SEBELUMNYA, aku enggak pernah merasakan perasaan seperti ini. Aneh rasanya, hanya karena enggak sengaja saling pandang, wajahnya langsung terlukis jelas di bayanganku. Tiap hari, aku enggak sabar nunggu jam pulang sekolah. Aku ingin lima menit jadi terasa lebih panjang, melihat dia duduk di halte dengan telinga tersumpal headset.

Dia, murid sekolah sebelah, SMK Nusa Bangsa. Aku enggak tahu siapa namanya, aku sama sekali enggak kenal. Tapi, cowok itu yang kini jadi nyawa bagi puisi-puisiku. Setiap malam, kugerakkan pena di atas lembar-lembar buku bersampul ungu muda. Di kepalaku, kalau aku lagi sendirian, adanya cuma bayangan wajahnya. Sehat enggak sih, aku?

Ada satu getar menyapa jiwa

Satu tatap melenakan pandang mata

Pekat melekat di bayang,

Teduh tapi gemuruh

Senja itu tenggelam di matamu,

Hatiku luruh.

Semalam, satu lagi puisi mengisi halaman kosong buku harianku. Racikan dari hati yang sedang berwarna merah jambu. Sudah puluhan puisi kubuat dalam rentang sebulan sejak perasaan aneh itu datang. Pernah sekali waktu, aku senyum-senyum sendiri sehabis bikin puisi. Aku membayangkan memberi puisi-puisi itu ke dia.  

Baiknya, kuceritakan pada siapa, ya? Apa Dewi aja? Belakangan, aku pengin banget menumpahkan semua resah di hati ini kepada orang lain. Kayaknya, hatiku mulai meluap-luap, enggak cukup menampung rasa yang datang tiba-tiba. Beginikah kehidupan masa remaja? Kok gini banget ya, rasanya suka sama seseorang. Penasaran, rindu, pengin ketemu, ah … enggak tahu ah!

Senin pagi, sesaat sebelum kami berpisah menuju kelas masing-masing, aku sempat bercakap dengan Dewi.

“Dew, kamu tahu enggak mas-mas yang kerjaannya duduk di halte seberang minimarket itu?” tanyaku pada Dewi.

“Em … kondektur bus? Apa pengamen?” Dewi menjawab sekenanya, kayaknya dia pikir aku sedang main tebak-tebakan.

“Bukan, Dew. Aku lagi enggak main tebak-tebakan, lho. Maksudku, kamu sering lihat enggak cowok yang sering nunggu bus di halte itu, pas kita lagi jalan pulang?”

“Waduh, banyak kali, yang di halte. Ada anak sekolah kita sama anak SMK Nusbang tiap jam pulang sekolah. Hahaha. Emang kenapa, sih?” jawab Dewi sambil ketawa.

“Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, ya. Aku penasaran sama cowok yang sering duduk di pojok sendiri itu, deh.” Aku memberitahu Dewi dengan suara pelan, takut ada yang nguping.

“Hah? Apa, Kar? Penasaran? Emangnya dia ngapain, Kar?” Dari mimik mukanya jelas tergambar kalau dia penasaran.

“Enggak ngapa-ngapain, sih. Tapi, aku … penasaran aja sama dia. Hehehe.” Kali ini wajahku seperti kepiting rebus.

“Aku jadi penasaran, deh, sama cowok yang kamu maksud. Pokoknya nanti kasih tahu aku, ya.”

Aku coba bercerita kepada Dewi, sahabat yang juga tetangga dekat rumah. Kami tinggal di satu kompleks perumahan yang sama. Kami selalu pulang sekolah jalan kaki berdua. Jarak sekolah dengan perumahan kami cuma sekitar 200 meter. Jadi, kami biasa jalan kaki kalau berangkat dan pulang sekolah.  

Pulang sekolah nanti, aku janji ke Dewi untuk kasih tahu cowok yang kumaksud. Semoga, pas kami lewat nanti si cowok itu masih ada di halte. Ya, siapa tahu Dewi bisa bantu aku kepoin cowok berkacamata itu. Dia yang kalau duduk di halte akan memilih duduk di pojok sendiri. Sibuk dengan headset dan ponselnya.

***

Aku menunggu Dewi di gerbang depan sekolah, tepat di taman samping tempat parkir guru dan karyawan. Kami enggak satu kelas, jadi cuma ketemu kalau berangkat dan pulang aja. Selain itu, ya bareng-bareng pas lagi ekskul jurnalistik di hari Rabu.

Dewi berlari-lari kecil menuju ke arahku, kayaknya dia enggak sabar untuk jalan lewat dekat halte. Dia penasaran siapa gerangan yang bikin aku jadi aneh. Cowok kayak apa yang bikin aku penasaran, apalagi aku jarang—bahkan hampir enggak pernah—cerita soal cowok. Maklum, aku memang dinilai terlalu polos dan masih seperti anak kecil dibanding teman-temanku.

Gayung bersambut, dari jarak sekitar sepuluh meter sebelum halte, aku udah berbisik ke Dewi, “Itu lho, Dew. Kamu lihat kan, cowok yang pakai ransel biru donker?”

Dewi mengamati kerumunan laki-laki di halte. “Yang pakai kaca mata itu, Kar?”

Aku mengangguk.

“Dari sini sih, kelihatan manis. Eh, kamu naksir dia ya, cie …,” ujar Dewi sambil menyentuh siku kananku.

“Emm … kayaknya sih, gitu. Aku … aku … suka lihat wajahnya.” Aku malu-malu mengakui. Spontan Dewi cekikikan. Mungkin ada bulatan merah di kedua pipiku karena malu, jadi dia menertawaiku. Sayangnya, dia enggak bisa nahan ketawa-ketiwinya itu sampai dekat di pinggir halte. Si cowok itu—yang sedang mengambil headset dari tas—menoleh ke arah kami, Dewi langsung menggerakkan sikunya menyentuh badanku.

Aku balas memandang Dewi, mengedipkan mata sambil berujar, “Dew, ssst ….”

Dewi kemudian diam, menahan sikapnya. Kami lalu menoleh dan mendapati cowok itu melempar senyum. Jantungku berhenti berdetak, tiba-tiba senyumnya membuat bunga-bunga di hatiku bermekaran. Ya Allah, dia senyum sama aku?

Sepanjang jalan menuju rumah, aku ingin terus senyum. Masih jelas tergambar setangkup bibir melengkung itu tadi. Dewi, membakar rasa yang sedang mekar itu dengan sebuah kalimat, “Kayaknya, kamu mesti berani ajak dia kenalan, deh, Kar. Kamu punya kesempatan untuk gebet dia. Serius.”

***

Malam ini, gerimis di luar, hanya hatiku bertabur bintang. Gemerlap, pancarannya tergambar di raut mukaku. Bahkan, Bundaku bisa menangkap kemilau itu.

“Lagi happy ya, Kak?” tanya Bunda kepadaku.

“Ya … gitu, deh, Bund. Tadi di sekolah menyenangkan.”

Bunda hanya senyum.

“Eh, iya, Kakak tahu enggak? Ardita mau nikah, lho,” ucap Ibu dengan ekspresi yang berubah serius. “Awal bulan depan dia nikahnya. Buru-buru.”

“Ardita yang tinggal di Blok D itu, Bund? Yang bener aja?” Aku enggak percaya dengan berita itu. Dia seusiaku dan masih sekolah, kenapa tiba-tiba mau menikah?

“Bener, Kak. Tadi Tantenya yang cerita sama Bunda. MBA (Married by Accident) dia, Kak.”

“Ya Allah, serem amat sih, Bund.”

“Kakak enggak usah pacaran dulu, ya. Hati-hati bergaul sama lawan jenis,” Bunda mengelus kepalaku. “Pokoknya, Bunda enggak izinin Kakak terlalu dekat sama lawan jenis. Belajar dulu yang bener. Kalau udah waktunya, jodoh itu pasti datang.”

“Kalau aku pacaran tapi janji enggak macam-macam boleh, Bunda? Aku kan udah 17 tahun.” Aku sedikit merengek.

“No! Ayah sama Bunda aja enggak pacaran, kami dijodohkan sama Eyang,” kata Bunda tegas. “Kamu kan juga anak pertama Ayah-Bunda, harus jadi contoh juga buat Adik.”

“Tapi, Bund. Aku bisa kok memilah mana yang baik dan buruk.” Aku sedikit melawan.

“Kak, jodoh itu udah ditetapkan. Kamu enggak pacaran pun, Allah udah kasih. Pilih jalan yang baik aja. Jatuh cinta itu sakit kalau kita enggak menempatkannya dengan baik.” Bunda memelankan suaranya, ia kembali mengusap kepalaku.

Aku menghela napas. Nasihat bunda mengacaukan semua rasa bahagia yang sedari siang memenuhi sudut hatiku. Sejak tadi, aku mempertimbangkan saran Dewi. Mengumpulkan nyali untuk beberapa hari ke depan mengajak si cowok halte itu kenalan. Aku punya kesempatan untuk dekat dengan dia. Kalau kami pacaran, aku bisa kok jaga diri. Aku yakin. 

***

Hari ini Rabu, seperti biasa aku mengakhiri agenda di sekolah dengan ekstrakulikuler jurnalistik. Kebetulan, pekan ini kami—aku dan rekan ekskul jurnalistik—harus mengganti tampilan mading, banyak detail yang harus disiapkan. Ada beberapa ornamen pelengkap yang belum kami selesaikan. Namun, dalam dua hari ke depan, kami harus sudah menyelesaikannya karena akan ada tamu studi banding ke sekolah esok Sabtu.

Aku, sebagai anggota ekskul jurnalistik yang tinggal paling dekat dengan sekolah, memutuskan membawa beberapa kertas. Beberapa tempelan dan ornamen untuk hiasan akan kuselesaikan di rumah. Jadi, esok pagi sudah siap untuk ditempel di papan panjang.

Sore ini aku berjalan sendirian, Dewi sakit dan enggak berangkat sekolah. Sambil menenteng kantong berisi potongan-potongan kertas, aku berjalan pelan meniti trotoar. Seperti biasa, halte adalah tempat yang paling aku perhatikan. Adakah dia, nyawa dari puisi-puisiku? Ah, tapi … ini kan sudah sore. Pasti dia udah pulang. Aku melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba, ada suara terdengar dari arah belakang, “Mbak … Mbak … kertasnya jatuh.”

Aku menoleh ke arah datangnya suara. Napasku nyaris berhenti, aku mematung beberapa detik. Kudapati si cowok halte memegang kertas karton. Dia … jalan di belakangku? Sejak kapan? Apa ini kesempatanku untuk kenalan sama dia? Ya, ampun, jantungku berdetak kencang.

Dia mendekat kepadaku, lalu menyerahkan karton yang dia pegang. Aku masih mematung.

“Ini jatuh, Mbak.”  Dia memasang senyum. Ya Allah, bisa-bisa aku pingsan habis ini. Tolong

“Ma—ka—sih,” ucapku terbata. Masih sulit percaya dengan kebetulan ini. Dia, yang selama ini jadi inspirasiku menulis puisi ada di depan mata.

Dalam kondisi yang sepertinya aku terlihat memalukan, mataku mengarah ke papan nama yang ia kenakan. Fahreza. Begitu yang tertulis. Itu, namanya.

“Mbaknya biasanya berdua kan, sama temennya? Kok hari ini sendirian?” Dia bertanya.

“Anu … eh, dia … dia lagi sakit.” Duh, aku masih terbata. Ternyata, dia merhatiin aku juga. Beneran enggak nyangka.

“Oh, gitu.” Dia senyum lagi. “Kalau boleh tahu, nama temannya siapa ya, Mbak?”

“Dewi.” Aku jawab sambil senyum, mulai bisa menenangkan diri.

“Dewi. Pantesan aja dia cantik. Salamin ke dia ya, Mbak. Sekalian saya mau minta nomor HP-nya. Boleh?”

“Hah?”

“Atau … Mbak bantu kenalin saya ke dia, bisa?”

“Saya bilang ke dia dulu ya, Mas. Maaf, sekarang saya buru-buru.” Aku segera beranjak, memanjangkan langkah. Rasanya ingin segera sampai. Fahreza, masih berjalan di belakangku, aku enggak peduli sama apa yang dia pikirkan sekarang.

Bunda, patah hati itu sakit, ya. Begini kah yang Bunda maksud? Aku pengin cepat sampai rumah dan peluk Bunda.

 Setelah ini, aku cuma mau jatuh cinta dalam diam. Biar cuma puisiku yang tahu siapa yang memberinya nyawa. Allah, ternyata aku belum siap menanggung sakitnya patah hati karena sahabatku sendiri. []

Ditulis oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: