Sebagai penulis, saya memang tidak sehebat Mas Tasaro GK, tidak setenar Bang Tere Liye, dan tidak seproduktif Mas Ken Hanggara, tetapi entahlah selalu saja ada temen yang inbox nanya, “Mas, gimana caranya biar konsisten menulis?”

Kalau mendapat pertanyaan seperti itu, beberapa kali saya sampaikan, “Coba tanya ke Mas Ken Hanggara, dia produktif banget. Atau juga ke Mas Tasaro GK ya.”

Tapi masih ada yang bilang, “Saya maunya tips dari Mas Dwi, kok.”

“Oh gitu, tapi sependek pengalaman saya ya,” jawab saya kemudian, “saya akan tulis agak panjang dan nanti bisa dibaca di web Trenlis.co.”

Nah, karena itulah saya menulis tips sederhana ini. Barangkali bisa bermanfaat buat siapa saja yang pengin serius jadi penulis. Meski kamu tidak pengin menjadi penulis profesional—sekadar hobi saja—semoga tips ini bisa membuatmu lebih semangat menulis ya:

Milikilah alasan yang kuat kenapa kamu harus menulis?

Ya, alasan. Tanpa punya alasan yang kuat, kita bakal sering lesu dan bersembunyi di balik bad mood. Maka sejak awal, bertanyalah pada diri sendiri, “Kenapa sih aku harus merampungkan tulisan ini?”

Misalnya, saya merampungkan naskah setebal 280 halaman karena merasa gelisah ketika sibuk bekerja sampai tidak bisa beribadah dengan khusyuk dan menjadi tidak dekat dengan keluarga. Karena itulah, lahir buku Ubah Lelah Jadi Lillah.

Alasan untuk menulis itu, secara batin selalu bisa ditandai adanya kegelisahan. Ya, gelisah tentang sesuatu yang akhirnya mendorong kita untuk menuliskannya. Semakin besar rasa gelisahnya, maka kita akan dengan mudah menuliskannya. Jadi kalau kamu sering malas menulis, bisa jadi kamu tidak punya alasan yang cukup kuat untuk merampungkan tulisan tersebut.

Milikilah me time—waktu menyendiri.

Untuk apa menyendiri? Untuk kontemplasi. Saya dengar banyak penulis yang berhasil membuat konsep tulisan—yang di dalam pikirannya—selama di kamar mandi. Kok saya nggak bisa ya? He.

Saya lebih tenang menyendiri di masjid. Saya gunakan waktu habis shalat berjamaah untuk duduk sendirian di masjid. Ya sekadar duduk saja, nanti tiba-tiba ada lintasan ide-ide di pikiran dan bisa merangkai ide saat itu juga.

Nah, coba kamu menyendiri. Cari tempat dan waktu yang cocok untuk merangkai ide kamu yang masih ada di dalam pikiran (mematangkan ide sebelum menuliskannya). Bisa jadi satu orang dengan orang lain akan berbeda waktu dan tempat untuk berkontemplasinya.

Ini benar-benar bagian yang paling asyik ketika menjadi seorang penulis. Sebab, memang beda lho ide mentah yang langsung dituliskan dengan kualitas ide yang telah melalui tahapan kontemplasi ini. Beneran. Tingkat kematangan idenya berbeda dan jangkauan imajinasinya juga berbeda. Coba saja.

Coba perhatikan, kapan kamu merasa asyik menulis?

Ya, ada penulis yang rutin menulis habis Subuh, ada pula yang menulis malam hari. Jadi setiap penulis memang beda-beda waktu menulisnya. Tetapi bedanya, kalau yang lagi belajar menulis biasanya menunggu mood dulu, sedangkan yang sudah terlatih menulis bisa punya jadwal sendiri.

Saya sendiri paling nyaman menulis ketika pagi hari, dan kesulitan menulis ketika siang (cocoknya untuk tidur siang sih, hehehe). Terus malamnya, saya juga biasa menulis mulai jam delapan sampai maksimal jam duabelas malam. Dulu sih bisa sampai pagi, tapi sekarang saya tidak suka begadang lagi.

Jadi coba cek diri kamu sendiri, “Asyiknya nulis itu jam berapa ya?”

Nah, rutinkan menulis pada jam-jam itu. Yakni waktu yang paling pas dan nyaman. Kalau sudah rutin, rasanya asyik dan enak-enak saja. Ketika kamu sudah punya waktu khusus untuk menulis, yakin deh urusan produktif menulis itu sangat mudah sekali.

Cari dan milikilah gaya menulismu sendiri.

Meski butuh waktu dan proses, kita akan enjoy menulis kalau sudah ketemu gaya menulis yang pas dan cocok dengan diri kita. Rasanya nanti nggak ada beban ketika kita menulis. Enjoy sekali. Maka sejak awal, cobalah berbagai bentuk tulisan, dan pilihlah tulisan seperti apa yang paling cocok dengan diri kamu sendiri?

Awalnya memang, kita pengin menulis sesuai gaya penulis idola, tapi kalau ternyata gaya menulisnya tidak nyaman ya sebaiknya jangan dipaksakan. Percaya dirilah dengan gaya tulisan kita sendiri, karena yang terpenting untuk konsisten menulis itu adalah kita bisa enjoy (flow) saat menulisnya.

Tulislah apa yang kita kuasai dan benar-benar kita ketahui.

Mulailah menulis dari ide, tema, atau bahasan yang benar-benar kita kuasai. Jangan memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang di luar jangkauan kita. Karena kita akan nyaman kalau menulis segala hal yang dekat dengan diri kita sendiri.

Dengan begitu, kita akan cukup data untuk menulis, dan bisa menuliskannya dengan lebih detail dan lebih matang.

Bagaimana jika ingin berinovasi dalam menulis? Ya bisa saja dengan melakukan riset terlebih dahulu. Namun, jangan sampai tenaga, waktu, dan pikiran justru habis saat riset.

Atau setelah riset, kita justru merasa tidak percaya diri untuk menuliskannya. Intinya, jangan sampai kita terlalu repot ketika ingin menulis.

Untuk mengikuti lomba menulis misalnya, ya jadilah dirimu sendiri. Lihat sendiri potensimu dan apakah kamu mampu menulis sesuai tema yang diberikan oleh panitia lomba? Jadi memang mengukur diri sendiri itu sangat penting sebelum kita menulis. Sehingga, aktivitas menulis tidak akan menjadi beban.

Bagaimana cara menjaga mood?

Hemat energimu. Selama beraktivitas, otomatis kan kita mengeluarkan energi yang besar. Nah, hematlah energi itu. Jangan sampai kita mengeluarkan energi dengan sia-sia. Seperti marah-marah ketika berada di jalan raya, marah-marah sama anggota keluarga, atau marah-marah karena berdebat di sosial media. Jadilah penulis yang cerdas secara emosi.

Dengan menjaga energi sendiri, kita akan punya kesegaran suasana hati dan pikiran. Kalau bukan kita sendiri yang menjaganya, lalu siapa lagi?

Jagalah kewarasan pikiran dan perasaan dengan tidak nimbrung pada sesuatu yang tidak bermanfaat. Jauhi perdebatan yang tak ada habisnya hanya menguras pikiran.

Jadi, cara terbaik menjaga mood menulis itu dengan menjaga energi dalam diri kita sendiri—sehari-hari. Sebab untuk menulis saja kita butuh energi yang besar, kan?

Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa bertahan menjadi penulis—tidak sekadar menulis sebagai hobi saja?

Nah, untuk menjawab pertanyaan yang terakhir ini, sepertinya akan butuh penjelasan yang lebih panjang dan lebar ya. Hehehe. Jadi nanti ya kalau pas selo saya tuliskan lagi.

Sekarang, yang penting semua kiat di atas itu bisa dicoba dulu sampai kita konsisten menulis. Sebab, yang namanya penulis itu ya mereka yang menulis, bukan cuma rajin nanya melulu. Hehehe ….  

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: