Ilustrasi dari Ugetuget

Gagal Nikah (Eh Wisuda) Gara-Gara Lelet Skripsi? Baca Dong Tulisan Ini.

Dulu, zaman saya kuliah sekitar tahun 2006, skripsi menjadi salah satu masalah yang meresahkan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang harus menunda bekerja karena belum lulus kuliah. Banyak juga yang menahan untuk segera menikah gara-gara belum lulus kuliah. Ada juga yang rela meninggalkan cowoknya untuk menikah dengan orang lain, karena yang ditunggu belum juga kelar kuliah. Ganjalan mereka hanya belum menyelesaikan skripsi. Nyeseg, kan?

Apa zaman sekarang juga masih seperti itu? Semoga saja enggak. Mahasiswa zaman sekarang kan pintar-pintar. Banyak fasilitas yang memudahkan untuk mengerjakan skripsi. Laptop, internet, buku, jurnal online, dan lain sebagainya. Bahkan diam-diam ada jasa ghostwriter penulisan skripsi. Serius, bahkan sampai ada program pembimbingan menghadapi ujian. Peluang bisnis yang cerdas?

Meskipun demikian, enggak semua mahasiswa tergoda dengan layanan jasa macam begitu. Banyak mahasiswa yang punya prinsip mulia untuk menyelesaikan skripsinya sendiri. Banyak pula mahasiswa yang lebih menghargai duit jatah bulanan untuk makan ketimbang untuk bayar ghostwriter. Namun, ada penyakit yang ternyata telah menjangkiti para mahasiswa di masa-masa skripsi. Penyakit kronis, sebut saja pemulung paragraf.

Tinggal cuplik paragraf sana-sini kumpulin jadi satu draft. Biar kelihatan beda, ambil dari beberapa buku, jurnal, artikel, dan skripsi orang lain. Enggak butuh waktu lama pasti sudah bisa tersusun naskah skripsi setebal ratusan halaman.

Tetapi saya yakin zaman sekarang perilaku mahasiswa sudah lebih terhormat. Jelas malu banget kalau mahasiswa zaman sekarang bikin skripsi dengan cara ngumpulin paragraf penggalan teori dari beberapa buku tanpa diolah berdasarkan pemikiran. Atau malah nyuplik dari artikel internet, copas. Enggak banget, kan?

Akses informasi di internet yang tak terbatas, lengkapnya koleksi buku-buku di perpustakaan, juga perpustakaan digital saat ini bisa sangat memanjakan mahasiswa untuk wira-wiri. Enggak perlu memangkas jatah uang bulanan buat beli buku, utang teman buat fotokopi bahan, atau mati-matian menahan lapar demi menyisihkan uang untuk bayar rental.

Harusnya dengan fasilitas yang ada saat ini, hambatan dalam menyelesaikan skripsi bisa diminimalkan. Apalagi mahasiswa yang punya banyak duit, bisa bayar untuk bimbingan ekstra penyusunan skripsi tuh. Bisa traktir teman juga buat bantu penelitian. Jadi kalau ada yang masih belum kelar skripsinya, perlu ditelaah lebih jauh perihal kehidupannya. Hehe …

Apanya yang salah, jika skripsi enggak kelar-kelar dan belum juga lulus kuliah? Oke, mari kita uraikan.

Pertama, kemampuan mengenali kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri kita sendiri.

Seberapa jauh kita mengenali kelebihan diri kita? Seberapa paham kita dengan teori yang kita jadikan referensi dalam skripsi kita? Seberapa mampu kita membagi waktu antara mengerjakan skripsi dan menjalani hobi? Semua itu perlu kita kenali. Jika tidak, bisa jadi akan keteteran karena tidak menguasi pokok bahasan skripsi yang kita kerjakan.

Memahami kekurang dalam diri kita juga merupakan hal yang penting. Ketika kita tahu letak kekurangan, maka akan lebih mudah menentukan langkah perbaikan. Jika kita sudah tahu sangat lemah dalam olah data statistik, maka seharusnya kita minta bantuan yang ahli statistik untuk menyelesaikan permasalahan.

Andai kita tahu kelemahan kita adalah kurang paham editorial naskah skripsi, maka selayaknya kita segera belajar atau menggandeng pakar editorial tata bahasa tulisan.

Jangan asal pilih judul skripsi dan yang penting disetujui pembimbing saja, kita harus siap dengan konsekuensinya. Harus memastikan terlebih dulu sisi kelebihan dan kekurangan diri kita. Kemudian mulai mengerjakannya.

Oh, iya. Untuk menilai kelebihan dan kekurangan ini bisa jadi butuh orang lain untuk membantu. Kadang justru penilaian dari orang lain ini lebih obyektif dibanding penilaian kita sendiri.

Kata Aa Gym itu, “Kita butuh cermin untuk melihat kelebihan dan kekurangan dalam diri kita.”

Kedua, kesanggupan berkorban untuk meraih tujuan.

Setiap impian dan cita-cita selalu butuh pengorbanan untuk meraihnya. Jika mimpi itu terlalu mudah kita capai bisa jadi itu hanya mimpi yang biasa menjadi bunga tidur kita. Bukan sesuatu yang fundamental yang akan membuat perubahan besar dalam hidup.

Ada impian, ada pengorbanan, juga ada usaha untuk menjadi diri yang tangguh. Pantang menyerah meraih apa yang diimpikan. Termasuk dalam hal merampungkan skripsi. Lulus kuliah adalah impiannya, kehilangan waktu dan tenaga adalah pengorbanannya, senantiasa berusaha melawan kemalasan untuk segera mewujudkan skripsi sebagai syarat kelulusan.

Kalau pondasi impian sudah dipancang, jaga agar tidak kendor sedikit pun. Perkuat motivasi yang ada dalam diri kita. Hadirkan support dari luar diri kita, misalnya keluarga, sahabat, atau orang yang kita idolai untuk membakar semangat juang meraih impian kita.

Ketika hal ini bisa kita jaga, menjadi kebiasaan kita, maka karakter pejuang dalam diri kita akan terlihat. Kita akan menjadi pejuang yang tangguh. Persis seperti kata Aa Gym, “Pastikan karakter diri kita merupakan  sosok yang tangguh, memiliki visi dan sanggup berkorban untuk meraih tujuan.”

Ketiga, ingat, bahagiakan orangtua yang telah mendidik dan merawat kita.

Siapa sih orang yang paling bahagia menyaksikan kita lulus kuliah? Iya, orang tua. Saya saja melihat mata bapak berkaca saat menatapku diwisuda. Ibu beberapa kali mengusap air matanya karena menahan haru melihatku disumpah profesi. Tentu saja kelulusan saya merupakan perwujudan salah satu harapan mereka.

Itu hanya cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk membahagiakan orang tua. Tentu masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan. Kalau saat ini kita sebagai pelajar, atau mahasiswa, ya berusahalah untuk lulus dengan nilai terbaik. Kalau kita sebagai karyawan, ya bekerjalah dengan baik dan bahagiakan orang tua dengan hasil pekerjaan kita. Karena membahagiakan orang tua adalah hal yang mulia. Itu bisa mengantarkan kita ke surga.

Nah, itulah hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menguatkan kembali semangat kita untuk menyelesaikan skripsi. Kalau berjuang menyelesaikan skripsi saja kita tak mampu memberikan hasil yang baik, seharusnya kita malu pada orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Bisa jadi kita berjuang menyelesaikan skripsi untuk kepentingan dunia. Sedangkan berjihad, jelas tujuannya kehidupan akhirat. So, mari kita renungkan bersama hal-hal yang sedang kita perjuangkan saat ini.

Contohlah para pemuda Palestina. Ikrar cita-citanya tegas, “Hidup saya hanya untuk Allah! Tetesan air mata, keringat, pikiran, darah dan nyawa ini hanya untuk Dia semata.'” (Aa’ Gym)

Terakhir, renungkanlah ayat ini, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut [29]: 69)

Oleh: Seno Ners.

Referensi: Gymnastiar, Abdullah. Menggapai Derajat Ihsan, Penerbit Cahaya Iman, Bandung: 2008.

Sumber ilustrasi: Ugetuget.com.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan