Hati-Hati, Waspadailah Para ‘Penjual Al-Qur’an’

Pada masa post-truth ini, yang dicirikan oleh campur-aduknya kebenaran dan kezaliman, ketulusan dan kemunafikan, kita bagai memasuki hutan halimun yang mudah sekali membuat kita kehilangan kiblat. Tersesat, tak tahu arah, hingga tak tahu lagi arah jalan pulang.

Di antara pemain post-truth ialah mereka yang menggunakan ayat-ayat, hadis-hadis, dan segala label syariat dan bahkan hakikat hanya untuk makin mengukuhkan manipulasinya. Membawa ayat-ayat al-Qur’an, memberikan uraian yang meyakinkan, sehingga rawan menyeret sasaran pembaca dan penyimaknya terpukau, dalam kesesatan.

Saya tak perlu jelentrehkan apa maksud kesesatan itu, tapi cukuplah kita mengertinya sebagai kekufuran, kefasikan, dan kemungkaran dalam bentuk wajah yang berias gincu-gincu keilahian, Qur’ani, dan syariat.

Al-Qur’an dalam surat ‘Ali `Imran ayat 7 telah menuturkan hal tersebut:

“Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan (berpenyakit, zaighun), maka mereka cenderung mengikuti apa-apa yang mutasyabihat itu untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya selain Allah.

Dan adapun orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:

“Kami beriman kepada al-Qur’an, semua (kandungannya) itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal (ulul albab).”

Sebelum lanjut, mari sepintas kenali maksud ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat.

Ayat muhkamat ialah ayat-ayat yang terang, jelas, dan mutlak penunjukan maknanya. Tak ada kemungkinan makna lain. Misal “aqimus shalat, dirikanlah shalat”. Tidak mungkin ayat ini ditakwil, ditafsir, jadi “shalat dalam keadaan berdiri”. Ia mutlak perintah menjalankan shalat.

Beda kondisi dengan ayat-ayat mutasyabihat, yakni ayat-ayat yang penunjukan maknanya bisa beragam. Sifat ke-dzanniyah-an (kesamaran) ini umumnya terkait dengan hal-hal yang dinamis seiring laju zaman dan tempat.

Misal, ayat “waman lam yahkum bima anzallah faulaika humul kafirun, siapa yang tidak memutuskan sesuatu berdasar hukum Allah maka mereka termasuk dalam kelompok orang kafir.”

Ayat mutasyabihat tersebut dijadikan landasan oleh pembela Negara Islam, khilafah, tetapi ditolak oleh pihak lainnya bukan karena tiadanya kepatuhan kepada ayat tersebut, tapi apa itu “hukum Allah” dalam konteks tata negara?

Al-Qur’an tak meletakkan ayat tentang bentuk sistem pemerintahan dan negara, selain spirit-spiritnya, misal ‘adalah (keadilan), syura (musawarah), ta’awun (tolong-menolong), dll.

Inilah pangkal terjadinya perbedaan pendapat hukum alias khilafiyah di antara para ulama sendiri. Dan situasi ini alamiah belaka, sunnatullah.

Tetapi lain soal buat kelompok muslim yang berilmu dan dengan ilmunya diakal-akalilah ayat-ayat al-Qur’an, terutama ayat-ayat miltitafsir ala mutasyabihat itu. Mereka tak ketinggalan menggunakan perangkat metodologi tafsir al-Qur’an yang otoritatif, sebagaimana dipakai para ulama yang wara’.

Secara konstruksi ilmiah akademis, penalaran mereka kokoh. Namun dikarenakan rohaninya bepenyakit, buahnya pun berpenyakit. Ilmu tafsirnya bikan didasarkan pada niat libtigha-i mardhatillah melainkan memuaskan hawa nafsunya, anhkara murkanya, dengan menjadikan tafsir atas ayat-ayat al-Qur’an sebagai bemper pembenarnya.

Seolah sesuai dengan al-Qur’an, seolah Islami, seolah syar’i, seolah suci, padahal sejatinya hanyalah manipulasi, memicu fitnah, perselisihan, dan angkara murka.

Dulu, tatkala Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa hukum bersentuhan dengan lawan jenis tidak membatalkan wudhu, niscaya itu bukanlah dimaksudkan untuk membenarkan praktik hubungan bebas.

Hari ini umat Islam yang sedang bertawaf menggunakan fiqh tersebut saking rawannya risiko bersentuhan tak sengaja dengan lawan jenis. Jelas, Abu Hanifah bersadar pada keilmuan yang mendalam dan dalil-dalil yang otoritatif.

Kini, muncul takwil-takwil perihal relasi dengan lawan jenis nonmahram itu yang mengait-ngaitkan dengan idkhalus surur (memberikan kebahagiaan) dan fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan).

Ada yang bertakwil dengan meyakinkan bahwa mengelus kepala, menyentuh lawan jenis, dalam niat idkhalus surur adalah benar dan baik. Bagian dari fastabiqul khairat. Tegasnya, sentuhan dengan lawan jenis itu alih-alih haram, ia berpahala!

Allah Karim.

Mari renungkan: umpama takwil tersebut kita pakai, dengan meyakininya benar sesuai ajaran Islam, remuk-redamlah konstruksi moral masyarakat kita.

Dengan lawan jenis, tanpa hak syariat, kita bebas sentuh-sentuhan, belai-belaian, senang-menyenangkan secara lahiriah. Dapat dipastikan para pelaku pacaran mendapatkan angin segar syar’i, dan niscaya makin kebablasanlah ekspresi hubungan mereka.

Lalu apa yang nanti terjadi?

Pergaulan bebas, seks bebas, dan moral masyarakat yang serba bebas. Celakanya, itu dilandaskan pada klaim tafsir yang produktif terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Celakanya, itu jugalah yang dikampanyekan sebagai wujud rahmatan lil ‘alamin.

Tamsil tersebut di sekitar kita kini sangatlah ruah bentuknya. Dari urusan dagangan, pinjam-meminjam, riba, hingga perebutan kursi kekuasaan politik. Semuanya berkiblat pada ambisi dan hawa nafsu, namun dirias dengan cantik pakai lipen-lipen kalamullah. Mereka itulah para ‘penjual al-Qur’an’.

Mereka sanpai lupa hati bahwa Gusti Allah mboten sare, ‘alimun bi datis sudur (ngerti betikan hati manusia): mana yang tulus untuk meraih hukum Islam yang produktif dan mana yang hanya kemunafikan dan kebusukan hati.

Barang siapa yang menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang murah (kebatilan, kekufuran, kefasikan), mereka akan diazab dengan azab yang pedih. Begitu peringatan al-Qur’an.

Na’udzubillah min dzalik.

Oleh: Edi AH Iyubenu

Tinggalkan Balasan