Di manakah Level Ibadah Kita?

Sudah mafhum kita semua bahwa tujuan utama kita diciptakan di dunia ini oleh Allah Swt tidak lain adalah untuk beribadah padaNya. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun, Dan Aku tidak mencintakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.

Dan, sudah pula dimaklumi dengan jamak bahwa makna dan ruang lingkup ibadah itu adalah (1) bermakna menebar kebaikan, secara transendental (hubungan dengan Allah) dan sosial (sesama manusia dan termasuk alam semesta; artinya, di dalamnya juga meliputi kepada binatang dan sumber daya alam).

Misal, bisa ditemukan dalam ayat: fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebajikan), man ja’a bil hasanati falahum ajrun adhim, siapa yang melakukan kebaikan maka baginya akan dibalas dengan balasan yang agung.

(2) melingkupi seluruh bentuk dan ekspresi kebaikan (bukan hanya ‘ubudiyah) yang parameternya secara universal bisa digenggam bersama, yakni tidak menyakiti, merugikan, dan merendahkan pihak lain tanpa kecuali.

Itu semua adalah postur ibadah yang dititahkan Allah kepada kita tanpa kecuali. Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan ia ke tempat rendah yang paling rendah, kecuali orang-orang beriman dan berbuat kebaikan-kebaikan, maka bagi mereka diberikan balasan (agung) yang tak terbendung (lagi).

Tak ada syak lagi kan soal kewajiban mutlak beribadah ini, ya?

Baiklah, andaikan saja kita adalah pelaku ibadah (‘ubudiyah dan mu’amalah) selama ini. Alhamdulillah, ya.

Kini, setelah berhamdalah, sangat mendesak bagi kita untuk merenungkan nasihat dua tokoh besar Islam yang kondang dengan pemikiran dan lelaku makrifatnya. Jika kamu kurang sreg dengan istilah makrifat, baiklah, ubah saja itu menjadi muttaqin, shalihin, ‘alimin. Selesai, ya.

Imam Junaid al-Baghdadi menasihatkan bahwa ada tiga kemungkinan bentuk bagi adanya dorongan berbuat baik (khatir) pada diri manusia, yakni:

Pertama, khatir syaithani, dorongan berbuat baik karena tipu daya setan. Ciri utama dari kelompok ini ialah mereka beribadah, mereka berbuat baik, tetapi lelaku dan buahnya kemudian malah menghantarkan mereka tidak mencapai hakikat dari ibadah dan berbuat baik itu.

Bisa dalam bentuk menyimpang dari syariat (sebutlah, malah menghasilkan konflik dan madharat kepada relasi sosial lainnya yang jelas bertentangan dengan ajaran akhlak karimah) atau tak menyelamatkan mereka dari perbuatan keji dan mungkar (sebutlah contohnya adalah ibadah shalat).

Shalatnya rajin, malah jamaah di masjid, tapi tak mampu menisbatkan atsarus sujud (bekas sujud): tentu saja maknanya adalah terlindunginya kita dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat jalan, korupsi jalan. Shalat jamaah jalan, menista orang lain juga rajin.

Amaliah ibadah dan kebaikan kita dibungkus dengan halus oleh tipu daya setan, sehingga kita sejatinya tetap berada di jalan dzalimin, gelap, mungkar.

Kedua, khatir nafasi, dorongan berbuat baik karena belenggu hawa nafsu. Kalau yang pertama tadi, sumbernya adalah setan (luar), kalau yang kedua ini sumbernya adalah diri kita sendiri (internal).

Ciri utamanya ialah semua ibadah dan kebaikannya hanya berorientasi pada pemuasan gelegak hawa nafsunya. Shalat Dhuha agar makin kaya. Menikah agar terpuaskan gelora syahwatnya. Sedekah agar melambung nama baiknya sebagai jutawan yang dermawan. Rajin umrah agar kondang sebagai muslim yang taat. Ngaji dengan sepenuh tartil supaya disebut luar biasa. Dan sebagainya.

Ketiga, khatir rabbani, yakni dorongan berbuat baik dan ibadah dengan semata meyakini sumber terjadinya semua itu hanya karena ridha Allah Swt dan pula buahnya (manfaat, dampak) semata demi mengabdi pada Allah. Tak ada pretensi hawa nafsu secuil pun di dalamnya.

Sedekah ya sedekah saja, tak peduli ada orang, disebutkan, dipuji, ataupun tidak. Bahkan, bila si penerima sedekah tak mengucapkan teriam kasih, bukanlah masalah secuil pun baginya.

Bagi kalangan ini, segala apa yang terjadi pada dirinya, manis atau getir, sepenuhnya disandarkan pada kemahakuasaan Allah untuk memicunya terjadi pada dirinya. Diri telah terfanakan.

Maka, dalam keadaan sempit atau lapang, kaya atau lemah, sama saja baginya, tak lain terjadi karena Allah, diembannya juga karena Allah, dan dinisbatkannya pula karena Allah.

Imam Ghazali dalam kitabnya yang amat terkenal, Ihya’ Ulumuddin, jilid pertama, menasihatkan bahwa ada tiga jenis manusia dalam beribadah pada Allah. Boleh saja ketiganya di permukaan disebut zuhud, mengabdi pada Allah, tetapi pada hakikatnya, rohaninya, berbeda.

Pertama, beribadah kepada Allah karena takut pada siksaNya, azabNya. Ia takut menjadi miskin, menderita, dan masuk neraka. Maka ia tegakkan shalat, misal, demi menyelamatkan dirinya dari ancaman azab itu.

Kedua, beribadah karena mengharap berlimpahnya karunia-karunia Allah kepadanya. Ia rajin shalat Dhuha agar Allah menghujankan rezekinya. Ia tegakkan sedekah agar Allah memberinya rezeki yang berkali lipat lagi. Ia ngaji siang malam semata untuk meraih belas kasih Allah agar ia kelak masuk surga.

Ketiga, orang yang beribadah dengan semata demi Allah, tak ada selainnya. Maka baginya mau diberi kelapangan rezeki atau kesempitan, ia tetap istiqamah dalam ibadahnya. Mau diberi ujian berupa fitnah sekeji apa pun, ia letakkan itu sebagai pemberian Allah. Mau dianugerahi kelimpahan rezeki, ia jadikan itu sebagai jalan baginya untuk mendedikasikan hanya kepada Allah Swt. Pada pokoknya, semuanya, tanpa kecuali, adalah hanya Allah Swt. Dari dan menujunya.

Baiklah, Kawan. Sebelum diakhiri, penting bagi semua kita untuk mengerti dengan jeli dan teliti, ya, bahwa di dalam al-Qur’an pun diterakan dengan jelas adanya jenjang-jenjang pencapaian iman, rohani, dan amaliah itu. Tidak ada satu pun ayat dalam al-Qur’an yang berselisih satu sama lainnya.

Sebagai misal, tatkala Allah menyerukan di al-Qur’an tentang “Tiada daya sedikit pun bagimu untuk meraih karunia Allah kecuali hanya orang-orang yang dikehendakiNya” dan di surat lain dalam al-Qur’an Allah memfirmankan “siapa yang memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan menggantinya dengan lipat ganda yang banyak”, keduanya patut dipahami dalam relasi integratif yang hierarkis. Hih, pelik, ya? Tidak, kok.

Maksud saya adalah: ayat kedua merupakan dorongan pada fase awal-awal sebagai motivasi yang sangat manusiawi sekali untuk disuguhkan, tetapi ada fase berikutnya yang lebih ahsan dan afdhal, yakni kepasrahan, ketawakkalan, atas semua kemahakuasaan Allah di hadapan diri yang lemah, fana, tanpa kuasa secuil pun.

Relasi integratif yang hierarkis demikian amatlah berjibun dalam al-Qur’an. Maka, mari yuk, kita pahami al-Qur’an tidak dengan sepenggal-penggal, tetapi berbasis metodologi, bisa tematik (maudhu’i) maupun relasi integratif yang hierarkis begitu.

Terakhir, kira-kira, di antara renungan kita pada lelaku ibadah dan kebaikan yang telah kita amalkan selama ini, kita ini berada di level mana, ya?

Masya Allah, seketika saya merasa tak lebih mulia dari remah-remah roti tawar yang berserakan di atas meja, lalu disapu oleh Simbok, hingga bergelatakan di lantai, kemudian dibersihkan lagi oleh Simbok sembari sebagian diri saya terinjak-injak, dan akhirnya diempaskan ke bak sampah yang bau, busuk, bacin, dan menjijikkan.

Allah, tolonglah aku ….

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan