“Iya Bunda, Ayah memang telah melakukannya, tapi Ayah menyesal Bun. Tolong, maafkan Ayah, Ayah telah khilaf. Semua terjadi begitu saja, setelah reuni itu, Bun.”

Malam itu, Mas Pram, suamiku, akhirnya mengakui perselingkuhan dengan teman semasa SMP-nya. Semua berawal ketika tanpa sengaja aku membaca sebuah chat mesra dari seseorang yang bernama my mine di handphonenya. Padahal selama menjadi istri Mas Pram, aku termasuk jarang membuka gadget pribadinya. Aku begitu percaya. 

Tak terlintas sedikitpun Mas Pram akan mengkhianatiku. Itu sebabnya saat aku membaca chat itu, aku pikir hanya salah kirim saja, karena kata-katanya seperti layaknya orang yang sedang kasmaran berat dan merindukan pasangannya. Sungguh tidak mungkin itu ditujukan pada Mas Pram. Aku tahu persis bagaimana suamiku, aku mengenalnya luar dalam. Tapi ternyata aku salah. Mas Pram mengakuinya tanpa harus kupaksa.

Dan kini aku tak sanggup mendengar seluruh penuturan suamiku atas apa yang telah dilakukannya selama 3 bulan terakhir ini. Aku tak mampu menjawab pemohonan maafnya.  Bahkan aku juga tak mampu menjawab pertanyaanku sendiri, apakah aku sanggup memaafkan pengkhianatan itu? Begitu tak berperasaankah suamiku kini. Awalnya aku mencoba untuk tidak mempercayai semua pengakuan yang dia buat, tapi hatiku juga tidak bisa menolak kenyataan yang telah terjadi.

Aku masih termangu dalam kesunyian. Melihat dengan tatapan kosong ke depan. Benar-benar aku tak sanggup melihat wajah laki-laki itu. Muak yang bercampur dengan benci benar-benar memenuhi ruang di dadaku. Sesak yang bergemuruh merajainya. Suamiku duduk bersimpuh di hadapanku, memegang kedua lututku. 

Sambil terus memohon, menciumi kedua punggung tanganku. Matanya basah, seolah meluapkan segenap penyesalan dalam dadanya. Tapi aku tetap tak peduli. Aku ingin berteriak, menjerit, memaki dan menghardiknya. Namun itu tak kulakukan, hanya terhenti di tenggorokan saja.

Dengan segenap kekuatan yang masih kupunya, aku terus beristighfar dalam hati. Berusaha mencari ketenangan di tengah gejolak emosi yang sebenarnya sangat ingin kutumpahkan.  Namun aku tidak boleh kalah dengan amarah. Sabrina putri kecilku tidak boleh terbangun karena mendengar ayah dan bundanya sedang dalam pertengkaran hebat malam itu. Dia harus tetap tenang dan damai dalam tidurnya, jangan sampai Sabrina tahu kelakuan ayahnya.  Sabrina harus tetap jadi gadis kecil yang ceria dan tetap menganggap ayahnya adalah superman idamannya, yang akan selalu menjaganya hingga ia bertemu dengan jodohnya kelak.

Sebenarnya Mas Pram yang kukenal adalah sosok laki-laki yang setia dan penuh perhatian pada istrinya. Hampir setiap bulan, sekali atau dua kali, selalu ada saja surprise-surprise kecil yang dia buat untuk membuatku selalu merasa tersanjung. Kadang dia menyelinap ke ruang kerjaku saat jam istirahat, tanpa kuketahui, hanya untuk meletakkan setangkai bunga dengan sebuah pesan romantis, hingga membuat semua rekan kerjaku iri melihat kemesraan kami. 

Di lain waktu, dia juga sering menjemputku, hanya untuk makan siang berdua saja. Dia pula yang setiap hari mengantar dan menjemputku di kantor. Maklum tempat kerja kami hanya berjarak 100 meter, sehingga tidak ada kendala yang berarti untuk memupuk kemesraan kami sebagai suami istri, walaupun di tempat kerja. Jadi sama sekali tidak ada alasan untuk mencurigai Mas Pram sebagai sosok yang telah berselingkuh di belakangku.

Aku mengenal Mas Pram saat kuliah semester 2. Dia kakak tingkatku di fakultas hukum di sebuah universitas swasta yang cukup ternama di kota kelahiranku. Sosoknya kalem. Tak banyak bicara dan tak pernah terdengar ada cerita negatif tentangnya. Dia juga bukan tipe playboy yang suka gonta ganti teman wanita.  Selama kuliah, dia hanya berhubungan denganku saja. 

Yah, memang benar, karena sosok kalemnya itulah yang akhirnya membuatku, si kembang fakultas hukum ini, luluh memilihnya diantara semua kumbang yang pernah mendekat. Kami hanya melalui proses pacaran yang cukup singkat. Saat aku masuk semester 6, Mas Pram dan keluarganya mantap melamarku. Itu membuatku sangat bahagia. 

Menikah muda adalah cita-citaku sejak remaja. Buatku menikah adalah kehidupan yang sebenarnya, yang sangat membahagiakan, meskipun menurut sebagian orang, itu malah kebalikannya. Namun entah mengapa aku beranggapan lain. Bisa menikah muda dan punya anak di usia muda adalah kebahagiaanku. Dan saat itu, aku benar-benar merasakannya bersama Mas Pram.  

Aku merasa bahwa saat itu pernikahanku adalah pernikahan yang diberkahi, karena sebulan setelahnya, aku langsung dinyatakan hamil. Tak terlukiskan kebahagiaan kami saat itu, walau aku terpaksa harus mengambil cuti kuliah untuk sementara waktu. Aku masih ingat betapa Mas Pram memperlakukanku bagai seorang permaisuri. Mas Pram yang selalu memasak makanan buatku saat aku sulit makan selama trimester pertama kehamilan. Begitu sayangnya Mas Pram padaku dan bayiku, hingga semua pekerjaan rumah, dia juga yang menyelesaikannya. Sungguh aku merasa dicintai dengan cinta yang utuh dan tulus, hingga aku berpikir bahwa hidupkulah yang paling sempurna kala itu.

Dan kini aku sungguh tak rela jika kesempurnaan itu tiba-tiba terenggut oleh awan hitam yang datang tiba-tiba. Chat mesra itu seolah menghentikan pintalan benang emas yang sedang kurajut bersama Mas Pram. Entahlah, apa aku masih bisa bertahan atau memilih pergi dari kehidupannya, karena prinsip dan janji kami sebelum menikah telah ia lukai. 

Memang sebelum menikah, Mas Pram dan aku pernah mengucap janji, jika salah satu diantara kami ada yang berkhianat, maka pernikahan kami akan hancur. Aku pribadi tidak bisa mentolerir sebuah perselingkuhan, walau itu tidak dilakukan dengan sengaja. Buatku, kepercayaan itu sungguh terlalu mahal untuk dipertaruhkan dalam sebuah ikatan yang suci ini. Kepercayaan adalah mutlak bagi sebuah hubungan pernikahan. Jika dalam hitungan detik saja itu ternodai, maka luluh lantaklah semuanya.

***

“Bun, sekali lagi, tolong maafkan Ayah, Ayah tahu, Ayah sudah mengkhianati pernikahan kita, tapi Ayah sudah bertaubat, Bun. Tolong beri Ayah kesempatan sekali lagi, Bun. Ayah tidak mau Sabrina sampai tahu. Ayah masih sangat mencintai Bunda dan Sabrina. Ayah tak mau kalau harus kehilangan kalian.”

Siang itu Mas Pram mengajakku makan siang di restoran favorit kami, untuk menyelesaikan permasalahan kami yang belum tuntas semalam. Sementara Sabrina kami titipkan pada neneknya. Masih dengan wajah penuh sesalnya, Mas Pram memohon-mohon agar aku masih mau memaafkannya. Tangannya menggenggam tanganku erat, seolah menegaskan bahwa dia memang tidak mau kehilangan aku.

Aku terisak dengan wajah penuh lelehan air mata yang tak terbendung, Aku makin tak tahan ketika nama Sabrina disebut. Terbayang olehku, bagaimana sedihnya ia, jika harus mengetahui semua ini. Apapun yang terjadi, dia masih 4 tahun dan tidak boleh mengetahui masalah ini. Dia tidak akan pernah bisa memahami, jika aku dan ayahnya harus hidup beda atap. Aku yang harus bertahan dan memilih memaafkan Mas Pram, demi Sabrina.

Aku mempertaruhkan segenap rasa perih yang tak terhingga ini. Aku mengangguk perlahan.  Mulutku masih tak sanggup mengucap sepatah kata pun. Kelu dan kaku. Aku terpaksa memaafkan Mas Pram demi masa depan Sabrina, meski dengan hati yang hancur. Wajah Mas Pram berubah lega dan tersenyum sembari memelukku erat. Aku berusaha merasakan kehangatan pelukan Mas Pram, tapi hampa yang justru menyelimutiku.

“Siapa sebenarnya dia, Mas? Mengapa dia sampai bisa membuatmu melupakan aku dan Sabrina?”

Rasa penasaranku yang tertimbun semalam akhirnya membuncah hingga membuat lidahku tak kelu lagi. Aku memaksa Mas Pram menceritakan sosok my mine, selingkuhannya.

“Dia Cilla. Dia cinta pertamaku sewaktu SMP, Bun. Tapi saat itu kami masih sama-sama malu untuk mengungkapkan perasaan, sehingga kami tidak pernah pacaran sampai kami lulus. Kami hanya dua anak remaja yang sedang jatuh cinta kala itu, kami hanya mampu merasakan perasaan itu tanpa pernah berani mengungkapkannya satu sama lain.”

Ya Allah, aku masih melihat mata Mas Pram berbinar indah saat menceritakan masa lalunya bersama Cilla. Aku dikuasai cemburu. Cemburu yang sangat. Aku tahu pasti Mas Pram masih sangat mencintainya. Kata-katanya begitu detail menggambarkan sosok cinta pertamanya itu.

“Sudah Mas, cukup, aku tak perlu mendengar sedetil itu.”

Aku memilih menghentikan ceritanya. Mas Pram tampak kaget dan merasa bersalah. Lalu dia kembali menggenggam tanganku, meyakinkanku bahwa ia tak akan mengulangi perbuatan bodoh itu lagi. Dia juga bilang bahwa selama ini, hubungannya dengan Cilla hanya sebatas bertemu untuk makan dan ngobrol saja, tidak lebih dari itu. Dengan sekuat hati aku berusaha mempercayai kata-kata Mas Pram.

***

Dua bulan berlalu sejak peristiwa itu. Aku berniat bulat untuk memupuk kembali kepercayaan yang telah hancur dan mati pada Mas Pram. Semua kembali pada titik nol.  Perlu perjuangan dan kebesaran hati untuk kembali mencintainya dengan utuh dan tulus seperti saat awal kami menikah. Aku lihat, Mas Pram juga semakin perhatian padaku dan Sabrina. Ia juga rajin ke masjid untuk sholat berjamaah, hingga membuatku semakin yakin bahwa dia benar-benar telah bertaubat dan ingin memperbaiki semuanya.

Tapi entah mengapa, sore itu, instingku sebagai seorang istri kembali tergetar, ada rasa gundah yang tiba-tiba menderaku dan sangat sulit kujelaskan. Masya Allah, mengapa seolah ada keinginan yang begitu kuat untuk kembali mengetahui isi chat pribadi Mas Pram di handphonenya. Apalagi kudengar dering notifikasi pesan singkat beberapa kali berbunyi.  Sementara Mas Pram sedang mandi. Dia bilang malam nanti akan menghadiri makan malam dengan kolega lamanya yang baru datang dari luar negeri. 

Aku nekat membuka handphone Mas Pram untuk memuaskan rasa ingin tahuku. Sederet notifikasi pesan dari seseorang berinisial CL memenuhi layar. CL? Apakah itu Cilla? Aku bertanya dalam hati untuk memastikannya. Sekejap kusentuh layar itu, kubaca semua pesannya dengan jelas. Rupanya dia membalas chat Mas Pram sebelumnya. Ya Allah, dengan teliti aku baca satu persatu kata-kata yang diketik Mas Pram satu jam yang lalu untuk perempuan itu. Semua kata-kata sanjungan bernada rindu tercurah begitu mesranya. Ia bahkan dengan sangat jelas mengajak perempuan itu untuk menghabiskan malam ini bersamanya.

Air mataku berderai hebat. Tak sanggup rasanya untuk berdiri tegak lagi. Lemas dan lunglai merayapi seluruh tulangku. Lafadz istighfar masih berusaha kulantunkan demi menenangkan hatiku. Aku menghela nafas dalam sampai beberapa kali. Aku bertekad harus kuat menghadapi semua ini, meski luluh lantak lagi bangunan pernikahanku kini.

Entah apa yang membuat Mas Pram begitu tergila-gila dengan cinta pertamanya itu.  Cantikkah dia, baikkah dia. Yaa Robb, aku sudah tidak bisa menggunakan akal sehat lagi untuk menyelesaikan masalah ini. Aku harus mengambil keputusan secepat mungkin. Mas Pram bukan suami yang layak untuk kupertahankan lagi. Dia telah menodai kesucian pernikahan kami, entah sejak kapan. Dia sudah mengkhianati janji-janji penyesalannya kala itu. Segala perhatian itu hanya sebagai topeng untuk menutupi kebusukan moralnya.

“Bun, Ayah berangkat dulu ya. Nanti Bunda dan Sabrina tidur saja duluan. Jangan lupa pintu dikunci saja, Bun. Ayah sudah bawa kunci kok. Zaman sekarang banyak orang jahat, Ayah khawatir. Ayah pulang larut ya Bun, maklum sudah lama tidak bertemu dengan Mas Dito dan Hermawan, jadi pasti akan kangen-kangenan dulu.”

Aku tak menjawab, ketika Mas Pram berpamitan dengan sederet kata-kata manisnya. Aku tidak menyangka, dia setega ini padaku. Aku berusaha menyembunyikan sisa-sisa air mataku, ketika dilihatnya aku hanya terdiam. Namun Mas Pram sudah benar-benar tidak mempedulikan perasaanku lagi. Dia tetap berlalu sambil mencium keningku sekilas. Bau parfumnya kali ini terasa lebih menyengat dibanding biasanya. Air mataku pun kembali tumpah. Beruntung sore itu Sabrina sedang bermain di rumah temannya, jadi aku bebas meluapkan segala emosiku dengan menangis sepuasnya.

***

Kini, tiga tahun berselang dari kejadian sore itu. Aku berhasil melaluinya dengan susah payah. Aku memutuskan menggugat cerai Mas Pram, walau awalnya ia memohon padaku untuk tidak meninggalkannya. Tapi pada akhirnya Mas Pram lebih memilih cinta pertamanya yang telah membuatnya terobsesi bertahun-tahun. Aku tahu diri. Untuk apa merangkai kembali pecahan kaca yang hancur. 

Sabrina masih berusaha kuyakinkan bahwa semua baik-baik saja. Aku mengajaknya hijrah ke kota lain, berusaha mengubur segala kenangan manis dan burukku bersama Mas Pram. Menjalani kehidupan baru bersama Sabrina, hingga akhirnya setahun lalu, aku memutuskan untuk kembali menikah dengan seorang lelaki sederhana yang memang tidak seromantis Mas Pram, tapi semoga saja dia adalah laki-laki terakhir yang layak aku pertahankan hingga akhir hayatku.

Oleh: Nailuss Sa’adah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: