Awalnya aku sangat senang dipuji. Rasanya hati melambung, terbang di atas awan. Apalagi beberapa teman kuyakin menyampaikan pujian itu dengan jujur.

“Kamu hebat Mbak, keren!”

MasyaAllah, perempuan tangguh!”

Kilas balik perjuanganku pun seakan tersaji di depan mata. Terbayang kembali masa-masa sulit itu. Tentang sebuah perjuangan meraih mimpi, ingin menjadi sarjana.

Di pojok indekos, aku menatap iri pada teman yang dijenguk orangtua. Kentara sekali kebahagian Si Teman. Ia tak henti-hentinya menempel pada ibu yang dikasihi, juga bersikap manja pada lelaki yang ia panggil ayah.

Sekali lagi hatiku sangat iri, saat mereka pergi bersama untuk sekadar makan di luar dan belanja di minimarket. Hatiku mencelos, rasanya nyeri di bagian dalam. Selama beberapa tahun menjadi anak kos, belum sekali pun aku ditengok. Jangankan menengok, saat pertama mendaftar kuliah saja, bapak dan ibu tidak mengantar. Aku dengan segenggam tekad meraih mimpi datang seorang diri, ke kota ini, Kota Budaya, Surakarta.

Bukan, bukan karena bapak dan ibu tidak sayang padaku. Tapi, keadaan ekonomi kami yang tidak memungkinkan. Jika bapak dan ibu ke Solo untuk menemuiku, artinya mereka harus menyiapkan sejumlah uang. Uang untuk ongkos transportasi, biaya makan selama di perjalanan, dan tentu saja oleh-oleh tinggalan untukku.

Sedangkan untuk biaya sehari-hari mereka saja, kadang ala kadarnya. Maklum, bapak hanyalah seorang pedagang angkringan yang saat jualan, kadang harus nombok karena warung sepi atau lebih banyak kas bon dari pelanggan.

Maka, baik orangtua ataupun aku, sama-sama tahu bahwa kasih sayang dan rindu kami tidak harus ditunjukkan dengan pertemuan. Cukuplah doa yang senantiasa menghubungkan kami dengan Allah Swt. Sang pemilik pertolongan.

Kuat, kuat, kuat!

Kalimat itu yang selalu kudentumkan dalam hati dan kepala. Tidak ada tempat bagi kesedihan, tidak ada bagian untuk bersikap cengeng.

Mulailah aku melakukan banyak hal untuk meraih impian. Rajin belajar untuk mempertahankan beasiswa, ulet bekerja agar kebutuhan hidup tercukupi, mencari hiburan dengan mengikuti banyak organisasi, dan tidak lupa menambah porsi ibadah kepada Allah Swt.

Bagiku, tanpa bekerja keras, mustahil aku mendapatkan sesuatu yang aku mau. Sangat mustahil semua keinginanku bisa terwujud bila aku lambat meraihnya. (halaman 43)

Hingga pada suatu ketika aku sakit. Badan rasanya lemas dan tidak bisa beraktivitas. Aku pun diam, mencoba mencerna apa yang ingin Allah sampaikan padaku.

Apakah aku terlalu ngoyo? Apakah aku kurang memperhatikan hak badan yang Allah berikan?

Ikhtiar melalui Puasa Daud dan sering begadang untuk belajar ternyata membuat ketahanan tubuhku berkurang. Aku pun pingsan saat mengikuti salat subuh berjamaah.

Teman-teman satu kos panik dan segera membawaku ke kamar. Mereka membaluri kaki, tangan, telinga, dan sebagian perutku dengan minyak kayu putih. Masih kuingat, saat kubuka mata, empat wajah menungguiku dengan cemas.

“Minum teh panas dulu ya,” kata salah seorang di antara mereka.

“Aku puasa,” jawabku belum sepenuhnya sadar.

“Puasanya batal, kan pingsan.”

Kulihat mata mereka merah, dua di antaranya kemudian menangis dan memelukku. Sungguh teman-teman satu kos bukan lagi orang lain, tapi mereka adalah saudara bagiku.

Siluet empat orang yang menungguiku saat pingsan lamat-lamat memudar dan aku tersadar dari lamunan.

Ternyata aku tidak hebat!

Ternyata aku hanya manusia biasa yang Allah berikan sakit agar sadar bahwa aku terbatas, tapi Allah tanpa batas. Aku lemah tapi Allah Maha Kuat. Aku butuh pertolongan dari-Nya. 

Lagi-lagi aku tersadar, pujian itu sepertinya berbahaya untukku saat menjadi candu dan mematikan nuraniku. Aku menjadi merasa hebat, padahal, hanya Engkau yang layak mendapat pujian. (halaman 65)

Pujian dari beberapa orang sangat deras kudengar. Bahkan sebagian dari mereka memintaku agar kisah perjuanan kuliah disampaikan pada adik-adik SMA. Aku pun kembali dibuat melambung, kali ini bahkan sampai tidak menjejak bumi.

Tapi, aku tersadar, kemudian rasa takut kembali terlena, membimbingku untuk beristighfar dan dilanjutkan dengan merapal doa, “Ya Allah, Engkau lebih tahu dengan keadaan diriku daripada diriku sendiri, dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku.

Ya Allah, jadikan diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan. Ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui, janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.” (halaman 73)

Ternyata doa itu manjur, aku menjadi bisa mengontrol rasa bangga diri. Tidak lagi merasa hebat, karena semua pencapaian adalah karena pertolongan Allah Swt.

Tapi, ketika aku lupa dan tidak mengamalkan doa itu, tiba-tiba saja rasa bangga dan sombong menjalari pikiran. Apalagi jika ada pemantiknya.

Seperti saat itu, saat tetanggaku yang kurang mampu datang ke rumah dan membatalkan perjanjian.

“Saya mau ambil Si Anak saja nggih, Bu,” ucap Sang Tetangga saat kutanya keperluannya datang ke rumah. “Kasihan jauh.”

“Kenapa diambil? Biar Si Anak belajar di sana,” jawabku. “Nggak usah dituruti rasa kasihan jenengan, sebentar juga lulus dan bisa jadi hafidz.”

Sang Tetangga mempunyai anak dan tidak mampu menyekolahkannya. Akhirnya aku usulkan untuk sekolah dan mondok di sebuah yayasan daerah Yogyakarta. Kami pun mengantarkan Si Anak ke yayasan tersebut. Membantu menguruskan surat yang diperlukan juga menyerahkan hak perwalian sementara kepada pengurus pondok. Nantinya, Penguruslah yang akan mendaftarkan Si Anak di sekolah yang dekat dengan pondok.

Satu minggu berselang, Sang Tetangga kangen pada anaknya. Dia pun menengok dan rasa kasihan menguasai hatinya.

Kasihan anakku bangun gasik jam tiga dini hari, padahal di rumah bangun jam lima. Kasihan anakku sebelum ke sekolah harus nyapu dan kadang-kadang ngepel pondok dulu. Kasihan anakku disuruh puasa Senin-Kamis. Kasihan anakku … kasihan anakku … kasihan dan kasihan.

Meskipun pada akhirnya aku menyerahkan semua keputusan pada mereka, tapi aku yang pernah berjuang untuk sekolah, tidak tahan untuk mencela dalam hati. Mengatakan bahwa Sang Tetangga lemah, tidak punya daya juang, dan tidak mau bekerja keras. Bahkan aku mengatai mereka tidak tahu berterimakasih.

Astaghfirullah … ternyata aku telah dibakar rasa bangga diri. Hatiku dipenuhi racun bernama kesombongan.

Allah, atas semua nikmat yang Engkau berikan kepadaku, terkadang justru membuatku angkuh. Seakan-akan semua yang aku peroleh di dunia ini adalah hasil kerja kerasku. Bahkan aku pernah menganggap rendah orang lain lantaran dia tidak memiliki kemampuan dan kepandaian yang lebih hebat dariku. (halaman 16)

Sampai di sini, aku benar-benar takjub. Semua kegelisahanku akan sikap sombong, bangga diri, dan kadang merendahkan orang lain terjawab dalam uraian di sebuah buku yang aku baca. Buku yang aku baca ini judulnya Allah, Bersama-Mu Aku Bahagia.

Penulis: Dwi Suwiknyo

Judul: Allah, Bersama-Mu Aku Bahagia

Penerbit: Trenlis

Terbit Pertama: 2018

Halaman: 168 hlm

ISBN: 978-602-52799-2-8

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: