jangan gampang baper dan geer

Hai, Jangan Baper. Dunia Maya Tak Seindah Dunia Nyata!

Sepiring nasi pecel dan ayam geprek sudah terhidang di meja. Makanan yang aku dan Sari pesan pada jam istirahat kedua, siang ini. Aku sudah terlalu lapar dan tidak sabar menghabiskan pecel terenak se-kantin sekolah ini, sampai lupa berdoa ketika melahapnya. Kulihat Sari masih sibuk mengubah-ubah posisi ponselnya.

“Ngapain dipesan sih, kalo enggak dimakan gepreknya?” Tanyaku.

“Bentar dulu, nanti aku makan setelah dapat foto yang oke buat dipost ke ig story.”

“Ya ampun, geprek doang, Sar. Ngapain sih, pakai diposting segala?”

Aku terheran-heran, sudah lama sahabatku ini jadi pecandu instagram. Tapi, tetap saja banyak hal aneh yang membuatku tidak paham dengan kebiasaannya itu.

“Aku tuh mau kasih tahu kamu, Ken. Azwin itu selalu muncul, jadi viewers paling atas. Kamu enggak percaya kan? Aku buktikan setelah ini!” Jawab Sari penuh percaya diri.

Aku tidak ingin terlalu serius menanggapi omongan Sari soal Azwin. Menurutku, banyak hal yang lebih penting dibahas ketimbang mencari bukti-bukti atas prasangka Sari terhadap Azwin. Asumsi yang dibangun dari kebiasaan—atau kebetulan-kebetulan, menurutku—yang sering Sari temukan di media sosial.

***

Suatu hari, aku pernah menyaksikan Azwin duduk di halte bersama Mia, teman sekelasku di kelas X. Arah pulang mereka memang satu arah, tidak aneh memang melihat mereka menunggu bus yang sama. Tapi, yang membuatku merasa ada yang tak biasa diantara keduanya adalah cara mereka duduk bersebelahan. Kalau diukur, mungkin jarak keduanya sebatas satu jengkal, sementara bangku-bangku sebelah sepi. Kenapa harus berdekatan ketika banyak bangku kosong?

Ketika kuceritakan pada Sari, ia hanya menimpali dengan santai. Barangkali, soal ini ia hanya percaya pada prasangkanya sendiri. Bahkan aku yang sudah menjalin persahabatan selama hampir lima tahun, rasanya tak pernah bisa mengambil rasa percaya dari seorang Dewi Kartika Sari.

Kadang, aku merasa jadi sahabat yang nasihatnya tak pernah diterima oleh Sari. Tapi, kenapa aku masih bertahan menjadi sahabatnya, ya? Duh, pertanyaan ini lebih sulit daripada soal ulangan logaritma pekan lalu.

***

“Nikeeeen … lihat deh! Tuh, Azwin nge-love postinganku. Apa kubilang, dia itu perhatian banget ke aku. Duh, gimana ya, biar dia tuh enggak usah kode-kode di ig doang?” Sari mengagetkanku yang sedang membuka lembar kerja kimia, mempersiapkan ulangan harian di jam kelima nanti.

“Mending kamu ambil air wudhu aja, sana! Tobat! Kayaknya aku yang perlu nanya ke kamu, gimana sih, biar kamu enggak kepedean?” Aku ketus, agak terganggu dengan kemunculan perempuan berambut sebahu ini.

“Kamu kenapa sih, Ken? Sirik sama aku karena enggak ada yang naksir kamu? Makanya, kamu tuh enggak usah pakai jilbab dulu, masih muda juga. Yang fashionable gitu, lho.”

“Itu bedanya aku sama kamu. Aku enggak perlu berusaha fashionable untuk menarik perhatian orang lain, enggak capek juga nebak-nebak perasaan orang lain.” Jawabanku membuat Sari cemberut. “Lagian nih, hatiku aman dari sakit hati. Aku enggak mendekati hal-hal yang bikin aku patah hati, malah yang aku kejar prestasi.” Aku melanjutkan obrolan dengan santai.

“Ah kamu enggak asyik kalau diajak ngobrol soal cowok. Males, deh! Sekarang kan udah SMA masak iya sih kamu enggak bosan cuma belajar terus?”

Aku hanya menatap ke arah Sari dan mengernyitkan dahi sampai Sari pergi meninggalkanku dengan rasa kesal. “Huh!” Katanya sambil beranjak.

***

Dua hari ini, Sari mendiamkanku. Biasa, begitu kalau sedang marah atau kesal. Tapi, setelah tiga hari, biasanya dia akan mendingin. Takut dosa, mendiamkan sahabatnya lebih dari tiga hari. Halah, bilang aja deh, cuma aku yang betah jadi sahabatnya. Terlanjur sayang kayaknya kalau istilahnya orang pacaran. Hehehe.

Sejujurnya, aku ingin membantunya supaya sadar dan bisa memisahkan dunia nyata dengan dunia maya. Obsesinya untuk jadi selebgram dan merebut hati Azwin, membuatnya makin sulit lepas dari setan berbentuk instagram. Rasanya, prestasinya dicapai dengan love dan view dari Azwin, yang di dunia nyata, jarang sekali menyapanya. Bukti apa yang bisa memperkuat pernyataan kalau Azwin naksir sama Sari?

Tapi, sudah coba beberapa cara, termasuk berkirim direct message dengan Azwin yang pendiam itu. Pura-pura aja nanya acara pensi tengah semester nanti, Azwin kan panitia dari OSIS. Ternyata, dia itu memang ramah dan hobi menyebar likes di postingan orang lain. Aku yang waktu itu baru follow pun, tidak lepas dari serangan likesnya. Berarti kan, memang begitu orangnya.

Malangnya, Sari makin kegeeran dan menyangka Azwin meladeniku karena ingin dekat dengan Sari. Itulah peluru terakhir yang justru mental jauh, berbalik menyerangku sendiri. Cuma doa yang bisa kupanjatkan untuk sahabatku yang saat ini pengin banget punya teman spesial. Yang semakin lama, semakin suka dandan semenjak bergabung di ekskul cheerleader.

Lebih parah, Sari pernah posting foto OOTD pakai jilbab. Waktu itu, dia datang ke pengajian ke rumahku sebelum orangtuaku berangkat haji. Namanya juga instagram addict, beberapa pose—termasuk selfie dengan duck face—ia post dengan caption mode muslimah yang dia comot dari hasil berselancar di google. Azwin, jadi salah satu yang berkomentar “Bagus, cantik pakai jilbab” dan diakhiri dengan emoticon wajah yang menjulurkan lidah. Baiklah, aku mati kutu. Komentar itu, menaikkan tingkat kegeeran Sari ke level maksimal.

***

Sabtu siang, aku biasa saling tunggu dengan Sari di taman depan sekolah. Mengikuti ekskul yang berbeda, membuatku dan Sari menghabiskan hari Sabtu di ruangan berbeda. Kupikir itulah yang membuat Sari jadi sosok yang berbeda, terpengaruh oleh teman-teman di cheerleader yang punya gaya hidup berpacaran. Aku, sahabat karib sejak SMP, belum bisa menolongnya keluar dari jebakan batman tersebut.

Hanya menjelang ujian semester, Sari akan terus menempel padaku dan vakum sejenak dari kesibukan di luar akademik. Apalagi, kalau bukan belajar dariku agar nilai ulangannya bagus? Meskipun cara itu tidak selalu berhasil membuatnya meraih 10 besar di kelas. Wajar saja, belajarnya hanya menjelang ujian, sih.

Hari itu cerah, aku duduk meneguk sebotol air mineral. Kulihat Azwin mendekat, aku sedikit curiga. Apakah yang selama ini memang betul yang dipikirkan dan aku salah? Rasanya, aku tidak ingin memercayai pikiranku itu. Jangan tanya tentang Sari, please!

“Niken, kamu lihat Mia enggak?” Tanya Azwin

“Enggak, belum lewat sejak aku duduk di sini. Kenapa?”

“Eh, bantu aku dong. Nanti kalau dia lewat, suruh dia duduk di samping kamu ya. Aku mau ngobrol penting sama dia. Nanti kamu panggil aku, aku duduk dekat pagar situ, ya.” 

“Oke. Siap, bos!” Kuacungkan jempol ke arahnya. Azwin berjalan mengarah ke belakang pagar taman sekolah.

***

Tidak lama Sari datang, kebetulan sekali Mia berjalan di belakangnya. Ketika aku berdiri, Sari menggandeng tanganku, “Yuk, kita pulang,” Katanya. “Bentar, aku ada perlu sama Mia.” Kupanggil Mia dan memintanya duduk di bangku yang semula kududuki.

“Tunggu bentar ya, Mi. Ada yang mau ngomong penting sama kamu. Azwiiiin …” Sengaja aku berteriak agar Azwin dengar. Saat mataku melirik ke samping, kudapati ekspresi yang aneh tergambar di wajah Sari.

Azwin datang dengan sedikit berlari, lalu memilih duduk di samping Mia. Tangannya memegang boneka beruang lucu berpita merah jambu. Diserahkan boneka itu pada Mia yang kini tengah senyum malu-malu. Pipi Mia memerah. Azwin memberikan sebuah ucapan kepada Mia, “Selamat ulang tahun, pacarku. Hehe … “

Aku segera menarik tangan Sari, membawanya berjalan menjauhi mereka. Kulihat matanya berkaca-kaca.

“Sar, betul kan yang aku bilang?”

Sari diam, hanya terlihat gerak tangan kiri menyapu pipinya.

“Sudah, kamu terlalu jauh terperangkap layar handphone. Sekarang, balik ke dunia nyata ya? Kalau mau pacaran, nanti aja setelah menikah. Hatimu berharga, makanya mesti lebih dijaga.” Aku tersenyum menatap Sari. Ia mengangguk, kemudian menggandengku lebih erat. []

Oleh: Hapsari TM.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan