Aaaa … Kim Bon Ahjussi (Om Kim Bon)!

Sepagi ini, Alin sudah membuka laptop kesayangannya. Bermodalkan meja lipat kayu berwarna hitam, laptop berwarna silver itu teronggok di atasnya. Laptop itu pemberian ibu Alin karena saking girangnya si bungsu jadi mahasiswa.

“Hari ini kamu enggak ada kuliah?” Mbak Erna, teman kosnya, masuk ke kamar Apri setelah mandi.

Alin cepat-cepat menekan tombol space, drama Korea Terius Behind Me seketika berhenti. “Kosong, hehe. Katanya dosennya ada acara. Diganti jadwal hari Sabtu.”

“Oooh.” Mbak Erna mengangguk dan bergegas kembali ke kamarnya.

Alin menekan lagi space, seketika Media Player Classic memutar lagi drama yang sedang hits bulan ini.

Oktober 2018, bulan ini para mahasiswa mulai memasuki semester ganjil. Alin yang baru masuk setahun yang lalu, sekarang sedang getol-getolnya nonton drama.

“Lin, kantung matamu persis panda!” Dari arah belakang, Apri, teman sekelas Alin menyeletuk.

Wajah Alin kuyu, bak bulan baru nongol pagi-pagi.

“Berisik ah!” Sembari nyeletuk, Alin memasang kuda-kuda, mau menjitak Apri.

“Lah, aku ngomong kenyataan kok. Emangnya Mas Kim Bon-mu itu, yang maya. Weeek.” Apri menjulurkan lidah, menggoda Alin.

Apri adalah teman yang lumayan dekat dengan Alin. Semenjak masuk kuliah, mereka sekelas. Di luar kelas pun, mereka sering makan bareng. Juga sering saling curhat mengenai keluarga dan permasalahannya masing-masing. Namun, akhir-akhir ini, Alin punya dunia baru. Dia lebih suka memuja-muja para Oppa-nya. Seperti mala mini, chat tentang Oppa barunya

Eh, semalam aku nonton Eun Woo loh. Ituloh member NCT. Aku emang baru tau dia boyband hahaha. Cute banget pas jadi Kyung Suk.

Chat dari Alin masuk di Whatsapp Apri. Apri sedang tiduran di kamar rumahnya. Seketika dia membalas chat Alin.

Lagi-lagi oppamu yang dibahas. Emang secakep apa sih, En Wo itu?

Tring! Terpampanglah gambar seorang Mas-mas berusia 23 tahun dengan kedipan senyum. Muka yang Korea banget. Wajahnya putih dan halus, matanya yang bak tanda minus, tangannya putih juga menunjukkan tanda love di jarinya. Persilangan antara jari telunjuk dan jempol.

Namanya EUN WOO, woiiiiiii! Bukan En Wo wkwkwkwk.

Ya apapun lah itu. Emang enggak bosen ya? Tiap malem begadang nonton gituan?

Ih sewot hahaha. Bahagia tau. Stres kan ngurusin kuliah mulu, lihat seger-seger gini sekali-kali.

Eh, tugas metodologi pendidikan, udah selesai?

Belum sih. Hahaha. Ntar kukerjain pagi aja.

Lah, kamu mau melek semalaman?

Tenang, aku kan tadi tidur siang.

Apri menepuk jidatnya. Temannya yang satu ini memang lagi kesengsem (jatuh cinta). Apri bukan orang yang alim banget, tapi dia tahu, dia harus ‘memegang’ temannya yang satu ini. Banyak hal yang diceritakan Alin kepadanya. Satu hal yang klik dengan kesukaannya akhir-akhir ini, Apri pun bisa memahaminya.

Orang yang cepat jatuh cinta itu karena kurang kasih sayang dari sosok Bapak, begitu kata Ibu Apri suatu kali. Walau Alin tidak menceritakan secara detail, Apri bisa menangkap hal itu.

“Lin, biasanya kamu mudik tiap berapa bulan sekali?’

“Pas lagi butuh pulang aja sih, Pri.”

“Aku penasaran sama anak kos gitu, biasanya ngapain aja kalau di rumah? Kan cuma bentaran.”

“Cuma diem di kamar. Keluar kalau makan sama mandi.”

“Loh enggak jalan-jalan sama Bapak Ibumu, kan mumpung ketemu?”

“Mana ada, Bapak sibuk. Cuma berdua sama ibu, ah canggung. Emangnya kamu.”

“Oooh gitu. Bapak kerjanya sibuk terus apa?”

“Iya.”

Apri mengangguk prihatin. Ibu Apri pernah bercerita, kalau saudara sepupunya jadi nakal karena kurang kasih sayang Bapaknya, Omnya Apri. Beliau memang pekerja keras, namun jarang menghadirkan diri dan hati bagi keluarganya. Saudara sepupunya ini suka mabuk dan pernah diinapkan di Polsek semalam.

Kata-kata Ibunya, membuat Apri jadi aware setelah kenal dengan Alin. Apri berasal dari keluarga yang harmonis. Ayahnya walau sibuk tapi tetap menomorsatukan keluarga. Pekerjaan wiraswasta kadang menyita waktunya dan mengharuskan pergi keluar kota, namun Apri dan ibunya sering diajak serta. Ibu Apri adalah seorang ibu rumah tangga yang juga menulis buku-buku psikologi.

***

Kelas ketiga hari ini disponsori sengatan matahari. Setelah selesai sholat Zuhur, Apri melipat mukenanya. Dia edarkan pandangannya ke seluruh ruangan masjid. Nihil. Sosok Alin tak terdeteksi. Padahal tadi dia sudah janji mau sholat berjamaah.

Apri berjalan melewati koridor yang ramai. Dia bergegas masuk ke kelas berpintu besar. Dari pintu kelas, terlihat Alin yang masih saja duduk di kursi yang sama, dengan posisi yang sama seperti saat Apri mengajaknya sholat berjamaah.

“Lin!”

Alin yang menyadari kehadiran Apri menghentikan video yang sedang ditontonnya.

“Duh, Pri. Aku tadi lagi seru-serunya nonton. Enggak sadar kamu udah ninggalin. Ya udah, aku sholatnya nanti abis kelas aja.” Alin membela diri duluan sebelum disembur Apri.

Apri menghela napas. Temannya satu ini jadi seenaknya sendiri. Sebelumnya, Apri mengenal Alin adalah anak yang gampang diajak ke masjid. Apri memang selalu mengingatkan temannya untuk sholat berjamaah. Tapi, hari ini Apri merasa sedih. Beneran sedih. Ada rasa kecewa dalam dirinya yang membuatnya enggak nyaman. Dia merasa disepelekan.

“Ya udah, Lin. Teruskan aja. Aku udah ngingetin loh, ya.”

Apri mengambil tas ransel merah yang dia taruh di sebelah kursi Alin.

“Aku pindah depan ya.” Tanpa menengok, Apri bergegas mencari kursi kosong di depan. Dia hanya merasa harus menjauh dulu dari Alin. Alin yang kaget karena sikap Apri yang tidak seperti biasanya hanya bisa melongo. Tontonannya tadi dia matikan. Beberapa menit kemudian, Pak Dosen masuk lalu memulai kelas.

***

“Pri, coba kamu sapa dulu Alin, ya.” Ibu Apri membelai rambut putri kesayangannya. Apri menceritakan masalah Alin yang malah jadi malas-malasan karena dunia baru di laptopnya. Apri yang mewarisi jiwa empati besar seperti Ibunya, tak bisa tak peduli dengan sikap Alin yang makin malas.

“Ibu tau, Apri pasti sebel sama temenmu. Pas dikasih tau, dia mbandel. Gitu kan?”

“Iya, Bu. Hehehe. Aku kecewa juga sih. Kayak disepelein gitu.”

“Nah, sabar saja. Temenmu pasti butuh waktu. Kamu sudah mengingatkan dan menunjukkan sikap. Coba nyapa dulu ya, enggak baik diem-dieman lebih dari 3 hari. Allah enggak rida loh.”

Ibu Apri menatap lembut ke wajah anak semata wayangnya itu. Beliau mengajarkan Apri untuk berempati kepada orang lain karena dia tidak punya saudara kandung.

“Dia pasti nantinya butuh kamu kalau pas dia merasa sendiri. Seperti kamu pas sedih, pasti butuh ngobrol ke ibu kayak gini kan? Terus jadi lega, kan?”

“Iya Bu. Aku bahagia punya ibu seperti ibunya Apri yang spektakuler ini hahaha. Okay, aku nanti coba hubungi Alin lagi. Alin mungkin merasa enggak enak karena aku pindah kursi waktu itu.”

***

Di kamar kos, Alin merenung. Sudah 3 hari teman dekatnya tak kunjung menyapa dirinya via WA. Padahal biasanya Alin sendiri yang heboh menyapa duluan. Tapi kali ini lain, Alin bener-bener takut menyapa dulu.

Duh, aku terlalu menyepelekan Apri nih. Belum pernah kulihat dia diemin aku selama ini. Aku memang keterlaluan sih. Enggak sadar diri banget. Pikir Alin saat dia memegang ponselnya. Dia ingin segera memencet tombol hijau bergambar telepon, tapi dia takut. Dia hanya bisa menyampaikan rasa sedihnya dengan menangis.

Tok … tok … tok! Mbak Erna sudah berada di depan kamar. Alin mempersilakannya masuk.

“Lin, loh kamu kenapa nangis?” tanya Mbak Erna saat melihat adik kosnya sembap.

“Mbak Erna! Apri … Apri huuuuu.”

Setelah tenang, Alin menceritakan semua masalahnya. Betapa dia sakit hati karena dicuekin. Apalagi dicuekin teman dekatnya sendiri. Main bareng ke mal, makan bareng di angkringan, diajakin Apri ikut kajian, sholat berjamaah bareng di masjid kampus. Rasanya indah punya teman kayak Apri. Alin memang merasakan dirinya cenderung malas setelah kenal drama Korea.

Awalnya, dia hanya iseng saja saat teman sekelasnya memberinya file berupa video berpuluh episode drama Korea. Eh, malah kebablasan. Alin merasa seperti diberikan rasa sayang dari tokoh lelaki saat ia jatuh ke dalam karakter tokoh perempuan. Gini nih seharusnya lelaki. Lebih mentingin pasangan daripada kerjaan. Gentle banget ini. perempuan dinomorsatukan. Gumam Alin saat menonton drama.

Tapi semua drama yang dia tonton malah menjauhkan teman dekatnya yang beneran sayang kepada dirinya. Bukan si Oppa yang di drama.

“Hmm, gimana caranya aku baikan lagi sama Apri ya, Mbak?”

“Udah pernah nyoba ngomong duluan?”

“Enggak berani, Mbak. Aku takut. Bener-bener takut. Kalau aku nanti ditinggal, gimana?”

Alin memasang muka cemas. Dia memilin-milin kuat ujung bajunya.

Mbak Erna menggenggam tangan Alin, lalu mengelusnya. “Tenang, Lin. Minta maaflah dulu. Apri bakal memaafkanmu kalau kamu menyampaikan perasaanmu. Jangan memendamnya. Masalah takkan selesai kalau kita hanya menunggu.”

Setelah tenang, Alin mengucap basmallah dan segera menghubungi Apri.

“Apriiiiiiii!” teriak Alin saat telponnya tersambung.

“Alin … maafkan aku ya.” Apri meminta maaf dulu.

Alin kaget, “Pri, aku yang salah. Aku yang minta maaf,” dengan terbata Alin menceritakan semua perasaannya saat Apri menjauhinya.

“Ya udah, gini aja. Kita seri, kita baikan aja ya? Hahaha,” sahut Apri setelah Alin selesai bercerita.

“Pri, maaf banget ya. Aku janji, aku enggak bakal teralihkan lagi sama Oppa.”

“Aku sempet kecewa berat sama kamu sih. Tapi, kok janjinya sama aku? Sama Allah dong.”

“Eh iya ya? Hihihi. Maaf.”

“Udah ah maaf-maafannya. Nanti lanjut pas lebaran. Hahaha.”

“Ih, kamu gitu deh! Hahaha. Eh, tapi … kalau misal aku nonton sewajarnya, misal nih sehari satu episode aja, boleh kan ya?” Alin iseng menggoda Apri.

“Hahaha, Alin-Alin. Itu terserah kamu. Yang penting jangan lagi buang waktu tidur buat nonton. Juga ini penting, jangan duakan Allah.”

“Iya iya. Jadi besok aku boleh nyapa kamu ya?”

Apri hanya membalasnya dengan tertawa. Alin pun merasa bahagia sekarang. Bebannya kemarin seperti terlepas begitu saja. Dia sangat bersyukur punya teman kayak Apri.

Oppa, maafin aku ya. Nanti aku nonton kamu sesekali aja ya, gumam Alin saat memandangi wajah Joo Hyuk di background layar ponselnya terakhir kali. Kini, layarnya hanya terlihat warna biru langit dan awan putih. Cerah sekali, secerah hatinya.

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: