Dia Hanya Ingin Aku Jadi Teman, Bukan Pacar

Semua punya pacar.

Teman sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang tempat dudukku. Ada yang pacarnya kakak kelas, teman beda kelas, dan ada juga yang adik kelas. Para pasangan ini biasanya berangkat sekolah lebih awal, karena mau bertemu pacar. Katanya, jadi bersemangat jika mau bertemu orang yang spesial. Mereka bisa curhat dengan bebas tanpa perlu menunggu orang tua datang ke pondok. Iya. Kami tinggal di lingkungan madrasah yang kurikulumnya kurikulum pondok. Tapi, pacaran di sini sudah biasa.

“Hei, ada Ustaz Razi lho,” bisik temanku pada pacarnya.

O-ow. Rupanya, meski pacaran adalah hal biasa, semua tetap saja takut ketahuan oleh Ustadz Razi. Guru kami yang baru pulang dari Mesir. Bahkan, Ustadz Razi adalah pengampu pondok temaku yang punya pacar. Hahaha. Sebenarnya lagi, ada peraturan tidak tertulis bahwa di sini dilarang pacaran.

“Garing banget si enggak pacaran? Sudah ortu jauh, masih ditambah jomlo.”

Begitu tanggapan Lia, teman yang duduk di sebelah kananku.

Pendapat-pendapat Lia mempengaruhi pikiran. Aku seperti terkena setrum yang dahsyat. Ikut-ikutan untuk punya pacar juga. Tapi, siapa yang mau jadi pacarku? Aku ini pendiam. Penyendiri. Sehari-hari hanya menulis puisi dan mengirimkannya ke mading. Bukan anak yang asyik seperti Lia. Lia itu ceria. Cerewet. Bawel. Dan bisa manja. Jadi syarat untuk jadi pacar sepertinya begitu. Dan aku tidak punya semua itu.

Tapi, tunggu dulu. Itu ada ketua mading, anaknya pendiam. Dulu, setahun lalu kalau enggak salah, dia pacarnya Lia. Terus, sekarang? Apa dia sudah punya pacar lagi? Apa lebih baik dari Lia atau sebaliknya?

Daripada aku main tebak-tebakan dengan pikiran sendiri, mending langsung tanya saja pada Lia. Dengan hati berdebar-debar, aku menghapiri Lia yang sedang membaca komik. Aku pastikan, tidak ada teman yang sedang fokus memperhatikanku, atau melihat Lia. Kebetulan lagi, kelas sepi. Teman yang di dalam kelas masih asyik mengerjakan tugas Faroid. Ilmu waris itu biasanya paling bikin kita kudu fokus. Kalau tidak, pasti salah mengerjakannya.

“Eh, Dama itu sudah punya pacar apa belum?”

“Belum. Kenapa? Kamu naksir dia?”

Aku mengangguk. Lia tampak kaget. Tapi, dia seolah berusaha menyembunyikan rasa kagetnya. Aku sendiri sebenarnya malu. Masa cewek tanya-tanya begini?

“Tembak aja, kenapa?”

“What? Tembak?”

Sejak pertanyaanku mendapat tantangan, aku merasa perlu juga melakukan itu. Kalau mau punya pacar, ya harus berani. Termasuk berani bilang duluan kalau aku suka. Kalau diam terus, kapan mau punya pacarnya?

Entah bisikan dari mana, aku akhirnya membuat surat. Surat cinta yang lebih mirip surat perkenalan. Aku titipkan pada sekertaris mading. Aku mengantarnya sekaligus saat mengantar puisi untuk mading.

“Kamu ditunggu di kantin. Jam ketiga nanti,” kata temanku yang sekertaris mading.

“Serius?”
Aku masih ragu.

Jawaban temanku itu tidak ada indikasi bohong sama sekali. Aku pun mematuhi pesannya. Dan Ya Allah, ini lah kali pertama aku akan keluar dari kelas saat jam pelajaran. Panggil saja aku Lulu (sengaja kusamarkan namaku). Aku Lulu si anak kelas Satu ‘Aliyah, atau sekarang setara dengan kelas X, mau bolos pelajaran demi bertemu Dama.

“Pak, saya mau ke belakang.”

Pertama kalinya juga aku berbohong. Kata “belakang” biasanya identik dengan kamar kecil. Tapi, aku tidak lah akan ke sana. Aku akan bertemu dengan Dama. Hari ini, akan ada jawaban. Entah itu diterima atau ditolak, tapi aku tetap saja deg-degan.

Aku menuju kantin sekolah. Dari jarak lima meteran, aku sudah melihat sosok berpakaian abu-abu putih. Rambut lurus dibelah tengah. Badan tegap karena dia praktisi bela diri. Dan saat membalikkan badan, mataku tertumbuk di bulat matanya. Mata yang sangat tajam. Mata yang baru saja meruntuhkan debaran jantung. Kebitnya berlompatan hingga menahanku untuk berkata-kata.

“Lu?”

“Ya.”

“Kamu serius pingin jadi pacarku?”

Pertanyaan macam apa ini? Aku bahkan tidak mampu menggerakkan bibir. Aku mengangkat wajah, tapi tak mampu menatap Dama. Suaranya terdengar bijak. Dewasa. Dan tidak ada intonasi mesra. Duh. Apakah ini pertanda bahwa Dama tidak lah menyukaiku?

“Lu?”

“Ya.”

“Aku sudah memutuskan … .”

Kalimatnya yang menjeda itu membuahkan kembang-kembang tanda tanya. Keputusan apa yang Dama buat? Apakah dia mau menerimaku? Dan pikiran ini membayangkan saat kami di kantor mading bersama. Aku mengantar puisi-puisi dan Dama sedang rapat redaksi. Terus, bayangan itu tiba-tiba buyar dengan bayangan lain. Bayangan bahwa Dama akan menolak dan mempermalukanku.

“Aku mau … .”

Dama mau apa? Kenapa sih, dia cowok tapi kalau bicara berbelit-belit?

Atau, akunya yang tidak sabar ingin mendengar jawabnya yang lebih jelas?

“Kita berteman saja. Aku memutuskan untuk tidak pacaran lagi. Lia adalah pacar terakhir. Aku sudah bertaubat. Semoga, kamu tidak sakit hati dengan jawaban ini.”

Aku tersentak.

Seperti sedang melamun, kemudian ada seseorang yang meledakkan mercon di dekatku. Kenapa juga aku musti ikut-ikutan pingin punya pacar, jika Dama sendiri memutuskan tidak mau pacaran lagi?

Oleh: K. Mubarokah.

1 thought on “Dia Hanya Ingin Aku Jadi Teman, Bukan Pacar”

Tinggalkan Balasan