“Mas, aku kecelakaan. Sampeyan bisa ke sini, enggak?” katamu di telepon waktu itu, pakai nomor handphone orang lain.

“Di mana? Gimana kondisimu?”

“Piyungan, Mas. Enggak apa-apa. Ini STNK-nya disita, orangnya minta ganti rugi.”

Berita itu membuatku rada panik. Antara memikirkan kondisimu, juga soal urusan sama orang yang jadi korban. Sudah jelas bakal runyam, karena dia menyita STNK motorku yang sedang kamu pinjam, dan kamu bilang orangnya minta ganti rugi.

Kamu masih SMA kelas tiga waktu itu, sedangkan aku tengah menyelesaikan program profesi keperawatan stase akhir. Kita tinggal satu indekos, dan kebetulan aku dikasih amanah untuk menjagamu.

Sebenarnya cowok sebesar kamu enggak kujaga pun enggak masalah. Biasanya juga kamu indekos sendiri. Namun, orangtua dan kakakmu khawatir tentang pergaulanmu yang nantinya bisa merusak masa depan. Maka, mereka menitipkan kamu kepadaku.

Ketika kamu bilang mau pinjam motor untuk pulang ke rumah orangtuamu, sebenarnya aku agak khawatir. Pertama karena kamu belum punya SIM, kedua karena belum pernah motoran (mengendarai motor) jarak jauh.

Kamu bilang waktu itu, “Aku entar motoran sama temanku, Mas. Karena malamnya langsung balik ke sini.”

Entah kenapa akhirnya aku meminjamkan motor kepadamu. Mungkin karena saat itu enggak ada acara, atau mungkin juga karena kamu sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Iya, bisa jadi perasaan itu tumbuh karena aku dan kakakmu berencana akan menikah. Sehingga cepat atau lambat aku harus belajar menerimamu jadi adikku.

Setelah mendengar kabar kecelakaan itu, aku langsung mengajak teman untuk mengantar ke lokasi. Sepanjang jalan pikiranku dipenuhi dengan bayangan si korban yang menuntut ganti rugi. Bahkan dalam batin aku sempat latihan negosiasi. Setidaknya untuk persiapan menjawab pertanyaan dan menghadapi keluarga si korban.

Setelah sampai di lokasi, ternyata latihan-latihanku di sepanjang perjalanan itu enggak berguna. Akhirnya aku kalah dan harus bayar Rp350.000 untuk ganti rugi. Kalah karena diancam bakal membawa perkara ke polisi. Bagaimana mungkin bisa mengelak dari tanggung jawab, sementara mereka sudah tahu kalau kamu enggak punya SIM?

Daripada ribut, ya pilih damai aja. Apa boleh buat, aku cuma punya duit jatah makan bulanan. Akhirnya kuambilkan dari uang itu untuk membayarnya.

Sesampainya di indekos, masalah belum selesai. Karena motorku butuh diperbaiki. Memang masih bisa dikendarai, tapi stang yang miring, foot step bengkok, dan body remuk jelas bikin ngilu kalau dibiarkan.

Kamu tahu yang terjadi setelah kecelakaan itu? Hehe. Mari kuceritakan tipis-tipis, sambil kita ingat memori indah waktu itu.

***

Kalau saja kamu tahu, sebenarnya aku rada gelisah. Antara galau dan merana. Ya, karena kepikiran bagaimana kelangsungan hidup ke depan, setelah jatah bulanan tersunat separuh buat menyelesaikan urusan kecelakaan itu. Padahal masih ada sepuluh hari sebelum tanggal kiriman uang bulanan datang.

Pernah sih, mengharap uang itu kamu ganti, tapi aku sadar diri. Kita sama-sama enggak punya kerjaan. Uang makan pun masih bergantung kiriman orangtua. Bagaimana mungkin aku memintamu untuk mengganti uang itu?

Lagian masa itu kan, aku dalam tahap pedekate sama kakakmu. Ah, skip aja soal ini. Yang jelas aku menahan diri untuk enggak mengungkit-ungkit soal uang ganti tersebut.

Aku coba ubah gaya hidup agar bisa bertahan selama sepuluh hari ke depan. Enggak banyak sih, hanya soal pola makan dan kebiasaan-kebiasaan yang sering butuh duit. Goal-nya jelas, efisiensi alias pengiritan.

Kamu mungkin masih ingat, aku dan kamu biasanya hampir setiap hari makan malam di angkringan dekat indekos. Siangnya sering jajan nasi telur di warung Indomie dekat indekos juga. Hanya sesekali masak nasi pakai magicom dan beli lauk untuk dimakan di kamar.

Kebiasaan itu berubah. Mau enggak mau aku dan kamu harus makan dua kali sehari saja. Sarapan merangkap makan siang, dan makan malam dijadwal setelah magrib. Atau sarapan pagi, lalu makan malamnya sebelum magrib. Bahkan kadang cuma makan sekali sehari. Enggak ada lagi dinner di angkringan atau lunch di warung Indomie. Semua urusan perut diatasi oleh dua tools ajaib, magicom dan seperangkat ulekan sambal.

Stok logistik utama yang harus tersedia adalah beras, jangan sampai kehabisan. Lalu pagi harinya beli cabe dan perlengkapan bahan sambal bawang. Lauknya cukup krupuk. Biasanya beli sekali untuk kebutuhan 3 sampai 4 hari. Sebagai selingan, kadang sesekali beli mentimun buat lalapan. Bahan-bahan ini kan yang paling sering kita beli?

Biasanya kamu yang bertugas bikin nasi pakai magicom, lalu aku yang bikin sambal. Alhamdulillah, nasi hangat, sambal bawang, dan lauk krupuk. Nikmat mana lagi yang akan kita dustakan? Ini akhirnya menjadi menu favoritku sampai sekarang.

Pernah sesekali masak mi rebus. Magicom dinyalakan, kasih air, masukin mi instan begitu air sudah mendidih. Biar cukup berdua, kadang airnya dibanyakin. Istimewa.

Lebih ekstrem lagi, pernah coba goreng telur pakai magicom. Kamu masih ingat? Sejak saat itu jadi sering bereksperimen menu baru menggunakan benda magic tersebut. Ini namanya berkah, Bro. Indekos survival.

Ah, kalau ingat masa-masa itu rasanya pengin kuliah lagi. Eh.

Tentu saja setelah melewati beberapa hari, ada keinginan untuk lepas dari prihatin challenge itu. Pengin makan angkringan lagi, pengin makan nasi telor sambil numpang baca koran di warung indomie. Aku pengin kembali ke masa-masa jaya sebagai makhluk indekos yang kaffah, tapi bagaimana caranya?

Sempat terpikir uang yang pernah dipinjam teman. Enggak ada salahnya kalau kutagih, kan? Tapi apa iya mereka pas punya uang? Kalau pas lagi tongpes (kantung kempes) kayak aku begini mana mungkin dikembalikan. Padahal saat itu kan pas tanggal tua. Ah, tapi enggak ada salahnya dicoba.

Sehabis magrib aku main ke rumah kontrakan teman. Masih tempat yang sama dengan rumah yang dulu aku ikut ngontrak di sana. Penghuni rumah kontrakan itu juga masih sama, hanya berkurang aku saja.

Setiba di rumah kontrakan itu, ternyata ada beberapa teman kampus yang lagi ngumpul di sana. Duh, gimana mau nagih kalau banyak orang gini? pikirku saat itu.

Akhirnya aku ikut nimbrung aja. Ngobrol sana-sini, tapi sama sekali enggak nyinggung soal utang. Diam-diam aku menunggu waktu yang tepat untuk ngomong ke temanku.

Hingga pada suatu detik temanku bilang, “Nyambel bawang yuk, Cah. Iuran beli gorengan di angkringan.”

Duh, ini pertanda, batinku. Iya, ini kebiasaan lamaku dan teman-teman kontrakan saat tanggal tua. Kami iuran, lalu beli gorengan di angkringan buat lauk. Biasanya di kontrakan sudah bikin nasi pakai magicom. Tinggal cari tambahan logistik untuk berpesta.

Iuran seadanya, lalu berapa pun dana yang terkumpul dibagi untuk dibelanjakan. Minimal harus beli bawang, lalu mampir di angkringan beli gorengan. Biasanya beli gorengan lima ribu, tapi cabenya ngambil agak banyak. Beli gorengan lima ribu, cabenya satu genggam. Kira-kira cukup buat bikin sambal untuk makan lima orang.

Mau bagaimana lagi, niatnya main ke sana mau nagih utang biar dapat duit, ini malah keluar duit buat patungan makan malam. Ya, mungkin belum rezeki aja. Tapi alhamdulillah bisa melihat teman-teman pada sehat dan suka cita. Ini kan patut disyukuri.

Waktu itu aku pulang agak malam, karena kebetulan kamu sedang pulang ke Gunungkidul. Kupikir daripada nglangut (kesepian) di indekos, mending aku ke luar main. Itung-itung sambil nagih utang. Meskipun hasilnya nihil, tapi aku ora opo-opo (enggak apa-apa).

Aku ikhlasin aja uang yang dipinjam teman. Kalau dikembalikan ya syukur, enggak ya anggap saja sedekah. Sama juga soal uang yang terpakai buat bayar denda saat kamu kecelakaan. Itu juga sudah aku ikhlaskan. Enggak usah dipikirlah.

Semalaman aku mikir bagaimana cari duit buat makan besoknya. Uang hanya tinggal jatah buat beli bensin. Kalau diambil buat makan, bisa jadi bakal sulit wira-wiri. Repot kalau mau ngurus macam-macam ke kampus.

Setelah mencoba tidur tanpa beban, akhirnya pulas juga. Jangan tanya mimpi apa, sama sekali enggak kepikiran soal mimpi. Isi otak ini sedang penuh dengan tutorial bertahan hidup selama beberapa hari ke depan.

Sekeras apa pun aku berpikir, ujungnya selalu ingin pasrah. Apa kata hari esok ajalah. Allah pasti sudah menyiapkan sesuatu. Enggak mungkin kita dibiarkan mati kelaparan, asal terus berusaha.

Alhamdulillah pagi harinya kamu datang dengan membawa beberapa bungkusan. Bukan uang, tapi ada beberapa kilo beras oleh-oleh dari Gunungkidul. Lumayanlah. Minimal stok logistik bisa sampai tanggal transferan. Enggak mengapa kalau harus makan sambal bawang, lauk krupuk. Asal enggak lupa bersyukur.

***

Oleh: Seno Ns.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: