kisah hijrah yang tak biasa mudahnya

Emangnya Hijrah itu Gampang?

Tadi kamu sama Habil kok bisa ada di ruang OSIS?

Terpaksa aku menanyakan hal itu padanya. Entah kenapa sebegitu penasarannya sama dia. Aku menggigit bibir begitu pesan yang terkirim sudah tercentang dua berwarna biru. Lalu terlihat tulisan Dwi sedang mengetik ….

Potongan kertas dari Habil tergeletak di atas meja. Hai, dapat salam dari Al-A’araf ayat 26, dan isi pesan itu mampu menamparku. Selama ini aku abai dengan penampilan, enggak pernah peduli aurat terumbar, bahkan nasihat Ibu untuk menutup aurat pun enggak kudengar.

Tapi begitu aku membaca langsung pesan-Nya dari dia. Ada rasa penyesalan yang begitu besar. Bahkan ajakan Merlin untuk ke mall sore tadi enggak kupenuhi. Rasanya malu untuk keluar rumah. Padahal biasanya, kami menghabiskan malam Minggu ya, kalau enggak mall, di café-café. Sampai saat ini kalimat dari terjemahan ayat itu terus terngiang di benak.

Ponsel berbunyi. Aku langsung meraihnya.

Oh, dia itu temanku SMP. Kenapa?

Refleks bibirku membulat. Pantesan, akhirnya terjawab pertanyaanku sejak siang tadi. Ternyata Dwi belum selesai mengetik. Aku masih menatap layar, menunggu kalimat darinya.

Kamu naksir dia, ya?

Buset! Pikiranku seolah berhenti bekerja begitu membaca pesan itu. Sampai-sampai aku bingung mau membalas apa. Kenapa dia bisa menyanyakan hal itu, sih? Aku berusaha menenangkan diri, lalu membalasnya.

Oalah. Apa sih, Dwi? Orang cuma tanya, kok.

Yakin?

Kenapa sekarang dia seperti menginterogasiku? Aku enggak membalasnya lagi. Malas. Payahnya tatapan sesaat cowok itu ketika di ruang OSIS terlintas di pikiranku. Ya Allah. Ada apa dengan diriku? Aku melihat layar ponsel, masih dalam kolom chat antara aku dan Dwi. Keluar. Beralih ke Instagram, begitu melihat fitur search, ragu-ragu aku menuliskan kata Habil, dan muncul beberapa nama.

Aku mengamati semua foto profil yang ada. Pandanganku terhenti pada gambar cowok manis dengan berkalungkan serban. Dapat. Dengan cepat aku klik akun tersebut. Hampir saja aku berteriak melihat followers yang dia miliki, ada 5342. Pada bionya tertulis: Izinkan aku menyebut namamu dalam doa di sepertiga malamku.

Aku beralih ke isi postingannya. Pantas saja, isinya dakwah ringan yang berisikan anjuran untuk menjaga aurat, menjaga pandangan, hadis-hadis, sampai kumpulan quote inspirasi. Seketika itu aku down, apa mungkin dia bisa suka sama aku? Aku mengacak rambut yang tergerai.

Aku menikmati konten yang dia suguhkan pada tiap postingannya dengan hati-hati. Karena kalau ter-tap dua kali, dan bisa memberikan notifikasi pada akunnya bisa bahaya. Ketahuan dong malam ini aku sedang stalking dia.

Aku larut dalam menikmati postingannya. Ya ampun, sudah jam sebelas kurang lima menit. Aku melepas ponsel, kemudian bersiap untuk tidur. Detik jam dinding pun sedari tadi masih terdengar. Aku mencoba memiringkan badan. Tetap, di beberapa menit kemudian aku masih mendengar suara detik itu.

Aku membuka mata, lalu mengibaskan selimut. Keluar kamar untuk minum segelas susu hangat. Informasi yang aku baca, kalau susu hangat bisa membantu untuk tidur lebih cepat. Teorinya sih seperti itu, kenyataannya sampai jarum jam hampir menyentuh angka dua belas, aku masih tersadar.

Bukan, ini bukan lagi soal Habil. Entah kenapa aku kepikiran dengan arti terjemahan dari surat yang tertulis pada potongan kertas itu. Apa aku harus berjilbab? Buah dari pertanyaan tersebut menghasilkan kecemasan-kecemasan di benakku, yakni gimana nanti di sekolahan? Apa kata mereka ya, melihat aku berjilbab? Salatku aja masih bolong-bolong.

Aku beranjak dari posisi nyamanku, menuju lemari kayu berwarna biru. Aku menghela napas sesaat melihat pakaian-pakaianku yang serba minim. Celana jin selutut. Kaus super ketat. Belum lagi gaun yang tampak punggung.

Tanganku meraih sehelai kain persegi bermotif kembang, yang terselip di gantungan paling pojok. Biasanya aku mengenakannya hanya untuk acara-acara tertentu. Aku menutup pintu lemari, sehingga menghasilkan pantulan diriku di cermin.

Perlahan kain panjang itu aku pakai, sehingga menutupi sebagian kepala ini. Aku tersenyum melihat diriku sendiri. Ya Allah, bimbing hamba. Entah terasa ada kesejukan setelah aku berani melakukan ini. Perasaan yang tadi sangat kacau sudah lebih tenang, lega gitu.

Aku keluar kamar lagi. Keadaan ruangan-ruangan lainnya sudah gelap. Sunyi. Langkahku menuju tempat wudu, aku berniat untuk salat Isya. Gemericik air begitu terdengar nyaring. Kubasuh bagian-bagian tubuh ini.

Sesampainya di kamar, aku mengambil sajadah yang jarang sekali tersentuh, apalagi di rumah. Salat selama ini kukerjakan hanya karena ajakan teman, bahkan pernah aku berbohong sedang ‘libur’ supaya enggak ikut salat bersama yang lainnya.

“Allahu … Akbar.”

Dalam kesunyian aku bertakbir. Aku merasa begitu sangat jauh dari-Nya. Bersamaan aku merapalkan surah Alfatihah mataku mulai berembun. Satu kedipan, ada bulir yang jatuh membasahi pipiku. Sungguh, aku ingin kembali pada-Mu.

***

“Kamu seriusan mau pakai jilbab?” tanya Merlin.

Aku memang menyuruhnya datang. Aku menunjukkan keadaanku sedang berjilbab begitu dia masuk di kamar ini. “Memang kenapa?” Dahiku berkerut.

“Aku kaget saja, Lu. Habis enggak ada hujan, enggak ada bad—”

“Masa harus ada musibah dulu baru berubah.”

“Kamu itu kurang baik apa, Lu? Main sama cowok aja hampir enggak pernah. Di kelas kamu berprestasi. Bahkan kamu di kenal anak paling polos di sekolahan.”

Aku menangkap dari reaksi Merlin ada ketakutan yang berlebih darinya. Apalagi desas-desus islamophobia cukup marak belakangan ini. Aku memahami maksud dari sahabatku, tapi aku sudah mantap dengan pendirianku.

“Aku belum baik, Mer, kalau belum bisa baik sama Tuhanku. Dan menutup aurat itu sudah seharusnya menjadi kewajibanku.” Aku menyentuh pahanya, mencoba memberi pengertian.

“Kamu enggak terpengaruh oleh siapa pun, kan? Kemarin kamu dari mana? Aku cuma takut kamu ….”

Kalimatnya terhenti. Dia diam sambil menatapku dalam.

“… menjauhiku,” imbuhnya.

Aku cukup kaget dengan apa yang dia katakan. Aku memilih untuk memeluknya. “Enggak akan ada yang meninggalkanmu, Merlin.” Aku melepaskan pelukan. “Yang ada, aku meninggalkan kebiasaan burukku. Meninggalkan pakaian-pakaian pendekku. Ini juga enggak mudah untukku, Merlin. Tapi aku percaya nanti juga terbiasa.”

“Kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku enggak ada hak untuk mencegah. Lagian juga itu bagian dari bentuk taat kepada Tuhanmu.” Dia tersenyum lebar. Aku pun demikian.

Aku sudah benar-benar mantap dengan pilihan ini. Ibuku sangat bahagia begitu aku memberitahu kabar gembira ini pagi tadi.

Aku terbangun, selalu setiap mata ini terbuka yang pertama kali kulihat adalah wajah Ibu.

“Bangun, salat Subuh,” ucapnya lembut.

Aku berusaha untuk duduk. Menatap kedua mata yang sangat teduh. Aku menyentuh punggung tangan beliau. “Bu … Lulu mau pakai jilbab.”

“Apa?”

Aku mendekat ke telinga beliau, lalu berbisik, “Lulu mau pakai jilbab.”

Beliau menutup bibirnya mendengar ucapanku. Pasalnya sejak aku pertama haid beliau selalu menyarankanku untuk berjilbab kalau keluar rumah.

“Alhamdulillah,” Ibu memelukku, “akhirnya kamu mengerti kodratnya seorang wanita muslimah, Nak. Setidaknya beliau akan jauh lebih tenang dengan pilihanmu.” Ibu melepaskan pelukannya.  “Karena satu langkah kamu keluar tanpa menutup aurat, satu langkah pula ayahmu masuk neraka.”

Ayah semoga engkau bahagia di alam sana. Aku ditinggal pergi oleh Ayah sejak SD kelas enam. Beliau mengalami kecelakaan sepulang mengantarkanku. Jadi, selama ini hanya aku dan Ibu. 

Kali ini aku benar-benar menyesal karena telah mengabaikan pesan Ibu. Pantas saja Ibu enggak pernah bosan mengingatkanku akan hal itu.

“Terus gimana kalau kita mencari jilbab untukmu? Nanti ada dua deh dariku,” ucap Merlin setelah beberapa saat kami berada dalam pikiran masing-masing.

Aku memenuhi ajakannya. Lagian untuk pakaianku sekolah saja belum ada. Mau tidak mau, aku harus membongkar celenganku. Aku menggambil celengan tanah liat berbentuk ayam yang ada di meja belajar. Merlin tersenyum melihatku. Dengan mengucapkan basmalah aku memecahkan tabungan yang sudah aku kumpulkan sejak dua tahun belakangan ini.

Kini aku telah menjadi Lulu yang baru. Cewek yang biasanya keluar dengan rambut tergerai, sekarang ada selembar kain yang menutupnya. Cewek yang salat masih semaunya, harus membiasakan untuk salat lima waktu. Aku sudah siap dengan segala tanggapan orang-orang tentang diriku.

Aku bersyukur Allah telah mempertemukanku pada sosok Habil, sebab karena cowok itu telah mengingatkanku melalui potongan kertas yang dia berikan. Aku beranggapan, ya dari sini cara Allah untuk memberikanku hidayah. Sebab, pesan Ibu sudah berkali-kali terdengar, namun sedikitpun tidak menggugah jiwa ini.

Karena menurutku hidup itu berproses, dan ini jalanku untuk menuju ridha-Nya. Semoga aku bisa tetap bertahan dengan pilihanku.

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan