MUSIM penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil baru saja berakhir. Banyak yang kecewa, karena belum berhasil, tapi banyak juga yang bahagia atas pencapaiannya diterima sebagai CPNS tahun ini. Menjadi bagian dari sekitar 4,5 juta orang dengan status Pegawai Negeri Sipil tentu hal yang membanggakan. Namun, cukup kah merasa bangga saja? Atau malah kalau perlu bekerja asal-asalan saja, toh standar gaji sudah ada? Jangan sampai status yang dibangga-banggakan, tidak diimbangi dengan kinerja yang baik.

Sejenak mari kita lupakan euforia kebahagiaan ataupun kesedihan pascapenerimaan CPNS beberapa waktu lalu. Sebagai bekal bagi kalian yang sudah dinyatakan diterima, maupun buat yang belum masuk tahun ini, saya akan mengisahkan perjuangan seorang PNS (guru) yang patut untuk diteladani.

***

Perkenalan saya dengan sosok dalam cerita ini bermula dari sebuah kompetisi stand up komedi Bahasa Jawa. Sebuah perhelatan yang rutin digelar setiap tahun oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari sekian peserta, ada satu yang saya kenal, kebetulan sama-sama dari satu komunitas menulis. Meski mayoritas pesertanya adalah sesama guru, tapi kebanyakan belum saling kenal.

Singkat cerita, selama proses menunggu giliran tampil, saya berkenalan dengan beberapa peserta lain. Saya curiga pada salah satu peserta. Sepertinya saya kenal dia di dunia maya. Saya mendekatinya, menanyakan nama dan tempat mengajar, begitu pula sebaliknya. Dan ternyata benar.  Saya sudah cukup lama mengenalnya di Facebook. Namun, sampai saat itu kami belum berteman.

Dari obrolan waktu itu, saya tahu kalau kami sama-sama dari Bantul, penglaju, dan mengajar di kabupaten yang sama, yaitu Sleman. Selain menjadi guru, kawan saya ini juga berprofesi sebagai presenter televisi. Sama seperti juri lomba kami, Mas Alit Alit Jabang Bayi dan Mas Anang Batas. Bedanya, kawan saya ini adalah guru dengan status PNS yang pastinya memiliki keterbatasan waktu untuk berkarya lewat layar kaca. Namun, satu hal yang mencengangkan, dalam kesibukannya yang teramat sangat, kawan saya ini masih mau berjuang untuk anak-anak didiknya. Bagaimana ceritanya?

Kegalauannya muncul saat mendapati hasil ujian anak didiknya kurang memuaskan. Saat didapuk menjadi guru kelas enam, dia langsung menyusun berbagai strategi untuk membimbing anak didiknya. Ada beberapa program yang dia rencanakan atas inisiatif sendiri. Bukan berarti meninggalkan peran sekolah sebagai institusi tempatnya bernaung, tetapi semua dilakukannya demi hasil yang lebih baik. Salah satu programnya adalah sedekah ilmu.

Sedekah ilmu ini, gampangnya adalah memberikan tambahan pelajaran bagi siswa kelas enam yang akan menempuh ujian. Tekniknya, siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil dengan mempertimbangkan domisili alias tempat tinggal. Kawan saya ini setiap malam kira-kira mulai pukul 18:30 sampai dengan 20:00 memberikan tambahan pelajaran kepada siswanya secara bergiliran. Tempat yang digunakan adalah di rumah siswa, sehingga selain menambah porsi belajar anak juga dapat digunakan sebagai sarana membangun komunikasi yang baik dengan orangtua siswa.

Kendalanya apa? Bayangkan, kawan saya ini tinggal di Banguntapan, Bantul, sedangkan mayoritas siswanya tinggal di daerah Pakem, Sleman. Jarak antara Banguntapan dan Pakem tidak kurang dari 30 kilometer dengan kondisi jalanan yang sering macet. Bagaimana kemudian agar energi dan waktunya tidak banyak terbuang di jalan? Jalan satu-satunya agar program ini berjalan adalah dengan menyewa kamar indekos di daerah Pakem.

“Apa njenengan enggak repot, Pak, kalau harus sampai ngekos begitu?” tanya saya penuh selidik.

“Awalnya aku nglaju, Pak. Setiap ada jadwal untuk sedekah ilmu, sebelum azan Magrib berkumandang, aku sudah berangkat. Meski enggak sejauh tempat kerja njenengan yang 50 kilometer itu, tapi akses jalan yang sering menyita waktu. Paling enggak sejam, lho, Pak. Wajar sih sebenarnya. Dari ringroad Janti masih lancar. Pas masuk Jakal barulah sering kena macet. Itu yang bikin lama, dan capek di perjalanan”

“Berarti ibarat kata baru nyelehke bokong (menaruh pantat; istilah untuk menyebut istirahat) di rumah, sudah harus balik ke sekolah, ya?” tanyaku memastikan.

“Iya, Pak. Waktu nglaju dulu badan rasanya capek semua. Bolak balik Banguntapan-Pakem sehari dua kali. Belum lagi kalau pas hujan. Pernah dari Perempatan Besi ban motor bocor, padahal kondisi hujan deras. Aku gladhak saja motorku. Untungnya, kurang lebih sekilo kemudian dapat tukang tambal ban. Gara-gara tak gladhak akhirnya harus ganti ban.”

“Dari situ, akhirnya njenengan memutuskan buat ngekos gitu ya, Pak?”

“Iya. Untungnya istriku mau aku ajak ngekos. Ya, meski risikonya gantian dia yang nglaju ke tempat kerjanya.”

Apakah ketika sudah memutuskan menyewa kamar indekos kemudian programnya berjalan lancar? Jawabannya iya. Namun, di sisi lain, sebagai anggota masyarakat yang baik, sering pula kawan saya ini terpaksa harus pulang ke rumahnya di Banguntapan bahkan saat waktu sudah larut malam. Seperti ketika di kampungnya ada jadwal ronda, arisan, rapat kampung, atau bahkan saat ada kabar lelayu.

“Waktu itu baru saja selesai kegiatan sedekan ilmu. Setelah ngobrol dengan beberapa wali, kira-kira jam 20:30, aku pulang ke kosan. Selesai salat Isya, baru asyik-asyiknya ngobrol sama istri sambil istirahat, ada berita lelayu dari kampung. Ya, sudah, pulanglah aku sama istri ke Banguntapan. Padahal waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 21:00.” 

 Apa hasil dari kegiatan ini? Dari ceritanya, sekolah kawan saya ini berhasil meraih nilai ujian nasional tertinggi di tingkat DIY waktu itu. Sebuah capaian yang sangat bagus, mengingat beberapa tahun sebelumnya capaian seperti itu tidak pernah ada.

Selama tiga tahun pertama menjalankan program ini, kawan saya ini berjalan sendirian tanpa ada kawan yang membantu. Baru di tahun ketiga, ada beberapa orang guru di sekolahnya yang bergabung, dan siap membagi ilmunya di program sedekah ilmu tersebut. Kendala waktu, dan tenaga menjadi permasalahan utamanya.

“Teman satu sekolah enggak ada yang bantuin, Pak?” tanya saya penasaran.

“Awalnya, enggak ada, ha-ha-ha. Baru di awal tahun keempat, beberapa teman bersedia menjadi bagian program sedekah ilmu. Seneng banget rasanya waktu tahu ada beberapa teman yang mendukung.”

Selain sedekah ilmu, ternyata kawan saya ini juga membimbing ekstrakurikuler Mataraman. Jadi, selain berperan sebagai guru, sosok yang saya ceritakan ini ternyata juga adalah seorang pejuang kebudayaan. Buktinya? Siswa di sekolahnya dibimbing untuk terus melestarikan budaya Mataraman. Apa itu budaya Mataraman? Dia menamai budaya Mataraman, karena di Yogyakarta ada Kasultanan Mataram. Nah, budaya nenek moyang berupa permainan tradisional, ataupun dagelan khas Mataram inilah yang diajarkannya.

Menurutnya, di era globalisasi ini, identitas diri sebagai Wong Jogja harus diperkuat. Jangan sampai budaya bangsa yang sangat adiluhung ini tergerus oleh budaya asing. Banyak budaya asing yang kita ikuti, sebenarnya malah merusak jati diri bangsa. Cara berpakaian misalnya. Belum lagi budaya luar yang merebak di kalangan anak-anak kita. Semua harus disaring dan tidak lupa budaya kita juga harus diperkuat.

“Awal mau mengadakan ekskul Mataraman ini, sulit, Pak. Anak-anak tidak ada yang berminat. Ada yang bilang jadul, enggak kekinian, kuno, ketinggalan zaman dan lain-lain. Pokoknya ekskul ini enggak menarik sama sekali awalnya.”

“Lha terus bagaimana akhirnya bisa jalan, bahkan sering menggelar pementasan, Pak?” tanyaku penasaran.

“Senjataku adalah video-video ketika aku manggung. Entah off air maupun on air aku sering merekam sedikit aktivitasku. Nah, ketika di kelas, aku putarkan video rekamanku ke anak-anak. Lama-lama mereka tertarik dan sedikit demi sedikit ekskul Mataraman jalan.”

“Wah berarti, dapat tambahan banyak dong ya. Udah ngajar ekskul, jadi MC pula,” ujarku menggodanya.

“Walah, kalau kegiatan ekskul ya gotong rotong to, Mas Bro. Ada anak yang mau diajari dagelan sama permaian tradisional saja sudah senang banget kok rasanya. Kalau aku percaya, nanti bakal ada rezeki lain ketika kita tulus memberi layanan kepada anak didik kita. Pelayanan prima seperti yang disampaikan pas prajab itu, lho. Ha-ha-ha.”

Dasar presenter kocak. Ibarat kata, derita akan jadi gembira kalau sudah ada di tangan sosok dengan tingkat humoris yang tinggi. Selain sedekah ilmu dan Mataraman ternyata masih ada kegiatan lain yang dilakukannya untuk menamankan karakter pada diri anak. Kegiatan tersebut adalah serangan fajar.

Kegiatan ini bukan bagi-bagi uang di pagi buta seperti yang banyak dilakukan oleh para calon anggota legislatif, lho, he-he-he. Kegiatan ini adalah kontrol terhadap siswa maupun orang tua. Kontrol terhadap aktivitas belajar siswa sekaligus peran orang tua di rumah. Bagaimana teknisnya?

Saat azan Subuh berkumandang, kawan saya ini sudah membagikan tugas, baik akademis maupun nonakademis di WhatsApp Grup Paguyuban Wali Murid. Tugas akademis tentu saja berkenaan dengan pengerjaan soal-soal latihan ujian.

Sementara, tugas nonakademis ini, biasanya berupa kegiatan membantu orangtua. Bisa pula kegiatan yang berkenaan dengan melatih tanggung jawab pada diri siswa. Menata tempat tidur misalnya. Bagaimana kemudian tindak lanjutnya? Di sekolah, tugas yang sudah diberikan ini, dibahas bersama. Hal ini dilakukan sembari memeriksa, siswa mana yang rajin, siswa mana pula yang mengabaikan. Orangtua siapa yang peduli, dan orangtua mana yang acuh terhadap anaknya.

Catatan pentingnya begini. Semua kegiatan yang dilakukan kawan saya ini murni atas inisiatifnya sendiri. Tidak ada tekanan dari atasan atau pun wali murid. Tidak ada pungutan barang satu rupiah pun yang dilakukan oleh kawan saya ini. Semua murni dilakukan sebagai wujud rasa tanggung jawabnya sebagai guru.

Catatan penting kedua, untuk bisa melaksanakan kegiatan-kegiatannya tersebut bukan tanpa kendala. Banyak rintangan menghadang. Bahkan tidak sedikit orang lain yang mencibir, meremehkan, mengejek sebagai orang yang kurang kerjaan. Dari keluarga sendiri, minimnya waktu untuk bersama menjadi sedikit masalah baginya. Namun, setelah kawan saya menjelaskan apa misinya melakukan kegiatan ini, keluarganya yang mayoritas adalah pendidik juga memahami bahkan kemudian mendukung apa yang dilakukan kawan saya ini.

Awalnya, saya berpikir, semua kegiatan yang dilakukan kawan saya ini ada misi lain. Menjadi alat untuk berkompetisi, buktinya ada dalam anugerah ASN inspiratif itu. Benarkah praduga saya tersebut? Ternyata prasangka buruk saya itu keliru. Awal mula niat melakukan berbagai program tersebut murni untuk memberi warna baru di sekolahnya. Tepat saat kawan saya ini ditugasi mengampu kelas enam, berbagai program ini mulai dia jalankan.

Perkara kemudian program-program tersebut mampu mengantarkannya menjadi ASN inspiratif, dikatakannya sebagai bonus dari Allah Swt. Dia terus berharap, virus kebaikan darinya dapat terus menyebar untuk guru-guru di seluruh penjuru nusantara. Hingga nanti, pendidikan sebagai sarana membangun peradaban dunia, mampu menjalankan perannya membentuk manusia Indonesia yang berkarakter mulia, berbudaya, dan berdaya guna.

Sosok yang saya ceritakan ini adalah Akhmad Ritaudin. Nama asli dari Uud Djaim Kayachanda, seorang presenter, MC, dan pastinya sosok mampu menginspirasi dengan karya dan kinerja, bukan sekadar omdo alias omong doang.

***

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: