Gimana Sih Caranya Bergaul Sama Anak Nakal?

Hidup selalu dianggap sulit oleh orang-orang negatif, tetapi dianggap menantang bagi orang-orang positif.” (Unknown)

Banyak sakali remaja-remaja yang sudah salah pergaulan dengan anak-anak yang ada di luar sana. Apalagi kurangnya pengawasan dari orangtua dan kurangnya kasih sayang menjadi salah satu pemicu terjadinya salah pergaulan. Maka tidak sedikit dari orangtua yang tegas terhadap anaknya agar anak punya mental yang tangguh.

Apalagi di era sekarang ini, sangat marak anak yang kepribadiannya rusak dikarenakan pengaruh negatif. Entah apa yang dipikirkan anak-anak di era sekarang ini. Sehingga terjerumus dalam aktivitas yang bisa merusak masa depannya sendiri.

Saya sendiri pas di kampung punya banyak teman, mulai yang baik sampai yang nakal. Nah berikut ini ada beberapa hal yang bisa membuat kita terhindar dari pergaulan negatif:

Pertama, jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri begitu penting saat berkumpul dengan anak-anak yang nakal. Saat kita sedang berkumpul dengan anak-anak yang nakal, biasanya secara otomatis kita akan mengikuti kehidupan mereka. Maka bagi saya, yang terpenting menerapkan kejujuran pada diri sendiri.

Contoh kejujuran yang saya lakukan pada saat berkumpul dengan teman yaitu jika di dalam hati saya berkata tidak, maka saya bilang tidak kepada teman saat ditawari minuman keras misalnya.

Saat saya bilang seperti itu, respon dari teman memang awalnya masih maksa, tapi 1 kali sampai 2 kali saya tolak akhirnya dia pun mengerti atas kejujuran saya tadi untuk tidak mengikuti apa yang ia lakukan.

Kedua, memegang erat prinsip agama. Ketika anak keluar rumah tanpa pengawasan orangtua, kebanyakan anak akan melakukan hal-hal yang sekiranya membuatnya bahagia, tapi terkadang apa yang dilakukann itu melebihi batas. Nah, bagaimana jika di dalam kumpulan anak-anak nakal itu ada salah satu anak yang tidak ikut nakal? Iya sih saya tahu, walaupun tidak nakal kalau kumpul sama anak yang nakal ya kita juga akan dinilai nakal.

Yang saya alami sering kali saat saya kumpul bersama anak-anak di tetangga desa, saya sering ditawari minuman yang nggak jelas. Tapi saya tetap memegang erat prinsip agama. Kalau saya ditawari, saya tetap menolaknya. Pada akhirnya, keesokan harinya, jika kita ngumpul lagi, mereka sudah paham kalau saya tidak mau minuman yang seperti itu.

Ketiga, ikut gabung tapi tidak tergabung. Apa maksudnya ya? Yang dimaksud itu kita berkumpul sama anak-anak-anak nakal, mereka ada acara ini dan itu kita gabung saja, kita ikut main, tapi tidak mengikuti apa yang mereka lakukan. Semisal ada masalah di luar saat saya dan teman-teman masih nongkrong sampai larut malam. Kemungkinan besar saya masih lolos atas masalah tersebut.

Dulu waktu saya ikut kumpul sama anak-anak di kampung, mereka kebiasaannya keluar malam. Nah pada waktu itu saya baru sekali gabung malah kena omel. Katanya kalau pada main malam, pada inilah pada itulah. Tapi saya bilang sama orang yang marah-marah, saya baru kali ini bu ikut main malam, kalau nggak percaya tanya sama anak yang lain. Setalah itu si ibu bertanya sama anak yang lain dan percaya. Ya seperti itulah saya berteman dengan anak yang baik dan juga berteman dengan anak yang nakal.

Keempat, saling menghargai. Di mana pun tempatnya jika kita bisa saling menghargai, itu bisa membawa kita pada situasi yang aman. Yakni tidak merusak pribadi kita dengan cara apa pun. Saya juga menerapkan hal itu di manapun tempatnya.

Saya punya banyak teman yang suka mabuk, tapi saya sendiri alhamdulillah tidak pernah kemasukan minuman semacam itu. Tapi jika saya bergaul sama teman saya yang mabuk, besar kemungkinan dia akan menawari saya. Karena saya menghormatinya, dan dia juga menghormati saya yang tidak suka mabuk.

Ya bagi saya, walaupun dia pemabuk, tapi tujuan saya hanya satu saja: mencari saudara. Nah, saya selalu tanamkan benih kebaikan kepada semua sebisa saya, ya biar nanti suatu saat kalau saya lagi terkena musibah, saya akan memetik hasil kebaikan tersebut.

Kelima, menjaga ucapan. Namanya ucapan itu lebih tajam dibandingkan pedang, begitu kata orang. Usahakan sebaik mungkin, kita mengendalikan ucapan kita, apalagi kita hidup di antara anak-anak nakal. Namanya anak nakal jika tersinggung sedikit saja dia tidak akan segan untuk menyakiti teman yang menyinggungnya.

Iya menurut kita ucapan kita biasa saja, tapi menurut yang mendengar itu sangat menyinggung apalagi teman kita sudah terpengaruh minuman tidak jelas. Ya kalau kata ibu saya sih menjaga lebih baik dari pada mengobati.

Seperti pengalaman saya yang terjadi waktu saya masih duduk di SMA kelas 10. Saya awalnya diejek sama teman, saya masih sabar dan terus bersabar. Tapi lama-lama sepertinya batas kesabaran saya sudah habis. Karena omongannya yang sangat menyinggung hati, akhirnya saya balas juga dengan omongan yang menyinggung juga.

Eh, malah dia yang tidak terima dan akhirnya ngajak berkelahi. Ya saya layani karena posisi saya benar pada waktu itu. Dan terjadi perkelahian dengan tangan kosong. Tapi saya sempat dikeroyok juga. Dia mengajak teman dari kelas saya sendiri, dan teman dari kelas sebelah.

Kurang lebih 5 menit perkelahian itu terjadi, lalu saya menghindar karena dikeroyok. Keesokan harinya, teman saya tidak masuk sekolah. Lalu lusanya dia baru masuk sekolah dan pada hari itu dia baru sadar kalau menjaga lisan itu sangat penting.

NB: Tapi ingat-ingat ya, kalau kamu tipe orang yang mudah terpengaruh sama ajakan teman, jangan sekali-kali mencoba bergaul yang nggak bener. Karena sekali dua kali kamu bisa menghindar untuk tidak berbuat maksiat, tetapi bisa saja di waktu lain kamu lengah dan terjerumus juga. Ingat kata Bang Napi,  “Waspadalah … waspadalah ….”

Oleh: N. Yudhi S.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan