sekarang ini, upaya beliau untuk meminta kesadaran warga sudah banyak berkurang. Sebelumnya, beliau memerlukan energi lebih untuk mengedukasi warga tentang konsistensi dalam pemilahan sampah. Pemanfaatan dalam bentuk daur ulang juga masih rendah.

Sesekali beliau meminta waktu, di sela pertemuan rutin perumahan, untuk refreshment lagi mengenal program bank sampah dan progress-nya. Tidak jarang, pada saat hari penimbangan, beliau masih harus mengulang edukasinya, ketika menjumpai sampah yang belum disortir dengan benar.

Ternyata perjuangan Bunda Putri dan teman-temannya membuahkan hasil berupa prestasi. Bank sampah yang beliau kelola mendapat peringkat GOLD dari DIYGC (DIY Green and Clean), satu program di bawah Dinas Lingkungan Hidup, yang bekerjasama dengan swasta. Penghargaan yang diperoleh bisa digunakan sebagai modal penghijauan di lingkungan perumahan.

“Kan, luar biasa, toh? Lingkungan sudah bersih dan sehat, masih ditambah lagi teduh dan seger! Dobel-dobel manfaat!” ujar beliau dengan pancaran kebahagiaan yang sukar digambarkan.

Selama ini penghijauan di perumahan masih sekadar wacana, terutama karena dana yang belum mencukupi. Maka ketika program bank sampah mereka mendapat penghargaan berupa dana stimulan, maka wacana penghijauan pun disegerakan. “Pokoknya, apa yang sudah diberikan oleh warga, hasilnya kami kembalikan untuk warga juga,” jelas Bunda Putri.

Sudah berjalan sejauh itu pun, masih banyak lagi rencana dalam benak ibu muda ini. Tidak hanya berhenti di sekadar menjaga supaya siklus bank sampah berjalan dengan baik. Tapi juga berproses untuk mencapai tujuan lebih maksimal.

“Target berikutnya, mewujudkan zero waste di perumahan kami. Ini sedang kami progress-kan untuk pengadaan komposter, agar sampah yang terbuang seminimal mungkin.”

Waktu aku tanya, bagaimana pendapat keluarga tentang kegiatan ekstra yang cukup meminta perhatian, menyita waktu dan energi itu, beliau menjawab, “Suami oke-oke saja. Malah senang kalau umur saya bisa bermanfaat. Anak-anak juga ikut semangat. Malah bisa ikut belajar juga. Ternyata banyak ilmu yang didapat … dari sampah.”

Namun, suatu kali pernah, seorang putrinya bertanya, apa ibunya tidak capek mengurus bank sampah? Rupanya sang putri kasihan, melihat ibunya bekerja hingga larut, membereskan catatan tabungan sampah warga, dan kadang harus merapikan benda-benda yang akan disetor ke pengepul.

Untungnya Bunda Putri selalu sigap dengan jawaban, supaya jangan sampai putrinya larut dengan anggapan bahwa pekerjaan seperti itu melelahkan. “Enggak, Nak. Bunda banyak yang bantu, kok! Jadi enggak capek. Apalagi Bunda kerjakan dengan senang.”

Tak terasa, kegiatan beliau ini sudah berjalan selama tiga tahun. Hasilnya sudah mulai terlihat, dari penyediaan sembako murah sampai penghijauan. Penyediaan sembako murah sudah menjadi andalan warga, karena mereka tidak perlu repot belanja keluar. Dan istimewanya, sembako itu sebenarnya mereka beli hanya dengan sampah, dipotong dari tabungan warga—hasil dari setoran sampah. Penghijauan juga sangat disambut baik oleh warga, karena suasana lingkungan perumahan tidak lagi terasa gersang.

Menariknya, program bank sampah Bunda Putri ini kemudian dilirik oleh kampung tetangga. Jadi sekarang ini sedang dilaksanakan edukasi, memperkenalkan konsep dan sistem bank sampah di kampung-kampung sekitar komplek.

“Iya, kami sempatkan untuk melakukan pembinaan di tetangga kampung. Sayang kalau semangat mereka tidak disambut. Bisa-bisa hilang kesempatan untuk mewujudkan lingkungan yang lebih sehat,” ujar beliau, masih dengan senyum semangat yang menjadi ciri khasnya.

Selain dengan motivasi kepedulian lingkungan, Bunda Putri mengembangkan programnya juga dengan prinsip: belajar enggak ada batasan waktu. “Enggak ada istilah ketuaan untuk belajar. Kalau mau kasih contoh yang baik untuk anak-anak, ya, jangan tanggung-tanggung!”

Selain sedang mempelajari pembuatan komposter, program selanjutnya adalah pengadaan ecobrick, memanfaatkan sampah botol plastik dan sampah plastik metalik.

“Sebetulnya ada tiga jenis sampah yang tidak kami terima di bank sampah. Yaitu, sampah karet, kain dan plastik metalik. Tapi kemudian datang ilmu baru, ecobrick. Ini yang sedang kami pelajari sekarang.”

Betul, terasa sekali semangat belajar dan cinta yang demikian besar dari Bunda Putri ini. Memang, tak ada yang bisa menakar sebesar apa cinta seorang ibu pada anak-anak dan keluarganya. Tapi siapa sangka, berbekal keinginan untuk memberikan lingkungan yang sehat pada anak-anak, bisa berbuah semangat yang demikian besar, hingga lebih banyak lagi yang bisa merasakan manfaatnya.

Setiap tujuan baik memang tidak selalu bertemu dengan jalan yang mulus. Hambatan yang bisa memperlambat dan mempersulit langkah masih akan kerap ditemui. Hanya doa meminta kemudahan yang selalu terlantun dalam benak ibu muda ini.

Beliau, Yomi Windri Asni atau Bunda Putri, tidak pernah melepas prinsip yang menguatkan langkahnya. “Ikhlas saja. Insyaallah, ketulusan kita akan sampai pada teman-teman. Itu juga yang kemudian menggerakkan kami semua, hingga sampai pada pencapaian saat ini.”

Sukses selalu, Bu. Semangatmu menjaga bumi untuk generasi nanti, akan mendobrak, melewati batas pagar satu perumahan kecil dan menggerakkan masyarakat yang lebih luas. []

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: