Dulu banyak orang mendaftar D3 karena setelah lulus akan ditempatkan menjadi CPNS. Aku sudah lulus kenapa tidak ada kabar penempatan. Bersama Mbak Uji aku beranikan diri bertanya ke bagian Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan IKIP Semarang. “Lulus tahun berapa mbak?” petugas BAAK mencoba menemukan list namaku di antara alumni.

“1992” jawabku.

“Oh, yang lulus tahun 1989 saja belum penempatan semua. Ditunggu saja ya Mbak,”

Duh menunggu sampai kapan ya. Menjadi pegawai negeri memang salah satu impian bagi kami para alumni sekolah calon guru. Mungkin karena jumudnya pemikiran kami atau sudah demikian mindset yang masuk di otak kami. Meski ada juga yang terang-terangan menolak karena kecilnya gaji pegawai negeri saat itu.

Sebenarnya begitu lulus aku sudah langsung dipinang untuk mengajar di sebuah SMP swasta.  Sekolah yang terletak di kampung dan berdampingan dengan komplek pekuburan itu hanya memiliki tiga kelas. Ini berakibat pada honor yang kuterima tiap bulannya. Kecil? Pasti. Bersyukur? Tentu.

Aku sudah tak lagi terpaku pada kata “CPNS”. Menjalani tugas harian mengajar kemudian dapat memberi sebagian honor untuk ibuku tercinta sudah terasa nyaman dan memenuhi hari-hariku.

Namun karena aku masih punya tiga adik yang harus aku bantu sekolahnya sedikit uang yang kuberikan pada ibuku ternyata tak sebanding dengan pengeluaran. Aku pun mencoba menerima tawaran tetanggaku untuk memberi les pada anak-anak tetanggaku.

Waktu itu tahun 1994. Selain mengajar di SMP aku juga mengajar di SMA swasta yang terbilang gemuk. Honorku pun sudah lumayan. Tiba-tiba Bulik yang dulu aku nunut tinggal bersamanya saat kuliah berkunjung ke rumah. Bulik membawa lembar pengumuman penerimaan CPNS guru secara besar-besaran untuk semua jurusan. Seribu enam ratus formasi yang disediakan oleh Kanwil P dan K Jawa Tengah. Semangatku kembali tergugah.

Esok paginya aku sebar berita tersebut kepada semua teman di sekolahku yang baru kusambangi selama setahun itu. Berbondong-bondong kami mendaftarkan diri di kantor departemen P dan K Kabupaten. Kartu Kuning pencari tenaga kerja yang dikeluarkan dinas tenaga kerja pun harus dilampirkan. Praktis kami harus bolak balik di kedua kantor itu. Belum lagi bila persyaratan kami tak lengkap. Pulang ke rumah dengan angkot sudah pasti menjadi pilihan utama.

Sanah temanku yang kebetulan satu almamater dari SMP hingga perguruan tinggi bahkan mengajar di sekolah yang sama pun turut serta dalam perhelatan pendaftaran akbar CPNS ini. Bahkan dia bermaksud menginap di rumahku untuk belajar bersama.

Wow aku tersanjung. Apalah aku sampai tergiur untuk belajar denganku. Memang aku banyak membeli soal-soal tes yang kebetulan diperjualbelikan di depan kantor tempat kami mendaftar. Aku hanya ingin tahu gambaran soal untuk tes CPNS ini, maklumlah ini kan pengalaman pertama.

Sanah pun menginap di rumahku. Aku biarkan dia membaca soal-soal yang sudah penuh dengan isian jawaban dari yang empunya pertama. Aku tidur-tiduran. Begitu Sanah tidur yes aku buka soal demi soal lalu kucari jawabnya di buku GBHN, UUD 45 untuk mencocokkan jawaban yang sudah dilingkari pada soal tersebut.

Waktu empat jam untuk mengerjakan soal cukup kuambil dua jam saja. Bokongku penat untuk duduk lama-lama. Aku hitung setiap jawaban dengan nilai yang kuperoleh. Hitunganku nilai rata-rataku adalah enam. Dengan penuh keyakinan aku pun merasa lulus. Bismillah semoga doaku dikabulkan.

Benar. Begitu pengumuman akulah satu-satunya guru di tempatku bekerja yang lulus dalam seleksi tersebut. Mbak Anik salah seorang yang tidak lulus merundungku. “Ini baru tes tulis, Bu. Nanti di sesi wawancara biasanya akan ditanya sanggup bayar berapa untuk bisa diterima. Yah paling tidak tiga juta lah.” Perasaanku cemas. Tiga juta. Ah masak tes CPNS kok bayar. Yaa Allah aku tidak punya uang sebanyak itu. Tapi aku percaya akan kuasa Mu. Hamba pasrahkan urusan ini pada Mu Yaa Robb yang Maha Memiliki Hidup dan Mati seseorang.

Hari tes wawancara tiba. Gemuruh di dadaku bercampur dengan hiruk pikuk lalu lintas di kota Semarang. Aku berkali-kali harus ke toilet untuk menenangkan segenap rasa di hati ini.

“Mbak, seandainya Mbak ditempatkan di luar Jawa apakah bersedia?” tanya penguji setelah menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga maupun hobiku.

Mungkin karena aku tak bisa berbasa-basi atau mengada-ada maka aku jawab ,”Iya Pak, asal di kota besar.”

Di luar dugaanku bapak itu malah menimpali.  ”Tapi Mbak pasti penginnya di dekat-dekat Semarang saja to?” Aku juga tak mengerti ini pertanyaan jebakan atau sungguhan.

“Iya pak,” jawabku sekenanya.

Bapak itu diam sambil membuat catatan di lembar penilaian peserta tes.  Kutunggu detik demi detik, menit demi menit.

“Ya sudah Mbak. Cukup.” Aku terbengong. Mana pertanyaan tentang uang yang harus kubayar untuk tes ini. Kenapa Mbak Anik memberi tahuku seperti itu.

Tiba saatnya pengumuman akhir sekaligus pengambilan SK. Alhamdulillah. Lulus. Dan aku mendapat penempatan di MTS N Kendal. Benar-benar dekat Semarang seperti apa kata bapak penguji.

MasyaAllah. Tidak ada yang tak mungkin bagi-Mu.

Oleh: L Ambar S.

 

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: