KAMU pernah tongpes? Oya, tongpes itu kantong kempes alias lagi enggak ada duit. Orang bilang, tongpes itu nyebelin, bikin bête, merana dan yah, pokoknya nggak enak banget. Tapi bagiku, yang udah terbiasa tongpes, ya biasa aja.

Em, tapi, sebiasa-biasanya aku karena tongpes, ternyata ada saat tongpes itu bikin gemes dan jadi drama yang sulit terlupakan. Mau tahu, sedrama apa tongpes yang bikin aku gemes? Kenangan tongpes satu ini, luar biasa spesial. Jadi, bersyukurlah karena aku akan menuliskannya di sini. Hehehe ….

Saat itu, tahun 2004 dan aku kelas tiga SMA.

Sejak SMP, aku memang tinggal bersama simbah karena jarak rumahnya dan sekolahku relatif dekat. Hal itu, dilakukan semata untuk menghemat ongkos transport. Lumayanlah, selisih seribu rupiah setiap hari.

SMA-ku ini adalah sekolah unggulan di kabupaten. Beruntung banget, bisa diterima di sekolah sekeren SMANKA (SMA N 1 Kajen). Bukan hanya bangunannya yang bagus, tapi guru-gurunya, juga murid-murid di sekolah itu semua di atas rata-rata (kepandaian dan tingkat ekonominya).

Ingat banget, waktu awal masuk sekolah, aku yang lulusan SMP pinggiran, sedikit minder karena style murid lain yang wow. Ternyata, memang di sekolah ini sebagian besar muridnya adalah anak pegawai pemerintah atau pun pengusaha. Jelas! Aku kalah telak dengan mereka. Yah, aku kan hanya anak seorang pedagang angkringan yang begitulah, kadangkala hasil jualan hanya cukup untuk mengembalikan modal.

Its oke, semua itu, nyatanya tidak sehoror yang aku bayangkan. Para guru dan teman satu angkatan bahkan kakak kelas sangat ramah. Di antara mereka, banyak yang kemudian menjadi teman akrab. Teman satu organisasi pramuka, MPK (Majelis Permusyawarahan Kelas), KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), atau pun Rohis.

Setiap hari, ketika pamit mau sekolah, simbah selalu bilang, “Njupuk-o sangu di bawah kasur! (ambillah uang saku di bawah kasur!)” Sembari ia sibuk mencongkel bandos (camilan dari tepung ketan, kelapa, dan gula pasir yang dicetak kemudian dibakar) dari cetakan dan menatanya di atas nampan.

Aku kadangkala mengambil uang saku, tapi lebih sering tidak. Entahlah, rasa kasihan dan tidak tega membuatku nekat berangkat sekolah tanpa sepeser pun rupiah. Simbahku itu, pekerjaannya hanya jualan camilan yang kadang-kadang laris, tapi sering juga dagangan tidak habis dan modal tidak kembali. Sementara ibu dan bapak, tinggal di desa lain, beda kecamatan dan seminggu sekali datang untuk menitipkan uang saku pada simbah.

 Perkara uang saku, tidak jadi soal buatku. Waktu istirahat biasanya sih, aku pakai untuk Salat Duha atau pun nongkrong di kebun belakang sambil genjreng-genjreng nyanyi lagu Iwan Fals, khususnya yang berjudul ‘22 januari’. Teman sebangkuku waktu itu, jago banget nyanyi, merdu suaranya mirip vokalis band Coklat.

Kalau masalah transport, aku bisa nebeng boncengan saat berangkat dan pulang sekolah. Ya, nebeng siapa saja, teman yang lewat atau kakak kelas. Atau, jika tidak dapat boncengan, jalan kaki pun tak masalah. Jarak sekitar dua kilo meter tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sepuluh menit, badan yang sedikit berkeringat, dan bonus digodain anak SMK yang nongkrong di sekitar jalan. Ugh!

Sampai di sini, paham kan, kalau tongpes bagiku itu biasa? Sekarang, mari kita mulai masuk pada kisah tongpes yang spesial. Tongpes yang sampai bikin aku ingat terus kenangan ini.

Saat itu, bulan Ramadan tahun 2004. Seperti yang sudah-sudah, biasanya ibu akan mengajak aku dan adik-adik pulang ke kampung halaman. Jadi, simbah yang tinggal bareng sama aku itu, adalah simbah dari bapak alias ibu dari bapakku.

Nah, orangtua ibuku, tinggalnya di desa Keramat, sebuah daerah terpencil yang ada di kecamatan Paninggaran. Daerah itu masuk dalam daftar Indek Desa Tertinggal atau IDT karena penduduknya miskin dan pendidikan masih rendah. Bahkan, saat itu, hanya aku dan tiga orang anak perangkat desa yang bisa melanjutkan sekolah hingga SMA.

Jarak antara tempat tinggalku dan desa Keramat hanya sekitar 35 KM tapi dengan medan berkelok, naik-turun, dan hanya ada dua bis yang beroperasi dalam sehari. Mungkin itu salah satu sebab, mengapa ongkos transportnya mahal, lebih mahal daripada ongkos Pekalongan-Semarang.

Ketok’e lebaran iki, ndak isa mulih (kelihatannya lebaran sekarang nggak bisa mudik),” ucap bapakku ketika itu. “Ongkos bis ae naik tiga kali lipat, edan tenan! (ongkos transport aja naiknya tiga kali lipat, gilak!)

Aku paham, untuk pulang ke desa Keramat, dibutuhkan banyak uang untuk ongkos transport juga THR bagi saudara-saudara di kampung. Tidak mungkin juga kan, ketika mudik ibu dan bapak hanya membawa tangan kosong? Ora patut blas (tidak sopan sama sekali)!

Saat itu, ibu memang baru saja melahirkan adikku yang sekarang kelas satu SMA, jadi sama sekali tidak punya tabungan untuk biaya mudik.

Sejak mendengar obrolan bapak hari itu, aku merasa nelangsa. Gini amat ya, nasibnya orang enggak punya duit. Mudik setahun sekali pun terasa mustahil. Padahal mudiknya juga enggak jauh, masih satu kabupaten. Duh, Ya Allah ….

Malamnya, aku enggak bisa tidur. Kepalaku masih dipenuhi pertanyaan, Bagaimana caranya supaya lebaran nanti bisa mudik? Aku tahu pasti, ibu sangat menunggu momen lebaran untuk bertemu simbah. Apa iya, momen yang sudah dinantikan selama berbulan-bulan, kandas begitu saja gara-gara tongpes?

Sudah lewat tiga hari dari perbincangan perihal mudik dan tidak ada sesuatu yang aku lakukan selain berpusing ria dan berdoa. Hingga suatu hari, saat pesantren kilat di kelas, seorang teman mengomentari pakaian yang aku kenakan.

“Celanamu apik, tuku ning endi (celanamu bagus, beli di mana)?” Waktu itu, aku memakai celana gunung dengan model saku banyak di kanan-kirinya.

“Punya om-ku, hehehe ….”

Ya, memang, sewaktu itu aku sangat akrab dengan adik bapak yang tinggal serumah denganku. Karena beliau lama di Jakarta, model pakaiannya keren-keren, termasuk celana yang aku pakai itu.

“Aku pengen sakjane (sebetulnya, aku kepengen),” ujar temanku lagi.

Seperti dalam film-film, mendadak ada bohlam menyala di atas kepalaku. Ide itu pun muncul dan membuatku bersemangat.

Arek (mau)?” tanyaku antusias.

Ono po (emang ada)?”

Oke, deal! Temanku itu bilang, dia mau beli kalau ada barangnya. Bahkan uangnya pun telah dititipkan padaku.

Sepulang pesantren kilat, aku masuk pasar dan menyisir bakul sandangan (penjual baju) dengan maksud menemukan celana yang serupa dengan yang kupakai. Lama mencari, hingga kaki panas dan wajah kaku karena mempertahankan senyum pada banyak orang yang bertanya, akhirnya aku menyerah.

Barang yang kucari tidak ada di pasar. Penjual yang kutanya selalu bilang kalau celana yang aku pakai adanya di mall. Ya, sudah! mungkin belum rezeki.

Aku pun melenggang hendak pulang. Sebelum keluar dari pasar, aku sempatkan menyapa beberapa pedagang dengan ramah dan senyum yang baru saja kurestock (kusetok ulang).

Golek apa, Dik (cari apa, Dik)?” tanya seorang bapak saat kuucapkan permisi. Nampaknya, lapak dagangannya baru dan masih sepi pembeli.

“Celana kayak gini,” ucapku tak acuh, basa-basi, sambil menunjuk celana yang kupakai.

Arek werno opo (mau yang warna apa)?”

Seperti orang bingung, aku otomatis berhenti tapi tidak serta-merta percaya. Masa sih, ada? Tenane (beneran)?

“Miliho (silakan milih)!” Si Bapak menunjukkan beberapa celana dalam plastik bening padaku.

Lho, tenan (beneran) ada ternyata! Ya Allah ….

Celananya nggak persis banget sih, kain yang digunakan pun lain. Tapi, aku ambil saja celana gunung di bapak yang jual dan membayarnya. Tentu, setelah sebelumnya menawar dan dengan jujur kukatakan bahwa celana itu akan kujual lagi.

Ya, wis, engko nek isa laku dan ngambil celana lagi, tak tambahi diskonnya (ya udah, nanti kalau laku dan beli lagi, tak tambahi diskonnya)!”

Fix! Sebuah celana gunung dengan warna coklat susu kubawa pulang dengan riang. Harus dibeli! Harus! Batinku berkobar, mempertaruhkan uang yang diberikan si teman dengan sebuah keyakinan bahwa celana itu harus pas dan cocok di hatinya.

Esoknya, drama celana itu sungguh membuatku super gembira. Temanku yang terbakar rayuan dan pujianku setelah memakai celana itu, justru minta beli lagi. Ia pesan celana serupa dengan warna abu.

Laris, laris! Barokah! Barokah! Barokah! pekikku luar biasa bersemangat sambil memukulkan lembaran uang di atas lipatan celana gunung. Mirip adegan di sinetron-sinetron gitu lah, tahu kan?

Pada akhirnya, Ramadan tahun 2004 aku mempunyai aktivitas baru: ke pasar, mengangkut beberapa pakaian, membawanya ke rumah teman-teman yang pesan, menerima uang, menghitungnya, dan tersenyum puas.

Ya, alhamdulillah, bukan hanya celana gunung yang akhirnya kutawarkan. Tetapi, berbagai pakaian untuk lebaran juga kubawa. Rok jeans, hem, gamis, mukena, dan lain-lain. Bapak penjual senang dagangannya aku bawa, aku pun senang karena punya dagangan hanya dengan modal kepercayaan.

Rencana mudik ke Keramat pun bisa terwujud, bahkan dengan bangga kukatakan pada ibu, “Transport PP, aku yang bayar!”

***

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: