Dirimu dan Hartamu Adalah Milik Orang Tuamu

“Saya bukannya tak mau berbakti sama orang tua, tapi kan ya keluarga butuh privasi ….”

Begitu tutur pertama. Tutur lainnya sejenis ini:

“Orang tua terlalu menganggap kita masih anak-anak, sehingga terus diurus, ditanya, dibilangin, dan sejenisnya. Bagai bocah saja kita ini. Padahal ya alam pikir mereka sudah lewat ….”

Tambahkan satu tuturan lagi:

“Bagaimana perasaanmu bila terus-menerus disandari orang tuamu? Terus menerus. Capek juga, kan. Kita juga punya cita-cita yang kudu diperjuangkan.”

Saya mengira ungkapan-ungkapan sejenis itu hanya bisa lahir dari bibir anak-anak yang telah merasa dewasa dan lupa bahwa mereka pernah begitu lama jadi anak-anak, merepotkan orang tua, menyusu pada orang tua.

Mereka lupa bahwa mereka suatu hari akan/telah memiliki anak-anak yang dengan segala kerepotan dan susuannya mereka rela melakukannya. Demi apa? Demi menitipkan masa tuanya, masa rapuhnya, masa lemahnya, masa tak berdayanya.

***

Suatu hari, seorang lelaki menghadap kepada Rasulullah saw dengan segumpal keluhan mengenai bapaknya. Ia bilang, bapaknya sangat merepotkannya dengan terus-menerus menumpang padanya, meminta uangnya.

Rasulullah saw meminta lelaki itu membawa bapak yang dikeluhkannya. Pergilah lelaki itu. Saat itulah turun malaikat Jibril membawa pesan dari Allah.

Jibril berkata, “Tanyakanlah kepada bapak itu nanti apa yang dirasakan oleh hatinya dan tidak bisa didengar oleh telinga anaknya.”

Tak lama kemudian, datanglah bapak lelaki itu. Ia renta, berjalan terseok-seok dengan tongkatnya.

Rasulullah saw menanyakan kebenaran pengaduan anaknya. Ia membenarkan.

Rasulullah saw lalu menanyakan seperti petunjuk Jibril tadi.

Bapak itu mengangguk lagi. “Saya mengatakan dengan jujur apa yang saya rasakan ….”

“Katakanlah,” kata Rasulullah saw, “agar kami semua bisa mendengarnya.”

Ia lalu berkata dengan cara bersyair:

 

Ketika engkau lahir aku memberimu makan

Hingga engkau tumbuh dewasa

Aku selalu menjagamu

Engkau diberi minum dari jerih payahku

 

Jika malam hari engkau ditimpa sakit

Maka, sepanjang malam aku tidak tidur

Berjaga memikirkan penyakitmu

Hingga tubuhku sempoyongan karena kantuk.

 

Seakan-akan aku yang sakit, bukan kau

Air mataku pun mengalir deras

Dan jiwaku khawatir kau akan mati

Padahal Dia tahu, bahwa ajal akan tiba sesuai masanya.

 

Ketika engkau mencapai usia yang tepat

Saat di mana kuharapkan dirimu

Kau balas diriku dengan

kekejaman dan kekerasan.

 

Seakan-akan engkau pemberi nikmat dan yang dermawan

Andai saja ketika tak dapat kau penuhi hakku sebagai bapak

Kau perlakukan aku sebagai tetangga

yang hidup berdampingan.

 

Rasulullah saw meneteskan air matanya. Begitupun orang-orang yang ada di tempat itu, termasuk anak yang mengadu tadi.

Lalu Rasulullah saw berkata kepada lelaki tadi:

“DIRIMU DAN HARTAMU ADALAH MILIK BAPAKMU.”

Sekali lagi, ingat pungkasan riwayat panjang itu: dirimu dan hartamu adalah milik bapakmu!

Sangat mudah dimengerti sebenarnya mengapa posisi orang tua dalam Islam amat diunggulkan. Selain itu setimpal belaka dengan seluruh pengorbanan dan dedikasi orang tua kepada anak-anaknya, termasuk saya dan kamu.

Pikirkan: kalau bukan kamu yang merawat dan menjaga mereka di kala senjanya, rapuhnya, tak berdayanya, lalu siapa lagi?

Siapa lagi coba?

Bagaimana mungkin hati kita sanggup meminggirkan keberadaan mereka yang rapuh atau merasa mereka membebani punggung kita yang lagi gagah dan gempalnya, sedang kita pastilah ingat betul semua perjuangan mereka dulu untuk menghidupi, merawat, membesarkan, mendidik, dan menjaga kita hingga kau jadi sebesar, sekuat, dan sehebat sekarang?

Tak mampu dibayangkan oleh etika kemanusiaan dan apalagi ketundukan rohani mukmin, muslim, dan muttaqin kok sampai ada anak yang merasa orang tuanya hanya jadi beban dan masalah buat hidupnya?

Sungguh tak masuk akal.

Hal yang sama sudah pasti logis pula berlaku pada mertua. Sama saja. Tanpa suami/istri yang hidup bersama kita, bagaimana mungkin kita mencapai rumah tangga yang kita arungi kini?

Dan kita mafhum benar bahwa suami/istri kita kini adalah anak orang tuanya (mertua kita), yang di suatu masa lalu kita cintai, lalu menikah, lalu merintis rumah tangga bersama dari nol, lalu maju, maju, dan kokoh kini.

Sama belaka. Sepenuhnya sama pasti antara kewajiban mengabdi, menjaga, merawat, dan mematuhi orang tua sendiri dengan mertua.

Sampai di sini, tentulah sudah sangat benderang bagi semua kita perihal tidak ada sedikit pun alasan untuk tidak memanggul orang tua kita sampai akhir hayatnya.

Yakin masih tak terketuk hatimu untuk memanfaatkan sisa waktu yang ada dengan cara menampung, menanggung, dan menjunjung orang tuamu?

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan