Hati-Hati, Jatuh Cinta di Dunia Maya Itu Palsu!

Nasi sudah menjadi bubur. Mau gimana lagi? Ya buburnya dikasih bumbu biar enak dimakan. Syukur-syukur dikasih daging ayam, kacang, sayuran, kuah, dan kerupuk. Jadilah bubur ayam, bisa dijual!

Tapi kadang-kadang, logika sepertinya tak bisa dimainkan oleh mereka yang sedang dimabuk cinta. Sebab itu disebut mabuk, yakni hilang kesadaran akal sehatnya. Kadang bisa senyum-senyum sendiri, kadang menangis sendiri, parah kan? Hari-hari terasa melayang-layang.

Cinta memang membuat kita memiliki sayap-sayap, jadi bisa terbang (mengawang-awang). Tapi kalau tidak bisa mengontrol sayap itu, justru kita yang dikendalikan cinta, maka yang terjadi adalah kecelakaan.

Bisa kecelakaan untuk diri sendiri dan juga berpotensi melukai (hati) orang lain. Ini serius lho, apa yang pernah terjadi luar negeri sana. Seorang laki-laki yang sudah menjalin asmara via online dengan gadis pujaannya. Mereka saling mencintai, meski masih bertemu sebatas chatting di media sosial, dan bertukar foto.

Nah, karena lelaki itu melihat foto ceweknya begitu cantik, seksi dengan kulit putih mulus, wajah bersih, dan model rambutnya juga update, ia pun berimajinasi kalau memang seperti itulah kekasih onlinenya itu. 

Setelah memadu kasih, lelaki ini berinisiatif untuk kopdar dengan cewek mayanya itu. Mereka janjian di sebuah mall, di lantai atas yang asyik buat ngedate. Tetapi betapa terkagetnya si lelaki begitu bertemu dengan cewek pujaannya. Kondisi fisik si kekasih ternyata jauh dari foto yang selama ini ia puja-puji setiap detiknya. Jauh dari apa yang selama ini ia bayangkan. Byaar! Kecantikan cewek dalam imajinasinya tiba-tiba lenyap berganti dengan awan mendung yang memburamkan masa depannya.

Lalu apa yang terjadi? Dadanya terasa sesak, pikirannya kalut, ia kecewa berat, tak bisa mengendalikan diri, dan tiba-tiba … ia lompat dari lantai atas itu, terjun bebas! Buuughh! Tubuhnya menghantam lantai bawah. Darah segar mengalir dari kepalanya, membasahi lantai yang licin itu. Sontak saja orang-orang yang sedang berbelanja di sana dan petugas keamanan langsung refleks ingin menolongnya. Tetapi terlambat, lelaki malang itu sudah tak tertolong lagi. Lelaki yang sedang dimabuk cinta itu, lelaki yang memupuk cinta dalam imajinasinya itu, dan lelaki yang baru saja patah hati itu, telah memutuskan jalannya sendiri. Innalillahi wainnailaihi rojiun ....

Kisah nyata itu terjadi di Manila, Filipina. Lelaki yang melompat dari lantai empat itu langsung tewas karena mengalami patah tulang iga, dan … kepala pecah! Banyak orang yang tercengang dengan kejadian itu. Tetapi yang sesungguhnya terjadi, sebelum kepala luar lelaki itu pecah, sungguh ‘bagian dalam’ kepalanya telah pecah duluan. Dan ada sakit yang dideritanya, tetapi tidak diketahui banyak orang: sakit hati.

Saya tidak ingin menyebut nama lelaki itu di tulisan ini. Kita berdoa semoga ia kini berada di sisi-Nya dengan tenang. Dan sepertinya memang ia telah meninggalkan pesan untuk kita. Pesan tentang cinta. Pesan tentang mencintai seseorang dengan akal sehat. Sebab tidak ada masalah jika awal perkenalan via jejaring sosial, tetapi cinta memang harus dikontrol dengan akal sehat. Sebab ternyata, foto si ceweknya itu terlihat cantik karena berhasil menggunakan aplikasi edit foto di smartphone populer: Camera 360!

Maka dengan akal sehat, melihat foto cantik atau ganteng, tentu kita berpikirlah, “Apa iya dia aslinya seperti yang ada di foto ini?”

Akal sehat kita menyaring informasi yang kita peroleh itu. Bukannya menelan mentah-mentah. Apalagi langsung berimajimasi dan tiba-tiba menaruh cinta di hati. Informasi mentah itu kudu kita cek dengan kondisi aslinya seperti apa? Maka cinta tak akan membunuh kita, sebab cinta itu sejatinya membahagiakan. Ya?

Oleh: Dwi Suwiknyo, penulis buku best seller Ubah Lelah Jadi Lillah, dan buku terbarunya Jalani, Nikmati, Syukuri sudah tersebar di toko Gramedia.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan