Siang ini, aku pusing tujuh keliling. Ide skripsi masih bisa diajukan enam bulan lagi, tapi Bu Insih sudah mewanti-wanti mahasiswanya untuk membuat judul skripsi. Kuliah hari ini hanya berupa diskusi dan pembagian kelompok. Aku memilih tema literasi dan satu grup dengan temanku, Anisa.

***

Walaupun aku sudah menikah, kuliahku masih dibantu Bapak-Ibu. Orangtua tetep kukuh untuk membiayai kuliahku. Kata mereka, ini sudah menjadi tanggung jawab orangtua. Biasanya, aku menghitung biaya kuliahku hanya mentok sampai biaya semesteran saja.

Membeli buku penunjang kuliah, bahan-bahan praktikum, sampai mengikuti acara-acara penunjang ilmu di kampus, itu bagian kami—aku dan suami.  Aku tak pernah memasukkannya dalam anggaran belanja kuliah yang kukirimkan ke orangtua. Aku dan suami sepakat untuk mencari sendiri semua itu.

Tibalah saatnya di semester tua. Aku sudah berada di tahun ketiga. Satu semester lagi, aku harus mulai mengerjakan skripsi. Dari pengalaman kakak angkatan yang skripsinya molor, para dosen kami memilih untuk mendukung mahasiswanya menciptakan ide skripsi enam bulan sebelumnya.

Jujur, aku tak pernah berpikir bagaimana mengerjakan skripsi. Saat itu, aku masih asyik kuliah sambil bekerja. Aku dan suami nyambi kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena kami kuliah penuh waktu, kami hanya bisa mengambil kerjaan paruh waktu.

Suami pernah bekerja menjadi buruh cuci, pramusaji, dan barista di suatu restoran. Beliau juga pernah menjadi pramuniaga di toko penjualan handphone dan accessories. Awal-awal bekerja, suami masih digaji sangat rendah. Apalagi, beliau kerjanya paruh waktu. Aku membantunya dengan mengajar les privat untuk anak SD sampai SMP. Alhamdulillah, dari pemasukan kami berdua, kebutuhan hidup bisa terpenuhi.

Kedua orangtua kami terkadang masih memberi uang saku juga. Biaya ini kami alokasikan untuk menyewa rumah kecil. Aku dan suami berprinsip untuk menyembunyikan kesulitan ekonomi, lebih memilih mencari sendiri saat benar-benar tak ada uang. Kadang, hal yang tak disangka-sangka muncul saat kami kuliah. Untuk menunjang perkuliahan, sering sekali biaya kebutuhannya membengkak.

“Ay, skripsiku udah mulai nih, tapi aku masih bingung gimana caranya nyari permasalahan tema skripsiku,” celetukku kepada suami yang kupanggil Ay dari kata Ayah. Saat itu kami sedang makan di luar. Biasanya kami makan dulu di warung murah dekat kampus.

“Udah tanya temen-temenmu?”

Suami memang belum memulai skripsinya. Di jurusannya, dosen belum terlalu menekan mahasiswa sampai ke ranah skripsi.

“Udah sih, tapi mereka juga bingung. Hehe. Lagian kan,temanya beda. Punyaku tentang literasi. Agak pusing karena bahannya di perpustakaan masih sedikit.”

Tahun 2012 adalah tahun ketika perpustakaan menjadi satu-satunya bahan mencari ide skripsi. Biasanya kakak angkatan menyumbang bundel skripsi miliknya dan akan ditaruh di rak khusus. Kami–adik angkatan—merasa bersyukur bisa ngintip bagaimana sih penulisan skripsi. Sialnya, untuk temaku sangat minim saat itu. Aku hanya mendapatkan gambaran sedikit saja di internet.

Bulan Oktober 2012 menyapa. Ini sudah sebulan sejak ide skripsi digelontorkan. Teman-teman lain sudah mulai bergerak mencari teorinya. Aku dan Anisa yang temanya sama, masih saja galau. Lagi, aku lebih galau karena memasuki hari ngirit. Uang untuk kebutuhan hidup mulai menipis. Saat ini kami juga sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata). Biayanya membengkak. Acara-acara yang kami selenggarakan di sekolah membutuhkan banyak uang iuran.

Sore harinya, aku mengajar les di Jalan Kaliurang km. 9. Di sana, ada tiga murid dalam satu hari. Mereka adalah tiga kakak beradik. Aku mengajar anak pertama, kedua, dan ketiga. Hari ini juga aku berniat meminta uang les mingguan kepada ibu mereka.

“Ren, Mami di rumah?” tanyaku pada Irene seusai kami belajar Matematika untuk ulangan hariannya besok. Aku sangat akrab dengan murid-murid lesku ini, sampai-sampai aku memanggil ibu mereka dengan kebiasaan panggilan mereka, Mami. Aku mengajar les mereka dari tahun 2009. Maka, aku sedikit tahu bagaimana kehidupan murid lesku ini.

“Mami? Sebentar ya, Mbak.” Irene keluar dari kamar tempat kami belajar. Aku menunggu sambil memasukkan barang-barangku ke tas. Beberapa menit kemudian, Irene masuk dan memberiku kabar yang mengejutkan.

Mami Irene sudah pergi ke Jakarta untuk pameran! Yang tambah mengejutkan adalah beliau baru pulang seminggu lagi. Toeng! Bagaimana nih, uang makan dan kuliahku mundur lagi. Di dompet, uang yang suami berikan hanya tersisa untuk makan satu hari. Duh, kami kudu bener-bener ngirit. Semoga enggak ada biaya kaget buat kuliah aja.

Pulang dari les, aku memikirkan banyak hal. Harapanku satu-satunya adalah uang les ini. Uang bayaran kerja suami sudah turun, tapi tidak bisa menutupi untuk satu minggu ke depan. Untung, beras di rumah masih ada. Tinggal tambahin kecap sudah oke. Ya, semoga ada rezeki lebih deh nanti, entah dari mana, pikirku.

Keesokan harinya, kuliah pagi di lantai tiga gedung utama. Satu per satu anak tangga kulalui menuju lantai satu. Aku berjalan pelan sekali. Rasanya nasi kecap tadi pagi sudah hilang terbakar menjadi kalori. Kalau kata Bu Dosen Ilmu Kesehatan, energi dari penguraian karbohidrat di tubuh memang cepat sekali habis. Maka, sebenarnya sarapan itu cocoknya dengan protein. Energinya lebih lama menetap di tubuh. Ah, andai ada telur, ya? Atau tempe, deh. Hahaha.

Sebuah papan pengumuman di dekat pintu keluar gedung depan menarik hatiku. Ada tulisan Pendidikan Sains terpampang besar di sana. Wah, mahasiswa S-2 jurusan Pendidikan Sains bikin seminar. Aku mencermati dalam-dalam tema seminar tahun ini.

“Optimalisasi Pendidikan Sains Menuju Generasi Indonesia Berliterasi dan Berkarakter Sains”

LITERASI! Alhamdulillah. Ada seminar tentang tema skripsiku, akhirnya! Aku bersorak riang. Setelah hampir sebulan aku galau, ini jawaban dari semua kegalauanku. Aku harus cepat-cepat ke sekretariat S-2 untuk menanyakan perihal pendaftaran. Walau tak punya uang, aku berharap masih ada slot sampai satu minggu ke depan.

“Mbak, slot seminar IPA masih ada?”

Sesampainya di sana, aku mendapati ada dua orang yang menjaga stan pendaftaran seminar. Salah satunya melihat daftar peserta.

“Masih ada, Mbak.”

“Eh, iya. Alhamdulillah. Berapa Mbak, biayanya?” Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Aku tahu sih, biaya seminar nasional standarnya di angka 50K.

“Lima puluh ribu, Mbak.”

Tuh, kan. Hehe. Nah, ini saatnya aku bertanya. “Tutup pendaftarannya kapan, Mbak? Berapa yang kosong slotnya sekarang?”

Si Mbak tadi menghitung daftar lagi untukku, “Sekitar 30 orang, Mbak, untuk sekarang. Oya, tutupnya belum tahu, Mbak. Bisa sewaktu-waktu jika jumlahnya sudah memenuhi. Tapi ini cepet, loh, Mbak yang daftar. Kemarin aja kami baru buka, sudah ada 20 orang yang masuk.”

Aku kaget. Ternyata seminar ini banyak yang memburu. Memang sih, tema literasi lagi gencar banget di jurusan kami. Kakak angkatan pasti juga banyak yang ambil karena skripsi, belum mahasiswa S-2 juga. Rasanya, aku seperti sudah kalah perang. Jika harus nunggu uang les turun, aku takut slotnya tutup. Tetapi, gimana caranya aku bisa ikutan sekarang? Terbersit pikiranku untuk ngutang ke teman, tapi aku merasa aku harus cari cara lain yang lebih elegan, deh.

Ah, otakku jalan. Teman satu kelasku kan ada 20 orang. Kesempatan besar!

“Mbak, boleh enggak aku ngelobi?”

“Maksudnya?”

“Gini, misalnya daftar untuk 20 peserta, ada free 1 tiket gitu?” Aku nyengir. Rasanya deg-degan sih, tapi aku merasa bisa membujuk teman-teman sekelas untuk ikutan seminar ini. Kan, aku jadi bisa ikutan juga dengan gratis.

“Sebentar ya, Mbak, saya telepon ketuanya dulu.”

Aku mempersilakan. Tanganku mulai dingin, keringat sebesar biji jagung mulai merembes di antara kulit dahi dan jilbabku. Ya Allah, aku mohon, ya Allah.

Beberapa menit kemudian, si Mbak menghampiriku. “Mbak, kata ketua kami bilang, boleh. Malah, 10 peserta yang langsung daftar, boleh dapat 1 tiket masuk.”

Mataku berbinar. Aku langsung tancap gas setelah mengucapkan terima kasih, berlari ke kelas. Ada kuliah siang setelah jeda istirahat. Semoga lancar, semoga teman-teman mau ikutan.

Setibanya di sana, aku langsung menuju depan kelas. Teman-teman yang sedang menunggu dosen masuk, kualihkan perhatian mereka untuk sejenak mendengarkanku.

“Assalamu’alaikum. Eh, tadi aku ke gedung S-2 loh, seminar tahun ini judulnya kita banget, nih. Tentang Pendidikan Sains dan Literasi.”

Aku menahan napas sebentar. Kulihat reaksi teman-teman, ada yang masih mendengarkanku, ada juga yang abai. Hehe.

“Yeee … emang kapan, Mbak?” tanya Anisa, temanku satu tema skripsi.

“Tiga November, kok. Masih dua minggu lagi, tapi tadi udah ada 20-an yang daftar. Tinggal beberapa peserta lagi nih. Kita kan ada 20-an, gimana kalau pada daftar bareng biar cepat?”

“Bagus, ya, Mbak temanya?” celetuk teman lain.

“Eh ini kita banget, lagian kemarin baru dibuka loh pendaftaran. Udah 20 yang masuk, berarti kan laris. Mumpung aku bisa daftarin nih, pada ke aku aja. Biar langsung dapat slot. Gimana?”

Beberapa teman tertarik ikut, setelah menanyakan biaya, mereka langsung nitip. Kebiasaan anak-anak di kelas kami adalah tak mau repot. Jadi, aku sering sekali menawarkan diri membantu mereka untuk membelikan barang yang mereka perlukan.

Nah, maka mereka sudah percaya padaku untuk titip uang seminar. Biasanya sih mereka titip fotokopian, buku penunjang kuliah, bahan-bahan dan alat praktikum. Ada jasa titip yang kusampaikan, ya lumayan buat beli bensin dan jajan sedikit. Hehe.

Sepuluh orang sudah membayar. Ya Allah, rezeki yang Kau limpahkan kepadaku cukup. Selesai kuliah, aku langsung tancap gas ke gedung S-2. Alhamdulillah, I’m in! Hari ini aku bisa tidur nyenyak.

Keesokan harinya, euforia pendaftaran seminar masih terasa. Sepuluh teman kelasku yang belum daftar ingin ikut juga. Bumbu-bumbu teman yang sudah mendaftar, nih, kayaknya. Jadi, semua anak di kelasku bergabung. Mereka khawatir, ada ilmu yang terlewatkan jika tidak ikut seminar. Beruntunglah aku, masih ada satu tiket free nantinya.

Sebenarnya aku sudah bisa masuk seminar dari sepuluh tiket kemarin. Masih ada satu free tiket, nih, yang belum jelas pemiliknya. Aku minta izin ke panitia untuk mencari dulu siapa yang mau ikut. Jodoh bertemu, kelas sebelah terkena juga euforianya. Tiketku yang sisa satu ludes dan aku gembira dapat uang pengganti tiket dari teman kelas sebelah. Rasanya gembira banget.

Kupikir, aku bakal beruntung karena bisa ikut seminar aja, ternyata Allah kasih lebih buat makan seminggu sekalian. Nikmat mana lagi yang kudustakan. Allah, I love you.

***

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: