Hai, Waspadalah Kalau Mata Kamu Sering Kedutan

Akhir tahun 2010 aku mulai merasakan ada kedutan mata di sebelah kiri. “Ooh..kamu mau dapat rezeki.” Begitu seringkali pendapat teman-teman di sekolah. Tapi kedutan di mata ku makin hari makin sering dan merembet sampai ke pipi. Kadang muncul kadang hilang. Dokter mata yang kukunjungi menyarankan agar aku ke dokter saraf. Dokter saraf mengatakan aku terkena facial tick. Tiga bulan berobat ke dokter saraf ini tidak ada hasil.

Tahun 2011 salah seorang teman mengantarku ke pijat refleksi. Dua tiga kali tidak ada perubahan. Tiga tukang pijat refleksi aku datangi, tapi hasilnya nihil. Aku pergi ke dokter keluarga disarankan untuk menjalani acupunctur. Ini pun tak ada hasil. Aku mulai putus asa. Ada yang bilang aku terkena cerebalspacy. Ada yang bilang penyakitku ini stroke ringan. Entahlah, apapun namanya aku ingin gerakan-gerakan di wajah bagian kiriku yang mulai sering muncul ini cepat hilang. Aku mulai stress saat mengajar tiba-tiba separuh wajahku ini bergerak-gerak seperti orang yang mengerlingkan sebelah mata.

Aku sudah ganti konsultasi ke dokter saraf yang terkenal di kotaku juga. Semua dokter saraf menyarankan padaku untuk menjalani terapi. Semua sudah aku ikuti, tapi belum ada perubahan membaik di diriku. Aku sampai konsultasi ke dokter jiwa barangkali tick di wajahku karena aku memendam satu masalah. Walaupun hal ini  membuatku sangsi. Aku merasa tidak punya masalah yang memberatkan jiwaku.  Satu-satunya masalah ya facial tick yang frekuensinya semakin sering muncul di wajahku. Apalagi saat emosi mulai naik.

Di tengah malam dan diantara do’a-do’a yang kupanjatkan, lebih banyak istighfar yang ku ucapkan. Aku berharap Allah mengampuni dosa-dosaku. Kalimat “La ba’sathohurun InsyaAllah..” yang sering diucapkan teman-teman ketika melihat sakitku, membuatku merasa banyak dosa yang telah kulakukan. Sehingga dengan sakit ini aku harus menebusnya.

Suatu hari di awal tahun 2012 aku dipertemukan Allah dengan dokter Retno. Ibuku yang memberitahu bahwa ada dokter saraf wanita, seperti yang ku inginkan. Karena konsultasi dengan dokter yang sama-sama wanita rasanya lebih nyaman.

Begitu masuk ke ruang dokter Retno dan konsultasi dengan beliau, “Ibu operasi ya..” langsung dokter Retno bilang begitu. “Ibu terkena hemifacialspasm.” Kata dokter Retno lagi. Mendengar kata operasi hatiku  was-was. Operasinya harus di Rumah sakit Surabaya. Dokter Retno akan memberi rujukan setelah aku menjalani MRI. Banyak penjelasan yang diberikan oleh dokter Retno. Hemifacialspasm bukan penyakit. Tidak semua orang bisa terkena dan tidak diketahui sebabnya. Semua adalah kehendak Allah. Aku diberi satu buletin tentang testimoni penderita hemifacialspasm. Ada website yang sebaiknya kukunjungi agar punya banyak pengetahuan tentang hfs indonesia.

Aku tidak langsung menjalani operasi. Butuh waktu beberapa bulan untuk persiapan. Baik secara mental dan materi. Aku juga tidak mempunyai saudara di Surabaya. Segala sesuatu harus kupertimbangkan. Mengingat yang dioperasi ini ada di bagian kepala. Dokter akan memasukkan sesuatu di antara pembuluh darah dan sarafku di dalam kepala. Semua saudara yang kumintai saran menyerahkan keputusan kepadaku. Suamiku pun begitu. Aku sendiri yang harus memutuskan karena akulah yang nanti menjalani. Pertanyaan sering muncul di hatiku, akankah operasinya berhasil atau tidak? Ya kalau berhasil…kalau tidak?

Kepada siapa lagi aku mohon petunjuk, selain kepada Allah. Sholat istiharah kujalani. Setelah mendapat kemantapan hati, aku pun melakukan sholat hajat. Ku putuskan untuk menjalani operasi karena aku ingin pulih dari hemifacialspasm. Dokter bilang operasi adalah satu-satunya cara untuk pemulihan. Sudah banyak yang berhasil. Ini adalah ikhtiar

Tanggal 15 Juli 2012 aku berangkat ke Surabaya diantar suami. Kedua anakku kutitipkan kepada keluarga adikku. Seminggu aku minta izin dari sekolah. Apapun yang terjadi..aku berserah kepada Allah. “Kullunafsindzaaiqotul maut…tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mati”, Jika memang aku akan meninggal dengan cara ini aku berdo’a kepada Allah agar memasukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang khusnul khotimah. Tapi jika Allah masih akan memberiku usia lebih panjang, semoga hidupku akan semakin berkah untuk menambah amal ibadah.

Pukul 17.00 wib tanggal 16 juli 2012 aku masuk ruang operasi. Pukul 19.20 wib aku siuman dan dipindah di bangsal, operasi sudah selesai. Alhamdulillah…aku pulih sampai sekarang. Hemifacialspasm telah pergi, serasa aku hidup kembali.

Oleh: Harini Purbayan.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan