Harusnya Aku Hijrah Karena-Nya, Bukan Karenamu

Dari sekian banyak definisi tentang cinta sejati, ada satu yang tetap diyakini dua jiwa yang saling menautkan janji setia ini. Bagi mereka, cinta sejati ialah rasa yang mampu membawa mereka untuk lebih mencintai Rabb-nya.

Langkah keduanya berhenti tepat di depan salah satu bangku di taman. Terdapat beberapa guguran daun menghias bangku yang dengan segera disapu menggunakan telapak tangan Hafidz. Debu yang tadinya menapak seketika berpindah ke telapak tangannya.

“Untuk bidadari surgaku,” ucap Hafidz merentangkan tangan kepada wanita berkerudung biru di sampingnya begitu selesai membersihkan bangku tersebut.

Wanita itu seketika tersipu malu. “Mas Hafidz tidak perlu melakukannya,” ucapnya tak mampu menyembunyikan rona merah di pipi lalu mengambil duduk. “Terima kasih, Mas.”

Hafidz melayangkan senyum kemudian duduk di samping sang istri. Kepalanya mendekat ke perut sang istri yang sudah mulai membesar, tak ketinggalan tangan kanan membelai lembut.

Tanpa sepengetahuan keduanya, sepasang mata di balik salah satu pohon di taman sedang mencuri pandang ke arah mereka.

***

Sebuah ingatan hadir kembali. Map dalam dekapan yang reflek terjatuh serta bibir yang membentuk huruf O. Tatapannya menyapu sosok di depannya. Ini adalah sebuah pertemuan yang tak dibayangkan sebelumnya oleh Hanifa. “Ma-mas Hafidz?”

“Hanifa? Kerja di sini juga?” tanyanya pada perempuan berkerudung di depannya, seorang teman semasa kuliah setahun yang lalu.

Hanifa buru-buru mengambil map yang terjatuh kemudian mengulurkan tangan. Hafidz membalasnya dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Gadis itu tersenyum malu, ia lupa bahwa Hafidz salah seorang ikhwan yang sangat menjaga segalanya. Itulah mengapa rasa itu tetap ia simpan sampai saat ini.

Ia teringat kembali, dulu sengaja mengubah penampilan yang biasanya hanya menggunakan mini dress di kampus, mendadak mengenakan celana dan kaos panjang lengkap dengan kerudung. Salah satu teman mengingatkan bahwa itu tidak akan berhasil menarik perhatian Hafidz, tapi ia tidak peduli.

“Bisa tolong tunjukkan ruang HRD, Han?” Tanya Hafidz membuyarkan lamunan.

“Eh, i-iya, di sebelah sana, Mas.” Hanifa tergagap menunjukkan. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam bisa ketemu Mas Hafidz lagi. Jangan-jangan ini pertanda jodoh dari Tuhan. Terima kasih, Allah, batin Hanifa membuat wajahnya mendadak kegirangan. Teman sekantor yang tak sengaja menatapnya saling berpandangan.

Beberapa hari kemudian, malu-malu, Hanifa mendekati meja kerja Hafidz. Lelaki yang kini sudah seminggu kerja di kantor tersebut menyambutnya dengan ramah seperti biasa. Namun kentara sekali bahwa ia begitu menjaga pergaulannya dengan seluruh pegawai wanita di kantor tersebut.

“Ini buat Mas Hafidz, aku sengaja memasak sendiri buat Mas.” Hanifa mengulurkan sebuah kotak makan.

“Wah, terima kasih banyak, Han. Tapi maaf, aku sedang puasa.” Hafidz kemudian mengalihkan pandangan ke monitor, jemarinya kembali berkutat di atas keyboard.

Hanifa mendadak murung. “Oiya, Mas Hafidz apa kabar?” tanyanya basa-basi. Selama seminggu ini ia tak sempat bertanya kabar Hafidz karena baru ditugaskan ke luar kota.

“Alhamdulillah sangat baik.” Hafidz masih dengan senyum ramahnya, namun lagi-lagi mengalihkan pandangannya ke monitor.

Hanifa yang salah tingkah sendiri kemudian pamit kembali ke meja kerjanya.

“Wajar, kalian baru bertemu setelah sekian lama.” Seorang teman menghibur Hanifa ketika Hanifa mengadukan perasaannya tentang Hafidz di kantin kantor.

“Sepertinya memang begitu. Dari dulu dia tertutup seperti itu, aku sudah hafal. Itulah mengapa aku begitu mengaguminya. Ia berbeda dengan yang lain.”

“Tapi, Han, aku sebagai sahabat hanya menasihati untuk kebaikan kamu. Bukankah jodoh itu cerminan diri, jadi … eehm … maksudku, tidak seharusnya kau berubah hanya semata-mata karena perhatian manusia.” Salah seorang dari mereka memberanikan diri mengatakan hal itu.

“Maksudmu? Aku tidak pantas bersanding dengan Hafidz karena aku tidak sebaik dia?”

“Bu-bukan begitu, jangan salah paham. Maksudku … ah sudahlah lupakan kata-kataku.” Ia tak menemukan bagaimana menjelaskan dengan cara yang tepat.

***

Perempuan berkerudung biru berjalan bolak-bolik di depan Hafidz yang masih duduk di depan bangku taman. “Kata dokter ini bagus untuk kesehatan janin, Mas.”

Hafidz tersenyum menatap lekat padanya. “Aku tidak pernah menyangka akan berjodoh denganmu, Sayang. Sungguh, menatapmu seperti ini, dengan amanah di rahimmu, rasanya seperti menjadi lelaki paling bahagia di dunia.”

Gadis berkerudung biru mendekat lalu kembali mengambil duduk. “Dan aku menjadi wanita paling bahagia bisa bersanding denganmu, Mas.”

Seseorang di balik pohon tersadar dari kenangan yang memenuhi pikiran tadi, buliran bening tak dapat tertahan, meluncur begitu saja. Seirama dengan degupan jantung yang semakin menyesakkan.

Kau beruntung memiliki Mas Hafidz, Mbak. Kau pantas bersamanya, bisiknya perlahan menjauh dari tempat itu.

Tadinya Hanifa pikir Hafidz akan jatuh ke pelukannya. Begitu tahu Hafidz telah beristri, ia malah semakin gencar memburu perhatian lelaki itu. Namun, satu pelajaran berharga ia dapatkan kini. Bahwa cinta yang dibangun dengan tujuan mardhatillah, tidak akan begitu saja mudah tergoda orang ketiga.

Pohon di taman seperti menjadi saksi ketiganya yang berjalan berlawanan arah dan saling membelakangi. Hafidz dan sang istri sedang Hanifa sendirian menyesali perbuatannya.

Seharusnya aku berubah menjadi lebih baik hanya karena Rabb-ku. Sekali lagi Hanifa menoleh pada dua insan yang semakin menjauh dari pandangannya kini.

Oleh: Ummu Ayyash.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan