Hari Ibu Itu Setiap Hari Lho, 24 Jam!

Tersebab ibu menjaga kita 24 jam full, tanpa henti, tanpa nanti. Bahkan ketika kita sudah dewasa pun, ibu tak bosan-bosannya mengingatkan kita untuk tetap makan, tetap menjaga kesehatan, dan tidak lupa berpesan untuk tetap shalat. Lantas mengapa kita hanya mengingat kebaikan beliau hanya sehari saja? Sudah selayaknya kita ingat kebaikan beliau setiap hari.

Seperti yang telah tercantum di dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’

Nabi shalallahu’alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’

Nabi shalallahu’alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu!’

Orang tersebut bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallahu’alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu!’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Dari hadis tersebut di atas sudah jelas bawasanya seorang ibu itu memiliki kemuliaan yang sangat tinggi, sehingga Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menyuruh agar ibu dimuliakan lebih tinggi dibandingkan seorang ayah.

Karena selama sembilan bulan lebih kita berada dalam kehangatan rahim beliau, meskipun tersiksa ibu merasa sangat bahagia dan bangga dengan keberadaan kita. Beliau tidak merasa lelah meski semakin hari pertumbuhan kita di dalam rahimnya, semakin membatasi ruang geraknya, serta semakin berat beban yang kita timpakan. Namun, Ibu tidak sedikit pun mengeluh bahkan semakin bahagia menanti kehadiran kita.

Setiap saat beliau elus perut buncitnya dengan manja, seakan takut sentuhan jemarinya membuatmu terkejut. Tidak lupa doa pun selalu terpanjat dalam hati, bahkan kadang tanpa sadar mengajak kita berbicara karena begitu besar kasih sayangnya. Selama sembilan bulan lebih itu sebenarnya Ibu sangat menderita. Makan tidak lagi seenak sebelumnya, tidur pun tidak lagi bisa nyenyak, tetapi Ibu sama sekali tdak memedulikan keadaannya sendiri. Ibu lebih mementingkan keadaan kita.

Saat kita lahir ke dunia pun, Ibu mempertaruhkan nyawanya. Sakit yang dirasakan tidak bisa dikatakan, serasa bagai ribuan sakit yang terkumpul jadi satu mengantar kelahiran kita. Begitu mendengar suara tangisan pertama kita, Ibu merasa kembali kuat. Kebahagiaan dan kasih sayangnya untuk kita sanggup menghapus sakit yang dirasanya, dalam sekejap.

Ibu pun penjaga terbaik kita yang tidak ada tandingannya.

Ketika kita bayi, Ibu merawat kita dengan memberi apa pun yang terbaik. Ibu memberi kita makanan yang terbaik. Memberikan air susunya kapan pun kita menginginkan, selalu diberikanya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Tidak merasa terbebani meski beberapa kali harus bangun di malam buta. Menyusui kita, menganti popok, menina bobokkan kita dengan lembut dan penuh kasih meski kantuk serta cepek menyerangnya.

Ibu sangat sanggup mengorbankan apa saja demi buah hatinya.

Ketika kita sakit, Ibulah orang yang paling merasa menderita. Seandainya bisa beliau bersedia bertukar tempat karena tidak bisa dan tidak sanggup melihat buah hatinya menderita. Ibu tidak bisa sekejap pun memejamkan mata di malam hari, ketika tubuh kita demam. Ibu selalu merasa was-was dan ketakutan bila anaknya sakit.

Ibu selalu berusaha mengajari kita, agar kita jadi yang terbaik.

Mengajari kita bicara, berjalan, makan, minum, mengenal lingkungan sekitar, semua dilakukan dengan penuh cinta dan kesabaran. Mendidik kita tanpa kenal lelah dari bayi hingga dewasa. Ketika kita berbuat salah, pintu maafnya tercurah tanpa kita minta.

Kasih sayang Ibu tidak pernah berkurang pada anaknya. Ketika kita masih bayi Ibu mengasihi kita melebihi dirinya sendiri. Demikianlah pula saat kita beranjak remaja yang kemudian dewasa, kasih sayang Ibu tidak pernah berkurang sebab dalam hati Ibu kita tetaplah anak kecilnya, yang dulu selalu bermanja padanya.

Dalam hati, Ibu hanya ada doa mulia untuk buah hatinya.

Ibu memiliki pintu maaf seluas dan sedalam samudra. Meskipun kita sering berbuat salah Ibu tidak pernah mengurangi rasa kasih sayangnya pada kita. Di dalam hatinya tetap menggema doa-doa untuk kebahagiaan dan keberhasilan kita. Meski kadang hatinya kecewa karena ulah anaknya yang tidak atau kurang menghargai, tetapi Ibu selalu memaafkan dan tidak pernah sanggup membenci buah hatinya.

Ibu pun menjadi tempat berkeluh kesah dan mengadu yang baik.

Ibu bisa bertindak sebagai orangtua ataupun teman sehingga beliau merupakan tempat berkeluh kesah dan mengadu yang baik, tentunya terbaik hanyalah Allah. Ketika kita punya persoalan atau masalah, bila meminta saran atau bantuan untuk penyelesaiannya, pasti Ibu akan berusaha mencarikan solusi terbaik jalan keluarnya. Sementara orang lain bukan hal mustahil berbuat sebaliknya.

Lihatlah, Ibu kita itu Super Woman.

Seorang ibu bisa menjadi segala bagi buah hatinya. Saat kita sakit Ibu bisa menjadi perawat yang paling baik. Ketika kita dilukai Ibu tidak segan membela, dan lemah lembutnya lenyap berganti srigala demi anaknya. Waktu penderitaan menghampiri kita, Ibulah orang yang bisa ikut merasakan lalu tanpa diminta doa dan usaha untuk membantu muncul begitu saja.

Namun, saat kita sukses dan hidup bahagia Ibu jauh merasakan kebahagiaan, dengan hanya memandang tanpa ada keinginan untuk ikut merasakan. Dan masih banyak lagi kelebihan seorang Ibu, sehingga kedudukannya dimuliakan tiga tingkat dari Ayah.

Apa kabar ibu kita hari ini?

Oleh: Yuni Purbo.

Tinggalkan Balasan