Mala kesulitan mengendalikan napasnya yang tiba-tiba menderu, macam pelari 10K yang baru mencapai garis finish. Gadis yang biasanya terlihat ramah itu tampak gusar. Dia melancarkan pandangan menyelidik pada laki-laki yang duduk di sampingnya.  

Meski Gustaf—laki-laki yang dua tahun ini dekat dengannya—berusaha menghindari mata Mala, gadis itu tanpa sungkan tetap mengejar hingga wajah mereka betul-betul berhadapan.

“Mala, kita bukan mahram. Nggak boleh bertatap-tatapan.” Gustaf buru-buru menundukkan pandangannya. Tentu saja Mala kesal.

“Hih! Oke, tapi tolong ulangi lagi. Aku nggak paham maksud ucapan kamu tadi. Kamu mau kita putus? Apa tadi alasan kamu?”

Lima detik, lalu sepuluh detik, Gustaf masih diam. Mala tak tahan lagi. Kekesalannya berujung menjadi tangis.

“Aku nggak mau mengulang ucapanku tadi, karena nggak mau kamu makin sedih, Mala ….” Gustaf mengakhiri kalimatnya sambil sedikit menggeser duduknya. Dia nggak tahan melihat bahu Mala yang tampak rapuh. Dia nggak ingin tangannya bergerak spontan menyentuh bahu gadis itu, untuk menghentikan tangisnya. Pemuda itu memilih diam, menemani Mala sampai kembali tenang.

Mala menutup wajah dengan kedua belah tangannya. Air matanya sudah berhenti beberapa saat lalu, tapi biar saja Gustaf gelisah dengan mengira dia masih menangis. Keresahan laki-laki itu tidak seberapa dibandingkan sakit hati yang dirasakan Mala.

Gadis itu tengah berusaha mengingat, pada bagian mana dia telah berbuat kesalahan. Gustaf memang dikenal sebagai cowok alim, dan anteng. Berbeda dengan Mala yang cenderung gedubrakan. Tapi sependek ingatan Mala, kedekatan mereka selama ini tidak berlebihan. Jauh banget kalau dibandingkan dengan pasangan artis pujaan warganet yang eksis pamer kemesraan di media sosial. Nonton bioskop berdua saja pun belum pernah!

Waktu kebersamaan mereka lebih banyak di kampus, itu pun tidak setiap saat, karena mereka berbeda jurusan. Kencan jalan berdua nyaris tak pernah. Usai kuliah, Gustaf akan segera pulang untuk membantu ayahnya yang mempunyai bengkel mobil lumayan besar di kota.

Hari itu adalah hari pertama perkuliahan dimulai lagi, setelah liburan semester nyaris satu bulan lamanya. Beberapa kali, selama masa liburan, Mala mencoba membuat janji bertemu dengan Gustaf. Namun selalu gagal. Ada saja alasan Gustaf. Entah bengkel sedang ramai, atau harus menjadi sopir pribadi mamanya, diminta mengantar ke mana-mana. Mala harus puas hanya dengan bercakap via telepon dan berkirim pesan singkat. Hari itu Mala berangkat kuliah dengan semangat, salah satunya karena terdorong rindu yang sangat pada kekasih hatinya.

Tapi, yang dia temui di sela jam perkuliahan hanya sepotong wajah muram.

“Kita ke gazebo aja, yuk,” ajak Gustaf dengan nada dingin. Padahal Mala sudah melonjak berlari kecil menghampirinya sejak keluar dari pintu kelas.

Mala sempat bilang kalau dia lapar, mau ke kantin sebentar saja. Tapi Gustaf menggeleng, dan mengulangi ajakannya. “Kita ke gazebo aja.” Ternyata di sana memang tempat yang paling tepat untuk Gustaf menumpahkan semuanya.

“Liburan kemarin, aku antar mama arisan di rumah temannya. Waktu pulang, sampai rumah mama bilang kalau tas kosmetiknya tertinggal. Aku diminta langsung balik untuk ambil. Di sana … aku ditahan untuk ngobrol dulu,” Gustaf terbatuk, seakan kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya. “Ada anak perempuan mereka juga.”

Benak Mala mulai merasa nggak nyaman. Perut juga ikutan mual. Bisa jadi karena tadi pagi dia nggak sempat sarapan. Mala nggak punya alasan untuk mengabaikan firasat buruk yang tiba-tiba mendesir dalam dadanya.

“Sampai di rumah, mama bilang kalau temannya itu ingin aku ta’aruf dengan anak gadis mereka. Tentu saja mama setuju, karena mereka berteman akrab. Kata mama, dia nggak perlu mengkhawatirkan bibit bobot bebet calon menantunya, karena sudah mengenal betul keluarga sahabatnya itu.” Gustaf menarik napas dalam-dalam sebelum berkata lagi, “Aku bahagia melihat mama senang, Mala. Jadi, kita … nggak bisa lanjut.”

Mala menyesal sudah melewatkan sarapan tadi pagi. Sekarang komplikasi mual, pening, dan dada mendidih membuat dia kesulitan menahan getar tubuhnya. Apalagi kemudian dia tak menemukan kesalahan sedikit pun dari dirinya.

“Ta’aruf bukannya untuk mereka yang sudah siap akan menikah? Kamu kan, belum selesai kuliah?” Mala masih berusaha untuk menggugat vonis yang dijatuhkan padanya.

Gustaf diam.

“Dengan aku saja, kamu belum pernah membahas masa depan. Nggak adil banget! Kamu dekatnya sama aku, tapi mau nikah sama cewek lain!”

Gustaf masih belum membuka mulut. Pandangannya lurus ke depan. Sesekali terlihat menelan ludah. Dia sudah menduga Mala akan histeris semacam ini.

“KAMU SEBETULNYA TA’ARUF ATAU DIJODOHIN SAMA ORANGTUA KAMU?!”

Gustaf menunggu ini. Puncak letusan kemarahan Mala. Batinnya mengucap istighfar berkali-kali sebelum memutar duduknya menghadap Mala, namun pandangannya terlontar jauh ke belakang punggung gadis itu.

“Idealnya menikah memang setelah lulus kuliah. Tapi nggak sampai dua tahun lagi kuliahku insyaAllah selesai. Aku juga sudah punya penghasilan. Aku ingin membahagiakan mamaku, dan selama caranya masih dalam koridor tuntunan agama, mengapa tidak?”

Sekarang gantian Mala yang bungkam.

“Aku nggak meminta kamu bisa segera memaafkan. Aku hanya ingin menyelesaikan ini dengan cara yang baik, demi kebaikan kita. Aku akan selalu mendoakanmu, berharap yang terbaik, untukmu.”

Setelah itu, 30 menit berikutnya, mereka tenggelam dengan diam masing-masing. Mala menenangkan batin, sedangkan Gustaf sukarela menemani. Anggap saja sebagai penebus kesalahan karena telah menghancurkan hati Mala.

Jam perkuliahan berikutnya menjadi semacam klimaks. Sekali lagi Mala menarik napas dalam-dalam, sebelum bangkit dan meninggalkan gazebo, meninggalkan Gustaf. “Selamat tinggal, Gus. Assalamu’alaikum.”

Gustaf mengangkat pandangannya, dan takjub. Nyala mata Mala sudah berbeda. Tak ada marah, meski masih menyisakan luka. Biar waktu saja yang menyembuhkan. “Wa’alaikum salam,” sahut Gustaf, dari hati yang paling dalam.

***

Mala, nanti aku ke rumahmu, ya! Aku punya kejutan.

Pesan dari Jamal. Mereka dekat sejak satu kelompok di KKN, satu tahun yang lalu. Bisa dibilang, bersama 10 mahasiswa lainnya, mereka hidup bersama selama 40 hari. Bersua setiap hari, sejak bangun pagi hingga waktu tidur lagi, membuat mereka akrab lebih dari sekadar sahabat. Pesan singkat tadi jadi puncak harapan Mala.

Selama ini Jamal memang sering ngajak ngobrol tentang masa depan. Bahkan pernah suatu kali Jamal bertanya pada Mala, akan seperti apa rumah idamannya nanti. Mereka sampai sempat berdebat, tentang warna cat dinding dan tanaman apa saja yang sebaiknya ada di halaman depan. Tiba-tiba Mala merasa punya alasan kuat untuk melupakan Gustaf.

Usai KKN, mereka kembali ke kampus masing-masing. Beberapa kali kembali bertemu—bersama rekan-rekan satu kelompok lainnya, untuk membahas laporan hasil kegiatan mereka. Terakhir, satu bulan yang lalu, mereka reuni dengan berkumpul di rumah Mala, untuk merayakan kelulusan ujian skripsi Mala.

Ketika itu Mala merasa Jamal sedikit berbeda. Seperti ada yang sedang dipikirkan. Menjelang waktu pulang, Jamal sempat mendekati Mala, dan bertanya, “Kalau setelah wisuda langsung menikah, ada masalah nggak dari pihak perempuan?”

Mala, yang hatinya penuh dengan harapan baik, seketika geragapan. “Eng …, kayanya … oke aja.” Susah payah Mala menyembunyikan gugup pada bahasa tubuhnya, sampai-sampai dia sok cool dan sok tahu saat menambahkan, “Berapa sih, umurnya? 21 tahun? Mestinya udah bisa menyesuaikan dengan dunia barunya.”

Tak disangka, raut muka Jamal seketika cerah. Tanpa menjelaskan lebih lanjut, dia pamit dan pulang bersama dengan teman-teman lainnya. Tinggal Mala yang bertanya-tanya, lalu memupuk harapan dan akhirnya makin melambung setelah pesan singkat dari Jamal tadi masuk.

***

“Tadinya aku sempat ragu-ragu. Tapi jawaban kamu waktu itu bikin aku mantap. Makasih ya, Mala.” Jamal duduk di kursi seberang. Berjarak satu meja panjang dengan Mala.

Senyum di wajah Mala tak pernah surut sejak cowok itu datang. Tangannya membolak-balik undangan warna kuning gading yang belum lama dia terima dari Jamal. Memang dia harus bagaimana? Memasang muka cemberut? Ah, Mala nggak pernah bermuka masam di hadapan Jamal. Selalu manis, layaknya gadis yang sedang mengharapkan happy ending.

“Kok, aku nggak pernah lihat kamu dekat sama Lani, ya?” Mala merasa harus mengeluarkan tanda tanya dari benaknya. Semoga Jamal nggak menangkap nada menggugat dalam pertanyaannya.

Jamal menyeringai. “Kami memang nggak pacaran. Tapi sudah sejak hari pertama KKN, aku tertarik sama dia. Orangtuanya sangat terbuka saat enam bulan yang lalu aku meminta izin untuk ta’aruf. Saat akan mengkhitbah, aku sempat gamang. Untung ada kamu, Mala. Aku bisa belajar memahami apa maunya cewek.”

Mala mencoba mengingat-ingat sosok Lani, teman satu kelompok mereka juga. Betapa berbedanya dia dengan Mala. Seperti itukah gadis yang disukai Jamal? Seperti itukah gadis yang dijodohkan dengan Gustaf?

Mala masih mempertahankan senyumnya. Tapi kali ini bukan untuk dilihat oleh Jamal. Senyum itu untuk menambal hatinya yang terkoyak sekali lagi.

***

Belakangan Mala lebih banyak menyendiri. Dia nggak sedang meratapi nasib, tapi berdialog dengan dirinya sendiri. Apa yang salah? Mala merasa dua kali terjungkal di lubang yang sama. Seolah ada pola dalam sikap dan cara berpikirnya. Apakah pola ini yang harus dia ubah?

Mala mulai melangkah menuju dunia yang baru. Dia memberanikan diri untuk membuka buku-buku tuntunan agama. Dia ingin mengganti pola hidupnya.

Baik Gustaf maupun Jamal, keduanya laki-laki yang baik. Bisa berteman dekat dengan mereka membuat Mala yakin bahwa dirinya juga baik. Hanya saja, Allah tidak menjodohkan Mala dengan salah satu dari mereka.

Allah memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Mala menemukan sebaris kalimat dari buku yang dia baca. Dia berusaha menyelami makna dari kalimat itu. Allah pasti akan memberikan jodoh yang terbaik untuknya, selama Mala setia berada di jalan yang baik dan nggak berhenti untuk berusaha menjadi yang terbaik di mata Allah. []

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: