AKU menatap layar monitor komputer kerjaku sambil berkipas-kipas dengan buku tipis. Kondisi sebenarnya, mesin pendingin ruangan sedang tidak berfungsi sementara di luar cuaca panas.

“Loading terus kapan selesainya kerjaan ini?” keluhku karena jaringan sedang terganggu sudah beberapa hari.

Sembari terus menunggu loading aplikasi yang digunakan untuk meng-input data kantor, aku membuka pesan WhatsApp yang baru saja masuk.

Tumben nyapa, pikirku.

Aku melihat pengirimnya adalah teman semasa kuliah, tapi lebih tepatnya teman kelompok dalam program kuliah kerja nyata. Berisi tiga pesan sekaligus. Dia ini sangat jarang berkomunikasi denganku, kecuali ada hal penting. Ada tiga pesan yang masuk dan membuat aku lumayan terkejut.

Pesan pertama adalah foto surat undangan pernikahan.

Aku ditinggal menikah, sedih sekali rasanya.

Bunyi pesan kedua.

Selanjutnya.

Pengin rasanya aku menjerit.

Aku bingung harus tertawa atau sedih lebih dahulu. Kenapa?

Pesan terakhirnya mengingatkan aku pada sebuah lagu dangdut yang dinyanyikan oleh Dewi Persik, liriknya mirip begitulah ada kata ‘teriak’nya. Sedihnya karena aku pun pernah merasakan ditinggal menikah oleh orang yang aku harapkan menjadi suami.

Aku harus menanggapi dengan cara apa?

Bersabarlah, berarti dia bukan jodohmu.

Aku mengirimkan pesan begitu. Sambil menunggu balasan, kuamati foto undangan tersebut sambil berdecak kagum dengan sederet gelar yang tersemat pada nama calon mempelai perempuan. Yang menarik lagi, lelaki yang akan menjadi suaminya kelak hanya bergelar sarjana, maksudnya secara akademis jomplang sekali mereka berdampingan tapi itulah uniknya jodoh.

Aku sedih. Sakit dan kehilangan semangat hidup.

Tulisnya pada pesan balasan yang langsung terbacaku.

Aku menghela napas panjang. Tentu ini berat sekali, tapi aku tidak bisa menasihati panjang lebar. Seperti orang jatuh cinta, kepada yang patah hati pun percuma untuk dinasihati kecuali kita hanya bisa meringankan bebannya dengan menjadi pendengar baik.

Aku mau melanjutkan pekerjaan dulu. Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca curhatan mendadak ini.

Dia menyudahi obrolan maya tersebut. Kukirimkan sedikit balasan padanya supaya menguatkan diri dengan doa. Semoga Allah berikan pengganti yang lebih baik.

Temanku itu sebut saja bernama Ahmad. Lelaki yang memiliki wajah seperti artis Korea, kulit putihnya menyempurnakan penampilan. Dari semula, dia memang tidak begitu asing bagiku, sebelum bergabung dalam kelompok kuliah kerja nyata, Ahmad sudah sering aku lihat sholat di masjid kampus.

Hal yang tidak pernah aku lupakan saat pertama melihatnya di masjid adalah rasa kaget karena pernah menyangka dia itu non muslim.

“Kamu bukan orang pertama yang menyangka aku non muslim, mungkin sudah ratusan orang yang berkata demikian,” jelasnya padaku saat kuceritakan pada suatu kali di masa KKN.

Dari kegiatan itulah mulanya kami dekat sebagai teman. Dia tipe teman yang asyik diajak ngobrol setidaknya bagiku, barangkali karena kami menyukai genre musik yang sama, yaitu dangdut.

Setelah masa itu berakhir, pertemuan di antara kami hanya bisa dihitung dengan jari, juga secara tidak sengaja. Kami bertemu beberapa kali ketika bimbingan skripsi dan saat akan wisuda.          

Hubungan pertemanan kami selanjutnya hanya terjalin lewat sosmed atau telepon. Lagi-lagi bisa dihitung dengan jari. Setahun setelah kami wisuda, dia pergi ke kota B dan bekerja di sana. Waktu kerjanya nyaris dua belas jam, sehingga kami memang tidak punya waktu untuk say hello dan ha-ha-hi-hi dalam ruang obrolan.

Suatu kali dia menelepon dan bercerita tentang perempuan yang namanya tertera dalam foto undangan tadi.

“Dia itu perempuan terbaik di kampungku, aku tertarik dengannya. Bagaimana menurutmu?” Tanyanya dari seberang sana.

“Coba ceritakan dia seperti apa agar aku bisa menanggapi,” pintaku.

Dia pun bercerita. Perempuan itu adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarganya. Berasal dari keluarga terpandang, seorang hafidzah dan mencintai pendidikan. Dibandingkan Ahmad memang mereka seperti bumi dan langit. Aku mengetahui sedikit cerita tentang Ahmad dan keluarga saat kami masih bersama dulu, sehingga aku bisa membandingkan.

“Jika kamu yakin, buatlah dia percaya bahwa kamu memang menginginkan dirinya untuk menjadi istri.”

“Caranya?”

“Tunjukkan bahwa kamu memang serius, cari tahu kriteria calon suaminya mau yang seperti apa? Kemudian dalam masa pemantasan diri, kamu terus berdoa.” Begitulah saranku pada obrolan curhat pertama Ahmad.

Ahmad kembali hilang dari peredaran, aku juga disibukkan oleh pekerjaan kantor. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada hari minggu dia kembali meminta waktu untuk mendengarkan curhat lanjutan.

“Aku sudah menembak dia, dan ditolak. Malu sekali aku,” ungkapnya setengah menjerit.

Aku tertawa dan tahu betul pasti wajahnya seperti tomat matang; berwarna merah. “Kenapa malu? Justru lebih baik, kan? Tidak penasaran,” sahutku.

“Kan you tahu sendiri kalau aku pemalu soal perasaan. Udah sok berani malah ditolak. Huh.” Aksen dialek mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris-nya keluar.

“Apa alasan dia menolak?”

“Katanya masih ingin mengkhatamkan hapalan biar semakin lancar. Sebenarnya aku pun tidak percaya diri juga, sih. You pasti ingat segala kelebihan yang dimilikinya.”

“Ya baguslah dia menolak dengan alasan begitu bukan karena ada laki-laki lain. Berjuanglah. Buat dia yakin bahwa kamu memang pantas jadi suami seorang hafidzah.”

Obrolan untuk curhatan kedua pun berakhir. Kami tidak lagi berkirim kabar kecuali sesekali berkomentar di status facebook. Hanya yang kusesalkan, setelah penolakan itu Ahmad terlihat rajin menghabiskan waktu libur di mall bersama teman kerjanya yang bukan mahram. Aku melihat foto-foto mereka di-upload pada akun facebook miliknya.

Sesekali kuingatkan tentang keinginannya. Kukatakan pada Ahmad cobalah untuk tidak lagi melakukan aktivitas itu, aku yakin perempuan yang diinginkannya menjadi istri pasti melihat foto mereka.

Mungkin saja dia melihat, tapi kamu tahu sendiri, kan, orang dalam foto itu hanya temanku.

Tulisnya dalam ruangan inbox ketika aku beri peringatan.

Perempuan tidak peduli itu. Lagi pula yang tahu temanmu berfoto itu hanya teman, kan, aku bukan dia. Jika aku jadi dia, tentu aku tak lagi memberimu kesempatan untuk mendekati.

Senyap.

Semua kembali berjalan seperti biasa. Aku dengan pekerjaanku dan Ahmad begitu pula, berikut dengan aktivitas saat liburan. Foto-foto bersama teman kerjanya yang selalu tampil di beranda facebook saat weekend tiba masih juga kulihat.

Kupikir semuanya masih baik-baik saja. Ahmad tidak lagi memikirkan perempuan yang pernah ditembaknya, karena memang tidak lagi ada kabar tentang itu. Namun yang barusan terjadi cukup menjelaskan, bahwa sebenarnya Ahmad masih berharap. Isi pesannya menunjukkan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam.

Ah, begitulah perjalanan tentang jodoh terkadang memang menyesakkan dada. Dari kisah mereka, aku sebagai teman tidak bisa memihak pada salah satunya. Aku mengerti kondisi Ahmad sebagai temanku, aku juga paham suasana hati perempuan itu karena kami sebagai pihak yang butuh kejelasan dan komitmen.

Perlu diketahui wahai lelaki, sekali saja kau ucapkan kata-kata ingin menjalin hubungan yang serius, hal itu akan diingat dan dipikirkan oleh perempuan. Sekalipun pada awalnya dia menolak, tapi percayalah, dalam diamnya tetap mencari tahu tentangmu dan keseriusanmu.

Perempuan tentu saja malu untuk langsung mengatakan ‘iya menerima’ atau mengatakan hal lain. Dia hanya butuh waktu untuk meyakinkan hati tentang laki-laki yang datang membawa harapan.

Ini juga mengingatkan aku dengan secuil kisah nyata. Seorang perempuan yang sangat menjaga pergaulannya, rencana akan dijodohkan dengan laki-laki yang kala itu bekerja di hotel (bukan berarti pekerjaan tersebut buruk). Perempuan itu diminta untuk mengamati dahulu sang calon lewat akun Facebooknya. Teliti punya teliti, perempuan itu merasa tidak cocok setelah melihat foto-foto yang tersimpan di album. Laki-laki itu merokok dan banyak berfoto dengan fose pelukan bersama rekan kerja lawan jenis. Akhirnya batallah rencana perjodohan tersebut. Seseorang yang saling asing saja merasakan kurang nyaman saat memperhatikan foto calon dengan bebas memeluk perempuan lain.

Konon pula dengan contoh nyata dari kisah di atas. Jika kita berbicara takdir, tentu saja Ahmad barangkali memang tidak berjodoh dengan hafidzah tersebut. Tapi seandainya saja Ahmad berjuang lebih keras lagi meyakinkan perempuan itu, tentu ceritanya akan lain. Termasuk dengan bukti foto-foto yang kerap tersebar di dinding Facebook seandainya tidak pernah ada. Berbicara sekufu, manalah pantas hafidzah bersanding dengan laki-laki yang suka berfoto dengan lawan jenis, apa kata dunia?

Sebagai penutup kisah, suatu hari aku mendengar ceramah dari Ustadz Yusuf Mansur mengenai kerugian saat melakukan dosa besar. Tersebutlah seorang pemuda yang begitu susahnya dalam mencari mendapatkan pekerjaan mapan. Ibadah rajin, hubungan dengan orangtuanya bagus, bahkan sirik juga tidak. Terbukti dosa besar tidak dilakukannya, ternyata setelah diusut pemuda tersebut memiliki hubungan dengan lawan jenis.

Menurut pengakuan si pemuda tidak pacaran, tapi mereka saling melengkapi artinya hubungan tersebut sudah sangat dekat. Akhirnya ustadz menyarankan menyudahi hubungan itu karena bagaimanapun juga hubungan yang terjalin antara dua orang lawan jenis yang dewasa tidak murni pertemanan semata. Satu atau keduanya pasti merasakan kenyamanan dan hasrat untuk terus mendekat.

Bukankah sangat merugi jika kita melakukan hal demikian?

Oleh: Mawar Dani.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: