Hai, Jangan Lupakan Dong Para Pembajak Buku

Sejak pertama saya membuat outline naskah buku, saya sudah tahu risiko terburuk dari buku ini kalau nantinya sudah terbit ya dibajak.

Ya dibajak. Entah dengan cara bagaimana, ada buku di pasaran yang mirip dengan buku aslinya, tapi harganya jauh lebih murah. Kenapa saya sebut itu risiko buruk?

Karena produk bajakan itu dipasarkan di lapak buku tradisional tanpa seizin penulis dan penerbit buku aslinya. Kalau dari sisi penerbit pastilah ini kabar buruk.

Biasanya risiko buruk ini terjadi pada buku yang laris, dari karya penulis yang kondang, apalagi harganya mahal.

Kalau kamu selo, cobalah main-main ke lapak buku terbesar di kota gudeg. Itu lho, lokasinya deket Taman Pintar.

Dulu, saya membawa pulang sebuah buku, eh teman saya bilang, “Itu buku bajakan ya?”

“Enggak kok.”

“Iya, itu coba cek saja cetakannya jelek, kan?”

Nah, dari situlah saya baru sadar kalau saya baru beli buku bajakan. Padahal menurut saya, harganya sudah cukup mahal waktu itu, Rp 50-an ribu. Bukunya tebal, terjemah, tentang Sang Maestro Pemikir Ekonomi Dunia.

Kalau memang itu buku bajakan—yang menurut teman saya bisa dilihat dari kualitas cetaknya—sungguh para pembajaknya teramat niat sekali. Karena bukunya sama sekali tidak difotocopy biasa, melainkan dicetak plek mirip aslinya. Cuma setelah saya perhatikan, memang di beberapa halaman, garapannya masih terlihat kasar.

Itu sekitar tahun 2004/2005. Lalu setahun yang lalu, kami sekeluarga main ke Taman Pintar, dan saya ajak anak-anak untuk melihat di lapak buku di sampingnya.

Betapa kagetnya saya, karena di sana saya menemukan buku bajakan karyanya Eka Kurniawan (terbitan Bentang) dan karya-karya Tere Liye—hampir semua judul ada versi bajakannya.

Dari mana saya tahu itu bajakan? Karena saat saya buka, kertasnya jelek dan hasil cetakannya buruk sekali. Tulisan di dalamnya hampir ada yang tidak bisa dibaca, tapi harganya jauh lebih murah dari aslinya. Bahkan penerbit sekelas Bentang, Republika dan Gramedia pun tetap kewalahan menghadapi praktik pembajakan ini.

Saya kira cukup logis bila Tere Liye dulu pernah malas menerbitkan novelnya lagi, lantaran sudah membayar pajak royalti banyak, tapi pembajakan karyanya masih marak terjadi.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Saya dapat informasi yang valid, ada sebuah penerbit yang bekerja sama dengan distributor buku untuk bekerja keras memberesi buku bajakan. Tapi terbatas pada buku-buku terbitan mereka saja.

Jadi begitu buku mereka terbit dan best seller—misal ya buku Gus Dur bersampul putih itu laris banget—lalu ditemukan edisi bajakannya, maka pihak distributor buku akan mendatangi lapak yang menjual buku tersebut.

Di situlah proses teguran itu melayang kepada penjual yang kemudian jadi tahu siapa yang mengirimi buku bajakan itu?

Tapi rupanya, edisi bajakan ini muncul memang salah satu faktornya ada pembelinya. Maksudnya?

Jadi ketika saya bertemu dengan mahasiswa yang rajin beli buku bajakan, dia bilang, “Ini lebih murah, kan isinya sama.”

Jadi kalau buku aslinya seharga 120 ribu—bahkan ada yang harga buku itu 230 ribu—dia akan membeli edisi bajakannya seharga 30 ribu sampai 50 ribu. Dia sadar sejak awal bahwa yang dibelinya memang buku bajakan.

Ini terjadi terutama untuk buku penunjang pelajaran atau buku ajar kuliah.

“Kalau aslinya kan harganya bisa 230 ribu,” katanya, “harga segitu ya bisa beli 4-5 lima buku seperti ini.”

Ketika saya ngobrol langsung dengan dia, buku bajakannya itu ukurannya 14 x 21 cm, cukup tebal. Sedangkan buku aslinya ukuran besar, sekitar 15,5 x 24 cm. Jadi si pembajak membuat buku ukuran lebih kecil.

Ada fakta yang unik juga yang saya temukan. Selain ukuran yang diperkecil, buku bajakan itu juga disertai logo hologram! Jadi ketika penerbit asli menempelkan stiker hologram di cover bukunya, stiker itu pun dibajak. Pokoknya apa pun yang menjadi ciri khas buku aslinya ditiru habis-habisan!

Hanya satu saja biasanya yang tidak ditiru edisi bajakan ini: cetak isi buku yang berwarna. Jadi kalau buku asli itu isinya dicetak dua warna (black/cyan), sudah pasti edisi bajakannya hanya cetak warna black saja.

Transaksi seperti itu, di lapak-lapak tradisional itu terlihat sangat ‘wajar’ dan terang-terangan. Lagi-lagi, pertimbangannya soal kondisi ekonomi.

Yang jual bilang, “Ini saya jual karena laris.” Sedangkan yang beli bilang, “Ini harganya lebih murah.”

Tapi kalau saya pribadi, untuk koleksi buku di rumah, ya ogah banget koleksi edisi bajakan. Lebih baik nabung sebentar untuk mendapatkan yang asli karena ada kepuasan batin melihat buku-buku yang kualitas cetaknya bagus dan asli.

Sebagai penulis, apa yang saya lakukan?

Akhir tahun 2009, saya menyerahkan 4 naskah buku ajar kuliah ke redaksi penerbit. Setelah diperiksa, mereka setuju untuk menerbitkan buku itu.

Tapi si editor bertanya, “Ini kan naskahnya saling nyambung?”

“Iya, mas. Berseri.”

“Kenapa tidak dijadikan satu saja? Kan bisa. Nanti harganya sekitar 80-90 ribu. Kamu bisa dapat royalti lebih banyak.”

“Tidak mas. Biarkan saja dijadikan empat buku, justru biar harga bukunya lebih murah, dan mahasiswa/i bisa membelinya.”

Cara itu saya usulkan, karena memang itu buku ajar yang sangat rawan dibajak di kota gudeg ini. Dan benar saja, setelah diterbitkan menjadi empat buku. Masing-masing buku itu harganya cuma sekitar 22.000 sampai 33.000. Kalau beli di toko masih dapat diskon 10%-15%. Sangat terjangkau oleh mahasiswa/i.

Alhamdulillah, sampai sekarang (2018) pun buku-buku itu masih dicetak ulang dengan kenaikan harga yang tidak banyak.

Pikir saya, kalau sejak awal penerbit bisa menjual bukunya dengan harga miring dengan kualitas yang bagus, tentu saja si pembajak akan kebingungan untuk membajaknya. Karena kalau harga buku sama-sama murah, tentu saja mahasiswa/i memilih yang kualitasnya bagus.

Maka ketika saya mengajar di kelas menggunakan buku tersebut, saya pun menyampaikan perihal buku asli dan buku bajakan. Bukan lantaran demi royalti buku dan karena saya penulis, melainkan kita menghargai orang-orang yang jujur dan bekerja keras dalam berbisnis (tidak main curi saja).

Bagaimana dengan buku-buku populer nonbuku ajar?

Kalau memungkinkan, saya sampaikan kepada penerbit supaya bukunya dicetak isinya dua warna, atau setidaknya warna selain hitam saja—bisa warna font cokelat. Sehingga kalau muncul edisi bajakannya, kita bisa tahu mana buku yang asli dan mana buku yang bajakan.

Jadi menurut saya, meskipun kita tidak bisa membabat habis praktik membajak buku itu, setidaknya kita sudah mempersempit ruang geraknya. Minimal membeli dan mengoleksi buku-buku asli.

Bagaimana menurut kalian?

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan