Gara-Gara Utang 85 Ribu, Akun Diblokir Teman

Duh, gimana coba rasanya dikhianati oleh orang yang kita percaya? Kaget, tidak percaya, sampai sakit hati bukan? Itulah yang baru-baru ini dialami oleh teman saya (sebut saja Si R ya). Hanya gara-gara utang 85 ribu, akun fesbuk Si R ini diblokir sama temannya.

Tapi tunggu dulu, anehnya ya, bukan Si R lho yang punya utang, melainkan temannya! Ya benar sekali. Temannya yang punya utang ke Si R, tapi malah Si R yang diblokir. Gokil kan? Hehehe …

Di akun fesbuknya, baru-baru ini Si R menulis seperti ini:

Hanya gara-gara utang 85K, seorang teman memblokir akun FB dan WA saya. Dia pikir, saya tidak bisa melacaknya, hehe.

Kalau saja saya orang jahat, saya bisa merusak reputasinya. Resi pengiriman buku itu masih saya simpan, tertera alamat lengkap plus nomer HP. Tetapi saya tak mau culas, uang tak seberapa kenapa harus merusak pertemanan?

Saya ikhlas, sungguh. Alhamdulillah Allah sudah menggantinya, lebih dari itu. Tapi jujur agak mangkel juga kalau gara-gara uang yang tak seberapa malah diblokir.

Gusti Allah, paringono sabar.

Wah, tentu saja postingan Si R ini menuai banyak komentar. Secara Si R ini penulis novel yang lagi naik daun. Saat tulisan ini saya tulis saja, yang ngelike postingan itu sudah sampai 213 kali. Komentarnya macam-macam, seperti komentar kaget tentu saja, seperti ini, “Yang utang dia? Trus dia y blokir mas?”

Ada juga teman Si R yang agak mangkel memberi komentar, “Udah ngutang, diikhlasin, dapet buku gratis, malah blokir. Gak tau diri tuh, Mas.”

Dan ada pula memberi saran kepada Si R, “Pun. Njih. Besok-besok, mau dekat atau setengah dekat, ada uang antar barang. Kalau sudah transfer, baru kirim bukunya. Kita yang jaga diri biar hal kek gini gag terulang lagi.”

Begitulah, masih banyak lagi komentar lainnya. Oh ya, kasus ini bermula ketika Si R—yang dikenal sebagai seorang penulis novel remaja—terbit novel/buku barunya. Seperti biasa, setiap buku terbit baru, ia pun mempromosikan di akun fesbuknya. Lalu teman-temannya pada pesan. Dari sinilah masalah muncul, ketika sebagian teman memesan secara online dan memberikan alamat kirim mereka, Si R ini bersepakat untuk mengirim paket bukunya terlebih dahulu. Salah satunya nilai tagihannya Rp 85 ribu itu.

Memang sih, biasanya orang pesan buku itu harus bayar dulu, baru bukunya dikirim. Tetapi Si R sudah percaya kepada teman-temannya. Kalau teman sudah memberikan alamat kirim, ia langsung memproses. Itu pun dilakukan karena sekali kerja membungkus buku dan sekali jalan ke tempat pengiriman barang. Dan teman-teman lainnya yang pesan buku, pasti membayar setelah mereka mendapatkan bukunya. Itu biasa terjadi, tapi kasusnya jadi lain ketika bertemu dengan temannya yang satu itu. Tagihan senilai 85 ribu tidak dibayar, malah akun Si R yang diblokir.

Saat saya tanyakan kepada Si R melalui kontak pribadinya, “Apakah sudah ditagih melalui WA sebelum diblokir?”

“Ya,” jawab Si R, “via fesbuk dan WA juga.” Akhirnya diblokir semua.

Ini bukan bermaksud ghibah, kita tidak mau bicarakan orangnya siapa, melainkan belajar dari kejadian ini. Karena dari kasus ini, setidaknya kita dapat pelajaran penting. Pertama, memang kalau mau jualan online, baiknya kita menunggu uang masuk dulu, baru barang kita kirim. Biasalah orang bisa ramah diawal, tapi tidak tahu nantinya seperti apa, kan?

Kedua, alangkah baiknya kalau punya utang sebisa mungkin dibayar. Setidaknya jangan sampai ditagih-tagih terus. Karena kewajiban orang berutang itu memang harus terus mengingatnya dan membayarnya. Jangan ingat saja, tapi bayar ogah-ogahan. Duh.

Kalau memang kepepetnya tidak bisa membayar, ya sudah minta keikhlasan dari orang yang mengutangi secara baik-baik. Seperti menghubunginya dan bilang, “Maaf nih Sob, diluar dugaan gue, ternyata keluarga gue dapat musibah. Jadi uang yang gue pinjem kemarin itu belum bisa gue balikin. Dan gue lagi seret rezeki ini, andai boleh sih, tolong ikhlasin aja dong utang gue. Boleh nggak?”

Ketiga, sangat disayangkan sih kalau hanya gara-gara uang lalu pertemanan jadi ribet begitu. Jadi berantakan, berantem, dan jadi musuhan. Kalaupun tidak musuhan, kenapa gara-gara utang uang jadi terputus silaturahminya?

Oh jangankan pertemanan, zaman now ini memang ngeri. Gara-gara uang juga saudara kandung saling bertengkar, anak bisa durhaka sama orangtua, dan kegilaan lainnya yang timbul lantaran konflik uang. Duh, lagi-lagi karena uang.

Padahal ya, kalau kita akur-akur saja, insyaallah rezeki justru bakal mengalir deras lho. Yakin aja, kalau silaturahmi itu bakal memperlancar rezeki. Jadi kalau memutus silaturahmi ya bakal bikin seret rezeki, kan?

Oke deh, begitu saja sekilas info kali ini. Semoga ke depannya kita bisa sama-sama hati-hati menjaga hati, sama-sama menjaga pertemanan, enak-enakan dalam kerja sama apa pun, dan bisa saling menguntungkan, bukan malah buntung. Oke?

Nah, sekiranya tulisan ini bermanfaat, silakan dishare.

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Tinggalkan Balasan