Happiness is the most important thing in life. Betul begitu, kan?

Kayaknya enggak ada satu orang pun di dunia ini yang pengen hidupnya dipenuhi kesedihan. Malah, kalau bisa bahagia terus aja, enggak perlu ada sedih-sedihnya. Ya, kita bisa lihat sendiri buktinya, banyak hal yang dilakukan manusia untuk mencari kebahagiaan. Mengejar impian, mencari teman, mengoleksi barang-barang kesayangan dan banyak hal lain. Intinya, semua itu dilakukan supaya merasa bahagia.

Sayangnya, ada juga yang pakai jalan pintas untuk merasakan kebahagiaan itu. Jalan yang enggak Allah suka. Enggak perlu aku sebutkan lah ya, karena pasti semua orang tahu. Kita ini diberi naluri untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Memang kadang kita khilaf sih, jadi nerobos rambu-rambu. Tapi, kebahagiaan itu sebetulnya enggak ada dalam hal yang salah kan?

Banyak juga yang bilang, bahagia itu lahir dari hal yang sederhana. Contohnya, bisa ngeteh sambil mainan media sosial. Bebas dari segala bentuk kerjaan dan deadline. Sesederhana itukah?

Baiklah, kita coba buka instagram yang katanya bisa jadi hiburan. Siapa tahu kebahagiaan sederhana itu benar-benar ada.

Tap

Ardian—bukan nama sebenarnya. Teman di kampus semasa S1 dulu, sekarang sudah di Jepang. Hampir setiap hari, foto-fotonya memenuhi sosial media. Dia bagi hampir semua kegiatan perkuliahannya. Sesekali tampak mereka—manusia-manusia bermata sipit—berjajar menebar senyum lebar. Ada satu atau dua orang yang berbeda, berambut pirang sedang menenteng dua buku tebal. Oh, sepertinya itu teman kuliah dan dosennya.

Kalau dipikir-pikir, Ardian itu enggak pernah dapat IP cumlaude. IPK-nya pas-pasan, jelas enggak masuk sebagai saingan beratku. Jauh. Soal tugas-tugas dosen, dia pasrah dan sering nunggu copy-an dariku. Kalau presentasi, paling banter cuma jadi operator. Aku yang presentasi dan dia cuma nunggu kode untuk mengganti tampilan slide. Apalagi ujian, dia duduk sih, tapi cenderung kayak orang mau nyebrang; toleh kanan-kiri. Tahu kan maksudnya? Yes, apalagi kalau bukan cari contekan?

Setelah lulus, dia terbang ke negeri Sakura untuk mengejar gelar S2. Konon, dia dapat beasiswa. Sumpah, susah dipercaya sih ini. Entah ada keajaiban apa, bisa-bisanya dia yang kemampuan akademiknya pas-pasan bisa kuliah gratis. Dia yang kemampuan bahasa asingnya hampir enggak ada gaungnya, justru terbang jauh ninggalin teman-teman yang setiap hari nyerocos full English.

Kenapa harus Ardian, ya Allah? Aku lebih pintar dari dia, bahasa Inggrisku jauh lebih bagus. Aku juga lulus duluan, lulus tepat waktu pula. Dosen juga lebih kenal sama aku dibanding dia. Batinku, mengeluh pada Allah.

Tap …

Adakah yang hidupnya lebih membahagiakan dari hidupnya orang-orang terkenal? [Hal. 133]

Nabila—ini juga bukan nama asli. Hari ini dia masih menikmati liburan ke Korea bareng tiga teman modelnya. Sejak dua hari lalu, story-nya update terus. Jadi, followers-nya udah pasti tahu dia lagi di mana dan makan apa. Enggak ketinggalan juga dong, update konten promosi. Kelihatan seru banget deh, liburannya. Tapi kayaknya, liburannya ini juga endorse. Batinku menebak-nebak.

Enggak tahu gimana, Nabila ini sekarang jadi selebgram gitu. Influencer. Dia memang cantik, tinggi dan berkulit bersih. Badannya tinggi semampai, sukses diet sehat. Padahal, dulu waktu sekolah badannya agak berisi. Mungkin karena modal badan yang lebih besar dari teman sebaya, dia hobi banget nge-bully teman-teman, termasuk aku. Kalau ingat kelakuannya zaman dulu, enggak nyangka dia akan jadi influencer dan dikagumi banyak orang.

Orang-orang ini cuma enggak tahu masa lalunya aja. Kalau dibilang dia ini influencer muslimah, kayaknya salah deh. Dulu itu dia enggak pernah mencerminkan sikap muslimah. Punya banyak musuh di sekolah.

Ya Allah, kenapa sih orang semacam Nabila itu Engkau beri keberuntungan? Kenapa bukan aku aja yang lebih kalem daripada dia? Begitulah. Rasanya aku ingin protes terus ke Allah.

Lihat story dari dua orang aja, ternyata bisa ngabisin waktu lebih dari sepuluh menit. Udahan aja harusnya, ya?

Time is free, but it’s priceless.

You can’t own it, but you can use it.

You can’t keep it, but you can spend it.

Once you have lost it, you can never get it back.

[Hal. 152]

Ah, tapi baru sepuluh menit kok, belum juga satu jam. Lagi ah. Ada story orang lain lagi. Kali ini teman sekolah juga.

Tap …

Kali ini, terlihat foto sepasang pengantin. Iya, keduanya kukenali. Beberapa bulan lalu, keduanya resmi menikah. Adel, si perempuan. Suaminya, Wisnu udah lama naksir Adel. Laki-laki itu setia banget nunggu Adel yang dulu hobi gonta-ganti pacar. Beruntung sekali Adel ini. Masih ada juga laki-laki yang setia nungguin dia dan menerima apa adanya.

Pesta pernikahan Adel dan Wisnu dirayakan di sebuah gedung yang cukup luas. Dekorasi penuh bunga-bunga dominasi warna gold dan maroon. Adel berbusana muslim, cantik. Tamu undangan yang hadir bejibun, bahkan turut hadir juga para pejabat daerah. Maklum, Papanya Adel ini juga orang penting. Pimpinan BUMN gitu, lah.

Sejak dulu, Adel memang sering membagikan foto-foto yang instagramable. Bukan cuma sama Wisnu aja, sih. Kalau dulu foto dengan pacar. Sekarang, karena udah nikah isi unggahannya ya … begitu aja, enggak jauh-jauh dari pose berduaan atau agenda liburan.

Foto Wisnu, foto keluarga enggak pernah ada habisnya. Rasa-rasanya kayak enggak ada orang lain yang lebih bahagia dari dia. Maklum sih, nikahnya belum lama. Tapi, apa Adel ini enggak kasihan sama yang masih jomblo, ya? Dia segitu mudahnya dapat pasangan.

Ya Allah, aku ini lebih baik dibandingkan Adel. Jangankan gonta-ganti pacar, didekati laki-laki saja gemetaran luar biasa. Kok bisa sih, dia justru lebih dulu Engkau beri jodoh, pria yang menurutku baik pula. Pestanya pun megah.

Protes itu mudah, ya?

Allah, kapan giliranku? Kenapa Engkau lama sekali mengabulkan doaku yang ini?

Iya, aku protes lagi.

Astaghfirullah … dunia maya ini memang racun. Sekali online, scrolling lalu beberapa kali tap … udah berapa penyakit aja yang hinggap ke hati? Sombong, iri, gampang protes, terburu-buru juga lupa waktu. Bahaya … bahaya banget. Memang betul, apa yang Pak Dwi Suwiknyo tulis dalam buku ketiga tetralogi Mardhatillah ini.

Allah, rasa tenang di hatiku tiba-tiba saja sirna begitu aku iri terhadap hidup orang lain. [Hal. 6]

Setelah mengatamkan 168 halaman full color Allah, Bersama-Mu Aku Bahagia, aku merasa dihantui tanda tanya besar. Sebenarnya, bahagia itu seperti apa sih? Nyatanya, aktivitas kecil yang setiap hari berulang dilakukan justru menggerogoti perasaan bahagia itu. Yang ada, selama ini bayangan tentang bahagia adalah seperti Ardian, Nabila atau Adel.

Apalagi saat melihat teman yang sudah berhasil meraih impiannya, hatiku terasa mendidih ingin meraihnya juga. Saat teman memiliki barang-barang baru, aku ingin memilikinya juga. Saat tetangga bisa merenovasi rumahnya, aku ingin memilikinya juga. [Hal. 42]

Betul kan?

Kadang, kita—eh, aku aja kayaknya—merasa usahaku untuk bahagia justru sia-sia karena yang aku lakukan justru sebaliknya. Membanding-bandingkan hidupku dengan mereka. Lalu, di mana letak rasa bahagia itu? Apa benar ada dalam pandangan orang lain? Dalam kemewahan yang bisa disebarkan ke teman-teman lewat gambar dan video?

Ya Allah, buku ini benar-benar mewakili seluruh perasaanku. Buku ini benar-benar menjawab arti bahagia itu. Bahagia itu sederhana, aku setuju. Menemukan buku ini adalah kebahagiaan tersendiri. Sebagai seorang yang belum bisa lepas dari media sosial setiap harinya, buku ini bisa menemani program social media detox. Sejenak berusaha menyembuhkan diri dari rasa cemas akibat terlalu banyak melihat hidup manusia lain—yang padahal cuma di dalam layar. Dalam hatinya kan, siapa yang tahu?

Aku mengartikan keberuntungan di dunia ini sebagai kemudahan-kemudahan hidup. [Hal. 158]

Hal sekecil kemudahan hidup aja sebetulnya bisa jadi sumber bahagia. Tahu enggak apa hubungan kemudahan hidup dengan buku ini bagiku? Buku ini aku dapat dari penulisnya langsung, diantarkan Pak Pos. Effortless. Keluar duit enggak, perlu ke toko buku juga enggak. Ya Allah, kadang kebahagiaan dari kemudahan macam ini malah lupa aku syukuri.

Pokoknya buatku, buku bersampul hitam ini adalah teman baik. Dia bisa jadi pengingat. Aku jadi sadar bahwa bahagia itu bukan seperti apa yang ada di dunia maya. Bukan karena kita mampu membagikan—di media sosial—apa yang lebih baik dari milik mereka. Bahagia adalah sesuatu yang mampu dirasakan bukan saja orang lain, tapi yang utama yaitu hati kita sendiri. Tahu gimana caranya? Sebelum mengejar bahagia, baca buku ini dulu. []

Judul: Allah, Bersama-Mu Aku Bahagia

Penulis : Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Cetakan: Pertama, November 2018

Tebal: 168 Halaman

ISBN: 978-602-52799-2-8

Ditulis oleh: Hapsari T. M.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: