Dibangkitkan dan Dikumpulkan dalam Keadaan Buta Kelak, Siapakah Dia?

Terjadi dialog antara Allah dan Adam as sesaat sebelum diturunkan dari surga karena melanggar larangan-Nya untuk tidak memakan buah khuldi.

Dialog ini diabadikan dalam surat Thaha ayat 123-126.

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian (anak cucu) kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain.

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, siapa yang mengikut petunjuk-Ku ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Dan siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Adam as berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tapi kamu melupakannya, maka begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.”

Kebetulan, saya membaca surat ini di sebuah kuburan. Sendirian. Maghrib sebentar lagi tandang. Saya tenang saja, sebab sudah bawa sajadah sebagai persiapan.

Saya terhenti membacanya. Ada dua diksi yang membuat hati saya terkesirap: “dikumpulkan” dan “buta”.

Secara sederhana, bisa kita pahami bahwa akibat dari perbuatan kita yang tidak mengindahkan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya yang tertuang dalam al-Qur’an dan hadits Nabi saw, kelak kita akan mendapat balasan yang pedih dari-Nya.

Kita tahu ini. Dan, sebagian besar kita mengabaikannya. Seolah tak ada ketakutan sedikit pun akan pedihnya hidup yang lama, lama sekali, bahkan “abadi”, di Hari Pembalasan, dengan terus bermaksiat dan kufur kepada-Nya, kepada al-Qur’an, kepada ajaran rasul-Nya.

Entahlah, saya tak mampu mengerti sikap sejenis itu.

Mengapa ayat tersebut menggunakan diksi “buta”, tepatnya dibangkitkan dan dikumpulkan dalam keadaan buta?

Begini.

Kepada orang-orang yang telah dihidangkan ke mejanya, bahkan setiap hari, pemberitahuan-pemberitahuan tentang akan datangnya kematian, lalu kebangkitan di alam kubur, lalu kiamat, lalu dibangkitkan semuanya di padang mahsyar, di situ semua kita akan diadili dengan seadilnya sesuai amal perbuatan kita selama hidup di dunia, tetapi tetap melanggar hukum-Nya, apakah ada ungkapan, ilustrasi, atau diksi lain yang lebih tepat selain buta?

Buta merepresentasikan kegelapan. Karena diliputi gelap, selalu begitu, semua cahaya kebenaran yang datang kepadanya tetap tak nampak. Tak mampu membuatnya beriman, berubah sikap, berubah moral, berubah pikiran, menjadi patuh pada kandungan al-Qur’an.

Di surat al-Baqarah, bahkan ada ungkapan yang lebih menghunjam dari sekadar buta, yakni bisu, tuli, buta, dan mereka tak mikir. Kata orang Jawa: “Ra ngutek!” Saking parahnya tak mempan peringatan, nasihat, dan hidayah.

Wajar kiranya karena mereka buta mata dan buta hati pada ajaran Allah dan rasul-Nya, perjalanan hidup mereka pun jadi buta: buta tujuan, buta hakikat, dan buta hidup jangka panjang yang menjadikan manusia berbeda dengan ayam yang setelah mati akan masih melaju ke Padang Mahsyar.

Butanya hati dan pikiran akibat membutakan diri pada ajaran Allah ini membuat hidup kita yang tanpa arah jelas dan tujuan panjang itu menjelma “sempit”. Sempitnya hati, sempitnya pikiran, sempitnya tujuan.

Orang yang mungkir kebangkitan setelah kematian karena tak iman pada Allah akan memandang tujuan hidupnya hanyalah di dunia ini. Ya 60 tahun, atau 70 tahun. Sudah. Walhasil, ia hidup hanya untuk makan agar sehat dan kuat, cari uang, ngumbar seksualitas, numpuk harta demi anak cucunya. Sudah. Ya sudah, begitu saja.

Pendek sekali: 60 atau 70 tahun.

Bandingkan dengan orang yang beriman pada Allah, pada Hari Pembalasan, takutlah ia melanggar larangan-larangan-Nya dan patuhlah ia pada perintah-perintah-Nya. Ada tujuan besar yang melampaui hidup di dunia ini (makan, kerja, cari uang, berahi seksualitas, dan beranak pinak) yang dibingkai oleh takutnya ia mendapat azab karena perbuatan-perbuatan buruk, maka salehlah ia.

Ia punya hidup yang besar, luas, jauh ke depan, tak terbatas bahkan.

Maka jelaslah kini perbedaan hidup yang sempit karena tak beriman dan hidup yang lapang karena sepenuhnya haqqa tuqatih.

Diksi “dikumpulkan” pasti kita paham maksudnya, yakni saat dibangkitkan setelah kiamat dan digiring semuanya ke Padang Mahsyar untuk menerima putusan pengadilan-Nya.

Tetapi, sisi lain, layak kita renungkan pada konteks hidup kita di dunia dengan cara begini: rupanya benar ya bahwa jika kita berbuta hati dan pikiran pada kebenaran al-Qur’an, misal, niscaya kota akan jauh dari majelis-majelis pengajian, ngaji al-Qur’an, selawatan, tahlilan, dan segala bentuk amaliah yang diamalkan oleh orang-orang yang beriman pada-Nya.

Ketidakimanan atau keraguan atau kemalasan kita dalam melaksanakan perintah-perintah Allah (contoh kebutaan kita pada perintah-Nya) akan membuat kita tak bisa ngumpul dekat-dekat dengan mereka yang beriman pada Allah, patuh pada semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Kemungkaran dan kekufuran takkan berkumpul karib dan mesra dengan keimanan, kealiman, dan kesalehan. Orang saleh takkan dekat dengan orang kufur; orang yang berakhlak karimah takkan dekat dengan orang jahat, keras, dan kasar, pula sombong dan egois.

Otomatis, dengan hilangnya iman di hati dan pikiran (dalam ayat tadi disebut “buta”), hidup orang yang demikian akan ia arungi hanya bersama orang-orang yang buta pula, yang mungkar dan kufur pula pada-Nya.

Maka sempurnalah kebutaan itu menebal, mendalam, dan makin menyesatkannya. Setan meriasinya dengan hasutan-hasutan kebenaran, kelogisan, dan kehebatan—persis iming-iming setan pada Adam as tentang buah khuldi yang disebutnya sumber keabadian.

“Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal,” kata surah Thaha ayat 127.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan