Hati-Hati, Inilah Tujuh Sebab Masa Depan Suram

Dalam teori psikologi, fase perkembangan manusia dibagi menjadi 3 ini: masa kanak-kanak, masa remaja dan masa dewasa. Ketiga fase ini memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Masa kanak-kanak disebut dengan usia bermain. Masa remaja ditandai dengan fluktuasi atau ke-labilan mental psikologis. Sedangkan masa dewasa sudah memasuki fase stabil, yakni seseorang sudah mampu memikirkan setiap permasalahan kehidupan dengan matang dan penuh pertimbangan.

Secara psikologis, usia remaja merupakan usia dimana seseorang berada dalam fase tidak stabil atau labil. Karena masa peralihan, segala hal yang ada di usia remaja tidak bersifat permanen atau tetap. Segalanya bisa berubah saat seseorang memasuki usia dewasa awal atau akhir usia remaja. Dalam Al-Qur’an, usia remaja disebutkan sebagai usia ‘berhias dan saling berbangga’ (Qs. Al-Hadid ayat 1).

Dengan segala kelabilan yang ada di usia remaja, tak heran bila usia remaja ini merupakan usia yang penuh masalah. Apalagi bila kehidupan kita sebagai remaja tidak diarahkan ke hal-hal positif. Beberapa masalah yang sering menimpa kita pada masa kini di antaranya:

Terlalu Menuruti Keinginan Sesaat atau Hawa Nafsu

Kita sudah ketahu betul bahwa usia remaja ini merupakan usia dimana hawa nafsu begitu menggebu. Namun kita dituntut untuk mampu mengendalikan hawa nafsu tersebut, serta berusaha mengarahkan pada sesuatu yang positif. Ketika menginginkan sesuatu, terkadang kita tidak berpikir apakah itu membawa manfaat atau mendatangkan keburukan. Bahkan bila terlanjur menuruti keinginan sesaat, seseorang dapat menghalalkan segala cara agar keinginan tersebut tercapai.

Hawa nafsu sebetulnya dapat menjadi kekuatan luar biasa bila diarahkan kepada sesuatu yang baik. Dengan hawa nafsu, kita memiliki semangat luar biasa dalam menjalani kehidupan. Namun bagaimana caranya agar semangat tersebut digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat? Misalnya kita ingin memiliki handphone canggih atau smartphone. Cukuplah kita memiliki untuk digunakan dalam hal-hal bermanfaat seperti silaturahim, update informasi, saling mengingatkan dalam kebaikan serta menambah pengetahuan. Tidak untuk digunakan kepada hal-hal yang membawa keburukan.

Mudah Bingung atau Galau

Kita para remaja sudah pasti sering merasa bingung, sedih bahkan merasa hidup berantakan. Ketika berada pada kondisi tersebut, tak jarang beberapa orang justru menyalahkan keadaan bahkan orang lain. Kita bahkan sering merasa galau tanpa sebab yang jelas. Bingung, sedih dan galau itu sudah biasa. Apalagi kondisi psikologis remaja memang masih belum stabil.

Lalu bagaimana caranya menghadapi masa-masa bingung dan galau ini? Caranya ialah, menyibukkan diri dengan aktivitas yang positif. Sehingga kita tidak memiliki waktu dan tenaga untuk meratapi kehidupan. Bila sudah terlanjur galau, berusahalah berpikir positif. Bahwa Allah maha mengatur kehidupan. Alam tidak selamanya mendung. Suatu ketika cerah pasti datang. Tinggal perbanyak mengingat Allah dan lakukan perenungan diri.

Tidak Punya Tujuan Hidup yang Jelas

Memiliki tujuan hidup sejak masih remaja merupakan hal yang sangat perlu. Bahasa lain dari tujuan hidup ialah cita-cita. Sejak usia kanak-kanak kita sudah diajarkan memiliki cita-cita. Cita-cita atau tujuan hidup akan menjadi penuntun kita dalam melangkah mengarungi kehidupan. Kalau pun tidak menjadi penuntun, minimal menjadi penyemangat dalam menjalani kehidupan.

Permasalahannya sekarang, tidak sedikit kaum remaja yang tidak memiliki tujuan hidup, apalagi cita-cita. Yang ada di pikirannya hanya yang penting sekarang bahagia. Remaja yang tidak memiliki tuuan hidup ibarat mayat hidup. Hidup tapi kehidupannya tidak berarti. Ibarat kendaraan mati, ia hanya akan menjadi beban bagi orang di sekitarnya. Tetapi tidak bisa memberikan manfaat. Bagaimana mau bermanfaat terhadap orang lain, terhadap dirinya sendiri saja tidak peduli.

Sibuk dengan Sosmed, Menarik Diri Dari Kehidupan Sosial

Inilah permasalahan anak muda zaman sekarang yang paling akut. Katanya mau ngumpul dengan teman-teman. Tapi saat berkumpul malah sibuk dengan handphone masing-masing. Katanya sibuk bersosial di social media, tapi dengan orang tua sendiri enggan berbicara. Katanya ingin berbagi kebaikan dengan orang di luar sana, tapi dengan tetangga sendiri tidak tahu kabarnya.

Jangan sampai kita menjadi remaja macam ini. Sibuk dengan media sosial, tapi lupa untuk bersosial dalam kehidupan nyata. Aktif di media sosial sebetulnya tidak salah. Tetapi jangan sampai luap bahwa orang terdekat kitalah yang pertama akan membantu kita di saat membutuhkan.

Tidak Memiliki Kepedulian Sosial (Egois)

Salah satu permasalahan remaja dari dulu hingga sekarang ialah sikap egois berlebihan. Terlalu mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki kepedulian sosial sedikit pun. Ada anak yang demi membeli HP android terbaru, rela membuat orangtuanya begitu bekerja keras. Ada orang yang demi memenuhi hasrat pribadi, sanggup menyakiti orang lain bahkan merampok temannya. Inilah sosok-sosok remaja egois yang dapat merusak masa depannya sendiri.

Terbawa Pengaruh Buruk Pergaulan

Bergaul di usia remaja merupakan bagian dari upaya membangun relasi saat dewasa kelak. Namun tidak sedikit remaja yang justru terbawa pengaruh buruk pergaluan. Kebiasaan merokok, tindak kekerasan, pergaulan bebas laki-laki dan perempuan, hingga terjebak pada peredaran narkoba.

Hal yang disebutkan tadi merupakan salah satu bentuk akibat buruk pergaulan. Penyebabnya tak lain ialah kurangnya control dari diri sendiri dan keluarga. Seperti apa pun luasnya pergaulan kita, teman harus tetap dipilih. Kalau sekiranya hanya akan membawa pada keburukan, sebaiknya kita membatasi diri dan mencari teman dekat yang lain.

Menganggap Ilmu Agama tidak Terlalu Penting

Ilmu agama merupakan pondasi kuat kehidupan. Untuk memiliki pondasi yang kuat, ilmu agama sudah harus ditanamkan sejak kecil. Sebagai remaja kita juga harus memiliki kesadaran akan pentingnya belajar ilmu agama. Jangan sampai waktu belajar kita selama seminggu hanya dihabiskan untuk belajar ilmu-ilmu eksak seperti matematika dan IPA saja. Sedangkan porsi waktu untuk belajar ilmu agama sedikit sekali, bahkan nyaris tidak ada. Padahal dengan ilmu agama, kita bisa selamat di dunia dan akhirat.

Nah, setelah tahu tujuh tanda-tanda penyebab masa depan suram, selanjutnya pilihan ada pada kita. Apakah akan tetap bersikap seperti itu? Atau mau berbenah diri untuk menghindarinya dan hidup lebih sehat serta menyenangkan?

Oleh: Gafur Abdullah.

Tinggalkan Balasan