Denok, panggil saja dia begitu. Lama nggak berkabar, tadi dia mengirim pesan kepadaku kalau dia sekarang sudah jadi mahasiswi di salah satu universitas negeri di Yogya, dia dapat beasiswa Bidikmisi (kalau tidak salah).
Aku kenal Denok karena dulu pas dia masih SMP suka ikut bapaknya ke kosku ngambil kertas-kertas dan barang-barang yang mau kurongsokin. Kadang dia kuminta bantuan buat ngangkat barang-barang dari kamarku.

***
Suatu saat aku ketemu bapaknya Denok di suatu kos-kosan cowok. Aku habis ngelesi anaknya yang punya kos-kosan. Bapaknya Denok seperti biasa sedang ngambil rongsokan. Karena jalan pulang searah dan sepi, aku ngonthel mbarengi bapaknya Denok sambil ngobrol apa saja.
“Denok ki pengin les ke Mbak Imp juga sebenarnya, Mbak. Pas dulu ngambil rongsokan gitu, lihat buku-buku di kamarnya Mbak Imp. Dia sebenarnya suka banget baca-baca. Sayang orang tuanya nggak selalu bisa beliin buku. Seringnya dapat buku bekas dari rongsokan hehe,” ceritanya bapaknya Denok dalam bahasa Jawa.
“Oh nggak usah les aja kalau Denok, Pak. Udah main aja ke kos kalau ada kesulitan belajar. Selama saya longgar nggak masalah. Nanti boleh baca-baca buku di kos saya.”
“Wah, boleh, Mbak? Maturnuwun nanti saya bilang ke anaknya.” 
Kami pun berpisah di perempatan karena beda arah.
Setelah itu Denok suka ke tempatku sambil bawa PRnya. Tapi khusus mapel eksak aku nggak bisa bantuin, hehe. Sebenarnya anak ini pinter sih, gampang koneknya, jadi belajar PR cuma sebentar, banyakan ngobrolin di luar itu. Suatu saat, dia pernah nulis puisi atau apa gitu, ditunjukkan padaku.
“Adhuh, Nok, iki tulisanmu cuilik buanget. Aku ra isa maca,” aku bilang tulisan dia terlalu kecil, aku nggak bisa baca, mataku kan sudah nggak normal.
“Ngapunten, Mbak. Soale kalau nggak kecil-kecil gitu nanti buku tulisnya cepet habis. Kasihan bapak kalau harus beli lagi,”
“Lha nek misal emang sudah habis gimana?”
“Biasanya aku ngumpulin kertas-kertas yang masih layak itu, Mbak. Tak tumpuk, distaples, jadi deh buku tulis hehe,”
Denok ceritanya dengan ekspresi yang biasa aja, malah cekikikan anaknya. Lha aku yang bengong. Aku entah polos entah apa ya, nggak pernah mikir kalau di Solo ada orang yang nggak mampu beli buku tulis. Pikirku di kota ini warganya sudah banyak yang sejahtera, mosok buku tulis nggak kebeli?
“Di sekolah aku juga nggak kuat beli buku paket, Mbak. Nah tapi bapak bisaaa aja dapat buku paket yang sama walau kondisinya sudah gak sebagus yang di sekolah. Solidaritas antar pemulung katanya. Jadi mereka saling menginfokan anaknya lagi butuh buku apa, soalnya pasti ada orang yang buang buku begitu,” cerita Denok yang membuatku nggak berkedip.
Aku jadi ingat kalau aku sering banget dapat voucher buku tulis dari Toga Mas tapi nggak pernah kupakai. Aku nggak butuh soalnya, bingung juga mau ngasih ke siapa. Dengar ceritanya Denok kok aku jadi merasa bersalah. Kucari-cari voucher itu, ketemu beberapa yang masih berlaku. 
Denok kuajak ke toko buku itu. Sueneng banget anaknya. Tak suruh pilih buku yang dia suka, kebetulan aku juga baru dapat sangu dari kampus. Aku tukerin voucher buku tulis itu semua. 
“Bagi dua sama Saras ya,” Saras itu sepupunya yang masih SD, kadang-kadang diajak. 
Aku ajak mampir juga di mall dekat toko buku itu. Pas tak jajanin Breadtalk dia cuma lihatin aja.
“Nggak sayang uangnya, Mbak?”
“Sekali-kali nggak papa, biar kamu juga bisa cerita ke temanmu kalau udah pernah makan roti ini.” Denok pernah cerita kalau diejek temannya karena dia nggak pernah makan Breadtalk. 
Denok juga pernah cerita kalau sebenarnya orang tuanya itu kembar tiga. Ibunya namanya Ayu, buliknya namanya Indah (ibunya Saras), dan dia punya Pakdhe namanya Bagus. Simbahnya Denok ini miskin sekali, punya anak kembar tiga, tentu membuat mereka pusing. Akhirnya entah piye ada orang kaya yang mengadopsi satu anak mereka, orang kaya ini milih bayi laki-laki, ya Pakdhenya Denok itu. 
Tentu saja mereka berbeda nasib. Ibu dan buliknya Denok dari kecil hidupnya serba kekurangan. Mereka hanya lulus SMP. Ibunya Denok jadi buruh cuci, buliknya pedagang makanan kecil-kecilan di pasar. Aku sempat tanya, hubungan sama Pakdhe Bagus gimana.
“Ibuk malu, Mbak. Udah kapok kalau mau berkunjung ke rumah Pakdhe. Dulu sempat sih ke sana bawa makanan sama baju rajutan ibu sendiri. Itu ibuk dapat peralatan dan benang rajut dari keluarga yang biasa dia cuci bajunya. Ya mikirnya senang gitu bisa ketemu saudaranya. Kan nggak pernah saling berkunjung juga.”
“Terus?”
“Sambutannya ya gitu deh, dingin. Terus yang paling bikin ibuk nangis, pas itu bapak cerita ketemu temannya sesama pemulung, teman bapak ini cerita dapat baju bagus sama makanan yang waktu itu mau dibuang orang, kata orang yang buang itu dia takut kalau baju dan makanan itu nggak higienis, pas dilihat bapak itu makanan dan baju yang dihantarkan ibu buat Pakdhe Bagus. Yang buang baju itu cewek sih, mungkin itu Budhe Bagus. Ya memang begitu orangnya. Aku ya cuma bisa ngrumangsani sih, Mbak, siapa kami toh kok ngaku-ngaku keluarganya Pakdhe Bagus.”
Hmm … aku nggak tahu cerita lengkapnya kenapa bisa begitu, aku juga cuma dengerin Denok, nggak bisa narik kesimpulan. Tapi sebenarnya cerita mirip seperti itu di kampungku juga ada, anak kembar yang berbeda nasib, yang kaya nggak mau ngakuin kalau dia punya saudara kembar yang miskin.

***
Denok ini jarak sekolahnya mayan jauh sih. Seringnya dia jalan kaki bareng Saras, kalau pas longgar biasanya diantar bapaknya Saras yang tukang becak, kalau ngepasi nggak disuruh orang pagi itu. Waktu itu aku punya sepeda mini hasil dari beasiswa aktivis (aku bingung sekarang, dulu aku ngaktipis apaan sih, sekarang nggak berbekas wakakak), karena sudah lama juga, tapi masih layak lah, itu sepeda saksi sejarah ketika aku dulu ngloper koran dan dikejar anjing bwuahaa. Aku kasih sepeda itu buat si Denok.

Ya walau aku bukan horang kayah yang langsung bisa beli sepeda baru saat itu juga, tapi setidaknya aku masih bisa nabung buat beli baru, sedangkan Denok lebih membutuhkan sepeda itu. Sempet dibegoin temen sih, katanya aku nggak mikirin diri sendiri, terlalu baik sama orang. Doamat lah. Denok sempet nolak sih, tapi aku paksa.
“Udah nggak usah jalan kaki lagi, itu sepeda pakai aja, boncengan sama Saras. Kalau kamu punya sepeda kan enak, menghemat waktu.”
“Terus Mbak Imp sendiri piye?”
“Sante wae, ntar aku minta sama Gusti Allah,”
Akhirnya dia mau nerima pemberianku. Tapi setelah lulus sekolah, aku jadi sibuk sendiri, lupa sama Denok. Baru setelah berapa tahun itu dia berkirim pesan padaku, ternyata dia masih menyimpan nomorku. Dulu cuma dicatet aja karena dia nggak punya hape. Moga kamu sukses ya, Nok, dan tetap rendah hati.

Oleh: Impian Nopitasari.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: