Gara-Gara Cewek, Kenapa Persahabatan Harus Berakhir?

Ilustrasi dari Hipwee Photo.

“Kak Anwar, ayo cepetan tinggal ngomong aja susah bener,” kata Aprian yang masih asyik dengan gamenya.

“Ngomong apaan sih Pri?” tanyaku seolah-olah tidak paham dengan maksudnya.

“Kalau Kakak gak berani nanti aku loh yang maju,” jawabmu kemudian.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataanmu. Menganggap hanya candaan pemberi semangat agar aku lebih berani bicara.

Namanya Nadia. Karyawan satu divisi dengan kami. Berjilbab, cantik dan aku yakin termasuk anak yang pintar. Terbukti dari nilai IPK-nya yang berstatus cumlaude. Nadia orangnya sedikit pemalu, mirip seperti aku. Sehingga ada sedikit perasaan bahwa ini pasti jodohku. Hanya waktu yang nanti akan menjawabnya.

Hari itu aku menceritakan semuanya kepada Aprian. Ada rasa yang sulit diungkapkan untuk Nadia. Sebuah rasa yang membuat aku begitu sukar untuk sekadar berbasa-basi dengannya. Rasa yang mampu membelokkan perkataan ketika berpapasan dengannya. Mau bilang A malah terucap S, begitu pun sebaliknya.

Kamu pun begitu antusias mendengar semua ceritaku. Sambil tersenyum simpul, kamu langsung menyimpulkan bahwa aku suka sama Nadia.

“Itu tandanya cinta kak, udah langsung ta’aruf aja,” lanjutnya kemudian.

“Ta’aruf apaan, mau basa-basi aja susah bener,” kataku seolah tidak perduli.

“Hahaha, buruanlah  nanti diambil orang baru nyesel,” masih dengan berapi-api kamu memberikan semangat.

“Nantilah, aku pikir-pikir dulu,” jawabku.

Hampir setiap hari kata-kata semangat selalu keluar dari mulutmu. Buruan, kapan lagi, jangan malu-malulah, cuek saja, langsung nikah saja biar selesai urusannya. Kata-kata itu yang selalu kamu ulang. Entah itu di mess atau di ruang kerja. Aku hanya terdiam mendengar kata-katamu. Aku bukan tipe orang sepertimu. Cuek dan santai menghadapi segala sesuatu. Mungkin sifat seperti inilah yang perlu aku tiru darimu. Sehingga timbul sedikit kebaranian untuk berbicara kepada Nadia.

Segala cara dilakukannya. Bahkan sampai rela mengeluarkan uang untuk mentraktir makan. Awalnya aku senang-senang saja dapat makan gratis. Rezeki kenapa harus ditolak. Ketika sampai di warung makan ternyata di situ sudah ada Nadia. Mau balik lagi malu, mau dilanjuti malah jadi salah tingkah. Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan semua ini. Ternyata ini rencananya.

Terlepas dari semua itu, aku bersyukur mempunyai teman yang selalu memberikan semangat. Walaupun aku masih belum berani untuk berbicara langsung dengan Nadia. Setidaknya komunikasi melalui handphone sudah aku lakukan. Lumayan sering mengirimkan pesan-pesan singkat kepada Nadia.

Hingga tibalah saat itu. Sabtu siang, pulang dari kerja kamu mampir ke messku. Sambil melepaskan baju karena kepanasan kamu mulai bicara.

“Maaf kak Anwar, semalam aku jalan sama Nadia,” katamu dengan cueknya.

Kamu terus berbicara seolah-olah hal itu tidak berarti bagiku. Saat itu  aku juga nggak tahu harus bilang apa. Mulut serasa terkunci. Dada berdebar-debar cepat. Nafasku memburu. Emosiku hampir mencapai puncaknya. Tetapi dalam hati hanya mengucapkan tahan emosi Anwar.

Aku lebih terdiam lagi, ketika kamu mengatakan bahwa Nadia itu tambah cantik dengan memakai rok panjang. Selama ini, Nadia selalu menggunakan calana panjang untuk bekerja. Akhirnya aku keluar dari mess. Berusaha mencari tempat yang memberikan ketenangan. Sampai masjid pun belum mampu memberikan ketenangan kepadaku. Apa ini rasanya menahan amarah yang tidak dapat dilampiaskan?

Saking noraknya, perselisihan ini berlanjut ke media sosial. Melalui status-status yang memuakkan saling menyindir satu sama lainnya. Tidak menyangka ternyata aku juga ikut-ikutan melakukannya.

Masalah ini sangat menggangu tidurku. Hampir setiap malam aku susah untuk tidur. Tetapi satu hal yang tetap membuatku selalu bersyukur. Bahwa nafsu makanku tidak berkurang sedikit pun. Alhamdulillah, Allah masih memberi kenikmatan dalam sebuah permasalahan.

Harusnya cukup tiga hari tetapi hampir enam bulan tidak ada tegur sapa diantara kami. Hanya karena kerjaan saja kami akhirnya berbicara, selepas itu tidak ada sama sekali. Lebaran Idul Fitri pun hanya jabat tangan basa-basi yang kami lakukan. Semuanya terasa begitu tidak nyaman. Apalagi ketika melihatmu pulang berdua walaupun diiringi oleh teman-teman yang lain. Huhh!!! Rasanya itu loh, bukan cuma sakit di hati.

Enam bulan aku memutuskan tali silaturahmi. Selama itulah aku mencoba memperbaiki diri. Menginjak bulan ke enam sampailah aku pada Al-Qur’an surah Muhammad Ayat 22 dan 23 yang artinya:

Maka apalah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya telinga mereka.

Ternyata kesalahan itu bukan cuma terletak pada Aprian. Toh, aku juga salah. Terlalu banyak pertimbangan, padahal wanita hanya butuh kejelasan. Terakhir, ketika aku diingatkan arti silaturahmi. Rasanya jleb banget. Jika ada masalah dengan saudaramu, maka selesaikan masalah itu bukan memutus silaturahminya.

Tidak semua masalah akan berakhir dengan kekecewaan. Aku belajar untuk melihat sebuah masalah dari sudut pandang positif. Mata pelajaran yang tidak akan aku dapatkan dibangku sekolah. Belajar mengelola emosi dengan jalan yang terbaik. Selanjutnya arti dari sebuah harapan kepada manusia. Sehingga siap untuk menerima kekecewaan.

Mungkin jika dengan orang lain aku tidak terlalu peduli. Tetapi ini, ah sudahlah. Hidup harus terus berjalan. Setiap orang berhak atas pilihannya. Aku pun berhak atas hidupku. Mengikhlaskan dan memaafkan bukanlah hal yang mudah. Tetapi bukan juga hal mustahil untuk dilaksanakan. Aprian walaupun melakukan kesalahan tetaplah sebagai sahabat yang pernah ada. Hingga akhirnya, kami kembali berdamai. Dilanjutkan dengan menerima undangan pernikahan Nadia dengan orang lain.

Oleh: Khoiril Anwar.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan