Ada kisah menarik tentang seseorang yang belajar dari sebuah bantal. Dia datang ke sebuah pondok, menemui Kiai Husein. Setelah sebelumnya diminta untuk berjalan dari rumah ke pondok dengan membawa bantal. Kurang lebih jaraknya sekitar lima kilometer.

Kiai Husein menyuruhnya mencabuti kapuk yang ada di dalam bantal. Lalu menebarnya selama perjalanan menuju pondok sambil mengingat perkataan buruk yang pernah dia ucapkan.

Lelaki itu menuruti saja perintah Kiai Husein. Dia pikir, mungkin inilah cara terbaik untuk menyesali dan menghapus kesalahan yang pernah dia buat. Setelah sampai di pondok, lelaki itu menunjukkan bantal yang sudah tidak ada isinya. Semua kapuk di dalamnya sudah habis di sebarkan di jalan.

“Sekarang kamu pulanglah,” kata Kiai Husein.

Kemudian lelaki itu pun beranjak untuk pamit dan mencium tangan Kiai. Beberapa saat kemudian Kiai Husein melanjutkan perkataannya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki melalui jalan yang sama saat kamu berangkat menuju pondok tadi.

Pungutlah kembali kapuk-kapuk yang tadi kau sebarkan di jalan. Besok datanglah kemari dan laporkan kepadaku seberapa banyak kapuk yang bisa kau kumpulkan. Kau akan belajar sesuatu dari hal ini.”

Lelaki itu sama sekali tidak tahu ilmu apa yang hendak diajarkan Kiai Husein. Dia ikuti saja apa yang diminta Kiai. Apapun yang diminta, asal dia bisa menghapuskan fitnah-fitnah yang pernah dia perbuat kepada Kiai.

Dia sangat menyesal karena telah memfitnah Kiai. Maka dari itu dia datang ke pondok menemui Kiai Husein untuk meminta maaf dan diajarkan amalan-amalan yang bisa menghapus dosa fitnah.

Sebenarnya sejak pertama kali lelaki itu datang ke pondok, Kiai Husein sudah memaafkannya. Karena Kiai menganggap barangkali lelaki itu hanya khilaf dan belum tahu banyak tentang diri Kiai.

Namun, Kiai Husein berpikir bahwa lelaki itu harus belajar sesuatu. Maka dari itu, dia minta lelaki itu menebar kapuk bantal sepanjang perjalanan dari rumah menuju pondok. Lalu memintanya memungut kembali kapuk-kapuk itu.

Bagi lelaki itu jelas ini tugas yang sangat berat. Bagaimana mungkin dia bisa mengumpulkan kembali kapuk-kapuk yang sudah terbang entah kemana diterpa angin.

Benar sekali. Meskipun lelaki itu berjalan melewati jalan yang sama, tapi dia kesulitan menemukan kapuk-kapuk itu. Dia berusaha keras, di tengah hari yang terik, hingga menjelang petang.

Dia mencari kapuk-kapuk hingga ke gang-gang sempit dan juga sudut jalanan. Tetapi dia hanya bisa mengumpulkan segenggam kapuk. Tidak lebih dari itu.

Lelaki itu berdiri di depan rumah dengan pakaian yang basah. Keringatnya telah membuatnya kuyub. Napasnya berat, tenggorokannya kering. Dia merasa capek yang sangat luar biasa. Sudah sekeras itu dia berusaha, hanya segenggam kapuk yang mampu dia kumpulkan.

Hari berikutnya lelaki itu menemui Kiai Husein. Tentu saja dengan wajah sedih karena tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan Kiai. Dia kemudian menunjukkan segenggam kapuk yang berhasil dikumpulkan.

“Ini Kiai, hanya ini kapuk yang bisa saya kumpulkan.”

Kiai Husein terkekeh lalu berkata, “Sekarang kamu telah belajar sesuatu.”

Lelaki itu masih belum juga mengerti maksud perkataan Kiai. “Apa yang telah saya pelajari, Kiai?”

“Tentang fitnah-fitnah itu. Fitnah yang pernah kamu perbuat.”

Betapa kagetnya lelaki itu setelah menyadari maksud perkataan Kiai. Dadanya berdegub kencang, semakin kencang, dan terasa berat. Bulir-bulir keringat menyembul di sela-sela pori kepala. Lelaki itu mendapati suatu firasat yang buruk tentang dirinya.

“Seperti kapuk-kapuk itulah fitnah yang kausebar. Meski kamu telah menyesali dan berusaha memperbaiki, tapi fitnah-fitnah itu terlanjur terbang dibawa angin.

Kamu tidak akan tahu ke mana saja fitnah-fitnah itu berujung. Kamu juga tak akan mampu menghitung berapa orang yang termakan fitnah-fitnah itu.

Dia telah menjadi dosa yang beranak pinak tanpa ada ujungnya. Dosa yang mengalir diluar kendali pelaku pertamanya. Meskipun kamu telah mati, fitnah itu akan terus hidup.”

Mendengar penjelasan Kiai Husein, lelaki itu menggigil ketakutan. Dia menyesali perbuatannya yang telah memfitnah Kiai Husein sedemikian rupa.

Tak pernah dia bayangkan jika dosa fitnah sedemikian mengerikan. Bahkan kematian pun tak mampu membuat dosa-dosa itu berhenti mengalir.

Lelaki itu tersungkur di lantai. Lisannya tak henti-henti berzikir memohon ampun kepada Allah. Dadanya bergemuruh, air matanya menderas.

“Ajari saya untuk menghapus fitnah-fitnah itu, Kiai. Tolong ajari saya. Ajari saya, Kiai,” pinta lelaki itu.

Kiai Husein tertunduk menangis menyaksikan pedihnya penyesalan lelaki itu. “Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak. Sekarang aku hanya bisa berdoa agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua.

Percayalah, Allah dengan kasih sayang-Nya akan selalu menerima tobat dari setiap hamba-Nya. Innallaha tawwabur rahim.”

***

Saya suka kisah ini karena selalu mengingatkan saya untuk menjaga lisan agar tidak terjerumus ke dalam dosa fitnah yang mengerikan.

Saya tulis kembali kisahnya dengan gaya yang berbeda dari tulisan aslinya. Namun, tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan dalam kisah tersebut.

Kita tahu bahwa di zaman sekarang ini cara orang memfitnah itu bisa macam-macam. Tidak hanya melalui mulut ke telinga, mulut ke mulut, tapi sekarang ada media sosial yang jauh lebih cepat penyebarannya dan lebih masif.

Bahkan sepertinya pihak-pihak tertentu justru memanfaatkan fitnah-fitnah di media sosial itu untuk mencari keuntungan. Meraih popularitas, menjatuhkan lawan, mendapatkan uang, dan lain sebagainya.

Bak gayung bersambut, ternyata para pengguna media sosial pun sangat menikmati hal itu. Dengan suka rela mereka membaca, mencerna, menimpali komentar, lalu menyebarkannya.

Lalu ketika mereka tahu kalau itu berita bohong, hoax, apa reaksi mereka? Biasa saja kan?

Padahal kalau kita selami lebih dalam, dosa-dosa telah mengekor abadi dalam hidup mereka. Dosa berjamaah yang akan terus mengalir meskipun mereka mati. Dan, sepertinya mereka tidak menyadari hal itu.

Semoga Allah mengampuni kita yang sering khilaf bermedia sosial. Aamiin.

Oleh: Seno Ners.

Referensi: Maman Suherman, Aku Takut KehilanganMu, Penerbit PT. Grasindo, 2017.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: