Pagi ini saya ikut jamaah shalat Subuh di Masjid Agung, Sumenep–kampung halaman. Tiba-tiba, seusainya, saya berpapasan dengan Karun. Ya, Karun yang namanya diabadikan dalam al-Qur’an dalam surat al-Qashash:

Sesungguhnya Karun termasuk kaum Musa, ia berlaku aniaya terhadap mereka dan Kami telah menganugerahkan kepadanya harta-harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata, “Janganlah kamu terlalu membanggakan diri, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Karun berkata, “Sungguhnya aku diberi harta-harta itu dikarenakan ilmu yang ada padaku.”

Dan apakah ia tidak mengetahui bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat darinya dan lebih banyak dalam mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanyakan kepada orang-orang yang berbuat dosa itu tentang dosa-dosa mereka.

Lalu keluarlah Karun kepada kaumnya dengan kemegahan-kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Semoga kita mampu mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sungguh ia telah mempunyai keuntungan yang besar.”

Adapun orang-orang yang dianugerahi-Nya ilmu berkata, “Celakalah kamu, sesungguhnya pahala Allah jauh lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan berbuat baik, dan tidak akan memperoleh pahala itu kecuali orang-orang yang bersabar.”

Lalu Kami benamkan Karun beserta rumahnya (dan seluruh isinya) ke dalam perut bumi. Tiada lagi baginya siapa pun yang bisa menolongnya dari azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

Lalu orang-orang yang dulunya mencita-citakan mendapatkan kedudukan (harta) yang sama dengan Karun jadi berkata, “Duh, benarlah, betapa Allahlah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya dan menyempitkannya (pula), dan kalau saja Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita niscaya Dia benar-benar telah (turut) membenamkan kita. Duh, benarlah, tiada beruntung sama sekali mereka yang mengingkari (nikmatNya).”

Negeri akhirat itu akan Kami berikan kepada orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan (pada dirinya) dan (berbuat) kerusakan di muka bumi dan itulah (akhir) balasan bagi orang-orang yang bertakwa.

***

Rangkaian ayat 76-83 yang berkarakter kisah sejarah tersebut jelas-jelas, dan jelas-jelas benar, berlaku penuh kepada kita hari ini. Sejarah, btw, jika tak mampu menghadirkan makna produktif bagi kita yang hidup hari ini sungguhlah bukan cara baik dalam memahami peristiwa-peristiwa di masa lalu. Termasuk kisah Karun ini.

Berapa banyak dari kita yang dengan rendah hati senantiasa mengakui betapa kelimpahan harta, jabatan, atau kehormatan yang sedang kita nikmati merupakan karunia dari-Nya semata, bukan berkat kecerdasan dan kehebatan diri kita?

Dan, berapa banyak lagi dari kita yang sedang berkelimpahan harta, jabatan, atau kehormatan itu tidak menjadikannya malah dekat dengan kemungkaran, keburukan, dan kemaksiatan kepada-Nya dan sesama?

Serta, berapa banyak lagi dari kita yang menahan diri untuk tidak menonjol-nonjolkan, memamer-mamerkan kemegahan-kemegahan harta dengan penuh pongah kepada orang-orang lain?

Berapa banyak dari kita yang mampu memilih hidup biasa saja, sebagaimana umumnya orang lain, walaupun kita sedang bejibun saldo, walaupun kita pun menikmatinya karena kita memang punya hak untuk menikmatinya? Berapa banyak dari kita yang mampu menjaga perasaan-perasaan kaum dhuafa dengan menghindarkan bermewah-mewah agar tak makin mengangakan jurang kesenjangan yang memilukan?

Lalu berapa banyak pula dari kita yang tatkala menyaksikan kesuksesan-kesuksesan cemerlang orang lain tidak mendahulukan hasrat ambisi untuk mendapatkan seperti yang telah didapatkan orang tersebut, tetapi lebih memilih untuk menjadikannya pengingat pada diri sendiri akan beratnya godaan duniawi yang rawan menjungkalkan kita pada kemungkaran dan kemaksiatan?

Dan, masih adakah di antara yang bersikukuh mantap mengatakan, di antara kekayaan maupun keterbatasan bendawinya, betapa negeri akhirat jauhlah lebih utama dan mulia ketimbang seluruh kemilau duniawi ini?

“Janganlah kau melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”, sungguh, ya, Allah itu Maha ngertiin kita yang wadag dan berhawa nafsu ini. Kita kerja, ngumpulin uang, mikir begini begitu, oleh Allah juga diingatkan supaya tetap membumi sebagai manusia. Sebagai makhluk yang lahiriah. Ya perlu makan, minum, sandangan, hunian, kendaraan, rencana-rencana, impian-impian kesuksesan, dan sebagainya. Ya nikmati saja, silakan.

Namun, dalam susunan ayat tersebut, hak menikmati karunia duniawi ini dibingkai di dalam perintah “Carilah pada apa-apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu (kebahagiaan) akhirat.”

Artinya, hak manusiawi kita untuk menikmati hasil kerja keras kita haruslah selalu ditundukkan di bawah dan di dalam kesadaran untuk menjadikannya bermanfaat luas pada orang lain dan menjadi jalan utama bagi kebahagiaan ukhrawi kita.

Jangan dibalik!

Kebanyakan kita membaliknya, sebenar-benarnya dibalik.

Pada perintah asli Allah di atas, tertampakkan bahwa negeri akhiratlah tujuan besar dan utama hidup kita. Pada kenyataan yang kita lakoni, dibalik menjadi dunia inilah tujuan besar dan utama hidup kita. Jelas dampaknya sangat jauh berbeda.

Jika Anda sukses dan kaya, dengan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup, menjelmalah Anda macam Karun. Pasti! Jika Anda belum/tidak sukses dan kaya, berberahilah Anda untuk suatu hari bisa menjadi macam Karun yang berkelimpahan harta. Bonusnya iri, dengki, hasud.

Tersebab telah dibaliknya tujuan besar dan utama hidup kita di dunia ini, jadilah Allah beserta seluruh karunia-Nya yang tiada mampu mendorong kita beraras pada kebaikan-kebaikan, kesalehan-kesalehan, dan kemanfaatan-kemanfaatan bagi orang lain. Yang kita tebarkan malah dampak-dampak buruk yang merusak.

***

Setiap melintasi suatu pemukiman, lalu saya jumpai bangunan rumah megah yang sangat mencolok luar biasa dibanding rumah-rumah di sekitarnya, sontak saya teringat Karun yang telah ditenggelamkan ke perut bumi oleh-Nya. Ini tamsil Karun dalam satu bentuk.

Dalam bentuk-bentuk lainnya hari ini bisa berupa pameran-pameran kemegahan, kemewahan, dan kekayaan di sosial media yang sungguhlah mudah betul untuk dijungkalkan-Nya kapan pun.

Maaf, mungkin saya berlebihan ketika mengatakan hal tersebut. Namun, sungguh saya kerap sekali merenung: “Sebenar-benarnya, apa saja gerangan yang kita butuhkan di dunia ini agar kita bisa hidup dengan nyaman, ya?”

Apa betul saya membutuhkan rumah yang mentereng-sementerengnya? Apa betul saya memerlukan kendaraan megah-semegahnya? Apa betul saya membutuhkan makanan minuman yang harganya semahal-mahalnya begini? Apa betul saya membutuhkan semua kemegahan dan kemewahan ini agar saya bisa hidup enak, bisa lelap, bisa tertawa, bisa senang, bisa bahagia?

Benar, perspektif kenyamanan hidup antar kita tak sama. Tak mungkin dibakukan dalam suatu definisi dan ukuran.

Tapi, esensinya selalu sama: apa betul kita harus begini dan begitu yang megah-megah, mewah-mewah, mentereng-mentereng, berkilau-kilau, mahal-mahal, agar hidup kita nyaman?

Niscaya tidak, dan batasannya ialah “jangan melampaui batas”. Frase “jangan melampaui batas” ini kiranya menjadi sederhana untuk dimafhumi bila kita jadikan “negeri akhirat” sebagai tembok pembatasnya.

Coba renungkan:

Bila negeri akhirat, kehidupan sesudah mati, benar-benar senantiasa menyala di hati kita, bahwa ia adalah satu-satunya tujuan terbesar dan terutama dalam seluruh perjalanan hidup kita di dunia ini, PASTILAH kita takkan punya nyali untuk melupakan Allah, meminggirkan-Nya, menomorduakan-Nya, dalam segala hal, termasuk dalam mencari, mengumpulkan, dan membelanjakan harta kita.

Pasti!

Pasti kita akan memilih mengerahkan seluruh pikiran, tenaga, otak yang jeniyus, pengalaman, jaringan, dan sebagainya, hanya untuk menuju-Nya, mematuhi-Nya, dan berjauh-jauh dari segala yang dilarang-Nya karena kita takut betul pada amarah dan azab-Nya.

Bagaimana mungkin kita berani memamerkan dengan pongah kemegahan-kemegahan bendawi yang ada pada kita kepada siapa pun toh hati kita selalu beralaskan kesadaran bahwa ini semua adalah dari-Nya, semata belas-kasih-Nya, semata milik-Nya, yang bisa diambil-Nya kapan pun, yang mumpung masih ada dalam genggaman haruslah kita gunakan sebesar-besarnya untuk bekal kehidupan abadi di akhirat nanti?

***

Bagaimana mungkin kita berani menolak jalan-jalan kebaikan yang didatangkan-Nya ke rumah kita melalui hadirnya tangan peminta-minta, panitia-panitia pembagunan rumah ibadah dan kegiatan sosial yang bermanfaat, dll., toh kita selalu mengerti dan menyadari bahwa inilah peluang besar untuk mempersiapkan kenyamanan hidup di negeri akhirat nanti?

Bagaimana mungkin kita punya nyali untuk menilep, membohongi, mengadali, menipu, mencuri, menggelapkan, atau korupsi–dan segala bentuk mendapatkan atau memakan harta yang haram—bila hati kita senantiasa ingat betapa Allah membenci orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, berbuat dzalim, berbuat keji dan mungkar, sehingga kita hanya akan mendapatkan azab yang mengerikan bila melakukannya?

Jelas terbedakanlah dengan tegas karakter seorang mukmin dengan kufur ala Karun dalam memahami dan mencari serta membelanjakan harta.

Sang mukmin secara ontologis (hakikat) selalu meletakkan Allah sebagai sumber tunggal bagi hadirnya harta padanya. Bila melimpah, ini karunia Allah. Bila terbatas, ini karunia Allah. Keduanya sama-sama dari Allah, dalam maksud semata untuk menguji kita apakah kita bisa bersyukur atau malah kufur kepada-Nya.

Karena semata Allahlah, pasti cara dia membelanjakan hartanya (termasuk dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadi/keluarganya) takkan mencerabutnya dari tujuan utama senantiasa dekat dengan-Nya dan takkan mendorongnya pada kesombongan dalam bentuk apa pun.

Sebaliknya, bagi sang kuffar ala Karun, hadirnya keberlimpahan harta padanya dipandang sebagai buah dari kecerdasan, kekuatan, dan kehebatannya. Bukan Allah. Kemegahan, kemewahan, kekilauan bendawi menjadi identitasnya. Menjadi kebanggaan dan kebahagiaannya. Menjadi ladang kesombongan dan kepongahannya.

Seluruh tabiat tersebut secara ontologis meniadakan kemahakuasaan Allah sebagai aktor sejatinya. Digantikan olehnya semata. Dan seluruh tabiat tersebut niscaya selalu segaris sejajar dengan lelaku yang dilarang-Nya: meraup harta dengan cara yang dzalim dan merusak (macam korupsi dan menipu) dan membelanjakannya untuk menabalkan kesombongan-kesombongan, serta menjadikannya jauh dari watak ringan hati, ringan tangan, mudah empati, gemar menolong, dan penuh peduli.

Seluruh tabiat negatif itu ada dalam sosok Karun yang –bayangkan—kunci-kunci peti hartanya harus dipikul oleh banyak orang yang kuat-kuat, saking kayanya dia, saking berlimpahnya harta-hartanya.

Seluruh tabiat yang dibenci Allah itu pastilah akan berakhir dengan dihancurkan oleh-Nya, entah di dunia atau akhirat, macam Karun yang dibenamkan ke perut bumi.

Waspadalah, yes, jika ngana sedang moncer, mapan, sukses, kondang, lalu ngana gemar banget dengan kemewahan-kemewahan yang menyilaukan hati dari ingatan bahwa ini semua adalah semata karunia-Nya, intaian kehancuran sungguh sedang menantap ngana dan suatu hari akan membuat ngana lumat selumat-lumatnya.

Waspadalah, yes, jika ternyata kekayaan Anda membuat Anda makin dekat pada kemaksiatan-kemaksiatan.

Waspadalah, yes, jika ternyata makin majunya bisnis dan karier ngana malah membuat ngana tak lagi sempat shalat jamaah di masjid seperti dulu.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: