Allah pernah mengingatkanku pada sebuah kematian yang begitu dekat. Bahkan waktu itu hati ini sudah ikhlas jika memang waktunya nyawaku dicabut. Merelakan semua, termasuk kemungkinan hilangnya kesempatan menyucikan diri dari dosa-dosa.

Ketika ditanya, “Kenapa engkau masih hidup hingga hari ini?”

Maka Imam al-Ghazali menjawab, “Sebab dosaku masih banyak dan Allah izinkan aku untuk bertaubat.” [Halaman 9]

Bukan karena usiaku yang sudah tua dan sakit-sakitan. Justru waktu itu usiaku baru 22 tahun. Insyaallah sehat, ganteng, dan bentar lagi lulus kuliah sarjana. Aku belum nikah, malah pas lagi seneng-senengnya godain cewek-cewek. Bahkan, belum pernah merasakan gajian, apalagi membahagiakan orangtua dengan gaji pertama.

Namun, kenyataannya Allah enggak pernah pilih kasih dalam hal kematian pada umat-Nya. Malaikat maut enggak pernah janjian. Dia datang secara dadakan sesuai dengan yang diperintahkan. Bukan hanya tahu bulat saja yang dadakan, tapi kematian pun sudah di-setting dadakan.

Saat kejadian, aku sedang ada di kamar. Masih terbaring, tapi dalam keadaan sadar. Allah ingin aku merasakan langsung betapa kuasa Dia atas nasib benda-benda dan makhluk ciptaan-Nya.

Bumi digoyang, rumah-rumah di robohkan, ketakutan menyeruak, kematian ditimpakan pada ribuan orang. Apakah kita bisa mencegah kejadian gempa Jogja tahun 2006? Sama sekali enggak!

Saat itu kematian seperti di depan wajahku. Orang-orang berteriak memanggilku. Tembok retak dan genting berjatuhan mengoyak plafon rumah kontrakan itu. Orang berlarian, tapi aku tetap diam di kamar. Aku pasrah jika Allah mengambil nyawaku. Karena saat itu kupikir sedang kiamat. Pastilah sia-sia kalau aku lari dan berharap selamat.

Alhamdulillah aku selamat. Saat gempa berhenti, tembok kamarku enggak roboh. Hanya retak dan nggak ada genteng jatuh di kamarku. Aneh, karena ruangan lainnya porak poranda.

Begitu keluar kamar, tembok pagar rumah kontrakan sudah roboh. Berhamburan jadi puing-puing enggak beraturan. Sepanjang kejadian itu aku terus beristigfar, memohon ampun.

Maafkan aku, ya Allah. Baru mengingat-Mu saat sedang susah dan menjelang kematian.

***

Gempa Jogja tahun 2006 sudah berlalu bertahun-tahun. Harusnya aku telah menjadi insan yang lebih baik. Senantiasa taat, karena selalu teringat kematian. Bukti kejadian itu cukup telak untuk mengingatkan betapa dekatnya aku dengan kematian.

Namun, entah berapa kali sehari aku ingat kematian? Aku enggak mampu memastikan berapa jumlahnya. Bukan karena terus melekat, tapi justru jarang teringat. Aku hanya ingat dengan cara apa saja Allah mengabarkan pedihnya kematian.

Suatu kali aku pernah merasa menyesal, dengan sedalam-dalam penyesalan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku melihat diriku tergeletak di jalan, bersimbah darah, setelah sebuah truck menabrakku.

Tiba-tiba saja aku merasa berada di tengah jalan. Baru tersadar setelah lampu menyorot dari jarak dua meter. Dibarengi pekik klakson yang menerjang sela-sela hujan.

Bukannya aku enggak mau lari atau melompat menghindar. Tapi kaki dan tubuhku seperti kaku, enggak bisa menerjemahkan keinginan untuk menghindar. Aku ….

BRAK!

Tubuhku terpental beberapa meter, berguling, kepala menggelinding, dengan busana terkoyak enggak keruan. Cahaya memenuhi pandangan, kemudian gelap. Dunia seperti berputar cepat, aku terseret dalam sebuah pusaran yang tak mampu kugambarkan.

Kejadian itu serasa nyata. Aku merasakan, sekaligus menyaksikan dari titik pandang di luar tubuhku. Aku melihat tubuh yang tertabrak, terpental, menggelinding, dan berhenti di bahu jalan.

Truck itu berlalu pergi. Hilang ditelan malam, tersamarkan genangan hujan yang menghapus jejak roda di hamparan jalan.

Aku terdiam. Mengamati tubuh yang tergeletak di bahu jalan. Aku kenal pemilik tubuh itu. Bahkan aku sangat dekat dengan dia.

Dia pernah bahagia, tapi sekarang tinggal nama. Dulu selalu harum tubuhnya, tapi sekarang tersisa bau anyir darinya. Dulu disuka karena tampan wajahnya, tapi sekarang orang enggan melihat dan dibiarkan mati sekarat.

Enggak lama kemudian orang berkerumun. Beberapa di antaranya menghentikan kendaraan yang sedang melaju di jalan. Beberapa yang lainnya memunguti organ, menumpuk jadi satu di pinggir jalan. Aku menyaksikan bagaimana mereka memindahkan jasad yang remuk itu ke sebuah mobil bak terbuka.

Ada yang aneh denganku. Apakah begini rasa kematian? Ya Allah, beri aku kehidupan sekali lagi. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk beribadah kepada-Mu.

Alhamdulillah, pagi itu aku terbangun dan masih diberi kesempatan untuk untuk menghirup udara. Tubuhku masih utuh, hanya saja bersimbah peluh.

Ya Allah, sesungguhnya tidur itu sangatlah dekat dengan kematian. Namun ketika terbangun dari tidur, aku pun tak akan lepas dari bayang-bayang maut. [Halaman 14]

***

Betapa galaunya seseorang ketika enggak punya duit. Khawatir keluarganya enggak bisa makan. Setiap saat berantem dengan istri karena tuntutan dan kebutuhan. Apalagi ditambah beban pikiran atas beratnya tugas pekerjaan. Atau parahnya lagi kalau masih jadi pengangguran.

Aku pikir dengan bekerja bisa semakin mendekatkan diri sama Allah. Punya gaji tiap bulan, bisa bahagiain keluarga, punya harta lebih untuk sedekah. Namun, ternyata enggak!

Masalah dalam keluarga tetap ada, kebutuhan sehari-hari tetap menuntut duit lebih banyak, dan sedekah pun enggak selancar yang diimpikan. Masalahnya di mana?

Iya, setelah kupikir-pikir pekerjaan telah merenggut banyak waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk ibadah. Astagfirullah …. Bukannya semakin dekat dengan Allah, justru kesibukan itu yang kemudian membuat kita semakin jauh sama Allah.

Beruntunglah mereka yang telah menyiapkan dana pensiun, tetapi lebih beruntung mereka yang telah menyiapkan amal sebagai teman di kubur. [Halaman 116]

Kuakui Allah masih sangat sayang sama aku. Lagi-lagi dia ingatkan betapa dekatnya kematian. Dia tunjukkan, mulai dari kematian simbah hingga seorang teman.

Bisa dibilang, temanku ini sudah seperti keluarga sendiri. Sangat akrab. Ketika dia memutuskan resign dan ikut pulang suaminya ke Riau, akulah yang menyarankan dia untuk melamar kembali di tempat kerjaku.

Dia kembali diterima bekerja. Bahkan diangkat menjadi manajer. Namun, di balik itu semua aku merasa bersalah. Dia dan suaminya sering curhat mengenai masalah rumah tangga, yang lagi-lagi ada kaitannya dengan pekerjaan. Sering juga aku menganjurkan untuk enggak terlalu menjadikan pekerjaan sebagai beban, tapi mungkin karena watak teman saya ini rada keras. Jadi selalu berusaha kuat menghadapi setiap masalah.

Enggak ada yang sadar sama sekali tanda-tanda bahwa dia akan segera pergi. Bahkan keluarga terdekatnya pun enggak mengira akan secepat itu. Allah sepertinya sangat sayang sama dia. Sehingga memanggilnya lebih cepat.

Apa yang tidak bisa aku tolak? Ialah datangnya maut (kematian) ketika ia menjemputku. [Halaman 7]

Apa daya kita jika Allah sudah berkehendak? Yang lebih memilukan lagi, teman saya pergi dengan  meninggalkan dua orang anak yang masih kecil. Bahkan anak yang kedua baru berumur 3 bulan. Ya, Allah ….

Allah, jangan jauhkan aku dari-Mu. Aku tahu setiap detik hidupku masih sibuk mencari nikmat duniamu, tapi sungguh aku ingin jadi umat terbaik di sisi-Mu.

Terakhir. Bulan Juli 2018 kemaren Allah memberi kejutan. Saat itu aku sedang jaga malam sebagai Manager on Duty (MOD).

Pukul tiga dini hari ada pasien rawat inap yang meninggal. Kemudian pihak keluarga meminta layanan rukhti jenazah. Biasanya petugas RS akan menawarkan kepada tim rukhti jenazah. Kebetulan aku sedang bertugas sebagai MOD, maka aku berusaha mencarikan tim yang akan merukhti jenazah.

Entah apa yang membuat aku menawarkan diri untuk membantu tim rukhti. Padahal seumur-umur aku sama sekali belum pernah melakukan rukhti jenazah.

Mungkin itu adalah cara Allah agar aku lebih sering mengingat kematian. Karena sejak hari itu, aku dimasukkan sebagai tim rukhti jenazah. Jika ada permintaan rukhti, otomatis harus siap menjalankan tugas.

Ya Allah, sekarang aku yang memandikan jenazah orang lain. Mungkin besok jasadku yang dimandikan di sini.

***

Aku yakin ini semua bukan suatu kebetulan. Setiap kematian yang Allah kabarkan, itu bagian dari pelajaran yang harus kutangkap hikmahnya.

Kuakui memang sebagian besar waktuku lebih banyak kupakai untuk membuka pesan-pesan di hape, ketimbang membuka pesan-pesan hikmah kehidupan.

Kuakui memang sebagian besar waktuku lebih banyak kupakai untuk mengingat orang-orang terkasih, ketimbang mengingat kematian yang datang tanpa pilih kasih.

Kuakui memang sebagian besar waktuku lebih banyak kupakai untuk menumpuk materi, ketimbang menumpuk bekal yang hendak dibawa mati.

Namun, aku sungguh belum siap jika harus menerima panggilan terakhir-Mu, ya Allah. Aku ingin kesempatan hidup lebih lama untuk membersihkan diri dari dosa-dosa.

Aku berterima kasih pada Mas Dwi Suwiknyo yang telah memberikan kado istimewanya. Sebuah buku berjudul Allah, kepada-Mu Aku Kembali.

Membaca buku ini membuatku menempuh perjalanan spiritual yang tak ternilai harganya. Iya, buku ini bukan tentang perjalanan muhasabah penulisnya, tapi ini perjalanan muhasabah kita, sang Pembaca.

Apa jadinya aku tanpa pengingat kematian?

Judul: Allah, Kepada-Mu Aku Kembali

Penulis: Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Tahun Terbit: 2018

Tebal: 168 halaman

Ukuran: 13 x 19 cm

ISBN: 978-602-52799-3-5

Oleh: Seno Ns.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: