Kamar, 24 September 2015, sore yang cerah.

Dear Diary,

Kemarin pas promosi STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) yang masuk kelas cowok loh, ganteng dan rapi lagi. Tapi bukan itu sih yang bikin spesial, secara, cowok ganteng dan rapi itu kan udah umum, ya? Bisa dibilang biasa banget gitu. Nah, spesialnya itu karena si cowok kakak mahasiswa ini grogi banget pas di depan kelas nyampein info terkait sekolahnya. Apalagi pas anak-anak cewek (temenku di kelas kan kamu tahu sendiri, super alay, hihihi) tanya ini, itu dan bikin dia keringetan sampai tangannya bolak-balik ngelapin dahi. Duh, aku jadi ngakak so hard!

Kamar, menjelang Maghrib, 29 September 2015

Ry, masih ingat kan kakak mahasiswa STAN yang pernah kuceritain waktu itu? Nah, si kakak ngubungin aku, minta tolong agar mendata teman-teman yang akan ikut Try Out STAN.

Hmmm … kok aku mendadak inget wajahnya saat grogi di depan kelas, ya? Wajah lugu dan sedikit malu itu bikin deg-degan, terasa gimana gituh. Bukan! Bukan karena aku suka, enak aja! Perasaan ini hanya efek rasa penasaran. Kok ada cowok, udah mahasiswa, tapi grogi saat digodain cewek-cewek SMA? Aneh, kan?

Aku kan jadi pengin nyoba godain dia, hahaha ….

Taman Sekolah, saat jam kososng, 1 Oktober 2015

‘Beramallah tanpa mengharap balasan, bila engkau melakukan kebaikan, lupakan. Tawakal ilallah. Bila engkau melakukan keburukan, ingatlah! Catatlah! Semoga Allah tidak mencatatnya sebagai keburukan.’

Bagus kan Ry, kata-katanya? Jelas donk, itu kan kata-kata si kakak mahasiswa, hehehe …. Jadi, sejak dia minta tolong mendata teman-teman yang ikut Try Out STAN, setiap hari aku dapat kiriman kata-kata motivasi kayak gitu.

Awalnya aneh sih, tapi setelah kubaca bagus juga. Lumayan banget karena kata-kata itu kucatat dan kukumpulin jadi kata mutiara.

Oiya, nama si kakak, Sony Nugroho, biasa dipanggil Kak Ony. Tiga hari komunikasi lewat WA, aku menyimpulkan dia ramah juga baik. Lancar dan cepat juga sih responnya saat ada pertanyaan. Mungkin karena nggak berhadapan kali ya, jadi nggak grogi. Xixixixi ….

Kamar, dalam debar menunggu pertemuan, 17 Oktober 2015

Apa kabar, Ry? Kamu pasti kangen kan sama aku? Maaf ya, lama nggak cerita, maklum aku kan sibuk jadi panitia Try Out STAN.

Ngomong-ngomong tentang Try Out, ada berita bagus nih, Ry. Gini ceritanya, jadi yang daftar Try Out kan banyak, lebih seratus orang. Nah, karena banyak, maka aku dan dua teman yang bantuin ngedaftar mau diajak makan-makan sama kakak-kakak IMAKABA (Ikatan Mahasiswa Batang Pekalongan) yang sekolah di STAN.

Asik, kan? Asik banget malah! Ya secara, kita akan duduk satu ruangan dengan para mahasiswa pintar itu, juga akan dapat kaos IMAKABA dan tentunya uang ganti lelah. Tapi yang lebih greget itu, aku bisa lebih lama pantengin wajah Kak Ony yang bening dan teduh itu. Hehehe … mumpung dia masih jomblo dan suka salting saat dekat dengan cewek.

Segitu dulu ya, Ry, mau prepare nih buat acara besok. Kamu doain aku ya agar acaranya sukses dan bisa deketin Kak Oky.

Remang senja di pojok teras, 18 Oktober 2015 (sembari menikmati sisa adrenalin)

Ya ampun, Ry, hari ini sungguh luar biasa! Bener-bener bikin bahagia! Duh … rasanya belum percaya kalau aku ditembak Kak Ony.

Jadi gini Ry, tadi pas selesai acara makan-makan dan foto, Kak Ony ngasih aku surat. What? Surat? Aku kaget donk. Nah, saking nggak sabarnya, aku masuk kamar mandi dan kubukalah surat itu.

Kamu tahu apa isinya? Yup! Bener banget, Kak Ony nembak aku. Dia mau, aku jadi adik angkatnya. Hahaha … kamu pasti ketawa, kan? Hayo ngaku!

Iya, sih, Kak Ony nembak aku bukan untuk jadi pacarnya, tapi supaya jadi adik angkatnya. Tapi nggak apa-apa keleus, yah, meski aku juga ‘suka’ tapi nggak ngebet banget mau pacaran, kok. Bisa komunikasi dan saling mengisi ruang perhatian, cukuplah. Dia sih bilang, hubungan kakak – adik ini, supaya kita bisa saling nasehatin gitu, ntar kita juga saling berkabar lewat surat dan harus ada muatan saling mengingatkan.

Wuih banget, kan? Lebih asik kayaknya, jadi berasa masuk pada kehidupan zaman kapan gitu yang masih suka surat-suratan pakai pos. Hehehe ….

Ruang OSIS, semabari nunggu rapat, 25 November 2015

Kamu tahu, Ry, hal membahagiakan apa yang baru saja aku alami? Jadi, tadi siang pas jam istirahat salat, ada temen yang ngajakin aku ke TU. Dia bilang, ada surat atas nama Zahid Amirullah untukku.

Meskipun heran, juga bingung, siapa Zahid Amirullah itu, tapi akhirnya aku dan si temen datang ke TU dan mengambil surat dengan amplop putih tebal.

“Uwow! Tebel banget, isinya apa tuh?” tanya si temen sambil memegang amplop surat.

“Duit kali ….” Aku tertawa menyadari jawaban itu sama sekali hanya lawakan.

“Dasar mata duitan!”

Karena si teman penasaran, akhirnya amplop surat itu kubuka dan intip sedikit. Ternyata, eng, ing, eng … isinya lima lembar surat. Banyak banget ya? Bakal seru dan puas bacanya.

Bagian asik lainnya adalah ketika aku tahu, bahwa Zahid Amirullah itu adalah nama pena dari Kak Ony. Ealah … bener-bener bikin ehem! Hahaha ….

Kamar, dengan aroma tanah basah, 24 Desember 2015

Sedari pagi hujan terus aja ninggalin jejak becek di tanah, dingin sekali udara di sekitar. Anginnya itu loh, Ry, bikin hati menggigil.

Sebenarnya sih bukan karena hujan sehingga hati dingin dan berasa malas ngapa-ngapain. Tapi, mungkin ini karena semingguan lebih aku nunggu-nunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Setiap jam istirahat aku selalu ke TU. Kamu tahu nggak, Ry, aku ke TU ngapain? Yang jelas bukan mau bayar SPP atau nabung, tapi aku ke sana cuma mau lihat papan pengumuman. Apakah di papan itu, terselip info bahwa ada surat untukku.

Kok surat dari siapa sih, Ry? Ya, surat balasan dari Kak Ony donk! Sebelas hari yang lalu aku kirim surat untuknya, dan harusnya ia telah membaca dan mengirimkan balasannya. Tapi, aku kecewa.

Uuuh! Kesel, kan?

Ya, mungkin Kak Ony lagi sibuk, dia kan ketua organisasi masjid di kampus. Atau dia lagi ada urusan lain yang tidak bisa diganggu. Aku paham kok, dan memang harus paham serta sabar.

Ya udah deh, doain aja ya Ry, mudah-mudahan suratnya cepat sampai dan jadi obat kangenku sama Kak Ony. Kangen? Ups!

Sembari ngantuk, 1 Januari 2016, pukul 00.05

‘Mari bersoleklah, untuk sebuah pertemuan. Hiasi diri kita, agar semakin siap, saat tanah telah menginginkan kita kembali. Agar kita bersedia dengan rela, saat janji dari-Nya harus dilunasi. Pergantian tahun, harusnya menjadikan kita lebih taat, lebih dekat dengan-Nya.’

Suara HP membangunkanku (memang sih tidurnya nggak begitu nyenyak, kamu tahu kan, Ry, di luar masih rame anak-anak sekitar sini yang ngadain pesta tahun baru?)

Ternyata bunyi HP itu mengabarkan pesan dari Kak Ony mengingatkan akan hakikat pergantian tahun.

Perasaanku jadi nyes, sungguh Kakak satu itu istimewa banget. Ya, bukan hanya kata-kata motivasinya yang indah, tapi rupa dan ilmunya pun memesona. Ya Allah, kok aku jadi terpesona sama Kak Ony, nggak apa-apa kan Ya Allah? Dia kan baik dan solih.

Kamar, selepas Maghrib, dengan rasa penasaran, 5 Februari 2015.

Ry, kamu tahu kan udah berapa lama aku jadi adik angkat Kak Ony? Empat bulan lebih! Dan selama itu, banyak hal yang kami diskusikan dalam surat. Tentang sudut pandang dalam melihat kehidupan, tentang aktivitas keseharian, dan akhir-akhir ini tentang kegelisahan Kak Ony pada lawan jenis.

Kak Ony bercerita, bahwa ia biasa saja ketika harus menundukkan pandangan saat berhadapan dengan cewek berpakaian minim. Tapi, sungguh dia kesulitan menjaga pandangan saat berurusan dengan wanita berjilbab lebar.

Duh … aneh nggak, sih? Enggak lah, karena memang rasa ketertarikan dan rasa suka itu tolok ukurnya beda-beda. Kalau Kak Ony yang pandai masalah agama ya jelas donk ya, dia tertariknya sama wanita berjilbab besar.

Nah, yang jadi masalah, kenapa aku jadi merasa GR? Dua bulan ini, aku memang telah mengubah penampilan dari kerudung minimalis menjadi jilbab lebar. Kamu juga tahu kan, yang nasihatin supaya aku pakai jilbab lebar itu Kak Ony? Dia juga yang kasih hadiah jilbab besar. Jadi, menurutmu, apakah Kak Ony ada sesuatu sama aku?

Kamar, di sela nunggu adzan Maghrib, 7 Februari 2015

Ry, aku telah terima dan baca surat ketiga dari Kak Ony. Isinya, sungguh luar biasa! Aktivitas kampus kakak angkatku itu bikin geleng-geleng, suer deh! Dia itu, ketua masjid kampus, ketua asrama angkatan, juga ketua perhimpunan mahasiswa Pekalongan. Aktivis banget pokoknya.

Selain cerita keseharian Kak Ony, di surat itu, dia minta saran tentang satu masalah yang bikin hatiku hingga saat ini resah. Kak Ony cerita bahwa ia ingin secepatnya menikah agar terhindar dari zina. Kamu tahu kan Ry, surat kedua dari Kak Ony yang isinya nasihat tentang zina ini? Itu loh, yang Kak Ony sampaikan isi kandungan Al-Isra: 32 (janganlah kamu dekati zina, karena zina adalah sesuatu yang keji dan jalan yang buruk)

Nah, jadi karena takut terus-terusan nahan diri dan nggak kuat, maka Kak Ony minta saran apakah baik jika ia nikah secepatnya?

Nah, saran yang diminta Kak Ony itulah yang bikin aku terus menerus kepikiran. Apakah saran ini semacam kode? Maksudnya, apakah Kak Ony menginginkan aku menjadi calonnya? Atau aku hanya GR saja?

Aaarrggh! Suer deh aku jadi galau!

Sore hari dengan debar tak beraturan, 16 Februari 2015

Oke, Ry, tadi aku udah ngeposin surat untuk Kak Ony. Selain cerita keseharianku, di dalam surat itu kusinggung sedikit tentang maksud diskusi pernikahan dan saran yang ia minta tempo hari. Kutanyakan juga bagaimana kriteria calon istri yang Kak Ony inginkan (Aku sih berharap dia akan bilang bahwa calonnya sepertiku, wkwkwk)

Menjelang Isya dengan hati berbunga, Penghujung Februari 2015

Ry, tadi sore surat keempat dari Kak Ony kuterima dengan jantung berdetak sangat keras. Aku ingat kembali apa yang telah kutulis di surat balasan ketiga kala itu. Duh, jantungku rasanya mau copot saat kutemukan jawaban di surat balasan.

‘Calon istri bagi Kakak yang penting wanita yang menutup aurot dan mau bersama-sama saling menasihati agar kelak sampai ke surga.’

Itu artinya dia bilang bahwa calonnya aku kan Ry? Iya kan? Selama ini kan kita saling menasihati lewat surat. Aku juga mulai mengikuti sarannya untuk melebarkan jilbab. Ah, hatiku sangat, sangat, sangat senang Ry.

Taman sekolah, selepas zuhur, 3 Agustus 2015.

Alhamdulillah Ry, positif! Eh, maaf, maksudnya aku diterima di STAN. Yeyeye! Bener kata Kak Ony, tiada usaha yang sia-sia. Allah sungguh baik, memberiku jalan hingga bisa jadi mahasiswa di sana.

Bintaro, 26 September 2016

Ry, aku sueneng bukan main, akhirnya bisa satu organisasi dengan Kak Ony. Iya, beliau ketua masjid kampus dan aku anggotanya. Ke depan pasti akan banyak rapat bareng Kak Ony. Hmm … jadi tambah semangat untuk memperbaiki diri.

Kamar, sembari ngantuk, 3 Oktober 2016

Ry, sekarang aku ikut majelis taklim bareng kakak tingkat. Namanya Kak Ayu, dia cantik, ramah, dan baik. Ya mudah-mudahan aku tambah mantap menjadi wanita solihah seperti harapan Kak Ony.

Bintaro, Pertengahan Desember 2016

Diary, maaf ya aku lama nggak nengokin kamu. Sekarang aku lagi galau nih. Kak Ayu tadi njelasin tentang HTS. Oiya, kamu kan belum tahu ya apa itu HTS? Hubungan Tanpa Status, itu kepanjangan dari HTS. Semacam pacaran tapi pelakunya nggak ngucapin kata jadian.

Duh, aku jadi merasa tersindir. Apa selama ini aku dan Kak Ony HTS-an? Terus jadi dosa nggak, ya? Kan hubunganku dengan Kak Ony membawa dampak baik (aku jadi rajin kajian dan semakin menjaga penampilan).

Kata Kak Ayu lagi, HTS itu sama aja kita bohongin Allah, itu lebih parah dari pacaran. Bener-bener menohok banget kan kata-kata Kak Ayu?

Kamar kos, jelang tengah malam, 5 januari 2017

Ry, aku sedih banget. Sedih … banget! Kak Ony marah saat kusampaikan perihal HTS. Komunikasi kami pun akhirnya putus. Tapi, mungkin memang lebih baik begini agar hatiku lebih tentram dan tidak terus memikirkannya.

Kamar kos, di bawah redup lampu kamar dan luka yang basah, Awal Agustus 2017

Sempurna sudah jawaban dari-Nya. Padahal telah lama namanya kusebut dalam doa di setiap munajat. Hatiku nyesek, air mata udah ngalir deras sedari siang. Bulan depan Kak Ony wisuda, ia pun telah menyebar undangan pernikahan. Aku kalah! Pada hatiku yang lemah dan pada hawa nafsu yang memaksa Allah agar menjodohkanku dengannya.

Sekarang aku sadar, benar kata Kak Ayu, tidak ada kebaikan dalam HTS, pun tidak ada kebaikan dalam memaksakan perihal jodoh pada Allah.

Aku sakit, dan kuharap waktu akan menyembuhkan. []

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: